My Senior My Boy

My Senior My Boy
Kekesalan Zia terhadap Azam



Saat Zia sudah memasuki kelas, Azam langsung tertunduk lemas. Dadanya terasa ingin meledak. Ia tak bisa berkata apa-apa saat berhadapan dengan perempuan itu. Seakan suara nya tercekat begitu saja. Memberikan sebotol minuman itu saja butuh keberanian yang cukup kuat. Namun paling tidak dia merasa lega bisa sedikit membantu Zia yang sedikit kesulitan.


Dengan sebisa mungkin ia memantapkan mental nya itu hanya untuk membantu saja sudah kewalahan. Apalagi mengingat bahwa ia pernah hampir mencelakai perempuan tersebut dengan tidak sengaja menabrak nya beberapa waktu lalu. Membuat ia semakin di tekan habis-habisan oleh keadaan. Sehingga ia mengurungkan niat untuk meminta maaf. Pikiran nya mungkin lain kesempatan ia bisa minta maaf dengan benar pada Zia.


Tak jauh dari situ datang lah Hadi yang menghampiri nya. Sambil membawa beberapa buku tebal yang dititipkan oleh Azam. Sebenarnya mereka hendak ke perpustakaan bersama. Tapi saat melihat Zia yang kelelahan, ia mengatakan untuk ke kamar kecil sebentar sehingga meminta Hadi untuk menunggu di perpustakaan. Tapi yang sebenarnya Azam pergi ke kantin untuk membeli sebotol minuman dan langsung menghampiri Zia. Tapi yang benar saja melihat raut wajah perempuan tersebut yang seolah olah menunjukkan kekesalan pada dirinya membuat ia merasa merasa sedikit bersalah.


"Assalamualaikum, Zam kamu kemana aja hah? Aku tungguin dari tadi di perpus malah nggak dateng!" Sergah Hadi.


"Waalaikumsalam, hehe maaf deh. muter-muter tadi sebentar." Jawab nya berbohong.


Hadi langsung menyodorkan buku-buku tebal itu padanya. Azam tersenyum geli saat menerimanya. Terlihat sekali ia kesulitan sekali, apalagi dia juga meminjam beberapa buku.


" Nih buku yang kamu bilang tadi. Tebel amat dah sampai pegel tangan ku." Keluh nya sambil memberikan buku itu pada Azam.


" Wah.. makasih, Di. Untung aja ada kamu yang baik hati ini." Ucap Azam sambil menepuk pundak teman nya itu.


"Iya deh sama-sama, yaudah yuk."


Mereka pun berjalan menuju kelas, karena waktu Zuhur akan segera tiba.


...****************...


Menjelang malam setelah mengerjakan segala aktivitas kami mengobrol dengan santai, sisa waktu tinggal satu jam lebih. Aku duduk sambil memijat kaki yang terasa sedikit pegal akibat hukuman tadi siang. Yuri sudah terlebih dahulu tidur, ia sedang tidak enak badan. Jadi tinggal lah kami bertiga yang masih terjaga. Sesaat kemudian Aisyah dan Rara datang menghampiri ku.


"Pegel ya, Zi?" Tanya Rara


"Lumayan sih, tapi gapapa kok"


" Kita bantu pijitin ya. Kasian kamu"


Mereka dengan sigap memijat kaki ku yang lumayan pegal ini. Sedikit lega rasanya, paling tidak tangan ku tdak terlalu bekerja. Bahkan tenaga ku sudah hampir di batas nya untuk memijat. Untung saja para sahabat ku ini pengertian.


" luv deh mereka" gumam ku sambil tersenyum simpul.


" Boleh deh, hehe. Maaf ya jadi ngerepotin kalian berdua."


" Santai kali, kita kan temen ya kan Ra?" Jawab Aisyah.


"Yap bener banget, jadi harus saling bantu"


" Umh iya deh makasih ya, Syah, Ra " ujarku.


Mereka hanya mengangguk tersenyum. Sambil memijat kaki ku, Aisyah banyak bercerita tentang keadaan di kelas. Beberapa hapalan yang di berikan ustadzah Rahma tadi siang membuat aku yang mendengar nya pusing. Rara bahkan mengatakan tak heran jika itu terjadi, ustadzah Rahma merupakan salah satu lulusan terbaik dua tahun yang lalu dari pesantren ini. Setelah lulus ia mengabdikan diri untuk mengajar di pondok. Ia dikenal sebagai pengajar paling disiplin, namun menurut sebagian santri memberikan banyak tugas dengan batas waktu yang singkat merupakan hal yang berlebihan. Tapi apa boleh buat kami hanya lah santri Junior, hanya berharap itu ilmu yang bisa berguna kelak.


" Oh ya,kalian berdua kenal kan santri yang di piket di gerbang tadi?"


" Oh itu kak Azam sama Hadi. Eh tunggu deh, kamu berarti di hukum sama mereka berdua dong?" Tanya Aisyah sontak.


" Nggak tau, tadi pas aku telat cuman satu orang yang nunggu di situ?" Jawab ku.


" Ciri-ciri nya gimana?" Tanya Rara antusias seketika.


" Ada tahi lalat kecil di bawah mata. Manis sih orangnya."


Tanpa sadar aku memuji nya .


" Hm berati kak Azam yang populer itu." Kata Aisyah antusias.


" Pokoknya nggak tau deh. Yang jelas dia juga yang bikin aku jadi harus bersihin lapangan. Huh.." ketus ku kesal.


Aku menceritakan kronologi bagaimana saat kejadian saat aku membersihkan lapangan. Sampai pada tahap Azam membantu ku. Sontak mereka berdua kaget mendengar hal itu. Bahkan Rara mengatakan sebelumnya jangan kan untuk membantu dalam keadaan seperti itu, mendekati perempuan saja ia enggan. Tapi berbeda yang aku pikirkan tetap saja itu hal yang mengesalkan. Dihukum di tengah lapangan, di tertawakan para santri dan sekaligus ketinggalan materi.


" Seriusan kamu? Nggak mungkin itu Azam, pasti orang lain!" Ujar Aisyah seolah tidak percaya dengan apa yang aku ceritakan.


" Aku nggak salah liat kok." Jawab ku yakin.


" Seriusan ga percaya aku, seorang Azam ngasi air ke kamu. Apalagi kamu baru dan belum banyak di kenal santri.!" Sambung Rara.


" enak banget sih bisa dapet gituan dari dia, kita-kita yang di sini aja sekedar buat ngomong aja susah, selain urusan OSIS, tugas pergantian piket. Hadehh.. Mau juga." Rengek Aisyah.


Tingkah mereka yang seperti itu sangat lucu. Membuat ku lupa akan kekesalan ku pada Azam


" Entah lah, pokoknya kek berwibawa gitu orang nya."


" Wah nggak habis pikir aku, Ra bukan mimpi kan?"


"Nggak."


Mereka masih terlihat kebingungan apa yang aku ceritakan barusan. Aku hanya tertawa kecil dengan tingkah mereka. Tapi tak bisa di pungkiri apa yang aku dengar barusan membuat ku sedikit merasa aneh. Aku mengalihkan dengan cerita lain sampai akhir nya suasana kembali reda dari kehebohan dan pertanyaan yang beruntun yang bahkan aku sendiri tidak tau mau menjawab apa.


Tak lama setelah kami beranjak untuk tidur tiba-tiba aku terpaku pada benda kecil di dalam laci. Seketika aku mengambil nya. Papan username yang aku temukan tanpa sadar aku teringat nama yang Aisyah sebutkan tadi.


" Nggak mungkin. Masa sih orang yang sama, kalo emang sama pasti aku ingat. Tapi ini nggak sama sekali." Gumam ku.


Aku masih enggan untuk memberi tau mereka. Untuk hal yang terjadi hari ini saja sudah sehisteris itu, apalgi tentang papan username ini. Bisa saja mereka pingsan saat aku menunjukkan benda tersebut. Saking lelahnya hari ini di tengah-tengah pikiran yang tak tau arah, tanpa sadar aku terlelap begitu saja.