My Posessive Childish Brother And Boyfriend

My Posessive Childish Brother And Boyfriend
Episode 19



Saat Green mencoba memejamkan mata nya mengikuti Raka ke alam mimpi, tapi suara notifikasi di hp nya menggangu Green.


Ting


Ting


Ting


"Ish, siapa sih yang ganggu, baru juga mau mejamkan mata," gerutu Green sambil mencoba mengambil hp nya yang berada di nakas samping brangkar Raka.


    Setelah berusaha mengambil hp nya karena badan nya yg terhimpit oleh badan Raka dan dia takut menggangu tidur Raka saat ini. Akhirnya dia dapat mengambil hp nya.


"Akhirnya dapat juga, bikin susah aja ni hp pake bunyi segala," geram Green.


"Eughh Green jangan tinggalin Abang lagi," ucap Raka mengigau lalu tambah mengeratkan pelukan nya


"Ssttt Green disini kok gak kemana mana, tidur lagi ya?" ucap Green.


'Duuh makin erat aja lagi pelukannya, sabarr nambah sesak dikut gapapa kok. Dari pada nanti sesak karena Bang Raka kayak dulu lagi.' Batin Green. Setelah merasa kalau Raka sudah tidur lagi, Green lalu membuka hp nya.


              Dokter Singa👨‍⚕️🦁


[Assalamu'alaikum]


[Green! Kamu dimana? Kamu temui si cowok tadi lagi? Jalan - jalan bareng dia lagi? Gak cukup apa kamu jalan - jalan sama saya tadi? Besok saya traktir kamu sepuasnya! Pokoknya kamu jangan pergi sama dia! ]


[Kenapa belom dibalas? Lagi asik sama dia kamu? Atau kamu masih di ruangan Raka? Ngapain kamu sama si Raka? Enak ya kamu bisa lepas dari saya? Lagi sama Raka kan kamu? Jangan kemana mana kamu!]


[Green cepat balas! Kemana sih?]


[Greenn!]


'Ni dokter posessive banget sih, gak bisa apa lihat gue tenang dikit aja. Gini aja posessive apalagi kalau udah jadi suami, mungkin gak bisa keluar rumah' batin Green.


Cekrek


    


Green memfoto dirinya yang tengah dipeluk oleh Raka dan Raka sedang tertidur nyenyak dipelukan nya. Lalu, Green mengirim 'kan kepada Leon.


[Nih dok, saya tuh lagi sama Bang Raka. Lagi kelonin bayi besar saya,] balas Green.


'Kerjain ah biar tambah panas hahah' batin Green.


[Enak banget ya si Raka, saya kesana sekarang,] balas Leon.


[Kok? Kok kesini? Ngapain sih dok?]


[Diam kamu disitu, saya kesana.]


'Yes berhasil hahah, pasti dia jealous' batin Green menang.


Ceklek.


"Eh dokter Leon, apa kabar dok!"sapa Green.


"Ngapain peluk - peluk gitu? Lepasin, enak banget si Raka," kesal Leon.


"Ya gapapa lah dok, kan dia Abang saya jadi gak ada salah nya. Yang salah itu kalau saya pelukan sama dokter kayak gini, itu baru salah karena kita gak muhrim," jawab Green.


"Saya tau emang gak salah, tapi saya cemburu loh liat kamu kayak gitu sama Raka," ucap Leon lalu duduk di kursi samping brangkar dan memegang tangan Green.


"Eh ngapain nih pegang - pegang?" tanya Green heran.


"Ya gapapa, kalau gak bisa pelukan setidaknya bisa pegangan," jawab Leon.


"Lepas dok, ish!" pinta Green.


"Gak! Gak mau, biarin aja kayak gini," jawab Leon tambah mempererat genggaman nya.


"Dokter emangnya gak meriksa pasien apa? Ngapain disini?" tanya Green.


"Udah selesai tadi, makanya saya kesini." jawab Leon lalu merebahkan kepalanya di brangkar Raka, cuma kepala kok gak badan.


"Ya udah saya kalah," jawab Green pasrah dengan keadaan nya.


'Sudah lah di himpit Bang Raka dan sekarang tangan gue yang satu lagi digenggam sama ni singa. Nasib emang, tapi kan gue yang cari masalah duluan tadi, huh' batin Green.


"Eughh udh pagi aja," gumam Green.


'Auh, badan guee rasanya remuk nopang badan ni bayi gede. Dokter Leon mana ya? Apa udah pulang? Atau ada keadaan darurat?' Batin Green.


"Bang! Bang Raka bangun, udah pagi ini. Green mau siap siap pergi sekolah, hari ini senin loh nanti Green telat bisa dihukum," ucap Green membangunkan Raka.


"Hemm iya iya, ya udah gih sana siap siap. Abang masih ngantuk mau tidur lagi," jawab Raka setengah sadar.


"Dasar, kebo emang ni anak," ucap Green lalu berlari.


"Kurang ajar ya kamu sama Abang sendiri," kesal Raka lalu melanjutkan tidurnya.


Selesai siap siap.


"Bang! Green pergi sekolah dulu ya, Abang jangan lupa makan ya,jangan lupa minum obat juga, terus sebelum makan Abang cuci muka, gosok gigi, terus---" ucapan Green terpotong oleh Raka.


"Terus jangan lupa jalan jalan di taman rumah sakit kan? Supaya otot otot di tubuh Abang gak tegang. Iya 'kan? Itu yang mau kamu bilang? Abang udah hapal semua nya Greenn," potong Raka.


"Anak pinter! Kalau gitu Green pamit ya. Assalamu'alaikum!" pamit Green.


"Wa'alaikum salam!" jawab Raka.


Diluar ruangan.


"Ayo Green saya antar!" ucap Leon tanpa sapa dan salam terlebih dahulu.


"Eh pocong meledak!" kaget Green.


"Hahahahhah mana ada Green pocong meledak pagi pagi gini, kamu ini ada ada aja. Masa saya yang tampan gini dibilang pocong hahah," ejek Leon.


"Ya dokter nya sih! Gak ada salam ataupun sapa nya dulu, biasanya pake salam ini malah langsung aja. Kan saya jadi kaget," kesal Green karena diledekin.


"Heheh ya udah saya minta maaf, gak gitu lagi deh janji," bujuk Leon sambil mengangkat dua jaringa membentuk huruf V.


"Lagian kenapa dokter mau antar saya? Kan saya bisa sendiri atau saya bisa minta jemput ke teman," jawab Green lalu berjalan.


"Teman mana? Si Kevin kemarin? Gak bakal saya kasi kamu pergi sama dia," ucap Leon menyamakan langkahnya dengan Green.


"Apa salahnya sih dok? Lagian kami deket nya gak kelewat batas kok, dokter kok jadi tambah posessive gini sih?" tanya Green heran.


"Karena saya suka, sayang, dan cinta sama kamu, makanya saya jadi posessive gini. Asal kamu tau Green, kamu cinta pertama saya. Jadi saya gak bakal biarin kamu dekat dengan cowok mana pun kecuali saya dan Abang kamu," jelas Leon panjang lebar.


"Iya tau, tapi dok kita itu gak ada hubungan apa apa sampai dokter bisa ngekang saya kayak gitu. Istri bukan, tunangan bukan, adik bukan, lah pacar juga bukan. Jadi dokter gak bisa ngekang saya kalau kita gak ada hubungan apapun," jawab Green.


"Kayak nya secara gak langsung kamu mau saya nikahi deh secepat nya, tapi gapapa itu ide bagus. Akan saya lakukan, tunggu saja tanggal mainnya ya sayang." ucap Leon lalu berjalan lebih cepat mendahului Green.


"T-tapi kan? Secepat itu? Lagian tadi saya gak bermaksud nyuruh dokter buat nikahi saya secepatnya dok," bantah Green.


Karena keasikan ngobrol gak kerasa lorong rumah sakit yang sepanjang itu ke tempat parkiran, membuat mereka sampai ke parkiran lebih cepat. Lalu, mereka membuka pintu mobil masing masing sambil tetap melanjutkan mengobrol alias berdebat.


"Tadi kan kamu bahas hubungan terus kamu juga bahas nikah kan?" tanya Leon. Lalu, menyalakan mesin mobil dan melaju keluar dari parkiran rumah sakit.


"Y-yaa emang saya bahas itu tadi, tapi kan gak juga harus langsung gitu dok," jawab Green tak terima.


"Gak bisa gitu, karena kamu udah bahas itu jadi gak bisa ditolak lagi. Apa yang sudah saya putuskan gak bisa diganggu gugat, ngerti?" tanya Leon.


"Gak! Gak bisa dibiarin ini, saya itu masih sekolah dok. D-dan masih kelas X lagi ya walaupun sebentar lagi ujian kebaikan kelas," jawab Green.


"Baik saya nikahi kamu pas kenaikan kelas XII, tapi sebelum itu saya akan mengikat kamu dengan pertunangan terlebih dahulu pas kamu selesai ujian kenaikan kelas XI, oke?" ucap Leon.


"Wah, gak bisa gitu dong dok. Saya masih sekolah dok, kalau kita nikah pas saya kelas XII, nanti kalau saya hamil gimana? Saya belum mau ternodai dok pas saya masih sekolah," jawab Green.


"Kalau kita udah nikah berarti saya gak nodain kamu, karena itu udah hak saya. Terserah saya dong, kan kamu istri saya eh maaf sekarang masih calon istri." Ucap Leon.


"T-tapi 'dok----" ucapan Green terpotong.


"Udah sana turun, udah sampai. Sana sana turun nanti kita bahas ini lagi ya sayang," goda Leon mendorong tubuh Green keluar biar perdebatan mereka tidak bertembah panjang.


"Bye! Sayang I love you muuaacchh," pamit Leon lalu memberi kiss bye.


"Isshhh, nyebelin nyebelin nyebelin tu si dokter singa," gerutu Green.


Bersambung....