My Posessive Childish Brother And Boyfriend

My Posessive Childish Brother And Boyfriend
Episode 11



"Eh Ka lo kenapa nangis? Habis diputusin atau ditolak nih?" Tanya Bara


"Mana ada, gue itu sedih karena Green." Jawab Raka.


"Green? Emang kenapa dengan Green?" Tanya Dafa.


"Tadi pas di kantin teman nya nanya ada hubungan apa gue sama Green, pas gue mau jawab kalau kita Adik Kakak langdung dia potong omongan gue. Dan dia malah jawab kita dekat cuma sebatas adik dan kakak kelas." Jawab Raka sedih.


"Oh begitu, gitu doang nangis. Green dulu juga sama kalik pas dia diposisi lo. Makanya kan dulu udah kita bilang tapi lo gak mau percaya, sekarang nyesalkan jadinya." Ucap Bara.


"Iyah gue akui kalau gue nyesal, tapi gue gak nyangka bakal sesakit ini. Eh kalian punya ide gak biar Green mau maafin gue?" Tanya Raka.


"Hhmmm gimana ya?" Ucap Bara smanil berfikir.


"Gak tau gue, buntu nih otak gue." Jawab Bara.


"Ya udah entar aja dipikirin." Ucap Raka.


Skipp pulang sekolah.


"Greenn pulang bareng Abang yok? Mau ya? Pliisss!" pinta Raka.


"Iyah iyah ini mumpung juga Dara urusan makanya aku mau." Jawab Green.


"Yesss ya udah ayok." Ucap Raka senang.


Di perjalanan.


"Bang itu kok motor - motor dibelakang kayak ngikutin kita?" Tanya Green.


"Perasaan kamu aja mungkin, bisa jadi kita searah kan." Jawab Raka.


"Hhmm mungkin." Ucap Green tapi tetap dia ragu.


   Tiba tiba motor - motor tersebut memotong Raka, membuat Raka terkejut dan ngerem mendadak.


"Hei kalau bawa motor itu hati hati dong!" Ucap Raka.


"Turun lo berdua!" Suruh mereka.


"Mau kalian apa sih?!" Ucap Raka.


"Udah gak usah banyak bicara, kalian serang mereka!" Perintah salah satu dari mereka, mungkin dia ketua nya.


"Ayok sini maju!" Suruh Raka. Sementara Green hanya melihat sambil memikirkan cara membantu Raka.


"Aduuh gimana ini? Malah mereka banyak lagi. Gue harus gimana buat ngebantu bang Raka? Ya Tuhan selamat kan lah kami." Batin Green.


Bugh


Bugh


Bugh


    Satu dari mereka telah berhasil Raka lawan, tapi ayolah mereka itu banyak ada bertujuh bagaimana mungkin dia melawan nya sendirian.


     Sudah dua yang tumbang, tapi Raka sudah kelelahan melawan mereka sendirian. Sampai akhirnya Raka tumbang, tapi dia tetap memaksa kan diri untuk berdiri dan melawan.


    Salah satu dari mereka ingin memukul leher belakang Raka supaya pingsan, namun Green melihat nya dan mengambil batu juga. Dan memukul orang tersebut hingga tersungkur namun dari jauh ada yang ingin menusuk kan pisau ke Green.


Raka sadar bahwa ada yang ingin menusuk Green "Green awaasss!" Terika Raka. Dan terjadilah Raka yang tertusuk.


"Gawat kenapa malah dia yang tertusuk? Udah ayo pergi cepat!" Perintah ketua mereka. Yaa ternyata tujuan mereka adalah Green bukan Raka.


"Bang Rakaaaaa" teriak Green.


"Bang bangun Bang, Abang bertahan ya Green cari bantuan. Hp mana hp, ambulance, haloo tolong ke jalan merdeka ya ini darurat! Tolong cepaat!!" Pinta Green.


"Bang Abang bertahan ya sebentar lagi bantuan datang." Ucap Green.


"G-Gr-Greenn ma-maafin Abang ya? Abang tau Abang salah selama ini. K-kamu m-m-mau kan maafin Abang?" Tanya Raka terbata - bata.


"Iya Green mau maafin Abang, tapi Abang bertahan ya? Green mohon!" Pinta Green.


"Makasih yah." Ucap Raka lalu pingsan, lalu datang lah ambulance.


Di rumah sakit.


"Bang Green mohon bertahan." Pinta Green.


"Dok tolong selamat kan Abang saya ya? Saya mohon." Pinta Green.


"Kami akan lakukan semaksimal mungkin, toong tunggu diluar ya." Ucap dokter tersebut lalu masuk ke ruang IGD.


"Bibik aku harus kabarin ini ke bibik." Ucap Green lalu meraih ponsel nya.


"Halo bik, Bang Raka bik Bang Raka ditusuk orang." Ucap Green di sela tangisnya.


[.....]


"Dirumah sakit dekat rumah kita bik, bibik ke sini ya." Ucap Green lalu menutup panggilan.


Tak lama kemudian.


"Noon, non Green gimana keadaan Bang Raka?" Tanya Bik Murni.


"Belum tau Bik, lagi ditangani sama dokter di dalam. Tapi Bang Raka bakal selamat kan bik? Dia gak bakal ninggalin Green kayak ayah sama ibu kan Bik?" Tanya Green dengan diiringi tangisan.


"Gak non, bibik yakin den Raka bakal selamat kok, dia pasti berjuang untuk non. Percaya sama bibik ya." Jawab Bik Murni.


"Keluarga pasien?" Tanya dokter tersebut.


"Saya dok saya adik pasien, bagaimana keadaan Abang saya dok?" Tanya Green ke dokter tersebut.


"Keadaan nya baik kok, untung luka nya tidak terlalu dalam jadi masih bisa ditangani. Sekarang boleh kok masuk, pasien juga sudab mulai sadar." Ucap dokter muda tersebut.


"Ayo bik kita masuk." Ajak Green.


"Cantik juga walaupun lagi nangis." Batin dokter tampan tersebut.


"Bang, Abang baik baik saja kan? Apa masih sakit? Mana yang sakit?" Tanya Green.


"Iya Abang baik baik aja kok, kamu gak usah khawatir. Cukup kamu mau maafin Abang itu udah buat Abang sembuh kok." Jawab Raka.


"Green udah maafin Abang kok, tapi jangan pernah tinggalin Green lagi ya? Jangan sakit kayak gini lagi?" Ucap Green.


"Iya Abang gak bakal tinggalin kamu kok, kamu tenang aja. Tapi kamu jangan cuekin Abang lagi kayak kemarin - kemarin nya ya?" Tanya Raka.


"Iya Green gak bakal cuekin Abang kayak gitu lagi, Green janji. Green bakal ngerawat Abang sampai sembuh, Green bakal turuti semua keinginan Abang." Jawab Green.


"Bener mau ngerawat Abang? Bener mau nurutin keinginan Abang?" Tanya Raka.


"Iyah janji." Jawab Green.


"Oke makasih ya, sini peluk dulu bibik juga ikut sini." Pinta Raka.


"Teletabis berpelukaann." Ucap Green lalu mereka tertawa.


"Oh ya Green pulang dulu ya? Mau ganti baju." Ucpa Green.


"Kok pulang? Disini aja temenin Abang." Pinta Raka.


"Tapi Bang Green harus pulang buat ganti baju." Jawab Green.


"Gak boleh pokoknya gak boleh." Ucap Raka.


"Ya udah biar bibi aja yang ambilin baju ganti non Green. Non Green disini aja temenin den Raka."


"Gak bisa bik, ada yang harus Green ambil."


"Tadi kata nya janji mau nurutin apa yang Abang pinta, tapi ini gak mau." Rajuk Raka.


"Ya udah Green gak jadi pulang, tapi bik nanti tolong ambilin cas hp Green ya, hp Green tinggal 5% soalnya." Pinta Green.


"Iya non, kalau gitu bibik permisi dulu ya." Pamit Green.


"Iya bik." Jawab Green.


"Iya puas kok." Jawa Raka smabil tersenyum.


Dreett


Dreett


"Bang Kevin? Oh iya aku lupa kalau ada janji hari ini sama Bang Kevin." Batin Green.


"Siapa Green?" Tanya Raka.


"Bentar ya Bang Green angkat telfon dulu dari Bang Kevin." Ujar Green namun hap, ponsel Green langsung di ambil Raka.


"Loh Bang kok di ambil? Green belum sempat angkat loh?" Ujar Green.


"Gak boleh, gak ada yang boleh waktu kita berdua biarin aja." Jawab Raka.


"Gak bisa gitu dong Bang, kasian Bang Kevin nya lama nunggu. Kembalikan hp nya!" Pinta Green.


"Gak mau." Jawab Raka.


"Abang kembalikan!" Bentak Green. Raka yang kaget langsung memberikan hp tersebut ke Green. Lalu Raka baring dengan memunggungi Green.


"Halo Bang maaf ya telat angkat nya." Ujar Green.


[Iyah gapapa kok, kamu kenapa gak jadi datang?] Tanya Kevin.


"Maaf ya Bang Green ada urusan, jadi tadi lupa kasi tau." Jawab Green.


[Ooo ya udah gapapa deh, ya udah kalau gitu Abang tutup dulu telfon nya ya?]


"Oke Bang, byee!" Ucap Green.


[Byee too Greenn!]


"Huh selesai akhirnya." Monolog Green sambil melangkah masuk ke ruang inap Raka.


"Eh belom kayak nya, masih ada satu lagi yang harus dibujuk." Batin Green.


"Baang!" Panggil Green.


"...." Namun tak ada sahutan.


"Baang maafin Green ya? Bukan maksud Green buat bentak Abang." Bujuk Green.


"Udah sana urusin aja tuh si Kevin, gak usah peduliin Abang." Jawab Raka yang masih memunggungi nya.


"Jangan ngambek dong, Green marah karena Abang ambil hp Green. Padahal Green mau bilang kalau gak bisa datang hari ini." Bujuk Green lagi.


"Terserah! Kamu emang udah gak peduli lagi kan sama Abang? Udah gak sayang lagi kan sama Abang? Jawab aja kalau emang gak!" Jawab Raka.


"Bang maafin Green dong, kan Green gak jadi ninggalin Abang. Green kan masih disini sama Abang sesuai permintaan Abang juga."


"Tapi kamu masih peduli aja kan sama dia padahal Abang mau habisin waktu berdua aja sama kamu. Tapi pas dia nelfon masih aja diangkat." Jawab Raka.


"Ya udah Green minta maaf, Green ngaku salah. Tapi Abang lihat sini dong, maafin Green." Ucap Green yang udah mulai kesal.


"Gak mau!" Jawab Raka.


"Ya udah kalau gak mau Green pergi aja kesana. Bye Bang!" Ucap Green berpura pura pergi sambil mengintip sedikit ke Raka.


Ceklek


"Beneran pergi ya?" Batin Raka, lalu berbalik. Dan melihat kursi sudah kosong dan Green sudah tidak ada disana.


"Greenn Greenn beneran pergi ya? Bukan nya dibujuk, malah langsung pergi. Tega amat sih, udah tau gue lagi sakit." Gerutu Raka saat di luar kamar mencari Green.


"Maka nya kan Green udah minta maaf tapi tetep aja marah." Ucap Green tepat didepan nya yang sedang duduk di kursi luar kamar.


Grepp


Raka langsung memeluk Green.


"Ya kan harus nya dibujuk lagi, masa langsung tinggal aja." Jawab Raka yang masih memeluk Green dalam posisi duduk dan Green berdiri dan mata yang sudab memerah.


"Kok malah nangis?" Tanya Green sambil mengelus rambut Raka yang sudha mulai panjang.


"Ya kamu nya becanda kayak gitu, masa Abang ditinggal sendiri. Gak jadi dong habisin waktu berdua doang." Jawab Raka.


"Ya udah jangan nangis lagi, yuk masuk. Green tadi udah ambil makanan buat Abang." Ajak Green yang di ikuti Raka dari belakang.


"Nah sekarang naik lagi ke brangkar nya ya." Suruh Green yang dituruti Raka.


"Nih Abang makan dulu." Ucap Green smabil menyerahkan makanan tersebut.


"Gak mau! Makanan rumah sakit itu gak enak." Jawab Raka.


"Jangan gitu! Ayo dimakan Bang biar cepat sembuh." Suruh Green.


"Tapi suapin ya." Pinta Raka.


"Gak ah, Abang tu udah besar mas aminta disupin. Makan sendiri aja." Jawab Green.


"Ya udah Abang gak mau makan!" Ucap Raka.


"Ya udah sini Green suapin Aaaaa." Ucap Green menyuapi Raka.


"Nah gitu dong dimakan sampai habis."


Took


Took


Took


"Non bibik masuk ya?" Tanya Bik Murni.


"Masuk aja Bik." Jawab Green.


"Aduuh seneng nya bibik lihat kalian berdua udah akur begini." Ucap bik Murni.


"Heheh iya bik." Jawab Green.


"Nah sekarang Abang minum obat nya ya?" Tanya Green dan diangguki oleh Raka.


    Setelah selesai minum obat Green menyuruh Raka untuk tidur.


"Sekarang Abang tidur ya? Udah malam, Green mau ganti baju dulu." Ucap Green dan diangguki oleh Raka lagi dan lagi.


Keesokan pagi nya.


"Nanti Abang jangan lupa makan ya? Habis itu minum obat, oke? Green mau berangkat dulu." Ucap Green.


"Gak bisa apa izin selama Abang sakit?" Tanya Raka.


"Gak bisa Bang, Green udah hampir 2 bulan gak sekolah. Jadi gak bisa kalau gak sekolah." Jawab Green.


"Sehari aja loh?" Ucap Raka.


"Gak bisa Bang!" Jawab Green.


"Ya udah deh." Pasrah Raka.


"Oya nanti pulang sekolah Green gak bisa langsung kesini ya? Green ada urusan sama Bang Kevin." Pesan Green.


"Tuh kaann Kevin lagi Kevin lagi, gak bisa apa sehari aja Abang gak dengar nama Kevin!" Kesal Raka.


"Gimana lagi Bang, selama ini Bang Kevin yang selalu bantu Green. Jadi Green gak bisa nolak kalau dia panggil." Ucap Green.


"Ya udah lah terserah kamu aja Abang capek, mau istirahat. Udah sana pergi aja, urusin aja tuh si Kevin." Rajuk Raka.


"Ya udah Green berangkat dulu ya bye Bang!" Pamit Green.


Bersambung...