
" kau tidak pantas untuk nya yang berharga,kau terlalu murahan,"Denis sambil menepuk pundak Dion kuat.
" kau fikir kau juga pantas? melihat kepercayaan diri mu membuat ku ingin sekali tertawa," Dion yang tak kalah menohok.
" kenapa kau tertawa, kita belum tahu siapa yang akan menjadi pemenang," setelah mengatakan itu Denis langsung pergi.
sementara Dion masih saja memikirkan apa yang Denis ucapkan,Dion sudah menduga Denis bukan kah orang yang sederhana seperti orang lihat, menurut Dion Denis adalah seorang yang bisa memanipulasi orang dengan hanya menggunakan tatapan mata.
setelah selesai dari sarapan pagi merlila hanya malas malasan di kamar nya, tidak mau hanya diam di kamar merlila memutuskan untuk pergi ke taman belakang untuk melihat bunga yang bermekaran, sesampai nya di sana merlila langsung mendudukkan tubuhnya ke kursi kayu jati yang telah di siapkan.
merlila melihat bunga mawar yang bermekaran, semua bunga yang di tanam di kebun ini adalah ide mendiang sang ayah, dari kecil merlila memang suka dengan warna warni bunga mawar,lalu di ulang tahun ke tuju merlila David membuat kan taman bunga kesukaan merlila, hampir setiap weekend merlila, Sinta dan David akan menghabiskan waktu mereka untuk bercengkrama di sini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
semua memori bahagia terlintas begitu indah bagai kan pelangi yang muncul setiap setelah hujan, ingin sekali masa masa itu kembali namun apa boleh buat manusia hanya lah berharap sementara semua terjadi di tangan tuhan.
pandangan mata merlila di buat terpukau dengan bunga mawar merah yang sedang mekar, merlila mendekati bunga mawar merah yang sedang mekar dan menghirup dalam dalam bau bunga mawar, walaupun mawar bunga yang sangat indah namun jangan pernah lupa dengan duri yang siap menusuk tangan siapa pun yang berani menyentuh nya sembarangan.
"kau suka dengan mawar,"
merlila menoleh ke arah suara,ia melihat Dion yang sedang berjalan mendekati Merlila, mood merlila langsung rusak melihat kedatangan orang yang membuat nya hampir setiap hari muak.
"ngapain kau kesini, apa gak bisa sehari saja tidak menggangu ku hah!!! ucap merlila dengan melotot ke Dion.
"kenapa ini tempat terbuka suka suka gw dong mau ke sini atau tidak," Dion dengan santai nya.
kemudian Dion mengambil alih bunga mawar yang merlila pegang dan menghirup wangi bunga mawar itu, merlila terlihat begitu jengkel melihat Dion yang sok akrab dengan nya, merlila berharap duri yang ada di bunga mawar menusuk tangan Dion hingga terluka.
namun merlila sedikit mengerutkan kening saat melihat penonton Dion yang berbeda, selama merlila ada di sini merlila hanya melihat Dion menggenakan kaos dan celana jeans namun sekarang Dion memakai kemeja dengan celana kain, jika di lihat secara intens Dion memang tanpa berwajah soft dengan rambut tebal.
" jangan melihat seperti itu,aku takut kau akan. terpesona dengan ketampanan ku,"ucap Dion dengan bangganya.
merlila melihat itu hanya memandang jengkel ke arah Dion,Dion memang narsis namun memang kenyataan nya dia tampan sihh,apa yang merlila fikir kan sih.
"sini bunga nya,"merlila merebut bunga yang Dion pegang, saat Dion melihat merlila ingin memotong tangkai bunga mawar, langsung saja Dion mencegah nya.
" apa yang mau kau lakukan,"cegah Dion.
" apa mata mu buta,aku ingin memotong bunga ini," merlila dengan menatap malas ke Dion.
"untuk apa?
"kepo banget sih,"
"tinggal jawab apa susah nya sih," Dion mulai malas meladeni sikap merlila yang keras kepala.
Dion juga bingung bagaimana orang tua merlila mendidik nya hingga bisa menjadi keras kepala seperti ini, dan juga bagaimana bisa orang tua merlila menahan emosi nya setiap hari yang harus hidup dengan sikap keras kepala merlila.
Dion menggelengkan kepalanya, kemudian Dion mengambil alih bunga mawar yang di pegang oleh merlila.
" jika kau ingin melihat keindahan bunga mawar ini maka jangan pernah memotong nya, sebaliknya rawat bunga mawar ini hingga berbunga lembat sampai kau melihat banyak mahkota bunga," Dion melihat keindahan bunga mawar yang ada di tangan nya, walaupun memetik satu bunga tidak akan menjadi masalah besar, namun dengan membiarkan nya tetap tumbuh adalah kunci keindahan bunga mawar, baru lah para lebah dan kupu kupu bisa mendapatkan makanan mereka.
merlila melihat sejenak ke arah Dion, walaupun wajah Dion terlihat sangat mudah namun dari ucapan nya seakan Dion sudah berpengalaman, merlila beralih melihat mata Dion yang terus memandang bunga mawar,mata Dion seakan menyiratkan pesan tersendiri yang merlila tidak tahu.
"haisss, baiklah," merlila langsung pergi meninggalkan Dion yang masih termenung melihat bunga yang ada di genggaman nya.
" aku sangat merindukan kalian," mata Dion sudah mulai meremang seakan siap mengeluarkan butiran bening air mata.
DM perusahaan, terlihat Sinta yang tengah berbincang dengan para karyawan di sana tentang proyek baru yang akan di bangun.
proyek ini akan menjadi proyek terbesar di tahun ini, jika proyek ini berhasil maka harga saham mereka akan meningkat.
" Denis, proyek ini akan aku serahkan kepada mu, semoga kau bisa menghandle proyek ini dengan baik," Sinta berjabat tangan dengan Denis.
" saya akan mengeluarkan kemampuan terbaik yang saya miliki,"
jarang sekali Sinta datang ke kantor, hanya sesekali dalam sebulan untuk mengecek keadaan kantor kalau tidak yaaa saat ada proyek penting.
" Linda," panggil Sinta kepada Linda yang berdiri di belakang Denis.
" iya ibu Sinta ada yang bis saya bantu," jawab Linda dengan sopan.
"Linda, bagaimana kinerja Denis baru baru ini,"
Denis dan Linda saling adu pandang, tidak pernah sekalipun Sinta bertanya tentang Denis kepada Linda, namun sekarang kenapa Sinta bertanya hal seperti secara tiba-tiba.
"kinerja pak Denis selalu bagus, kenapa anda bertanya tiba tiba tentang ini Bu,"
" mulai besok kau beralih posisi menjadi sekretaris pribadi ku, kinerja mu juga lumayan bagus," ucap Sinta.
Linda begitu terkejut mendengar apa yang di ucapkan oleh Sinta, jika dia berkeja dengan Sinta maka otomatis Linda tidak bisa bersama dengan Denis lagi, lagian waktu bertemu Denis hanya saat kerja saja, bagaimana ini ingin sekali Linda menolak nya namun harus bagaimana.
" kenapa begitu tiba tiba Bu Sinta,"
" tidak apa-apa, baiklah aku masih ada acara sampai bertemu lagi," Sinta langsung pergi meninggalkan Linda yang berdiri kaku.
" Denis bagaimana ini," rengek Linda sambil menyentuh tangan Denis.
buru buru Denis langsung melepaskan tangan Linda,ini ruangan meeting pasti ada CCTV, jika ada yang tahu bisa bisa akan ada yang melapor ke Sinta.
" bukan kah bagus kau berkeja dengan Sinta," Denis mencoba menghibur Linda.