
"Kenapa, kenapa ibu melakukan ini, Ayah belum meninggal lebih dari sebulan, kenapa ibu bisa menikah lagi apa ayah tak begitu berati bagi ibu!!!! ucap merlila dengan histeris.
Sinta langsung terduduk di lantai sambil menangis keras, seakan Sinta telah gagal untuk menjadi ibu yang baik.
Sinta memang bukan wanita yang baik, walaupun telah menikah ia dengan santai bermain dengan pria di depan suami nya sendiri, semenjak kepergian sang suami tercinta hati Sinta begitu kosong walaupun sudah menikah lagi.
rasa nya hari yang ia lalui sangat berat, sementara Denis hanya menatap dingin melihat pertengkaran antara anak dan ibu, Denis terpaksa menikah dengan Sinta karena sang ayah tidak bisa melunasi hutang yang begitu besar kepada ayah, Denis juga tak perduli jika Sinta bermain di belakang nya karena memang pernikahan ini tidak di dasar kan dengan cinta.
Denis juga menatap dingin saat Sinta bermain ruang dengan pria lain, karena bagi Denis hidup nya telah hancur setelah menikah dengan Sinta.
" maaf kan ibu merlila," tangis Sinta begitu memilukan untuk di dengar.
" itu bukan hal yang ingin aku dengan,aku meminta penjelasan!!!
" maaf ibu nak, ibu kesepian setelah kepergian ayah mu jadi ibu memutuskan untuk menikah lagi,"
merlila memundurkan langkahnya langsung pergi meninggalkan Sinta yang masih terduduk sambil menyesalkan semua perbuatan yang telah ia perbuat.
andai sita bisa mengulangi waktu ia ingin mengembalikan semua kenangan indah bersama keluarga nya, namun se ingin apa pun Sinta, tidak apa pernah bisa mengulangi nya lagi karena waktu tetap berjalan.
melihat Sinta hancur, Denis menjadi ibah karena Denis tahu rasanya kecewa dengan kenyataan.
" apa nyonya tidak apa-apa? Denis memastikan kondisi Sinta.
walaupun Sinta sudah menjadi istri nya, namun Denis tidak pernah sedikitpun memanggil Sinta dengan sebutan manis atau pun menyentuh tumbuh Sinta, bukan karena Denis jijik dengan Sinta yang lebih tua, alasan Denis tak menyentuh Sinta karena tidak ada rasa cinta di hati Denis.
sebenarnya Sinta cukup cantik di usia nya yang menginjak empat puluh tahun, mungkin karena Sinta sering melakukan perawatan dan sering berolahraga di jim.
" aku tidak apa-apa," dengan susah Sinta bangkit dari duduk nya.
"nyonya mau kemana?
" aku harus mengejar merlila,aku takut sesuatu terjadi pada nya,ini juga sudah malam," ucap Sinta dengan penuh khawatir lalu melihat ke luar jendela yang masih memperlihatkan hujan dan juga kilat nya.
" nyonya tunggu saja di rumah, biar aku yang mencari nya," ucap Denis yang di anggukan oleh Sinta.
Denis langsung berlari keluar mengejar merlila yang entah pergi ke mana di saat hujan seperti ini, karena takut merlila semakin jauh, Denis memutuskan untuk berlari karena jika menggunakan mobil Akan sangat sulit mencari merlila di tengah hujan deras.
di rintik hujan yang sangat deras, merlila berjalan gontai seluruh pakaian yang ia kenakan sudah basah karena hujan merlila juga melepas sepatu dan berjalan tanpa beralas, merlila tidak perduli akan batu kecil yang melukai kaki nya yang merlila rasakan hanya lah sakit yang menyerang hati nya.
rasanya merlila ingin berteriak-teriak sekeras mungkin, melepas kan masalah walaupun hanya sekejap, malam ini ia tak tahu harus kemana rasanya sekarang merlila tak memiliki tujuan hidup yang jelas, Ayah yang sangat ia sayangi telah pergi meninggalkan nya, sementara ibu yang selalu ia banggakan telah mengkhianati nya.
merlila memutuskan untuk duduk sebentar di halte bus melepaskan capek yang menyerang tumbuh nya, hari juga semakin gelap hujan tak berhenti juga, merlila hanya bisa duduk sambil menyembunyikan wajah nya di kedua lutut nya, lalu menangis sejadi jadinya.
sampai merlila tersadar kan akan suara bariton seorang pria yang seperti nya berdiri di depan nya, merlila mendongak menatap ke arah asal suara itu, tiga pria dengan baju yang begitu berantakan tengah berdiri di hadapan menatap merlila mesum.
" pergi, jangan ganggu aku!!! merlila langsung berdiri dari duduk nya dan berniat pergi dari halte bus.
" ehh, mau kemana,di sini aja di luar sedang hujan," hadang perman satu.
"iya, di sini kamu hangat kok kan ada kamu bertiga," ucap satu preman sambil menyentuh tangan merlila.
" lepas, cepat kalian pergi atau aku akan berteriak," ancam merlila sambil menghempas tangan preman itu.
" hahaha, berteriak lah sampai pita suara mu putus, tidak akan ada orang yang datang untuk menyelamatkan mu,"
mereka bertiga saling memberi aba-aba, lalu langsung membaringkan merlila agar mereka bisa leluasa untuk melakukan hal tak senonoh kepada merlila, dengan tenang yang tersisa merlila memberontak sekuat mungkin.
" lepaskan gadis itu!!!
suara bariton seorang pria membuat aktivitas preman bejat itu berhenti, Denis muncul dengan kondisi baju yang sudah basah sambil menatap tajam ke arah preman itu.
awalnya Denis ingin mencari merlila ke tempat lain saat dekat dengan halte bus, namun mendengar jeritan wanita berasal dari halte bus membuat Denis langsung berlari ke arah suara jeritan itu berasal, di sana Denis melihat merlila yang ingin di lecehkan.
" apa kau seorang pahlawan yang mau menolong wanita ini," ejek preman berbaju kuning dengan memandang remeh Denis.
Denis langsung meninju wajah preman itu,Dua preman yang tak terima teman mereka di pukul, langsung menyerang Denis, perkelahian antara mereka tak terelakkan sampai ketiga preman itu menyerah lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
sementara merlila ia terlihat sangat ketakutan, merlila tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika tidak ada Denis.
" apa mereka menyakiti mu? tanya Denis.
" a..aku tidak apa-apa," badan merlila begitu lemas hingga membuat nya terduduk lagi saat ingin berdiri.
Denis yang tahu merlila tengah syok langsung membantu merlila untuk berdiri, melihat kondisi merlila yang begitu mengenaskan langsung saja Denis melepas jas yang ia kenakan dan langsung memakaikannya ke badan merlila.
" apa kau kuat untuk berjalan,"
" Yah,aku masih bisa berjalan," dengan gemetar merlila berjalan pelan sampai akhir merlila hampir jatuh namun dengan sigap Denis menangkap tumbuh merlila.
" maaf aku bersikap tak sopan," Denis langsung mengangkat tumbuh kecil merlila, melihat kondisi nya saja Denis sudah bisa tahu merlila tak akan kuat berjalan.
di derasnya nya rintik hujan Denis berlari sambil mencari taksi, karena hari juga semakin larut hujan juga tidak redah, Denis khawatir kondisi merlila akan semakin buruk.
" sial, kenapa tidak ada taksi satu pun," umpat Denis.
Denis mengalikan pandangan nya sejenak kepada merlila untuk memastikan kondisi gadis itu baik baik saja, namun seperti dugaan Denis kondisi merlila memburuk dengan wajah yang semakin pucat.