My Mother's New Husband

My Mother's New Husband
mati lampu



Denis tersenyum, namun senyum Denis memiliki arti tersendiri yang hanya Denis tahu, menurut nya merlila adalah wanita yang menarik dengan sikap keras kepala nya.


"memang menarik,tapi merlila aku tidak akan membiarkan akhir cerita mu dengan ibu mu baik baik saja," ucap Denis yang seperti memiliki dendam kesumat dengan keluarga merlila.


sesampai nya di rumah merlila langsung mencari Sinta, semua ruangan sudah merlila periksa tak kunjung menemukan seseorang yang ingin ia cari.


sampai merlila ingat sang ibu sering menghabiskan waktu nya di tama belakang, buru buru merlila pergi menuju tama belakang itu.


dan benar saja sang ibu sedang menikmati cuaca sambil berteduh di pohon tua besar yang sudah berdiri lebih dari sepuluh tahun.


" ibu," panggil merlila.


" merlila?


melihat wajah merlila yang terlihat marah, Sinta sudah tahu pasti ada yang membuat merlila marah.


" apa apaan ibu menjadikan Denis sebagai direktur utama di perusahaan ayah, harus nya aku," marah merlila kepada Sinta.


Sinta sempat bertanya kepada diri sendiri, kenapa bisa merlila tahu hal itu, sebenarnya Sinta ingin memberi tahu merlila namun hanya saja waktu nya belum tepat hingga Sinta menunda sampai saat ini.


...****************...


" sepertinya kau sudah tahu,ibu memang yang menempatkan Denis sebagai direktur utama,ibu juga bukan asal tunjuk, Denis memang lah pria yang cerdas," jelas Sinta sambil menutup kelopak mata menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajah nya.


" tapi ibu, jabatan itu seharusnya merlila pegang, intinya merlila gak mau tahu,ibu harus memecat pria itu," merlila juga tak mau kalah ia tetap kekeuh dengan pendirian nya.


Sinta membuat kelopak mata melihat teliti putri nya sekarang, terlintas ada ide di fikiran Sinta untuk membuat merlila dan juga Denis dalam satu kantor agar hubungan mereka membaik, Sinta kemudian bangkit dari duduk nya kemudian menghampiri merlila yang tak jauh dari Sinta duduk.


" baiklah akan ibu kabulkan permintaan mu," ucap Sinta sambil memegang pundak merlila.


merlila terlihat begitu gembira, sebentar lagi ia akan menyingkirkan bajingan Denis itu,tapi merlila tidak tahu apa yang selalu sang ibu fikiran hingga begitu mudah menyetujui permintaan merlila.


malam hari tiba setelah menyelesaikan rutinitas mandi, merlila memutuskan untuk menonton sambil makan kripik, semenjak merlila pulang bibik Zhu sudah menyimpan banyak kripik di dapur, Sinta akan selalu melarang merlila untuk makan kripik karena tidak sehat namun larangan itu tidak pernah di gubris sama sekali oleh merlila.


" aye aye," merlila memilih makanan ringan yang ia ingin makan sambal bernyanyi.


sampai terbuat lah bukit dari makanan ringan, mulai dari yang pedas hingga manis, merlila ambil semua setelah selesai dengan percikian merlila langsung mengambil minuman soda yang ada di kulkas.


malam ini merlila benar benar berpesta sendiri menikmati waktu sambil menonton drama kesukaan nya, merlila langsung membawa semua makanan ringan itu ke ruang keluarga,di sana merlila dengan bebas bisa berguling ke sana ke mari.


" memang paling enak menikmati drama sambil makan kripik, harus ada ayam goreng," merlila mulai memilih drama kesukaan nya di laptop sampai pilihan merlila jatuh ke film horor.


dari adegan awal merlila sudah mulai menutup wajah nya dengan batal sofa, sesekali mata merlila mencuri pandang ke laptop nya,yang tadinya ingin menonton sambil makan sekarang boro boro makan bahkan untuk melepas bantal dari muka nya saja tidak berani.


sialan nya setiap sekali merlila mencuri pandang selalu saja adegan ******* nya yang keluar, sesekali merlila mengumpat ke hati yang ada di film itu.


saat merlila ingin menutup filmnya, tiba-tiba saja mati lampu membuat merlila langsung menjerit, merlila langsung berbaring di bawah meja.


"kenapa bisa ada mati lampu, padahal tiba ada badai apapun," merlila membekuk di bawah meja tak berani beranjak satu langkah pun.


hampir lima menit merlila menunggu berharap ada pelayan yang datang membawa lentera, merlila mencari telfon genggam nya namun merlila baru ingat bahwa telfon genggam nya sedang ia ces di kamar, sekarang merlila benar benar terjebak.


sampai kapan ia harus menunggu sampai lampu menyala, untuk menenangkan diri nya merlila meminum soda yang ia ambil tadi.


sedikit merasakan ada hembusan angin yang menerpa leher merlila, merlila langsung membalikan badan menatap gelap nya ruangan itu, dari tadi merlila seakan ada yang sedang mengawasi nya,namun hanya kegelapan yang merlila lihat.


merlila ingin cepat cepat bisa kembali ke kamar, dengan berjalan merayap rayap merlila mencari jalan, baru saja sampai di koridor rumah tumbuh merlila sudah di buat merinding hanya kegelapan yang merlila lihat, bahkan sangking gelap nya merlila tidak bisa melihat apa apa hanya mengandalkan Indra perabanya untuk bisa kembali.


sesekali merlila melihat ke belakang nya untuk melihat apa ada seorang yang sedang berjalan ke mari, namun lagi lagi hanya kegelapan, merlila benar benar merasakan bahwa di belakang nya ada seseorang yang sedang memperhatikan nya.


puk!!


dari belakang ada tangga yang memegang pundak merlila, tumbuh merlila kaku ia tidak bisa berteriak, tenggorokan nya seakan keluh hanya harapan yang bisa merlila lakukan.


" kumohon jangan ganggu aku," ucap merlila gemetar sebelum akhirnya pingsan di dekapan tumbuh seseorang.


tiba tiba saja lampu menyala lagi, terlihat seorang yang telah menjahili merlila adalah Dion, sebenarnya Dion hanya ingin lewat namun mendengar jeritan merlila terlintas ide iseng untuk menjahit merlila.


" hei bangun," Dion menepuk lembut pipi merlila.


" bagaimana ini tidak mungkin aku meninggalkan nya, dia pingsan juga kesalahan ku," Dion melihat ke sekeliling memastikan tidak ada seorang pun yang melihat mereka.


tidak mau menunggu waktu lama, Dion langsung mengangkat tumbuh merlila berniat untuk mengantar nya ke kamar karena merlila sudah pingsan tidak mungkin juga Dion harus menunggu nya sampai bangun.


ruang keluarga ada di lantai satu sementara kamar merlila ada di lantai dua,Dion harus berkeja keras untuk mengangkat tumbuh merlila,Dion tidak bisa menggunakan lift karena semua tangan nya memegang tumbuh merlila bagaimana cara nya di memencet tombol jika ingin naik lift.


satu demi satu anak tangga Dion langkahi, Dion melihat sejenak wajah cantik merlila yang begitu cantik, sedikit ada rasa terpesona di hati Dion, setiap inci wajah merlila,Dion amati dengan teliti.


sampai di depan kamar merlila,Dion membawa masuk merlila ke kamar dan membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur, saat ingin pergi secara tidak sengaja rambut merlila tersangkut di kancing kemejanya membuat Dion harus melepas pelan rambut merlila di kancing kemejanya,sebelum pergi Dion menyempatkan diri untuk mengelus rambut hitam merlila, rasa lembut dari rambut merlila membuat Dion ingin terus menerus mengelus rambut merlila.