
"maaf aku bersikap tak sopan," Denis langsung mengangkat tumbuh kecil merlila, melihat kondisi nya saja Denis sudah bisa tahu merlila tak akan kuat berjalan.
di derasnya nya rintik hujan Denis berlari sambil mencari taksi, karena hari juga semakin larut hujan juga tidak redah, Denis khawatir kondisi merlila akan semakin buruk.
" sial, kenapa tidak ada taksi satu pun," umpat Denis.
Denis mengalikan pandangan nya sejenak kepada merlila untuk memastikan kondisi gadis itu baik baik saja, namun seperti dugaan Denis kondisi merlila memburuk dengan wajah yang semakin pucat.
Denis berlari menerobos derasnya hujan sambil menggendong tumbuh merlila yang sudah tak berdaya.
Sinta setia menunggu merlila dan juga Denis di ruang kerja, Sinta berdiri sambil berlalu lalang untuk merendahkan ke khawatiran nya, namun Sinta tak bisa menangkal, ia begitu khawatir takut hal tak di inginkan terjadi.
suara pintu yang di banting terdengar begitu keras, hingga membuat Sinta langsung mengalihkan pandangan nya menatap ke arah suara.
Sinta melihat Denis menggendong merlila dengan kondisi merlila yang terkulai lemas kondisi mereka berdua sama sama basah kuyup, dengan berlari kecil, Sinta menghampiri Denis.
" apa yang terjadi dengan merlila, ya ampun merlila kenapa bisa seperti ini," Sinta yang semakin khawatir.
Denis langsung menjelaskan semua kejadian yang telah merlila alami, Sinta langsung saja menangis mengetahui sesuatu tak diinginkan hampir terjadi kepada merlila.
buru buru Denis membawa merlila ke kamar nya, langsung saja Sinta menelfon dokter pribadi milik keluarga.
Sinta menggegam tangan merlila yang dingin, mengelus wajah putri nya yang cantik yang berubah menjadi pucat, Sinta menyalahkan semua kejadian yang menimpa merlila karena kesalahan diri nya.
dokter mulai memeriksa denyut nadi merlila dan mengukur suhu tumbuh merlila, kemudian dokter tersebut meresepkan obat yang harus di minum oleh merlila.
" kondisi nya cukup buruk namun tidak perlu di bawah ke rumah sakit, dan jaga kondisi perut nya agar tidak kosong,"jelas dokter.
setelah selesai memeriksa merlila dokter itu langsung pergi, Denis pun pamit pergi untuk membelikan obat yang telah dokter resep kan.
sementara Sinta, dari tadi ia terus terusan menatap sang putri, berharap merlila segera bangun agar Sinta bisa memeluk tumbuh putri nya.
" maaf kan ibu nak, tolong maafkan ibu, ini salah ibu yang tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk mu," Sinta sambil menggegam tangan merlila yang terasa dingin.
" semenjak kepergian ayah mu,ibu merasakan kekosongan di hati ibu, hal tak terhormat itu ibu lakukan untuk mengisi kekosongan di hidup ibu, maaf ibu merlila," Sinta sambil mencium tangan putri nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
pagi sudah tiba, perkejaan sang bulan sudah tergantikan oleh matahari, gadis yang terbaring di lemah di tempat tidur akhirnya mulai membuka mata karena sinar matahari yang menerobos masuk lewat jendela.
sedikit demi sedikit merlila membuka kelopak mata nya, mata merlila menatap langit kamar nya yang tak berubah sedikit pun, tetap sama seperti terakhir kali merlila meninggal kan nya.
merlila memang kepala yang terasa pusing,ia mengingat kejadian yang telah terjadi tadi malam, ini semua juga kesalahan nya.
merlila mulai turun dari tempat tidur, untuk berganti pakaian karena hari ini iya ingin pergi ke makam sang ayah, dengan kondisi tumbuh yang lemas merlila mulai menyisir rambut panjang nya dan mengepang nya.
lalu merlila mengambil dress putih untuk ia kenakan hari ini, merlila juga mengoleskan sedikit lipstik di bibir nya agar tak terlihat pucat, walaupun Merlila tengah sakit namun kecantikan nya tak pernah pudar.
setelah selesai merlila langsung turun ke bawah untuk mencari bibik Zhu yang juga kepala pelayan di rumah nya, semua kunci mobil yang ada di rumah di pegang oleh bibik Zhu.
di meja makan terlihat Sinta, Denis, Erik dan juga Dion tengah sarapan bersama, Dion dan Erik sudah tinggal satu atap dengan Sinta dalam kurung beberapa Minggu ini.
hanya ada suara dentingan sendok yang bunyi, karena Sinta tak suka ada obrolan yang terjadi itu sudah perintah bulat dari Sinta.
" merlila kenapa kau turun, bukan kah kau sedang sakit," ucap Sinta sambil memegang tangan merlila.
" tidak perlu khawatir ibu, aku hanya mencari bibik Zhu untuk meminta kunci mobil," merlila melepas pelan tangan Sinta.
walaupun merlila melepas genggaman tangan Sinta dengan pelan, tetap saja Sinta merasakan nya begitu sakit.
pandangan merlila tertuju ke arah dua orang laki laki yang tak lain bukan adalah Erik dan Dion, merlila langsung berjalan ke arah mereka berdua yang saling Adu pandangan.
" pagi pagi seperti ini kenapa ada tikus yang sedang duduk di sini," merlila dengan tersenyum.
" merlila jangan bicara tak sopan,ibu tidak pernah mengajarimu seperti itu," nasihat Sinta hanya di acuh kan oleh merlila.
sementara Denis ia tetap tenang dengan aktivitas makan nya walaupun terjadi pertengkaran di hadapan nya, itu juga sudah makanan Denis setiap hari yang melihat brondong Sinta berebut untuk mendapatkan kasih sayang dari Sinta.
" kenapa aku hanya ingin mengucapkan selamat pagi," merlila langsung menyiramkan air yang ad di teko ke muka Erik dan juga Dion.
" merlila!!!
ucap mereka berdua serempak, mereka berdua langsung di buat berdiri dari duduk nya dan menatap marah ke arah merlila yang terlihat melipat tangan ke dada, walaupun merlila putri dari Sinta namun Dion dan juga Erik tidak akan pernah takut pada merlila.
" berani sekali kau menyebut nama ku," ucap merlila dengan menatap tajam ke arah Dion dan Erik.
" cih, kau memang anak yang tidak memiliki sopan santun,aku ragu wanita seperti mu akan mendapatkan pasangan hidup," balas Dion judes.
prangg!!
suara lempar piring bergemang keras di sana , membuat semua makanan yang merlila banting tercecer ke mana mana.
" ucap kan sekali lagi," merlila mulai mendekat ke arah Dion,Dion hanya tersenyum sinis sambil terus memanas manasi suasana.
"Dion berhenti," perintah Sinta namun tak di gubris oleh Dion.
" dia memang seperti rumor yang beredar,bahwa dia seorang wanita yang kerasa kepala," ucap menohok Dion.
bug!!
merlila langsung memukul perut Dion dengan tas yang ia kenakan,Dion yang tak terima langsung mendorong tubuh merlila, pertengkaran di antara mereka berdua menjadi semakin sengit, Sinta berusaha untuk merelai pertengkaran di antara mereka namun tetap saja hasil nya nihil.
" berhenti bertengkar!!! Denis langsung menarik tumbuh merlila untuk menjauh dari Dion.
plak!!!
satu tamparan mendarat sempurna di pipi Denis, Denis hanya menatap dingin ke arah merlila gadis yang berani menampar nya, terlihat di mata merlila yang tidak terlihat memiliki penyesalan.
" berani sekali kau mengganggu ku,"merlila langsung menatap tajam ke arah Denis.
" merlila jangan bersikap tak sopan kepada Denis, dia lah yang telah membantu mu tadi malam, kalau tidak ada Denis entah apa yang akan terjadi pada mu," Sinta langsung menarik tangan merlila.