
********
"Gabung boleh kan?" tanya Kevin duduk di samping Green.
"Ya ampun Bang, udah duduk juga baru minta izin." jawab Dara.
"Tau ni Bang Kevin, aneh!" ucap Green.
"Gapapa kalik, kan Abang yang punya cafe nya." jawab Kevin.
"Mentang mentang yang punya cafe, pake sombong segala lagi." sindir Dara.
"Oya, kalian kesini terus traktiran begini dalam rangka apa ya?" tanya Kevin.
"Dalam rangka karena si Dar------" ucapan Iqbal terpotong karena Dara langsung membekap mulutnya.
"Dar apa? Kamu lagi, kenapa di bekap mulut nya?" tanya Leon.
"Yaa d-dalam...dalam rangka k-kalau Dara tuh dapat nilai bagus pas ulangan Bang," jawab Ridwan.
"Nah i-iya itu maksudnya Bang," sambung Dara.
"Ooo, tapi 'kan Dara yang dapet nilai bagus, kenapa Iqbal yang traktir? Harusnya 'kan si Dara?" tanya Kevin.
"Ee-ee i-itu ---"
"Greenn!" panggil Leon yang sudah tiba di cafe dengan raut wajah kesal.
"Eh dokter Leon, kenapa ya kesini?" tanya Green.
"Ngapain kamu disini? Pulang sekolah bukannya langsung pulang, malah nongkrong disini." jawab Leon kesal.
"Dok lebih baik kita bicara diluar bentar ya. Gak enak disini, banyak orang yang liatin!" ajak Green langsung menarik lengan Leon.
"Kamu ngapain sih disini? Udah pulang gak langsung balik ke rummah sakit."
"Dok saya itu lagi main sama teman teman saya, lagian dokter kenapa nyamperin saya kesini? Emang gak ada pasien apa di rumah sakit?" tanya Green.
"Gak ada! Udah ayo pulang!" ajak Leon.
"Dok, saya masih mau nongkrong dulu!" jawab Green.
"Oke, tapi saya ikut!"
"Loh kok?" tanya Green.
"Gak ada penolakan, atau gak sama sekali?" peringatan Leon.
"Ya udah ayo,"
Sekarang posisi Green berada ditengah tengah antara Leon dan Kevin. Agar mereka tidak bertengkar.
"Saya duduk ditengah!" pinta Leon.
"Gak, dokter diam disitu. Biar saya ditengah tengah, dari pada nanti kalian berantem." jawab Green.
Karena mendapat jawaban Green seperti itu membuat Leon kesal.
"Udah jangan kesal gitu, 'kan biar adil, iya 'kan Green?" tanya Kevin lalu menggenggam tangan Green.
Sontak melihat pemandangan seperti itu membuat Leon makin cemburu.
"Ngapain pegang pegang? Lepas!" suruh Leon, tapi Kevin makin mempererat genggaman nya.
Supaya tidak ribut akhirnya Green menggenggam tangan Leon juga.
"Dar, ini kita ngeliat drama mereka atau makan ni?" bisik Ridwan.
"Ya makan lah, udah gak usah diliatin. Biarin aja mereka, kita nikmati saja drakor versi Indonesia didepan mata kita sekarang," jawab Dara sambil berbisik.
"Oke, sayang!"
"Ehem eheeemm uhuk uhuk, Bal kayak nya kita jadi nyamuk ya?" tanya Rangga sedikit menyindir.
"Iya, kayaknya malang ya Ga nasib kita jadi jomblo. Malah ni cafe panas lagi, gak ada AC nya apa?" jawab Iqbal sambil mengipas ngipas bajunya.
"Iri bilang bos, makanya jangan jomblo mulu." sindir Ridwan.
"Bodo amat," jawab Iqbal.
Setelah melalui banyak drama di cafe nya Kevin, akhirnya Leon dan Green balik ke rumah sakit.
"Lain kali, kalau kamu mau makan, nongkrong, makan gratis bilang aja sama saya. Bakal saya turutin kok, gk usah sungkan." ucap Leon.
"Apaan sih dok, saya itu mau senang senang dengan temna saya. Bukannya mau dikekang sama dokter kayak gini." jawab Green kesal.
"Saya seperti ini juga karena rasa cinta saya ke kamu yang semakin dalam. Dan saya gak mau kehilangan kamu, ngerti?" tanya Leon.
"Iya deh, terserah dokter saja saya mau masuk dulu ke ruangan Bang Raka," pamit Green.
"Iya, i love you!" ucap Leon.
*******
"Assalamu'alaikum!" sapa Green.
"Wa'alaikum salam!" jawab Raka.
"Halo Abang ku sayang! Green kangen banget tau sama bayi gede Green ini ututu ututu," ucap Green gemas saat melihat pipi Raka yg semakin bulat selama di rumah sakit.
"Abang kangen juga tau, kemana aja? Masa jam segini sekolah baru bubar?" tanya Raka langsung memeluk Green.
"Tadi, Green makan makan dulu ke cafe nya Bang Kevin sama Dara." jawab Raka.
"Keviiinn terus, gak puas apa ketemu Kevin dari dulu?" tanya Raka, lalu memanyunkan bibirnya.
"Emang gak puas sih, tiap hari itu kangen terus sama Bang Kevin. Gak puas juga mandang wajah tampan nya itu," jawab Green.
"Terus Abang gak tampan gitu? Mana tampan nya Abang dari Kevin? Kamu pilih Kevin atau Abang?" tanya Raka.
"Ya Bang Kevin lah yang paling tampan, dan tentunya Green milih Bang Kevin." jawab Green.
"Terus Abang?" tanya Raka yang emosi nya sudah memuncak.
"Ya Abang, terserah Abang aja Green gak peduli." jawab Green semakin jadi.
"Jadi Abang kamu anggap apa?!" tanya Raka yg sudah mulai emosi.
"Ya Abang kn Abang Green, tapi Green jauh lebih sayang sama Bang Kevin. Dia Abang terbaik sedunia," jawab Green.
"Kamu kok tega banget sih Green jawab kayak gitu ke Abang? Terus peduli kamu itu untuk apa selama ini?" tanya Raka yg matanya sudah memerah.
"Untuk sekarang Green emang peduli sama Abang, itu pun menjelang Abang sembuh aja. Habis itu Green gak mau lagi dekat dekat sama Abang, apalagi jumpa sama Abang setiap hari. Bosan Green liat muka Abang, apalagi sekarang makin gendut beda kayak Bang Kevin." jawab Green.
"Oh, kamu cuma pura pura aja peduli selama ini sama Abang? Kamu perhatian juga cuma pura pura selama ini?" tanya Raka dengan mata yg mulai berair.
"Iya bener banget, jadi paham sendiri kan? Gak perlu lagi Green harus jelasin panjang lebar sama Abang. Sampai sini harus nya Abang udah tau!" jawab Green dengan penuh penekanan.
Bersambung....