
Keesokan hari nya tepat pada hari Jumat acara pernikahan di selenggarakan dengan khidmat. Terlihat tamu undangan yang merupakan keluarga besar dari kedua belah pihak yang datang. Akhirnya melihat ustadz Fahri dan ustazah Rahma akhirnya bersatu membuat keriuhan yang tiada tara. Para santri yang tidak pulang turut menghadiri acara mereka berdua. Namun tetap di diawasi oleh beberapa pengawas.
Aku dan kedua temanku juga turut menghadiri dan berfoto bersama. Aisyah yang terlihat leboh sekali saat melihat kedua mempelai bersanding sangat membuat nya berbinar-binar.
" Huhu liat deh mereka berdua serasi banget yaa, aku jadi terharu" ujar Aisyah pada ku dengan histeris sampai menggoyang kan bahu ku.
" Iya-iya mereka serasi kok, tapi udah dong, kepala aku yang pusing nih" Aku tidak terkejut lagi saat melihat tingkahnya yang terkadang agak sedikit konyol, jika itu bersangkutan dengan kisah-kisah romantis.
" Ehh maaf, Zia.. nggak sengaja abis ngeliat mereka berdua bikin aku pen gitu."
" Heh kamu kira gampang apa. Ini bukan novel kali , Syah " tukas ku.
" Humm. Kamu ni datar nya soal romantis kek nya kebangetan ya."
Sambil memasang ekspresi kesal dan memanyunkan bibir nya ke depan membuat ku ingin tertawa. Bagi Aisyah aku seperti tidak memiliki ekspresi saat menyukai lawan jenis atau apapun itu. Ya, tapi fakta sebaliknya aku hanya menyimpan sendiri. Aku tak ingin yang lain tau mengenai hati ku akhir-akhir ini.
"Hum.. Rara mana ya? Kok ga keliatan dari tadi." Tanya nya.
"Eh iya ya, kemana lagi dia ni!"
Saat kami berputar melihat sekeliling tempat sambil berjalan samping para tamu, terlihat Rara yang sedang mencicipi berbagai makanan enak di prasmanan.
"Hufft.. bisa-bisanya menghilangkan diri dalam sekejap" gumamku diiringi helaan nafas.
Kami pun menghampiri nya. Tapi di saat mulai melangkah kan kaki dan memperhatikan sekitar, mata ku tertuju pada laki-laki yang sedang sibuk dengan kamera nya.
"Azam?" Pikir ku.
Seketika mata kami saling bertemu aku langsung memalingkan wajah ku ke arah lain. Aku berjalan cepat mengejar Aisyah yang terlebih dulu menuju Rara.
"Syah, tungguin ngapa!" Kata ku dengan sedikit berteriak.
" Lama banget sih jalannya. Entar keburu ilang lagi tu Rara."
"Iya-iya sabar kali." Tak lama kami tepat di belakang Rara yang sedang memilih makanan.
Aku hanya menggeleng kan kepala saat melihat tingkah nya.
Diantara kami berempat dia dan Yuri memang suka makan, bahkan cemilan terbanyak di kamar saja itu milik mereka berdua.
" Ra, ngapain sih?" Bisik Aisyah. Aku berusaha menahan tawa dengan menutup mulut agar tidak ketahuan oleh nya.
" Lagi milih makanan enak nih" jawabnya terlihat riang, tanpa menoleh ke arah suara.
" Oo.. sendirian aja ni, temen kamu pada kemana?"
" Oh mereka tadi lagi liat Ustazah Rahma.." saat berputar dengan membawa sepiring makanan sontak ia terkejut melihat kami berdua.
" Ehhh.. astaghfirullah! Aisyah, Zia. Bikin kaget aja ih, Untung ga ketumpahan ni makanya." Ujarnya sambil mengelus dada.
" Lagian kamu sih, ngilang gitu aja. Kan kita bingung mau nyari kemana" jawab ku.
" Eh iya..maaf deh, kalian mau?" Ia terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bisa di bilang itu mungkin ciri khas Rara saat merasa bersalah.
" Boleh deh."
Dengan sigap kami bertiga menghabiskan sepiring kue yang Rara ambil dari prasmanan tadi. Tapi entah mengapa aku merasa sedikit aneh , seolah ada yang memperhatikan kami seperti saat di perpustakaan waktu lalu. Tapi saat melihat sekitar, aku tidak mendapati orang yang memperhatikan kami, atau mungkin itu hanya perasaan ku saja. Setelah itu aku melanjutkan mencicipi makanan lain di sela-sela berlangsungnya acara.
Tak jauh dari situ Azam yang di temani Hadi. Ia terlihat sedang memotret para tamu dan mempelai. Sekilas kamera nya menyoroti sosok Zia yang sedang berjalan bersama temanya. Seketika ia memotret beberapa foto Zia.
Tak lama setelah itu ia langsung menurunkan kamera nya sambil memperhatikan Zia. Tapi seketika mata mereka bertemu , perempuan itu langsung berpaling. Azam hanya menghela nafas saat dan langsung melihat ke arah lain. Ia tak ingin diangggap yang tidak-tidak oleh Zia.
"Fyuhhh... Semoga aja dia nggak sadar" gumamnya nya.
Hadi yang terlihat sibuk makan, tiba-tiba saja menyenggol lengan Azam hingga membuat nya tersadar dari lamunan. Ia menyodorkan makanan yang barusan diambil dari tempat nya.
" Nih, punyamu! Dari tadi belum ada makan apa-apa kan kamu nya." Ujarnya.
Sambil tersenyum sumringah ia mengambil sepiring makanan yang di diberikan oleh temannya itu.
" Hehe.. tau aja kamu makasih ya, Di." Tak lupa membaca doa ia langsung melahap makanan nya dengan tenang.
Tapi mata tidak bisa berbohong, ia terus memperhatikan sosok perempuan itu dari kejauhan. Hadi yang tak sengaja melihat Azam yang melihat ke satu arah membuat nya heran. Ia pun menepuk pundak Azam.
" Kamu cari apa, Zam?" Tanya nya.
" Uhukk...uhuk!" Azam yang yang sedikit terkejut seketika tersedak makanan nya sendiri.
" Eh.. maaf, aku nggak sengaja banget.. nih-nih air." Hadi yang panik kemudian meminta maaf dan langsung menyodorkan air dan tisu.
Azam langsung menyerobot air tersebut dan meminum nya. Setelah merasa reda ia mengelap mulutnya dengan tisu yang diberikan oleh Hadi.
" Wahhh.. sumpah deh, kamu ni ngagetin tau." Ujarnya.
" Ya maaf, aku cuman penasaran kamu liat apa pas sambil makan tadi." Jawab nya.
" Aku liat Zia!" Jawab nya sambil menyuapi nasi ke mulut nya. Tanpa sadar ia keceplosan mengucap kan kata-kata itu.
Sontak Hadi terbelalak mendengarkan jawaban Azam barusan.
" Hah.. seriusan kamu, Zam!" Ekspresi wajah Hadi tidak dapat membohongi keterkejutan.
"Ehh.. nggak-nggak aku melantur kok. Aku liat prasmanan itu mau nyoba nyicipin kue manis yang di sana." Jawab nya cemas. Ia berusaha terlihat biasa saja agar Hadi tidak merasa curiga atas jawaban nya tadi.
Tapi terlambat, temannya itu tau kala ia berbohong.
" Zam.. jujur deh sama aku kamu suka ya sama Zia?" Tanya Hadi serius.
" Nggak, Di. Beneran, Barusan aku cuman becanda!" Kecemasan terus meliputi pikiran Azam. Tapi apa daya melihat tatapan Hadi yang serius pada nya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia hanya berkata demikian.
" Aku juga nggak tau, Di. Rasanya ada yang beda saat ngeliat dia." Ujar Azam pelan.
" Ck.. pantes ya kamu aneh akhir-akhir ini sering ngelamun nggak jelas. Tenyata ada udang di balik bakwan..!" Jawaban Hadi telak membuat temannya itu terkekeh. Suasana yang tadi nya sedikit mencekam karena jawaban Azam seketika mencair tenang seperti biasa.
" Nanti deh aku ceritain, soalnya panjang banget!"
" Ck,.bener ya. Awas kalau kamu mengelak lagi.!" Decak Hadi. Ia tau pikiran Azam sulit di tebak. Bahkan mengenai tentang Zia saja ia sadar baru sekarang.
" Iya-iya, udah makan dulu. Mubazir kalau nggak habis."
Mereka pun melahap makanan hingga tidak tersisa di piring masing-masing . Tak lama setelah itu kembali mengerjakan tugas memotret yang di berikan oleh ustadz Fahri kepada mereka.