My Mother's New Husband

My Mother's New Husband
kenangan



tidak mau menunggu waktu lama, Dion langsung mengangkat tumbuh merlila berniat untuk mengantar nya ke kamar karena merlila sudah pingsan tidak mungkin juga Dion harus menunggu nya sampai bangun.


ruang keluarga ada di lantai satu sementara kamar merlila ada di lantai dua,Dion harus berkeja keras untuk mengangkat tumbuh merlila,Dion tidak bisa menggunakan lift karena semua tangan nya memegang tumbuh merlila bagaimana cara nya di memencet tombol jika ingin naik lift.


satu demi satu anak tangga Dion langkahi, Dion melihat sejenak wajah cantik merlila yang begitu cantik, sedikit ada rasa terpesona di hati Dion, setiap inci wajah merlila,Dion amati dengan teliti.


sampai di depan kamar merlila,Dion membawa masuk merlila ke kamar dan membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur, saat ingin pergi secara tidak sengaja rambut merlila tersangkut di kancing kemejanya membuat Dion harus melepas pelan rambut merlila di kancing kemejanya,sebelum pergi Dion menyempatkan diri untuk mengelus rambut hitam merlila, rasa lembut dari rambut merlila membuat Dion ingin terus menerus mengelus rambut merlila.


...****************...


merlila terkejut saat terbangun sudah terbaring di kamar, seingat nya ia pingsan karena terkejut,tapi kenapa sekarang bisa berada di kamar apa Mungkin para pelayan yang membawanya kemari.


tok tok tok


terdengar suara ketukan pintu dari kamar nya membuat merlila buyar dari lamunan nya.


" ada apa," merlila memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.


" nona aku ingin mengembalikan laptop mu yang tertinggal di ruang keluarga," jelas pelayan.


" haisss,bawa masuk ke dalam saja,"


pelayan itu langsung memberikan laptop merlila kepada pemilik asli nya, saat pelayan itu hendak pergi merlila langsung menanyakan tentang kejadian tadi malam.


" siapa yang membawa ku kemari, seharusnya aku ada di ruang keluarga,"jelas merlila kepada pelayan itu.


" entah lah nona, saat saya ingin membersihkan ruang keluarga hanya ada cemilan dan laptop yang masih terbuka,"jawab pelayan tersebut yang hanya anggukan oleh merlila, lalu pelayan tersebut pamit pergi.


merlila melihat jam yang ada di meja,jam menunjukkan pukul tujuh pagi dengan cepat merlila pergi menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri.


setelah selesai dengan ritual mandi merlila langsung pergi mencari baju yang akan di kenakan hari ini, walaupun di rumah merlila akan tetap berpakaian rapi.


kemudian merlila turun ke bawah untuk sarapan sampai di ruang makan merlila hanya melihat Sinta,Dion dan Denis tanpa ada Erik.


tanpa mengucapkan selamat pagi merlila langsung duduk di paling ujung yang berjarak tujuh kursi dari Sinta, pelayan langsung menyajikan sarapan pagi di piring merlila, tanpa berbicara merlila langsung menyantap makanan.


" merlila,apa acara mu pagi ini," Sinta yang ingin memulai pembicaraan dengan putri nya, sebenarnya ingin sekali Sinta berbincang dengan merlila seperti dulu.


" hanya diam di rumah sampai ibu mewujudkan ucapan ibu kemarin," jawab merlila tanpa mengalihkan pandangan nya.


sendari kedatangan merlila Dion terus menerus memperhatikan gerak gerik dari merlila itu tak terhindar dari pandangan Denis yang terus memperhatikan arah mata Dion.


Denis mengerutkan kening melihat sikap Dion yang berbeda, Denis tau pasti bahwa Dion sangat tidak suka dengan kehadiran merlila, namun berbeda dengan hari ini Dion memandangi merlila dengan lekat.


" ibu harus memberitahukan pemegang saham lainnya, itu akan memerlukan waktu,ibu berharap kau sabar menunggu," ucap Sinta sambil tersenyum hangat ke arah merlila.


merlila beralih menatap Denis yang hanya diam menatap merlila, merlila mengangkat alisnya untuk menghina Denis, karena sebentar lagi merlila akan menendang Denis keluar dari perusahaan ayah nya.


sementara Denis tidak berkutik apa apa saat Merlila menghinanya, Dion yang tidak tahu apa yang sedang terjadi pun menjadi bingung.


" bibik Zhu Tolong bawa kan aku buah dan antar ke kamar ku," perintah merlila kepada bibik Zhu yang di anggukan oleh bibik Zhu.


merlila langsung pergi meninggalkan mereka bertiga yang masih dengan aktivitas makan nya.


"sayang sebenarnya apa yang merlila maksud?Dion meminta penjelasan kepada Sinta tentang apa yang terjadi.


"merlila ingin bergabung di perusahaan DM, kalau di fikir juga merlila sudah mampu untuk berkeja di sana, Ayah merlila ingin sekali melihat merlila mengolah perusahaan suatu saat nanti," ucap Sinta sambil menyantap makanan nya.


" haisss, seperti posisi Denis akan tersingkir kan," sindir Dion yang di acuhkan oleh Dion.


"posisi Denis akan tetap sama, biarkan aku yan yang mengurus ini," Sinta langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


"sepertinya kau akan segera di buang oleh Sinta," ucap Denis dengan memasang wajah mengejek Dion.


" tidak mungkin, Sinta sangat menyayangi ku lebih dari suaminya sendiri," balas Dion sambil menepuk pundak Denis.


saat Dion akan pergi Denis langsung menghentikan langkah Dion, dengan merapikan jas yang ia kenakan Denis menatap datar ke wajah Dion.


" jika dilihat kau menatap merlila seperti nya kau menyimpan rasa pada merlila," Denis sambil menaikkan satu alisnya.


Dion tertawa pelan lalu melipat tangan nya ke dada dan mengatakan kepada Denis.


" jika aku benar menyimpan rasa kepadanya, apa yang ingin kau lakukan," tatap Dion yang tak kalah datar.


tatapan mereka menjadi semakin sengit,yang dulu mereka berdua tidak perduli dengan satu sama lain sekarang berubah menjadi saling bermusuhan.


" kau tidak pantas untuk nya yang berharga,kau terlalu murahan,"Denis sambil menepuk pundak Dion kuat.


" kau fikir kau juga pantas? melihat kepercayaan diri mu membuat ku ingin sekali tertawa," Dion yang tak kalah menohok.


" kenapa kau tertawa, kita belum tahu siapa yang akan menjadi pemenang," setelah mengatakan itu Denis langsung pergi.


sementara Dion masih saja memikirkan apa yang Denis ucapkan,Dion sudah menduga Denis bukan kah orang yang sederhana seperti orang lihat, menurut Dion Denis adalah seorang yang bisa memanipulasi orang dengan hanya menggunakan tatapan mata.


setelah selesai dari sarapan pagi merlila hanya malas malasan di kamar nya, tidak mau hanya diam di kamar merlila memutuskan untuk pergi ke taman belakang untuk melihat bunga yang bermekaran, sesampai nya di sana merlila langsung mendudukkan tubuhnya ke kursi kayu jati yang telah di siapkan.


merlila melihat bunga mawar yang bermekaran, semua bunga yang di tanam di kebun ini adalah ide mendiang sang ayah, dari kecil merlila memang suka dengan warna warni bunga mawar,lalu di ulang tahun ke tuju merlila David membuat kan taman bunga kesukaan merlila, hampir setiap weekend merlila, Sinta dan David akan menghabiskan waktu mereka untuk bercengkrama di sini.