My Senior My Boy

My Senior My Boy
Teman Satu Kamar



Berat rasanya saat akan aku sadar kami akan saling berjauhan, apalagi aku adalah anak bungsu yang paling manja dibandingkan yang lain. Tapi kenyataan di depan mata dan aku harus siap dengan apa yang sekarang terjadi pada kehidupan baru di tempat ini.


Umi Ainun, salah satu pengurus pesantren yang saat ini berada tepat di depan ku untuk mengantar ke asrama dan memilih kamar yang akan aku tepati.


“Apa kamu merasa tidak enak disini nak, Zia?” tanya nya.


“ Sedikit Umi…. Tapi aku gapapa kok.” jawab ku dengan sedikit gugup.


“Ah tidak apa-apa, kelak kamu akan terbiasa kok.” ujarnya dengan dengan lembut.


Aku hanya mengangguk mendengar tanggapan dari Umi Ainun.


Hingga sampai di satu kamar berukuran sedang, dengan empat buah ranjang dan lemari berukuran sedang. Terlihat tiga orang anak perempuan seusia ku yang ternyata sudah berada disini sejak lulus SD, sehingga terlihat jauh beda sekali bukan? Bisa dibilang aku terlambat masuk ke sini karena sempat menolak, namun umi terus membujukku dan akhirnya aku menyetujui di karenakan Abi tidak mengizinkan aku sekolah dimana pun selain di tempat ini. Sadis bukan? Tapi aku seorang yang ingin terus melanjutkan pendidikan.


Umi memperkenalkanku kepada mereka dan begitupun sebaliknya.


“Assalamualaikum."


“Waalaikumsalam” jawab ketiga santri tersebut secara bersamaan


“Anak-anak perkenalkan ini santriwati baru yang akan menepati kamar ini bersama kalian.”


“ Silahkan perkenalkan diri kamu kepada mereka, Nak.”


“Baik, Umi.”


“Perkenalkan nama saya Aziana Zahra, panggil saja Zia. Dari Jakarta kesini dengan niat untuk menuntut ilmu yang sama seperti kalian. Saya harap tidak merepotkan kalian karena telah memilih kamar ini.” Ujarku


“ Wah… nggak kok, kami bahkan senang karena ada temen baru.” Jawab salah seorang santri.


“ Perkenalkan namaku Aisyah, ini Rara, dan Yuri.” Kedua santri yang lain menyapa dengan senyum ramah padaku.


“Perkenalan nya cukup ya.. nanti di lanjutkan lagi, Umi ada sedikit pekerjaan jadi harus pamit dulu. Assalamualaikum.”


“ Baik, Umi.. waalaikumsalam” Jawab kami serentak.


****************


Di salah satu asrama senior santri putra terlihat seorang remaja laki-laki yang sedang menatap keluar jendela kamarnya. Dengan raut wajah yang sulit diartikan.


“ Siapa dia gerangan?” tanyanya dalam hati.


...****************...


Tapi hari ini senyum simpul yang terukir di bibir menampakkan bentuk lesung pipinya yang begitu manis. Entah apa yang ia sedang pikirkan hingga membuat sikapnya menjadi seperti itu. Tak jauh di luar depan pintu masuk datang seorang lelaki sebayanya yang bernama Hadi masuk ke kamar tersebut tanpa suara dengan niat untuk mengagetkan temannya.


“ Assalamualaikum, woii..!” teriak lelaki itu.


“Astaghfirullahal’azim… Waalaikumsalam, kamu ini ngagetin aku aja.” sontak nya dengan wajah syok.


“Abis bengong mulu sih kamu nya. Muka mu juga kenapa merah gitu?


“Aihh nggak ada apa-apa kok.” elaknya


“Alah nggak usah bohong deh..kita ni udah lama bareng disini, seorang Azam kalo bohong keliatan banget tau.”


“Iyadeh, Di. Sama kamu emang nggak bisa bohong… haha” ujar Azam dengan tertawa kecil.


Ia sadar bahwa Hadi adalah satu-satu nya teman yang tak bisa ia bohongi.


“ Aku mau nanya, Ada santriwati yang baru ya?”


"Kok kamu tau?" Tanya nya keheranan.


“Sepertinya begitu, tadi aku lewat depan kantor ada anak perempuan asing. Kenapa emangnya? Sambung nya lagi.


“ Enggak kok, tadi keliatan pas aku mau keluar musholla.” jawab nya.


"Hayoo naksir ya... Ciee" ledek Hadi


"Kamu ini sembarangan aja.. orang aku cuman nanya." Elaknya.


"Halah... Beneran ngga nih" lagi-lagi godaan temannya itu membuat ia tersenyum kesal.


"Iyaa beneran, udah sana-sana" usir Azam.


“huu... Kirain ada apa tadi.”ujar Hadi.


Sambil menggelengkan kepala Azam segera menyibukkan diri agar Hadi tidak terus meledeknya, jadi terpaksa Azam tidak bisa membahas terlalu jauh tentang santriwati tersebut. Hadi merupakan teman paling dekat dengan Azam apapun yang ia lakukan selalu temannya itu yg mendampingi. Namun , untuk hal ini ia tidak bisa menjelaskan pada Hadi, karena ia sendiri tidak tau apa yang ia rasakan saat ini.