
Selesai memperkenalkan diri aku mulai membereskan barang-barang ke dalam lemari yang tersedia. Rasanya sedikit gugup saat aku sadar akan hidup satu kamar dengan orang-orang yang tidak aku kenal sedikit pun. Disela-sela kesibukan di kepala ku dan tangan yang bekerja, Aisyah datang menghampiri ku. Dengan ramah ia bertanya kepada ku.
“Kamu pasti lelah kan dari Jakarta kesini?”
“Lumayan sih.. tapi udah terbiasa kok.” jawabku.
“umh… ngomong-ngomong kok kamu bisa masuk kesini, bukannya di Jakarta banyak sekolah umum ya?”
“Orang tua ku yang meminta agar menuntut ilmu disini, katanya biar tau lebih banyak tentang agama.”
“ Ohh.. gitu toh, mau aku bantu beresin barangnya?” tawarnya
“Boleh deh,oh ya.. nanti setelah siap istirahat kalian temenin aku keliling sekitaran asrama ya.”
“Gampang itu serahin aja sama kami yak kan temen-temen. Sekalian ada kesempatan bisa liat para santri putra hehe.”ujarnya yang disertai anggukan Rara dan Yuri.
Aku hanya tertawa kecil mendengar pernyataan Aisyah yang membuat ku sedikit terkejut. Bagaimana tidak, informasi yang ku cari mengatakan di pondok pesantren sangat ketat akan aturan yang di tetapkan. Ternyata mereka bisa bersikap sesantai itu. Tapi ya sudahlah aku hanya ikut saja, toh aku juga sudah terbiasa dengan pergaulan seperti ini di sekolah sebelumnya. Dimana rasa ketertarikan lawan jenis pasti ada.
Selang beberapa saat setelah mengerjakan sholat asar mereka bertiga sudah mendapatkan izin untuk membawa ku berkeliling asrama serta melihat kegiatan apa saja kegiatan yang di lakukan santri putri setelah pulang dari kelas. Disamping itu tak jauh dari tempat kami tinggal terdapat asrama yang ditinggali oleh santri putra.
Ini merupakan hal yang wajar di setiap pondok yang tidak memiliki penerimaan murid khusus perempuan atau laki-laki, karena ada beberapa pondok hanya menerima salah satu gender. Namun tetap aturan yang tertera tempat tinggal, kelas, serta aktivitas tetap berbeda antara santri dan santriwati.
Saat sedang berjalan kami berhenti salah satu bangunan yang cukup luas. Disitu tertera tulisan “RUANG OSIS”. Rara dan Aisyah adalah salah satu anggota tersebut dan menerangkan bahwa ini adalah satu-satunya ruangan yang bisa membuat santri putra dan putri berkumpul yang hanya bisa di hadiri oleh anggota OSIS saja, namun tetap di bawah pengawasan pembimbing agar tidak terjadinya kesalahpahaman dari pihak manapun. Mendengar hal itu aku hanya mengangguk menyatakan bahwa aku mengerti sedikit demi sedikit hal-yang ada di tempat ini. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan untuk melihat hal lainnya.
Tak jauh dari itu, Azam yang baru hendak keluar dari kantor setelah menyelesaikan laporannya kepada pengurus tiba- tiba berhenti seketika tanpa sadar melihat perempuan itu lagi, namun saat itu perempuan tersebut tidak sendirian, melainkan bersama tiga santriwati yang sudah lama ia kenal. Rasa penasaran yang semakin membuat nya tidak karuan terus menyelimuti hatinya. Selama ini tidak seorang pun mampu membuat Azam bersikap aneh seperti ini. Hadi yang sedari tadi hanya heran melihat temannya bersikap sangat aneh merasa khawatir. Ia merasa ada yang sedikit berbeda dari sebelumnya, dimana Azam yang sangat jarang terlihat seperti sekarang membuat ia penasaran, terlebih lagi sambil menatap ke arah ruang OSIS dan seketika bertanya.
“Zam ,kok berhenti sih”
Azam tidak mendengar pertanyaan dan terus membuat temannya itu semakin heran padanya.
“Azam!” panggilnya lagi dengan nada yang sedikit lebih keras dari sebelumnya.
“ Hah iya, barusan kamu bilang apa? sontak ia langsung menoleh ke Hadi.
“Kamu dari tadi bengong kenapa ada yang aneh di ruang itu? atau kamu liat hantu kah?
“ Huss kamu ini mana ada yang namanya hantu, tadi ada santriwati yang lewat di ruangan itu.” jawabnya.
“Ehh mana-mana? sesekali kan bisa cuci mata nih aku.” ujar Hadi yang terlihat jahil.
“Kamu ini dasar ga abis-abis sama cuci mata, hapalan tuh yang disiapin dulu, lusa udah praktek.” ketus Azam.
Hadi hanya cengengesan setelah mendengar ucapan Azam. Memang kenyataan bahwa ia telah menunda beberapa hapalan yang seharusnya ia selesaikan, namun di beberapa kondisi membuatnya tidak bisa menyelesaikan tugas tersebut. Disisi lain Azam masih berkecamuk dengan pikiran nya sendiri tentang perempuan itu Dan ia memutuskan untuk mencari informasi tentang santriwati itu.
Mereka berdua pun akhirnya melanjutkan perjalanan menuju asrama yang tak jauh hanya beberapa meter dari tempat mereka sekarang yang di batasi tembok pagar setinggi kurang lebih dua meter agar tidak terjadi percampuran antara santri dan santriwati secara bebas.