
Seminggu berlalu.
Aku menjalani kehidupan disini dengan sedikit kewalahan, dimana aku harus bangun pukul tiga dini subuh untuk melaksanakan tahajud yang terbilang jarang sekali aku lakukan saat dirumah. Kemudian dilanjutkan dengan sholat subuh dan sedikit belajar. Pagi harinya harus sekolah seperti biasa, tapi dengan jarak yang sangat dekat hanya beberapa meter dari lapangan depan asrama santriwati.
Pelajaran di pondok terbilang cukup berbeda dengan sekolah umum nya. Disini lebih mendalami ilmu agama dan sosial. Dan hanya sekolah yang bisa menjadi tempat para santri dan santriwati untuk mendapatkan pendidikan yang sama, sehingga hal ini menjadi kesempatan untuk melihat lawan jenis. Namun bukan berarti di beri kebebasan dalam berinteraksi secara terbuka. Hampir di setiap penjuru sekitar sekolah terdapat pengawas yang menjaga agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
Saat ini aku sedang berada di perpustakaan karena ada beberapa buku yang harus ku pinjam untuk belajar, sedangkan dua temanku lainnya berada di kantin. Sambil menikmati bacaan buku yang saat ini ku pegang, tak lama Aisyah berbisik padaku sambil memberi isyarat mata ke arah meja di sudut ruangan tersebut.
“ kamu tau mereka itu siapa?” Tanya nya padaku. Aku hanya menggelengkan kepala sembari bertanya padanya.
“ emang mereka siapa?
“ mereka itu salah satu senior terpopuler di pesantren ini tau, nah yang kiri tu kak Hadi, terus tengah nya kholik sama paling ujung tu Azam. Ganteng kan hihi” jelasnya dengan semangat.
Bagaimana tidak, bagi para santri saat melihat lawan jenis adalah kesempatan yang cukup sulit apalagi saling berbicara dalam waktu yang lama selain keperluan OSIS.
Terlihat tiga laki-laki yang sedang fokus mengerjakan beberapa angket yang sempat aku lihat sebelum mereka datang. Aku hanya melihat sesaat namun ada sepasang mata yang membuat ku tersadar bahwa ia sedang memperhatikan kami sedari tadi dan aku langsung menunduk seolah tidak melihatnya.
...****************...
Tanpa sadar Azam terus memperhatikan perempuan tersebut hingga pada saat Zia balik melihat ia Azam langsung memalingkan wajahnya dengan suasana hati yang tak karuan. Temannya yang seketika menyadari tingkah Azam membuat mereka heran kemudian langsung bertanya.
“ Zam kamu kenapa? kok aneh banget dari tadi malah ga fokus.” ujar kholik di selingi dengan pandangan Hadi yang semakin bingung dengan tingkah temannya itu.
“ hah, oh gapapa kok. Cuman tadi mikir ni angket buat apaan ya? kok cuman kita bertiga aja yang isi.” Elaknya.
“ iyaa tadi ustadz bilang cuman buat referensi aja buat dikirim ke pusat. Toh, lagian gapapa kali biar bisa santai dikit nih di perpus.”
“ Nah bener tu, Zam. kamu juga tau sendiri akhir-akhir ini kita sibuk banget belum lagi ngurusin laporan OSIS, absen santri yang telat. Belum lagi hapalan dari ustadz Fahri yang super-duper banyak.” sambung Hadi dengan panjang lebar.
Mereka berdua hanya tersenyum geli melihat tingkah Hadi yang terlihat hampir gila. Di sebalik itu Azam merasa lega, karena topik awal mengenai tingkah nya yang aneh pun terlewatkan begitu saja berkat Hadi. Namun tak bisa di pungkiri juga rasa penasarannya terhadap Zia semakin besar.
...****************...
Hari libur merupakan waktunya kunjungan orang tua yang di per boleh kan untuk menjenguk anak mereka. termasuk orang tua ku. saat menyusuri lorong terlihat banyak santri yang sedang duduk bersama para wali masing-masing. aku bergegas menuju parkiran mobil untuk menghampiri umi dan abi. Namun siapa sangka tanpa sengaja aku menabrak seorang laki-laki yang sama tergesa nya dengan ku saat berjalan cepat berlawanan arah. Dan…
“astaghfirullah!” ucap kami secara bersamaan.
“ afwan.. saya ga sengaja!” ujar khawatir. Terlihat jelas sikapnya yang terburu-buru akhirnya membuat ku menahan jengkel.
“ yaudah gapapa.. lain kali hati-hati.”
“iyaa.. saya permisi dulu, sekali lagi maaf banget, assalamualaikum.” ucapnya yang diiringi langkah cepat.
Belum sempat menjawab salam nya, laki-laki tersebut sudah menghilang dari pandangan ku. Dengan sedikit kesal sambil membersihkan gamis yang kotor terkena debu mata ku tertuju pada sebuah benda kecil. Aku langsung memungutnya, ternyata sebuah papan username yang bertuliskan nama "Azam Al-Kholik". Sambil memperhatikan sekitar untuk mencari lelaki tadi, namun nihil. Di lorong itu hanya terlihat beberapa santri putri saja. Sambil memasukkan username itu ke saku baju, tanpa berpikir panjang aku berjalan menuju parkiran karena mungkin saja Umi sudah menunggu.
Melihat senyum mereka yang membuat rindu tiada habisnya, aku berlari dan langsung memeluk mereka berdua. Abi sibuk mengeluarkan barang yang aku pesan beberapa hari lalu untuk dibawa ke pondok.
"Assalamualaikum, sayang." Sapa Umi.
"Waalaikumsalam, Umi, Abi."
"Kamu gimana disini. Suka?" Tanya nya
"Alhamdulillah, suka, Umi temen nya baik-baik apalagi yang satu kamar sama aku anak nya seru semua..hihi." jawab ku dengan semangat.
"Bagus dong, bener kan apa kata Abi disini itu enak kalau kita ikhlas ngejalanin nya." Ujar Abi padaku.
"Syukurlah kalau disini bikin kamu nyaman. Umi seneng denger nya."
"Iya mi, yuk masuk Bu, di sini panas" ajak ku
Kami pun berjalan bersama sambil bercanda, bercerita tentang bagaimana keadaan dirumah selama tidak ada aku.
Mereka hanya terkekeh senang melihat tingkah putri bungsu nya yang manja ternyata sudah mulai menerima keadaan nya di pondok pesantren ini. Tapi sebenarnya bagi ku banyak hal yang tak mudah dilewati sebulan lalu ini. Beradaptasi dengan tempat yang jauh berbeda dari sekolah sebelum nya adalah hal cukup sulit apalagi harus jauh dari orang tua.
...****************...