My Posessive Childish Brother And Boyfriend

My Posessive Childish Brother And Boyfriend
Episode 20



"Green lo kenapa? Marah marah gak jelas depan gerbang sekolah kayak orang gila?" tanya Dara.


"Ya! Gue emang orang gila, dh lah gue mau ke kelas. Hancur mood gue pagi ini gara gara tu dokter, heran gue ngeganggu gue terus, ngekang gue terus,urusin hidup gue terus," gerutu Green sambil berjalan ke kelas.


"Tu anak kenapa? Apa kesambet setan di  rumah sakit kali ya? Iii, merinding gue jadinya." Gumam Dara lalu berjalan ke kelas menyusul Green.


Di kelas.


"Green lo kenapa sih? Masih pagi juga tu muka udah masam aja, heran gue jadinya." tanya Dara.


"Lo inget gak dokter Leon yang pernah gue ceritain ke lo dulu?" tanya Green balik.


"Iya tau, emang kenapa dengan dia?" tanya Dara sambil menyalin pr nya.


"Masa dia ngekang gue, ngelarang gue dekat sama cowok mana pun. Yaa gue tau kalau dia suka sama gue, kan dia pernah bilang. Gak gue permasalahin lah, karena gue juga suka sama dia. Terus tadi pagi masa dia bilang mau nikahin gue pas gur kelas XII?" cerita Green dan berhasil membuat Dara terkejut. Karena terkejut, buku dan pr nya pun tercoret sangking terkejutnya.


"WHAAATT?!" pekik Dara yang membuat satu kelas menatap kearah nya.


"Sstg Dar lo bisa gak sih gak pake teriak, tuh kan kita jadi perhatian kelas." bisik Green.


"Ngapain kalian lihat lihat, emang ada overa van java disini HAA?!" ucap Dara.


"Li yang duluan teriak gak jelas, malah kita yang disalahin. Emang dasar ya cacing laut emang begitu," jawab Ridwan.


"Eh kunyuk gak usah banyak omong lo ya, udah sana urusin aja rumah tangga lo sendiri." balas Dara.


"Lo ya---" jawab Ridwan.


"Apa lo apa? Udah sana urusin aja tu pr lo yang belom selesai," balas Dara.


"Udah udah Dara, semua nya gue minta maaf ya atas sikap Dara, kalian lanjutin aja urusan kalian biar si Dara gue yang urus sebagai pawang nya sementara," ucap Green.


"Tapi kan--"


"Udah Dar udah, sekarang lo liat tuh pr lo, kecoret lebih baik lo perbaiki sebelum bell masuk." jawab Green.


"Astaghfirullah! Kok bisa gini? Setan mana yang sudah merusak buku gue yang polos dan suci ini? Kurang ajar tu setan ya," kaget Dara.


"Yang ada tu lo yang jadi setan nya, orang lo sendiri yang nyoret tu buku. Jadi fix setan nya itu lo, terus yang bikin buku lo dan polos dan gak suci lagi itu lo juga. Jangan salahin setan terus, kasian dia. Bukan dia yang salah, tapi tetap aja sama orang orang selalu bawa nama dia." jawab Green.


"Iya iya gue setan nya, nanti malam lo gue hantui baru tau rasa lo. Dah lah gue mau lanjut kerjain pr nya dulu," ucap Dara.


*******


"Heyoo guys!" sapa Iqbal.


"Hai cecan cecan! Babang Ridwan yang tampan se Jakarta ini boleh ikut gak kekantin?," tanya Ridwan.


"Gak! Gak boleh, lebih baik gue bilang orang gila di lampu merah di dekat pertigaan sekolah kita ganteng dari pada bilang lo ganteng," kesal Dara.


"Ouh baik lah kalau gitu, gimana kalau kita taruhan?" tawar Rangga.


"Taruhan apa?" tanya Ridwan.


"I-iya terus?" tanya Dara.


"Nih ya kalau lo berani bilang kayak gitu kita bertiga bakal traktir apapun yang lo pinta, tapi kalau lo gak lo harus kumpulin satu sekolah dilapangan dan bilang kalau Ridwan itu ganteng, gimana? Setuju?" tanya Rangga.


"Naah gue setuju nih, lo pokoknya harus setuju." jawab Ridwan tersenyum.


"Eeee g-gue...." jawab Dara gugup.


"Lo apa? Gak berani kan? Udah lah lebih baik lo ngaku kalau lo----" ucapan Ridwa  terpotong.


"Gue setuju!" jawab Dara cepat.


"Oke lo lakuin pas nanti pulang sekolah." ucap Ridwan.


"Semangat Dar, gue dukung lo apapun itu. Termasuk kalau lo jadian sama Ridwan." goda Green.


"Ini juga! Sahabat macam apa sih? Bukannya dukung gue sahabat nya, malah dukung ni orang." gerutu Dara.


"Heheh, maaf ya sayang ku," jawab Green.


Pulang sekolah.


     


Saat pulang sekolah Green, Dara, Ridwan, Rangga, dan Iqbal pergi ke pertigaan di dekat sekolah mereka. Saat mereka kesana, orang gila tersebut terlihat sedang menari nari tak jelas di trotoar.


"Nah, tu dia orang gilanya. Berani gak lu bilang tu orang ganteng di tengah keramaian kayak gitu?" tanya Ridwan.


"B-berani lah, s-siapa takut!" jawab Dara.


Tap


Tap


Tap


Saat langkah ketiga Dara berhenti karena ragu dan takut.


'Aduuh gimana ya? Gue sebenarnya takut, ya kali gue bilang orang gila model begitu gue bilang ganteng. Kalau gue dikejar nya nanti gimana? Terus kalau gue di perkosa gimana? Kalau gue pilih ngakuin Ridwan ganteng depan umum, kan malu gue dong. Aduuhh! Gimana ya?' Batin Green.


"WOY! Lo ngapa berhenti gitu? Takut ya lo? Lebih baik lo akuin aja gue ini ganteng di depan satu sekolah!" teriak Ridwan.


'Aduuh gimana ya?' batin Dara ragu.


"Iya iya sabar," jawab Dara lalu berjalan pelan, ragu, takut, semuanya campur aduk.


'Aduuh! Gimana ya? Ya Allah tolonglah hamba menemukan jalan yang lurus. Yaitu jalan yang engkah ridhoi, bukan jalan yang sesat. Amiin ya Rabbal 'Alamin. Bismillah' batin Green berdoa.


Bersambung....