
“Zia…” panggil umi dari luar rumah.
“Iya umi sebentar.” jawabku.
Aku beranjak dari ranjang kasur dan berjalan menuju keluar kamar dengan membawa satu koper berukuran sedang dan tas kecil. Dengan tergesa-gesa sambil berlari kecil aku menghampiri kedua orang tua ku yang sudah menunggu sejak satu jam yang lalu.
Umi hanya tersenyum geli melihat ku yang kerepotan membawa barang-barang yang sudah disiapkan sore kemarin dan Abi dengan sigapnya menata langsung ke dalam bagasi mobil. Kemudian kami pun berangkat untuk menuju pesantren.
Btw, namaku Aziana Zahra dan biasa dipanggil Zia, anak bungsu dari tiga bersaudara. Hari ini adalah hari dimana aku akan mengawali kehidupan baru setelah lulus dari bangku sekolah menengah pertama (SMP). Awalnya aku menolak untuk dimasukkan ke pesantren, kenapa? Karena menurutku hanya di beri pendidikan yang cukup kolot bahkan banyak aturan-aturan yang kurang masuk akal dibandingkan sekolah ku dulu dan sekolah menengah pada umumnya. Namun apa daya aku hidup di keluarga yang ingin para anak nya mendapat pendidikan agama yang cukup. Hal ini membuat Kedua orang tua ku bersikukuh untuk memasuki dunia pesantren, karena bagi mereka ini merupakan salah satu jalan terbaik untuk anak-anak mereka mendapatkan pengetahuan agama yang lebih baik. Kedua kakakku yang telah lebih dulu lulus, bahkan mereka dimasukkan saat setelah lulus Sekolah Dasar (SD) dan sekarang mereka sedang menempuh pendidikan di luar negeri.
...****************...
Tak kurang dari dua jam akhirnya kami sampai dan di tujuan. Aku keluar turun dari mobil dengan membawa koper sambil berjalan agak lesu. Dari depan parkir terlihat gerbang yang sedikit usang, dan sederhana, namun di dalamnya terdapat halaman yang bersih. Bagaimana tidak, membayangkan nya saja aku sudah lelah, dimana aku harus hidup dengan pendidikan yang lebih ketat daripada di rumah saat bersama orang tua sendiri. Sambil mengikuti mereka melewati lorong untuk menuju ke kantor utama. Beberapa santriwati lewat sambil melirik ku sambil tersenyum ramah kepadaku. Namun tetap saja diri ini terasa ingin kabur setelah melihat bagaimana cara mereka berpakaian, jilbab yang cukup panjang hingga menutupi pinggul dan sedangkan aku yang sudah terbiasa dengan pakaian yang biasa saja, tidak terlalu pendek maupun panjang serta jilbab di naikan ke bahu hingga menampilkan bentuk tubuh. Sangat berbeda sekali dengan di tempat ini.
“Jaga diri kamu baik-baik disini, jangan membuat keributan lho ya.. Umi berharap dengan masuknya Zia ke pesantren ini bisa menjadi anak yang lebih tau banyak tentang agama.”
“Benar..Abi juga tidak bermaksud untuk memaksa Zia untuk ikut jejak seperti kakak-kakak mu, tapi ini jugs demi kebaikan kamu nanti.” sambung abi
“ Iya Umi, Abi… Zia ngerti kok.” jawabku sembari mengangguk
“ Ya sudah kami pamit pulang ya, Nak.. Assalamualaikum.”
“Baik, Umi… Waalaikumsalam.”
Seketika Umi berjalan keluar dan aku langsung menuju kasur yang kosong.