My Senior My Boy

My Senior My Boy
Hari Libur yang Melelahkan



Saat keluar dari ruang pembimbing, sambil melangkah kan kaki dengan cepat serta tak karuan, wajah Azam terlihat sangat panik. Ia menyadari bahwa yang ia tabrak barusan adalah perempuan yang akhir-akhir ini membuat nya selalu penasaran.


"Astaghfirullah, Azam kamu kenapa sih.. kenapa malah lari, bikin malu aja T_T" gumam nya dalam hati.


Sesampainya di depan pintu kamar ia mendapati Hadi sedang membaca Alquran, tanpa berpikir panjang ia langsung merebahkan dirinya ke kasur nan empuk. Raut wajah Hadi keheranan melihat Azam yang bertingkah seperti itu. Tak lama ia pun sudah menyelesaikan bacaan nya dan langsung menghampiri Azam.


"Kamu kenapa lagi, Zam? Akhir-akhir ini kok aneh banget. Dari yang bengong nggak jelas, sekarang malah muka panik gini." Tanya nya kebingungan.


"Aku barusan nggak sengaja nabrak santriwati di kantor." Jawab Azam pelan.


"Loh-loh kok bisa? Santriwati yang mana?"


"Keknya santri baru itu. Seriusan malu banget tau, malah langsung pergi akunya T_T."


"Ha! Langsung pergi ini mah nggak bener." Ucap Hadi.


"Udah minta maaf sih, tapi tetep aja gaenak langsung pergi." Raut wajah Azam terlihat merah karena malu.


"Yaudah, nanti kalo ketemu minta maaf yang bener kamu nya."


"Inshaallah, Di. Lagian kita kan ga sebebas itu buat ketemu lawan jenis, karena hari ini libur aja terus para pengawas juga sibuk, jadi ya gini deh."


" Eem.. iya juga ya. Dah lah aku mau ke wc bentar kebelet banget." Ujar Hadi langsung berlari keluar kamar.


Azam tertawa kecil melihat tingkah temannya itu. Di sela-sela kebingungan nya, hanya Hadi yang bisa membuat ia melupakan akan hal itu. Hari ini orang tuanya tidak bisa menjenguk karena sibuk, sehingga ia bersama beberapa senior lainnya harus mengurus beberapa tugas untuk mengawasi para santri-santri lainnya.


Terhanyut dalam pemikiran yang mengganggu isi kepalanya, serta kesibukan hari ini yang membuat tubuhnya letih seharian. Tanpa sadar ia terlelap dalam sekejap.


...****************...


Sepulangnya Umi dan Abi tak lama aku langsung berlari menuju asrama. Saat sudah di kamar terlihat Aisyah sudah lebih dulu sampai. Ia sedang merapikan barang-barang yang di bawa oleh orang tuanya. Namun, Rara dan Yuri belum menampakkan diri mereka mungkin saja sebentar lagi akan datang.


"Assalamualaikum, Syah..." Teriak ku semangat.


"Hehe udah, capek juga nih bawa barang. Umi kebanyakan banget bawanya.."


"Gapapa dong, lagian berarti orang tua mu sayang sama kamu.. lagian kamu juga masih baru wajar perlengkapan masih banyak kurang." Ujar nya panjang lebar.


"bener sih, kamu udah selesai kan, bantuin dong.. "


"Udah kok, sini aku bantuin."


Sambil merapikan isi lemari yang sudah berserakan. Aisyah menceritakan hal-hal kecil sewaktu ia baru pertama kali ke pondok. Bahkan ia mengatakan sempat melupakan barang terpenting dan menyadari itu setelah sampai di pondok. Ibunya heboh sekali, bahkan ia sempat di marahi, padahal sebelum pergi sudah di absen barang-barang tersebut.


Mendengar cerita serta ekspresi nya yang lucu, kami tertawa bersamaan. Tak lama setelah itu Yuri dan Rara baru sampai ke kamar.


"Assalamualaikum, kek nya heboh banget nih kalian berdua" ujar Yuri penasaran.


" Ehh, waalaikumsalam.. iya nih denger cerita Aisyah. Kalian kok lama banget?"


" Iya gitu ada kerjaan dari Umi Ainun, suruh bantuin kerjaan di kantin." Kata Rara.


"Oh gitu.. yaudah yuk barengan ngantri, gerah ni." Keluh Aisyah.


"Okey.."


Setelah meletakkan barang mereka, kami berempat langsung menuju kamar kecil. Masih ada beberapa santri yang sedang menunggu giliran. Karena sudah terbiasa akhirnya kadang aku suka ikutan teriakin yang kelamaan mandi. Ternyata seru juga, tapi disaat ada beberapa senior yang lainnya. Kami enggan untuk melakukan itu. Kata Aisyah ada yang galak kalo terjadi keributan.


Tentang papan username yang aku temukan di lorong kantor belum aku ceritakan pada mereka. Aku baru sadar nama itu sama dengan salah satu laki-laki yang menatap kami saat terakhir kali saat di perpustakaan.


Tapi aku bingung dengan cara apa harus mengembalikan benda itu kepada pemiliknya, sedangkan gender santri saja di bedakan.


" Hadehh.. bikin pusing aja!" Keluh nya dalam hati.