
Setelah tak lama berkeliling dan merasa sudah cukup lelah akhirnya kami kembali ke asrama. Jam sudah menunjukkan waktunya untuk bersiap-siap karena sebentar lagi akan melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim yaitu sholat maghrib, namun satu hal yang membuat ku terkejut yaitu para santri disini harus mengantri untuk membersihkan diri. Aku yang tidak terbiasa dengan kondisi tersebut, dimana hanya tersedia sepuluh kamar kecil dan santri yang lebih dari lima puluh orang. Merasa sangat sesak karena harus mendengar beberapa ocehan para santriwati yang saling meneriaki agar yang lain tidak berlama-lama membersihkan diri mereka.
" Siapa sih yang lama di wc? Cepetan dong rame ni!" Teriak salah satu perempuan.
" Iya nih, lama banget.. kalo nggak keluar juga gw gedor..woi!"
" Berisik, bisa tenang ga? Kalo ga bisa gausah mandi kalian semua!". Seketika para santri terdiam hening mendengar teriakan salah satu senior yang berusaha menenangkan mereka sedari tadi.
Sholat magrib telah ditunaikan dan setelah itu kami makan di kantin yang sudah disediakan. Kemudian sholat isya dan dilanjutkan dengan tadarus qur’an hingga pukul sembilan malam. Aku yang sudah terbiasa tidur jam delapan malam kini harus mengikuti tata tertib di pondok ini. Rasa kantuk yang menghampiri di sela-sela bacaan tadarus membuat Aisyah tersadar dan langsung membangunkan ku.
“Zia, bangun ih” bisiknya sambil memegang bahuku, sedangkan Rara dan Yuri hanya tersenyum geli.
Aku terkejut dan sontak menjawab dengan polos nya.
“ha, apa? udah selesai ya Syah, Ra?” Tanya ku pada mereka.
“ Bentar lagi kok, ditahan dulu kantuknya, kalo ketahuan ustadzah pasti bakalan di tegur kamu nya” bisik Yuri.
Aku hanya membalasnya dengan anggukan dan berusaha untuk tetap terlihat segar, namun dari teguran temanku barusan membuat beberapa anak lainnya menatap kearah ku disertai dengan berbagai macam ekspresi yang kurang mengenakan. Hal ini membuat ku sedikit malu, namun terlihat lirikan ustadzah yang mungkin sedikit memaklumi sikap ku, karena menurutnya itu adalah hal yang wajar bagi santri baru. Tapi tetap saja bagiku itu sedikit memalukan.
Akhirnya kegiatan tadarus pun selesai, kami kembali ke asrama masing-masing. Sesampainya di kamar aku langsung menghempaskan diri ke ranjang kasur karena sudah sangat mengantuk. Dengan sedikit bergumam mungkin besok saja untuk bercerita dengan mereka, tak lama aku pun tertidur pulas tanpa melepaskan mukena yang aku kenakan saat di musholla.
Para temanku hanya tersenyum geli sambil menggelengkan kepala mereka. Batas waktu untuk saling bercengkrama bersama teman sekamar hanya sampai pukul sepuluh malam lewat dari itu para santri sudah diwajibkan untuk tidur agar tidak mengantuk besoknya untuk bangun sholat tahajud berjamaah dan dilanjutkan sholat subuh. Jika belum tidur bahkan terlihat berisik di kamar, para santri tersebut akan ditegur langsung oleh para senior, karena di setiap lokal terdapat kamar santriwati senior yang mengawasi.
Baru sehari saja menurut ku sudah sangat melelahkan tak terbayang bagaimana dengan mereka bertiga yang lebih dulu di tempat ini. Apalagi tentang ponsel, jujur saja sehari tanpa benda itu sangat merasa ada yang hilang. Setiap santri tidak di perbolehkan satu pun di antara nya untuk memegang handphone, leptop atau sejenisnya nya. Jika ada yang ketahuan di dapati menyembunyikan benda tersebut secara pribadi akan di kenakan hukuman serta barang tersebut akan disita
...****************...
Di asrama Senior putra masih terlihat beberapa orang santri yang sibuk dengan buku masing-masing, termasuk Azam dan Hadi yang sedari tadi menghapal surah-surah yang wajib mereka hapalkan. Namun disela-sela itu Azam yang terlihat tidak fokus pun mulai berbicara pada Hadi.
“Hadi, aku mau nanya sesuatu padamu.” ujarnya.
“Eh tumben banget nanya ke aku? Keknya darurat nih.” jawab temanya itu dengan ekspresi jahil.
“ Huss.. kamu ini, ga darurat kok cuman penasaran aja.”
“Emang ada ya istilah jatuh cinta pandangan pertama? atau kamu sendiri pernah ngalamin itu?”
Mendengar pertanyaan tersebut Hadi langsung tersedak sendiri karena terkejut.
Bagaimana tidak, menurutnya Azam hanyalah temannya yang gila belajar tentang agama hingga tak pernah sedikit pun membahas tentang perempuan manapun selain ibunya. Dan sekarang malah bertanya padanya tentang jatuh cinta pandangan pertama. Hal ini membuat Hadi semakin merasa yakin bahwa sikap Azam terlihat berbeda seharian ini berkaitan dengan hal tersebut. Ia pun semakin penasaran akan hal tersebut dan secepat mungkin menjawab pertanyaan temannya itu.
“Adak kok bahkan banyak, salah satu nya aku… hehe”
“Emang kamu itu jatuh cinta sama siapa disini? malah setiap perempuan kamu lirik.” ketus Azam.
“ Yahh kamu nya aja yang ga pernah tau, ada satu perempuan yang aku incar saat baru masuk ke pondok ini dua tahun yang lalu.” ujar Hadi dengan serius
“Lah sejak kapan? Kok aku nggak tau?”
Terlihat ekspresi Azam yang terkejut mendengar pernyataan Hadi. teman satu-satunya yang paling merepotkan saat berkaitan dengan perempuan, bahkan sulit untuk diajak serius dalam kegiatan apapun karena tingkahnya yang sedikit jahil. Kini mengutarakan sesuatu yang bahkan tak pernah terlintas untuk ia tanyakan.
“Udah lama kok, cuman sampai sekarang rasa itu nggak pernah hilang. Bahkan berniat saat aku sudah siap aku akan datang padanya. Itupun kalo dia masih belum ada yang memiliki.” jelasnya.
“Wah ternyata kamu bisa serius juga ya, padahal selama ini semua santriwati kamu bilang cantik.” ledek Azam
“Nggak dong, jangan-jangan kamu lagi jatuh cinta pandangan pertama nih, kasih tau dong siapa?”
“Entahlah mungkin ini hanya sesaat tapi ya sudahlah.”
“ Kasih tau dong, malah rahasia-rahasiaan.”
“Belum waktunya, Di. Aku mau pastiin dulu kalo ini emang beneran atau nggak”
“Udah waktunya tidur. Siap-siap sana.” ujarnya lagi.
Hadi yang sudah mendengar pernyataan dari temannya itu sudah mengerti bahwa ia tidak ingin membahas itu sekarang. Menurutnya, mungkin Azam menanyakan hal itu hanya untuk sekedar memastikan.Tak lama setelah itu mereka berdua bersiap untuk tidur.