
merlila langsung memukul perut Dion dengan tas yang ia kenakan,Dion yang tak terima langsung mendorong tubuh merlila, pertengkaran di antara mereka berdua menjadi semakin sengit, Sinta berusaha untuk merelai pertengkaran di antara mereka namun tetap saja hasil nya nihil.
" berhenti bertengkar!!! Denis langsung menarik tumbuh merlila untuk menjauh dari Dion.
plak!!!
satu tamparan mendarat sempurna di pipi Denis, Denis hanya menatap dingin ke arah merlila gadis yang berani menampar nya, terlihat di mata merlila yang tidak terlihat memiliki penyesalan.
" berani sekali kau mengganggu ku,"merlila langsung menatap tajam ke arah Denis.
" merlila jangan bersikap tak sopan kepada Denis, dia lah yang telah membantu mu tadi malam, kalau tidak ada Denis entah apa yang akan terjadi pada mu," Sinta langsung menarik tangan merlila.
" aku tak perduli, lebih baik aku mati dari pada harus berterima kasih kepada pria ini," merlila menunjuk ke arah Denis.
sementara Denis hanya dia menatap datar ke arah merlila, tatapan terlihat begitu membenci Denis. Sinta memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
" merlila, jangan membuat ibu malu dengan kelakuan mu," Sinta duduk sambil meminum kopi yang tersaji di meja.
" seharusnya ibu yang malu dengan kelakuan ibu sendiri," setelah mengatakan itu merlila langsung pergi.
" haisss anak itu,"
setelah meminta kunci mobil kepada bibik Zhu, merlila langsung tancap gas pergi menuju pemakaman yang jarak nya cukup jauh dari kediaman nya.
saat tengah menunggu lampu merah, merlila memandangi mobil yang di berikan oleh mendiang ayah nya, mobil ini juga yang menjadi saksi merlila bisa menyetir.
merlila lalu tersenyum hambar mengingat kenangan yang begitu indah, buru buru merlila menghapus air mata yang keluar dari kelopak mata nya, merlila tak ingin membuat sang ayah sedih melihat merlila yang tak bahagia.
sesampai nya di makam, merlila memakir kan mobil nya dan langsung pergi mencari makam sang ayah,bibik Zhu mengatakan makam sang ayah dekat dengan pohon besar.
merlila berjalan ke arah pohon besar yang terletak di tengah makam, benar saja di batu nisan tertulis begitu besar nama sang ayah.
merlila berjongkok mengusap Nisa sang ayah, tak kuasa menahan air mata yang ingin keluar, tangisan merlila akhirnya tumpah.
"maaf kan merlila ayah, merlila tidak bisa menemani ayah di saat terakhir ayah, merlila memang bukan anak yang berbakti. merlila menangkup wajah nya.
" sekarang merlila harus bagaimana menghadapi situasi ini,"
hampir setengah jam merlila menangis di makam sang ayah, karena hari sudah makin siang merlila memutuskan untuk pulang.
" ayah merlila pulang dulu ya," merlila mengelus baru bisa untuk terakhir kalinya.
merlila melihat ke arloji yang ia kenakan,jam masih menunjukkan pukul satu siang,akan sangat membosankan jika merlila hanya berdiam di rumah, merlila juga malas untuk melihat Dion dan Erik.
kemudian merlila memutuskan untuk berbelanja di mall, hitung hitung membeli baju karena saat pulang Dari Amerika merlila hanya membawa baju sedikit, pakaian yang merlila punya pun sudah ketinggalan jaman.
merlila langsung tancap gas pergi ke mall yang tak jau dari tempat itu, kebetulan jalan sedang tidak macet, merlila bisa sampai di mall dalam waktu kurang lebih setengah jam.
sesampai nya di mall merlila langsung pergi menuju tokoh baju di sana, tujuan pertama merlila langsung ke arah tokoh brand terkenal.
memasuki tokoh merlila langsung di sambut hangat oleh penjaga tokoh, merlila melihat koleksi baju yang di pajang, penjaga juga menawarkan beberapa barang terbaru yang ada di toko itu.
setelah selesai dengan baju, merlila langsung beralih pergi menuju tokoh jam yang ada di depan toko sebelum nya.
" maaf mengganggu, Tolong perlihatkan koleksi jam tangan berwarna biru itu," merlila menunjuk jam tangan berwarna biru yang di hiasi permata.
penjaga tokoh itu langsung memberikan barang yang merlila inginkan, merlila melihat dengan teliti memperhatikan setiap inci yang begitu menarik.
" aku mau ini, tolong bungkus," ucap merlila sambil menyodorkan kartu.
dengan senang hati penjaga tokoh langsung membungkus jam tangan yang merlila inginkan.
sudah banyak barang yang merlila beli, merlila berniat langsung pulang , di perjalanan menuju ke parkiran merlila melihat Denis yang sedang berjalan bersama seorang wanita.
" dia dan siapa wanita yang ada di samping nya apa dia berselingkuh dari ibu, berani sekali bajingan itu,"
merlila langsung mengikuti kemana Denis pergi dengan wanita yang ada di samping nya, terlihat wanita itu begitu dekat dengan Denis, sesekali Denis mengelus rambut wanita itu.
" aku akan mencari bukti dan menunjuk kan nya kepada ibu,"
Denis berhenti ke tokoh cincin berlian, terlihat wanita itu tengah memilih perhiasan sementara Denis sibuk dengan seorang yang ada di telfon.
" kenapa hanya di situ,ayo kemari dan berikan aku saran," ucap wanita itu dan langsung di iyakan oleh Denis.
dari luar tokoh merlila mulai memfoto adegan Denis yang begitu dekat dengan wanita asing itu, namun merlila langsung di buat terkejut dengan Denis yang mulia berjalan keluar.
tidak ada tempat bersembunyi, merlila langsung membalikkan badan berharap Denis segera kembali ke tokoh itu.
" duhh, kalau ketahuan bisa malu," batin merlila sambil memejamkan mata.
" kenapa hanya berdiri di situ," ucap Denis yang di tujukan kepada merlila.
karena terkejut merlila langsung membalikkan badan, namun bukan itu masalah nya melainkan saat membalikkan badan jarak antara Denis begitu dekat yang tersisa satu jengkal di antara mereka berdua,
seakan jika orang asing melihat mereka, mereka akan menyangka mereka berdua adalah seorang kekasih.
merlila menatap ke mata pria yang terlihat begitu dingin, rasanya malu jika merlila ketahuan memata matai Denis.
"seharusnya jika ingin sembunyikan jangan berada di depan kaca," ucap Denis sambil mengangkat dagu menunjuk kaca besar yang ada di belakang merlila.
merlila baru sadar bahwa ada kaca di sana, ahh kenapa merlila bisa melakukan hal sebodoh ini.
" ini tempat umum, suka suka aku dong mau ngapain," ucap merlila sewot.
" memang, tapi seperti nya kau memotret ku," Denis sambil mengangkat alis.
"cih, jangan terlalu percaya diri," merlila berangsur menatap serius ke arah Denis.
" tapi siapa wanita itu,apa kau berselingkuh dari ibu? jika kau berani menyakiti ibuku,akan ku pastikan kau tak akan melihat indahnya senja," merlila menarik dasi Denis membuat wajah mereka berdua begitu dekat bahkan mereka berdua bisa merasakan nafas satu Sama lain.
" kau terlalu mudah untuk mengetahui hal ini," Denis sambil merapikan kembali dasi nya.
Denis langsung pergi menuju tokoh cincin, meninggalkan merlila yang menatap jengkel ke punggung Denis yang menjauh,
" bajingan sialan,"merlila mengepal tangan kuat.