My Mother's New Husband

My Mother's New Husband
kenapa



" apa!!! c.. coba ulangi lagi," merlila yang tidak percaya apa yang telinga nya dengar, mungkin saja telinga nya bermasalah.


" pak Denis direktur utama perusahaan DM," dengan begitu jelas.


sekarang benar telinga nya tidak bermasalah,apa yang dia dengar benar, sekarang merlila tahu apa perkejaan Denis yang telah membuat nya penasaran.


kenapa seorang pria asing seperti nya bisa menjadi direktur utama seharusnya merlila lah yang menjabat di posisi direktur.


tangan merlila mengepal kuat, lalu langsung masuk ke dalam perusahaan mencari ruangan kerja Denis untuk meminta penjelasan.


" apa ini semua ibu yang melakukan nya," batin merlila.


" jika ini benar ibu yang melakukan nya, ibu sudah benar membuat ku kecewa,"


...****************...


tempat di depan pintu ruang direktur utama tertulis dengan gamblang nama Denis, merlila benar di buat marah melihat tulisan di depan pintu direktur utama bukan lah namanya melainkan nama orang, merlila langsung melepas nama Denis di pintu itu dan langsung membuangnya ke sembarang tempat.


tanpa mengetuk pintu dulu, merlila langsung mendobrak pintu itu sehingga menimbulkan bunyi yang begitu keras, Denis yang sedang mengerjakan perkejaan di buat terlonjak kaget.


melihat merlila yang tiba-tiba datang ke ruang nya dengan kondisi marah, Denis sudah bisa menebak sumber kemarahan merlila, merlila menyempatkan diri untuk menutup pintu ruangan karena hari ini ia akan menghabis Denis.


"bajingan sialan," merlila langsung berjalan menghampiri Denis yang duduk santai di kursi kebanggaan nya.


merlila langsung menarik kerah baju Denis, sementara Denis hanya tersenyum menatap wajah merlila yang terlihat sangat marah.


" apa kau tidak tahu, menyerang seorang secara tiba-tiba bisa mendapatkan hukum pidana," ucap Denis.


" sekarang aku tidak perduli dengan hukum, bagaimana orang rendahan seperti mu bisa menjadi direktur, siapa dalang di balik semua ini," merlila semakin menarik kuat kerah baju Denis.


" siapa lagi kalau bukan ibu mu lebih tempat nya istri ku,"


benar apa yang merlila fikir kan jika ibu nya lah yang menjadi kan Denis direktur utama perusahaan ayah nya.


seharusnya di kursi ini hanya merlila lah yang berhak duduk namun sekarang harus ternodai dengan Denis yang duduk di sanah, sekarang Denis sudah benar benar menjadi musuh nya.


" jujur saja, seharusnya kau yang menjawab sebagai direktur utama namun ibu mu lebih memilih ku ketimbang dirimu," Denis dengan nada yang seakan merendahkan merlila.


Denis langsung menarik kembali kerah baju yang di tarik oleh merlia, kemudian berdiri saat Denis berdiri seakan tumbuh merlila terlihat pendek, bukan karena tumbuh merlila yang pendek melainkan tumbuh Denis yang tinggi.


"apa kau kira,aku akan membiarkan nya begitu saja,"merlila mengangkat alisnya sambil merapikan baju Denis yang berantakan karena nya.


merlila lalu mendorong Denis menjauh dari kursi, lalu merlila duduk di sana memperhatikan inci wajah Denis, orang yang telah membuat nya muak.


" ini kursi ku seharusnya aku yang duduk di sini, namun karena aku baik hati aku akan membiarkan kan mu duduk di sini sampai aku merebut nya lagi,"merlila sampai memutar kursinya.


Denis hanya tersenyum lalu kedua tangan nya Denis menggegam ke dua gagang kursi, tumbuh Denis di condong kan lebih dekat dengan merlila, bahkan merlila bisa mencium aroma maskulin dari tumbuh Denis,yang begitu dekat dengan nya.


" sepertinya itu hanya lah mimpi mu saja, lihat lah ibu mu terlihat tidak menyayangi mu lagi, sekarang yang di penting kan ibu mu adalah kesenangan nya," bisik Denis.


merlila langsung mendorong tubuh Denis untuk menjauh dari nya, kemudian merlila berdiri dan mengambil nama yang terbuat dari akrilik.


" CK,apa kau lihat nama mu terukir dengan begitu jelek di sini bagaimana kalau aku bantu untuk menyingkirkan nya," merlila langsung membanting akrilik yang terukir nama Denis, hingga pecah berserakan.


" kau telah gagal memperdaya ku,kau harus belajar lebih giat lagi, sekarang aku benar benar yakin jika kau hanya mau sesuatu dengan menikah dengan ibu ku,"


" apa maksud mu? ucap Denis yang tidak mengerti apa yang di inginkan merlila dari ucapan nya.


" berapa uang yang kau mau agar bercerai dari ibu ku," merlila menatap serius Denis.


mendengar apa yang telah merlila ucapkan, Denis tidak bisa menahan gelak tawanya, sekarang Denis yakin merlila benar benar gadis polos.


" apa yang kau tertawa kan," merlila menatap bingung Denis yang tertawa begitu terbahak-bahak.


Denis menangkup kuat pipi merlila lalu memperhatikan inci wajah wanita yang ada di depan nya sekarang adalah anak tiri nya, mereka berdua memang tidak cocok untuk menjadi ayah anak, mereka berdua lebih cocok menjadi sepasang kekasih dengan perbedaan umur mereka yang berjarak dua tahun.


" merlila Martinez Tolong dengar kan aku baik baik, aku tidak butuh uang sepeser pun dari dirimu, tapi karena kau begitu bersemangat memisahkan aku dari ibu mu,aku akan memberi kau kesempatan untuk melakukan semua rencana yang kau inginkan kan," ucap Denis sambil memandangi wajah cantik merlila.


" oh ya, seharusnya kau memanggil ku ayah, kenapa mahal memanggil ku tidak sopan seperti itu," Denis semakin mendekat kan muka nya ke muka merlila.


merlila langsung menghempas kuat tangan denis yang memegang pipi Nya,tak hanya membenci Denis, sekarang merlila juga merasa jijik terhadap Denis.


" jangan pernah berharap aku memanggilmu ayah,kau tak pantas dan kita lihat siapa yang akan menang di akhir cerita," setelah mengucapkan itu merlila langsung pergi dengan menutup pintu begitu keras.


Denis tersenyum, namun senyum Denis memiliki arti tersendiri yang hanya Denis tahu, menurut nya merlila adalah wanita yang menarik dengan sikap keras kepala nya.


"memang menarik,tapi merlila aku tidak akan membiarkan akhir cerita mu dengan ibu mu baik baik saja," ucap Denis yang seperti memiliki dendam kesumat dengan keluarga merlila.


sesampai nya di rumah merlila langsung mencari Sinta, semua ruangan sudah merlila periksa tak kunjung menemukan seseorang yang ingin ia cari.


sampai merlila ingat sang ibu sering menghabiskan waktu nya di tama belakang, buru buru merlila pergi menuju tama belakang itu.


dan benar saja sang ibu sedang menikmati cuaca sambil berteduh di pohon tua besar yang sudah berdiri lebih dari sepuluh tahun.


" ibu," panggil merlila.


" merlila?


melihat wajah merlila yang terlihat marah, Sinta sudah tahu pasti ada yang membuat merlila marah.


" apa apaan ibu menjadikan Denis sebagai direktur utama di perusahaan ayah, harus nya aku," marah merlila kepada Sinta.


Sinta sempat bertanya kepada diri sendiri, kenapa bisa merlila tahu hal itu, sebenarnya Sinta ingin memberi tahu merlila namun hanya saja waktu nya belum tepat hingga Sinta menunda sampai saat ini.