My Senior My Boy

My Senior My Boy
Pengajian di tempat Umi Ainun



Tepat di depan rumah Umi Ainun. Terlihat beberapa ustazah yang membantu termasuk ustazah Rahma, entah mengapa karena untuk pertama kalinya aku mendengar hal yang menarik tentang beliau saat di kantin siang tadi. Saat melihat kami dari dalam ia langsung menyapa dengan ramah nya.


" Ehh.. udah sampai ternyata yuk masuk Aisyah ajak temennya." ajaknya.


" Iya, ustazah. Assalamualaikum." Sapa kami bersamaan. Sambil melepas alas kaki dan memasukkan ruang tamu rumahnya.


" Waalaikumsalam, maaf ya jadi repot gini bantuin Umi Ainun." Katanya.


" Nggak kok, malah kita seneng bisa bantu." Jawab Yuri.


Ruang tamu di rumah Umi Ainun sangat luas. Jadi pantas saja jika hanya ada pengajian kecil yang biasanya di lakukan ibu-ibu dari luar pondok bisa langsung di rumahnya. Aku terkejut saat melihat di dinding terdapat foto-foto ustazah Rahma dan Umi Ainun. Ternyata selama ini ia adalah anak dari pemilik pondok ini. Pantas saja ia sangat disiplin saat mengajar, tapi ramah sekali saat santai.


" Kalian bisa panggil saya mbak aja kalo di luar aktivitas pondok." Ujarnya, seolah mengerti apa yang aku pikirkan..


" Oke mbak." Tukas Aisyah.


" Oh ya.. kalian bisa bantuin Umi di dapur, biar mbak yang ngurusin disini. Nanti Kalo ada apa-apa panggil mbak ya.."


" Siap mbak, kita permisi dulu." jawab kami serentak dengan semangat.


Saat sibuk membantu Umi untuk menyiapkan segalanya tanpa sadar jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Ini adalah waktu untuk membersihkan diri, sebenarnya mulai i dari pukul empat tapi karena kami sudah sibuk seperti akhirnya hampir lupa. Untung nya pekerjaan sudah siap, kami langsung pamit kepada Umi dan ustazah lainnya. Namun sebelum beranjak pergi, Ustazah Rahma memberikan kami sedikit bingkisan yang berisi makanan. Setelah mengucapkan terima kasih, kami langsung menuju asrama. Paling antrian untuk mandi hanya tinggal beberapa santri lagi.


Selesai sholat Maghrib saat ingin keluar dari musholla tak jauh dari situ terlihat beberapa ibu-ibu yang mulai berdatangan ke rumah Umi.


Malam ini para santri putri di suruh untuk mengaji di asrama masing-masing, karena pengawas perempuan dan Ustazah yang biasanya membimbing saat ini mengikuti pengajian itu.


Kami pun kembali ke kamar. Saat sampai masing-masing dari kami mengambil Al Qur'an dan membacanya dengan khusuk. Selang tak berapa lama setelah membacanya, aku sibuk pun sibuk mengerjakan PR begitu juga dengan lainnya.


Mengetahui hal itu aku dan yang lainnya kegirangan bukan main. Saat-saat seperti ini adalah hal yang cukup langka, aku pikir hanya di rumah Umi saja yang membuat kami sedikit menghindari aktivitas biasanya di asrama, ternyata malam nya juga di berikan waktu untuk belajar sendiri. Mulai dari setelah sholat isya.


...****************...


Di asrama putra


Terlihat Azam yang tengah berkumpul dengan temannya sambil memegang kitab masing-masing. Sebagai anak kelas duabelas hal ini merupakan masa-masa serius mereka akan ujian yang mungkin tidak lama lagi. Banyak hal yang harus disiapkan dari tugas yang menumpuk, serta hapalan yang tertunda.


Di keheningan itu akhirnya Hadi lah yang tidak bisa tinggal diam. Dia satu-satunya teman Azam paling tidak suka suasana yang terlalu hening seperti sekarang. Dengan semangat ia mulai membuka pembicaraan mengenai setelah lulus dari pondok di kemudian hari nanti.


Ia langsung menutup bukunya dan seketika bertanya.


“ Ngomong-ngomong kalian abis lulus pada kemana nih?” Tanya nya.


“ Aku sih yang jelas pasti di suruh kuliah.” Ujar Rian


“ Aku malah masih bingung mau kemana, Di. Tapi niatnya sih bakalan tetep ngelanjutin pendidikan di pondok deh keknya” Sambung Azam.


Azam terlihat sedikit kebingungan saat di hadapkan dengan pertanyaan ini, bukannya tidak suka tapi menurut nya paling tidak sekarang fokus ke ujian yang sebentar lagi akan datang.


“ Lho kok kita samaan. Aku juga niatnya disini”


Azam hanya mengernyit heran.


“ Udah nggak heran mah kalo kalian berdua tu." Tukas Rian.


Seolah ia tau bahwa sulit sekali untuk tidak melihat mereka memiliki hal yang sama.


“ Hehe.. mana tau ya kan bisa sekalian nemu jodoh disini.”


Mendengar hal itu Azam terkekeh melihat pernyataan konyol Hadi.


“ Kamu ini, Di. Ada aja itu namanya niat nggak bener.” Ujar Rian yang di barengi anggukan Azam.


“ Canda kali, Ri. Lagian juga gapapa kali disini. Bisa bantuin kyai ngurus pondok”


“ Haha iyadeh-iyadeh. Yang penting jelas kita niatnya mau menimba ilmu.” Ucap Azam.


“ Nah, itu baru bener.” Sambung Rian.


Mereka pun tertawa bersamaan di tengah hening nya asrama itu. Jika bukan karena mereka adalah senior mungkin saja sudah di teror habis-habisan oleh pengawas setempat yang menjaga ketertiban asrama. Menurut ketentuan pondok untuk senior akhir mereka memiliki kebebasan saat belajar di malam hari asal kan tidak menggangu aktivitas seperti di pondok serta sekolahnya.