
Happy reading.🍂🍂
"Assalamu'alaikum!" Green mengucapkan salam.
"Wa'alaikumussalam!" jawab Raka.
"Abangnya Green, udah makan siang? Udah minum obat belom ni?" tanya Green sambil menghampiri Raka yang berada di brangkar.
"Udah kok tadi, sekolah nya gimana?" tanya Raka.
"Gedung sekolah nya masih sama kok bang, belom di renovasi. Lapangan sekolah nya masih sama, gak ada yang berubah." jawab Green.
"Ya, maksud Abang bukan itu loh Green. Maksud Abang itu gimana sekolah kamu? Lancar? Ada yang gangguin gak tadi disekolah?" tanya Raka.
"Ooo itu, gak ada kok, alhamdulillah." jawab Green.
"Green, Abang kapan sih boleh keluar dari rumah sakit nya? Abang udah bosen tau disini terus!" tanya Raka.
"Kata dokter Leon sih, kalau keadaan Abang udah sembuh total, Abang boleh pulang kok." jawab Green.
"Tapi kapan? Abang udah kuat kok Green, luka nya juga udah kering. Bujuk dong dokter Leon nya supaya bolehin Abang keluar, pliiss!" rengek Raka.
"Iya iya, nanti Green tanya in, sabar ya." jawab Green.
*****
"Jadi Bang Raka udah boleh pulang ya dok?" tanya Green.
"Iya, udah boleh kok. Kalau mau pulang malam ini juga udah boleh," jawab Leon.
"Ya udah, kalau gitu kita pulang malam ini ya Green. Abang udah kangen rumah loh, disini gak enak, bau obat." rengek Raka.
"Iya iya, nanti Green telfon pak supir dulu," jawab Green.
"Baiklah, kalau gitu saya permisi dulu ya? Ada pasien lain yang harus saya periksa, permisi!" pamit Leon.
"Iya dok, makasih banyak!" jawab Green.
"Udah kan? Cepetan dong telfon pak supir nya, cepet!" ucap Raka yang terus saja merengek ingin cepat pulang.
"Iya iya Bang, sabar dong. Ini juga Green mau nelfon," jawab Green.
"Serasa udah punya anak gue" gumam Green.
"Assalamu'alaikum! Pak, bisa jemput Green dan Bang Raka sekarang pak? Soalnya Bang Raka sudah boleh pulang hari ini."
"......"
"Oke, baik pak, kami tunggu ya? Nanti kalau udah sampai, kabari saya. Assalamu'alaikum!"
"....."
Ting!
Satu notifikasi masuk ke handphone Green. Saat dibuka, betapa terkejutnya Green saat melihat foto yang dikirimkan oleh Rara.
[Lo ngambil Bang Raka dari gue, berarti lo bakal siap siap melihat kehancuran sahabat lo.] Foto dan chat itu dikirimkan oleh Rara.
Pov Dara.
"Huh! Gue kenapa ya, akhir akhir ini sering galau? Terus kayak ada yang hilang gitu dari gue, rasanya itu sepi. Apa karena Ridwan mulai jauhin gue ya?" gumam Dara di atas kasur nya.
Argh!
"Gila gue lama lama jadinya, masa karena Ridwan sih. Gue itu gak cinta sama dia, mana mungkin gue galau karena dia sih? Ah udah lah gak usah dipikirkan Dar, lebih baik lo fokus dulu buat ujian kenaikan kelas. Tiga minggu lagi lo ujian, jangan pikirkan hal yang gak penting gitu." sambung nya. Lalu, melakukan gerakan yang gak jelas di kasur karena galau.
Ting!
"Siapa lagi yang ganggu malam malam gini? Gak tau gue lagi galau apa?" kesalnya, lalu mengambil hp nya yang berada di nakas.
"Apa lagi yang dikirim sama Green, awas aja kalau gak penting." ucapnya.
Degh!
Betapa terkejutnya Dara melihat foto yang dikirim kan oleh Green. Ada sesuatu yang terasa amat sakit, setelah melihat foto tersebut.
Apakah secepat itu dia melupakan Dara? Apa kata cinta yang selama ini dia katakan adalah gurauan? Atau candaan? Atau memang dia tidak ada rasa terhadap Dara? Atau Dara saja yang terlalu berharap selama ini?
Bagaimana mungkin dalam waktu 1 bulan dia sudah melupakan Dara? Sedangkan Dara saja belum bisa melupakan nya.
"Ini, apa maksudnya semua ini? Gak gak, gak ini gak mungkin. Gak lah, Ridwan gak mungkin secepat itu ngelupain gue. Dan Rara? Ridwan dan nenek lampir itu jadian? Gak gak mungkin, semua ini bohong. Ridwan pasti cuma mau bikin gue cemburu dan sakit hati. Iya dia cuma mau bikin gue cemburu, dia gak serius sama nenek lampir." ucap Dara bergetar, lalu membuang hp tersebut, untung masih di atas kasur dilemparnya.
Dreet!
Dreet!
Telfon dari Green sudah terabaikan oleh foto yang baru saja di lihatnya. Foto ketika Ridwan bermesraan dengan Rara disebuah cafe, senyuman itu, senyuman yang selalu Ridwan tampilkan untuk Dara. Namun, kini senyuman itu terukir indah diwajah nya saat bersama Rara, yang jelas jelas musuh dari Dara.
"Gak mungkin, ini semua bohong. Ridwan, apa secepat itu lo ngelupain gue? Apa gak ada sedikit pun perjuangan cinta lo buat gue? G-gue harus telfon Ridwan, iya gue harus telfon dia buat dapat konfirmasi tentang kejelasan semua ini. Dia gak mungkin kayak gitu, gak gak mungkin. Hp, hp gue, gue harus telfon Ridwan." ucap Dara lalu mencari kontak Ridwan dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
Tapi, apakah disaat situasi sudah seperti ini hanya Ridwan saja yang patut disalahkan? Bukan kah Dara sendiri yang menginginkan Ridwan menjauh dari nya? Dan Dara sendiri yang mengatakan bahwa dia tidak peduli jika Ridwan diambil oleh perempuan lain nanti nya? Namun, kenapa sekarang Dara malah menyalahkan Ridwan? Entahlah, perasaan memang kadang susah ditebak dan selalu datang secara dadakan dan tanpa permisi.
Tetapi, kenapa malah disaat Ridwan sudah menjadi milik perempuan lain baru perasaan itu muncul? Aneh memang, tapi bagi Dara perasaan itu sungguh menyakitkan sekarang ini. Dan mungkin Dara menyesali sudah memiliki perasaan itu sekarang.
Tutt!
Tutt!
Tutt!
Argh!
"Kenapa kenapa kenapa kenapa! Kenapa baru sekarang gue menyadari perasaan ini? Kenapa gue gak menyadari nya dari dulu? Sekarang, sudah terlambat, gue gak bisa ngapa ngapain lagi. Sekarang gue hanya bisa pasrah, atau boleh kah gue egois buat dapetin lo Ridwan? Bolehkah gue rebut lo, yang jelas jelas udah jadi milik orang lain?" ucap Dara lirih.
Bersambung....
Sampai sini dulu,
Gimana? Sorry ya agak sad sedikit di beberapa part.
Tapi gak lah, bentar lagi semua part bakal sedih dan penuh air mata😁