
Di saat sekolah mulai aktif, Azam yang saat ini sedang siap-siap untuk berangkat, ia teringat tentang papan username miliknya entah dimana. Sambil kesana-kemari membuka lemari beserta laci nya ia tidak mendapati benda itu. Sambil mengingat terakhir kali dimana ia meletakkan nya Azam langsung menanyai Hadi yang juga sedang bersiap-siap untuk berangkat.
"Di, kamu liat papan username ku nggak?"
"Nggak tuh, emangnya ilang kah?"
"Iyaa ni kayaknya, abis aku udah cari tapi nggak ada. Mana hari ini jadwal jaga gerbang lagi." Ujarnya cemas .
"Tapi bukannya dari pas hari libur kamu nggak pakai papan nama ya? Soalnya nggak ada keliatan pas kamu balik ke kamar." Kata Hadi bingung.
" Ada kok, tapi emang pas sore ga ada pegang.. duh dimana lagi nih"
" Udah nanti aja cari nya. Kita piket tau, ntar telat." Sergah Hadi.
Sambil mengikuti langkah Hadi, ia berusaha mengingat dimana barang miliknya itu berada. Tak lama setelah sampai keadaan sekolah masih hening belum ada satu santri pun yang datang karena masih terbilang sangat pagi. Hanya terlihat beberapa pengawas serta ustadz Fahri yang sedang memperhatikan tanaman.
Wajar saja keadaan sekolah masih hening, langit saja masih belum terlalu terang. Namun saat jadwal piket mereka harus sudah ada di gerbang untuk absen. Jadi bila terlambat bisa saja akan sedikit kesulitan mencari santri yang datang lebih dulu dari mereka. Bahkan jika mereka ikut terlambat akan di beri sanksi
Dengan sedikit berlari mereka berdua langsung kembali ke gerbang untuk mengabsen para santri.
" Fyuhh... Untuk sempet tau kalo nggak habis kita, Zam." Kata Hadi lega.
" Iya juga, Di. Coba tadi aku terusin nyari tu papan username mungkin udah kena kita sama ustadz Fahri."
" Bener banget. Tumben ya dia dateng nya lebih dulu daripada kita. Biasanya pasti nunggu udah sebagian anak lain dateng."
" Tau tuh.. udah lah biarin aja, mungkin ada keperluan." Jawab Azam.
Satu persatu para santri mulai berdatangan. Hadi menghitung mereka satu demi satu dan Azam menulis di catatan absensi. Hampir setengah jam mendata kehadiran semua santri, Hadi pamit untuk ke kantor terlebih dulu. Tinggal lah Azam sendiri di pos gerbang tersebut. Bel tanda masuk pun berbunyi, namun tiba-tiba terlihat santri putri tampak berlari dengan cepat. Tetapi sudah terlambat semua santri sudah memasuki kelas masing-masing.
“ Tunggu, masih boleh masuk kan, Kak?” teriak nya, dengan napas yang tidak beraturan.
“ Udah terlambat dua puluh detik. Siapa nama kamu “ Tanya Azam tanpa menoleh perempuan tersebut.
“Aziana Zahra, kelas sepuluh B. Pliss.., masa nggak boleh masuk sih.” Bujuk nya.
“ Boleh, tapi karena terlambat tetap ada sanksi nya.”
Saat Azam mendongak kepalanya untuk melihat siapa santri tersebut, ia hampir terkejut ternyata itu Zia. Dengan bersusah payah ia berusaha untuk terlihat biasa saja.
“ Yahh... masa ada sanksi, Kak? Kan cuman dua puluh detik.”
“ Ada, jam istirahat nanti bersihkan lapangan. Kalau kamu mengelak akan dikenakan dua kali lipat hukumannya. Saya pamit dulu, assalamualaikum!”
“ Ck, iya kak, waalaikumsalam.” Jawab Zia dengan nada lesu.
Dengan perasaan kesal, Zia berlari kecil langsung menuju kelasnya karena pelajaran akan segera di mulai.
Deg...Deg..
Saat meninggalkan Zia, dada Azam terasa bergemuruh tak karuan. Pertemuan sesaat yang selalu berasalkan dari sebuah masalah hingga membuatnya semakin bingung. Ia tidak mengerti di saat-saat keadaan genting membuatnya berhadapan dengan Zia. Bahkan untuk bicara saja ia sudah merasa kesulitan seolah-olah oksigen di sekitar lenyap begitu saja.
“ Ya Allah cobaan apa lagi ini?” Gumamnya.
...****************...
Jam istirahat santri putri.
Dengan lesu aku beserta tiga teman lainnya bergegas keluar kelas dan langsung menuju kantin. Saat sibuknya dengan makananan masing-masing, Rara dengan penasaran langsung mengintrogasi alasan keterlambatan ku hari ini.
“ Kamu kok bisa telat sih. Bukannya kata kamu tadi bentar aja ya ke kamar kecil nya? “
“ Iya, tapi pas mau pakai sepatu kaos kaki ku hilang, lupa nyimpen dimana.”
“ Lagian kamu sih, udah tau senin malah nggak disiapin dari kemarin!” ujar Aisyah.
“ Iya, padahal udah di kasih tau, kan jadi di hukum deh.” Sambung Yuri.
“ Hehe.. Lupa guys.” Jawabku sambil mengunyah gorengan.
Mendengar ocehan mereka aku hanya cengengesan. Memang aku yang lalai sebelumnya mereka sudah mengingatkan tentang aturan sekolah yang harus datang tepat waktu. Tapi siapa sangka ternyata hal tersebut terdapat sanksi jika di langgar. Tak lama setelah makan, aku pamit untuk membersihkan lapangan.
“ Aku duluan yak, ntar di tegur lagi sama tu orang. dahh” kata ku sambil berlari.
“ Semangat, Kita cuman bisa bantu doa, hehe.. dahh” Teriak mereka.
Di Lapangan
" Huaaa, panas banget lagi siang-siang bolong harus pungut sampah gini." Rutuk ku dalam hati.
Matahari yang begitu terik terasa membakar kulit membuat ku sangat kehausan. Beberapa santri yang lewat tersenyum melihat ku yang membersihkan lapangan sendirian. Mengingat betapa kesal nya aku harus berhadapan dengan senior itu. Seharusnya saat ini aku sedang menikmati air es dan makan siang yang enak di kantin, tapi apa daya gara terlambat hanya dua puluh detik saja sudah membuat ku hampir gosong terbakar di sekitar lapangan. Mau protes tapi takut di tambah hukuman nya ya sudah lah.
Tak lama setelah selesai membersihkan sebagian besar lapangan, aku langsung duduk di bawah pohon. Terik matahari yang begitu menyilaukan mata membuat keringat ku semakin bercucuran. Mau membeli air saja kaki ku sudah tidak kuat untuk berjalan lagi. Namun tiba-tiba saja seseorang memberikan ku sebotol minuman dingin. Tanpa ba-bi-bu aku langsung menyerobot air itu, tak lupa juga membaca doa dan langsung meminum nya.
"Hah.. leganya. Makasih ya" ucap ku.
"Sama-sama, capek kan bersihin tempat ini?" Tanya nya.
Saat melihat ke arah suara tersebut aku terkejut, ternyata itu senior yang memberiku sanksi ini. Sosok laki-laki yang bisa dibilang cukup tampan dan berwibawa dengan senyum khas nya,memakai baju putih serta peci hitam, terdapat tahi lalat kecil di bawah kelopak mata membuat nya semakin menarik. Tapi tetap saja ingin rasanya aku protes kesal, jika bukan karena nya aku pasti sudah di kelas.
"Ck.." aku hanya berdecak mendengar pertanyaan nya itu.
" Lain kali kalau nggak mau di hukum jangan telat.!"
"Ya sudah kamu boleh kembali ke kelas, Jangan lupa bersihkan diri dulu sebelum sholat Zuhur." Sambung nya.
"Iya kak, saya duluan assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Sesampainya di kelas aku mulai melanjutkan pembelajaran yang sebagian sudah tertinggal selama satu jam lebih. Aisyah yang sedari tadi bertanya ini itu pun tidak aku ladeni. Bukannya apa-apa, tapi badan ku sudah gatal semuanya karena keringat. Aku hanya memberi isyarat nanti saja di kamar aku ceritakan. Ia pun membalas isyarat tanda setuju.
...****************...