My Senior My Boy

My Senior My Boy
Moment Potretan Azam



Dua Minggu berlalu


Kehebohan tentang ustadz Fahri dan ustazah Rahma yang akan melanjutkan akad akan di laksanakan pada esok hari. Dua hari sebelumnya para santri di mintai bantuan agar pekerjaan sedikit ringan. Tentu saja banyak yang membantu, mereka tak kurang seperti aku dan temanku yang lainnya. Yaitu membebaskan diri dan pikiran dari hal-hal yang berbaur aktivitas pondok. Acara hanya dilakukan secara sederhana yang akan di hadiri oleh keluarga besar dan seluruh orang yang ada lingkup pesantren. Mulai dari seluruh santri, pengurus serta pembimbing.


Aku dan para senior santriwati diharapkan untuk membantu penataan makanan. Karena kesempatan libur sementara, ada beberapa santri yang pulang di jemput oleh orang tua mereka. Termasuk Yuri ia juga izin untuk pulang kerumah. Tinggal lah kami bertiga, aku tentu saja di hubungi oleh Umi dan di tanyakan apa aku ingin pulang atau tidak. Namun aku tidak ingin pulang, lagipula mereka juga akan bertamu ke pondok untuk Hadi di acara ini.


Di sela-sela pekerjaan kami, terdapat seorang laki-laki yang mengambil foto dan video menggunakan kamera digital untuk di momenkan nanti. Aisyah langsung mengenal santri itu dan ia adalah Azam. Ia langsung histeris seketika dan memanggil ku. Tentu saja aku terkejut. Untung saja saat itu kami hanya bertiga bersama Rara.


" Zia... Itu yang motret kita Azam kan?" Ujar nya sambil menunjuk kan ke arah Azam yang sedari tadi terus memotret kegiatan.


" Aduh kamu ni , Syah. Bikin orang panik aja, kirain ada yang apa." Tukas ku.


Rara tertawa cekikikan melihat tingkah kami berdua. Saat melihat ke arah Azam aku hanya teringat akhir- akhir tidak habis pikir dengan pertemuan kami yang cukup aneh. Ada rasa yang tak bisa di ungkapkan oleh kata bagi ku. Namun selama ini aku hanya bersembunyi dari kenyataan seolah aku tidak ingin ada rasa tertarik padanya alias cuek. Padahal rasa itu sebaliknya. Sekesal apapun aku padanya atas kejadian beberapa waktu lalu, namun mendengar cerita dari Aisyah tentang nya membuat ku sedikit penasaran.


" Kak Azam fotoin kita juga yaa.." tiba-tiba saja Aisyah berteriak pada nya untuk memotret kami bertiga.


Dengan rasa yang tak karuan tentu saja membuat ku panik, namun aku berusaha biasa saja.


" Okey, pose yang bagus yaa.." Azam membalas panggilan Aisyah.


" Satu, dua, tiga.. ckrek!" Hitung Azam sambil menekan tombol kamera.


Aku hanya tersenyum tipis sambil berpose dua jari andalan para gadis lainnya.


" Lagi yaa,.." Ujar nya.


Azam langsung menyodorkan kamera nya kepada Aisyah untuk melihat hasil jepretan foto mereka.


" Wahh bagus banget.. makasih ya kak" kata Rara padanya.


" Sama-sama, saya duluan ya mau fotoin yang lain." Ujarnya pamit.


Setelah beberapa kali Azam memotret kami bertiga ia langsung pamit pergi untuk mengambil momen santri lain. Namun sebelum itu, aku sadar saat menunjukkan foto-foto itu pada kami, matanya sekilas menatap ku dengan seksama sambil tersenyum manis tanpa di sadari Aisyah dan Yuri yang sibuk melihat foto mereka. Aku hanya berusaha menghindari pandangan itu. Jika tidak bisa saja wajah ku akan seperti tomat saat melihat ia tersenyum semanis itu.


" Ya Allah, ciptaan mu begitu sempurna, bahkan tersenyum sedikit saja membuat ku meleleh" gumamku tersenyum.


Tanpa sadar aku memujinya seketika. Aku langsung menggelengkan kepala ku agar tidak mengingat nya. Aku pun langsung membantu pekerjaan Aisyah yang sedang memasang kain taplak meja.


...****************...


Azam yang memotret beberapa kegiatan tiba-tiba saja di panggil oleh adik kelasnya. Saat mendengar panggilan itu ia langsung menoleh kearah asal suara, ternyata itu ada lah Aisyah. Ia pun langsung menghampiri nya. Saat melihat Zia yang melihat nya, Azam berusaha untuk terlihat biasa saja.


Sambil menghampiri santri puti itu ia diam-diam memotret Zia yang sedang bekerja. Tak lama setelah berbincang dengan Aisyah ia pun mulai mengambil foto mereka bertiga. Beberapa foto yang ia ambil terlihat bagus dan memuaskan. Tapi dadanya terasa ingin meledak.


Setelah menunjukkan hasil potretan nya ke Aisyah, Azam menatap Zia dan tanpa sadar ia tersenyum. Setelah melihat Zia balas menatap nya dan langsung tertunduk, ia pun langsung tersadar dan langsung pamit untuk pergi ke tempat lain untuk mengambil momen kegiatan lainnya. Sambil berjalan menjauh dari mereka Azam berusaha menenangkan hatinya untuk tidak berlebihan dalam mengagumi Zia.


Tanpa sadari ada perempuan yang sedang memperhatikan mereka sedari tadi dengan ekspresi yang sulit di artikan.


...****************...