My Senior My Boy

My Senior My Boy
Perempuan itu Siapa?



Dua hari setelah libur karena acara ustadz Fahri. Para santri beraktivitas seperti biasa mulai dari sekolah beserta kegiatan lainnya. Tepat hari pertama masuk sekolah, saat aku sedang berjalan untuk memasuki gerbang bersama temanku. Tak jauh dari situ terlihat Azam yang berbicara dengan seorang perempuan, dari postur tubuh dan tanda senior di lengan bajunya sudah pasti satu angkatan dengan Azam sebagai senior.


" Stop.!" Sergah Rara.


Aku hampir terjatuh saat di berhentikan mendadak oleh Rara begitu juga Aisyah yang lebih dulu terjungkal ke depan.


"Aww..Ra kenapa sih! Kan jadi nyungsep aku nya nih." Ringis nya.


"Ehh, maaf, Syah. Maaf banget, aku ga maksud bikin kamu jatuh!" Ujar Rara panik.


"Iyaa nih, Untung aja kerupuk ku nggak ikutan jatuh kalo nggak abis kamu, Ra!" Sambung Yuri.


Kami tertawa sambil menariknya untuk berdiri. Untung saja saat itu sekitar tidak ada orang, jadi ia tidak merasa malu. Sesaat setelah membantu Aisyah membersihkan rok nya kami bersembunyi untuk melihat perempuan tadi yang tengah berbincang bersama Azam. Ia tampak tersenyum saat berbincang dengan santri itu.


" Apa yang mereka bicara sampai Azam terlihat seperti itu?" Tanya batin ku.


" Hmm, itu bukan nya kak Fatimah ya? Itu lho senior yang seangkatan sama Azam." Jelas Aisyah.


" Iya, dia ngapain disitu kan nggak baik berduaan gitu, apalagi para santri lain bisa liat. Kan bisa jadi suudzon!" Sambung Rara lagi.


Saat melihat mereka berdua seperti itu, entah apa yang membuat ku tiba-tiba merasa sedikit tak karuan. Bahkan aku sendiri tidak paham dengan perasaan ku sendiri. Hah, sungguh membuat ku pusing.


" Ckckck.. sangat tidak sopan!" Celetuk Yuri sambil mengunyah kerupuk nya.


" Yaudah yuk kita nanti malah telat gara-gara mereka." Ajak Aisyah memecah kan suasana yang cukup aneh.


Sambil melihat jam di tangan aku langsung terbelalak. Apa yang di katakan oleh Aisyah benar sepuluh menit lagi kami akan memulai pelajaran. Aisyah seketika menarik tangan ku dan dua lainnya agar lebih cepat memasuki sekolah.


"Assalamualaikum, permisi!" Cetus Aisyah dengan nada sedikit tegas.


" Eh iya, waalaikumsalam" jawab mereka serentak.


Tepat ketika melewati gerbang aku sekilas menatap Azam tapi ternyata ia lebih dulu melihat ku, dengan cepat aku langsung memalingkan wajah ku ke arah depan dan terus berjalan bersama mereka. Tapi tak lupa aku juga sempat melihat tatapan perempuan itu pada kami seolah tidak terlalu senang.


" Kenapa tatapan nya seperti itu?" Pikir ku lagi.


...****************...


Pagi itu seperti biasa Azam dan Hadi menjalankan tugas mereka untuk mengabsen para santri yang masuk sekolah. Hadi yang menghitung satu demi satu para santri merasa butuh istirahat, bagaimana tidak, ia juga harus memperhatikan sekitar agar tidak ada santri yang bolos. Karena sudah kejadian beberapa kali terjadi. Kini giliran Azam yang menghitung.


Namun selang tak berapa lama ia di hampiri oleh seorang santri putri.


" Assalamualaikum, Zam" sapanya.


Seketika mendengar suara seseorang orang menyapa nya, ia langsung menoleh.


" Itu, anu, Zam. Saya mau nanya soal jadwal untuk ujian. Kata mbak Rahma, ustadz udah ngasi ke kamu."


" Oh jadwal ujian. Ada , nanti aku kasih satu setiap satu kelas!"


" Yasudah jangan lupa lho ya."


" Tenang, Hadi bakal bantu."


Belum sempat menghabiskan kalimat yang ingin ia ucapkan. Tiba-tiba empat orang santri putri lewat. Ia kenal betul dengan mereka yang tak lain Zia beserta tiga temannya. Aisyah yang mengucapkan salam pada nya dan Tari. Seketika langsung Melawati mereka begitu saja. Tak bisa di pungkiri begitu melihat Azam yang menatap lekat para santri itu ia merasa sedikit tidak suka.


" Zam!" Tegur Tari.


" Hah. Iya kenapa?" Azam langsung sadar dan balik menghadap ke arah Tari.


" Kenapa, kok bengong?" Tanya nya


" Nggak kok, kurang minum kali" jawab Azam mengelak


" Hmm... Nih kebetulan aku ada air mineral. Biar bisa fokus." Ujar Tari sambil menyodorkan sebotol air mineral.


Azam mengerutkan alis nya ketika Tari yang tiba-tiba saja reflek memberikan nya minuman. Tapi ia merasa tidak enak menolak pemberian perempuan itu. Secara tidak langsung ia sendiri yang mengatakan itu.


" Makasih, Tar" ucap Azam.


" Sama-sama. Aku duluan ya, assalamualaikum" pamit nya.


" Waalaikumsalam "


Tak lama setelah Tari pergi, Azam memberikan air tersebut kepada Hadi. Bukan karena tidak menerima pemberian Tari, tapi ia baru ingat hari ini ia sedang puasa Senin. Hadi yang sibuk dengan pena nya seketika saja bingung.


" Lho , kok ngasih ke aku?" Tanya Hadi keheranan.


" Aku baru inget soal puasa hari ini."


" Yahh.. iya ya, yaudah makasih bro, aku ambil yak, kamu jangan liat." Dengan sigap Hadi langsung memutar tutup botol dan meneguk air tersebut hingga tinggal seperempat isinya.


Azam terkekeh melihat Hadi yang seperti orang yang kehausan itu. Sambil menulis daftar nama santri tadi ia sadar bahwa Zia juga sempat melihatnya. Hanya saja ia langsung memalingkan wajah nya ke arah depan.


Seketika bel masuk pun berbunyi. Ia dan Hadi langsung menuju kantor untuk memberikan absensi kepada pengawas. Setelah itu mereka pamit untuk masuk ke ruang kelas.


...****************...