My Mother's New Husband

My Mother's New Husband
seseorang



Denis dan Linda saling adu pandang, tidak pernah sekalipun Sinta bertanya tentang Denis kepada Linda, namun sekarang kenapa Sinta bertanya hal seperti secara tiba-tiba.


"kinerja pak Denis selalu bagus, kenapa anda bertanya tiba tiba tentang ini Bu,"


" mulai besok kau beralih posisi menjadi sekretaris pribadi ku, kinerja mu juga lumayan bagus," ucap Sinta.


Linda begitu terkejut mendengar apa yang di ucapkan oleh Sinta, jika dia berkeja dengan Sinta maka otomatis Linda tidak bisa bersama dengan Denis lagi, lagian waktu bertemu Denis hanya saat kerja saja, bagaimana ini ingin sekali Linda menolak nya namun harus bagaimana.


" kenapa begitu tiba tiba Bu Sinta,"


" tidak apa-apa, baiklah aku masih ada acara sampai bertemu lagi," Sinta langsung pergi meninggalkan Linda yang berdiri kaku.


" Denis bagaimana ini," rengek Linda sambil menyentuh tangan Denis.


buru buru Denis langsung melepaskan tangan Linda,ini ruangan meeting pasti ada CCTV, jika ada yang tahu bisa bisa akan ada yang melapor ke Sinta.


" bukan kah bagus kau berkeja dengan Sinta," Denis mencoba menghibur Linda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


" apa bagusnya berkeja dengan wanita tua,"pandangan Linda begitu sengit mengingat apa yang Sinta ucapkan.


" jaga mulut mu,apa kau tidak lihat ada CCTV,kau bisa langsung hancur jika ada seorang yang melapor,"


" lalu aku harus bagaimana sekarang,aku tidak mau berpisah dengan mu," lirih Linda, terlihat wajah nya begitu sedih,bagi Linda Denis adalah penyemangat hidup nya, setelah kepergian sang ibu Linda tidak memiliki tempat curhat selain Denis.


"sekarang kita hanya bisa mengikuti apa yang Sinta suruh,"Denis langsung pergi meninggalkan Linda yang masih berdiri mematung.


baru saja keluar dari ruang meeting, Denis melihat Sinta yang sedang berdiri di ruangan nya sambil merokok, untuk apa wanita itu menunggu Denis di ruangan nya.


Sinta yang melihat kedatangan orang yang di tunggu langsung masuk ke ruangan Denis dan memberi aba aba kepada Denis untuk mengikuti nya.


baru saja Denis masuk ruangan, Sinta langsung mengunci pintu ruangan dan langsung memeluk tumbuh Denis.


" sayang aku sangat merindukan mu," Sinta langsung mencium panas bibir Denis,Denis pun hanya membalas ciuman dari Sinta dengan wajah datar.


puas dengan bibir Denis, Sinta langsung duduk di kursi kebanggaan yang selalu Denis duduk Ki, Denis hanya menatap datar ke Sinta, perilaku Sinta kali ini memang sangat beda, saat berada di hadapan merlila ia akan seperti wanita yang lemah yang hanya bisa menangis namun di belakang, Sinta bukan lah wanita yang selemah itu.


Sinta benar benar wanita yang mengerikan,dia memang menyembunyikan sikap kejam nya di hadapan putri nya.


"kenapa Denis? apa kau marah kepada ku karena mencium mu tanpa izin dari mu," ucap Sinta dengan mengangkat alis nya.


Denis hanya bisa diam menatap tidak perduli dengan apa yang Sinta ucapkan, saat ini hanya diam yang bisa Denis lakukan, untuk membalas dendam perbuatan Sinta,Denis masih memerlukan banyak kekuatan untuk menggulingkan Sinta.


"sebenarnya aku sudah lelah menahan sikap asli ku di depan putri ku,tapi demi melihat dia bahagia aku akan melakukan apapun, bukan kah itu yang harus di lakukan oleh seorang ibu," Sinta memandang rendah wajah Denis yang hanya bisa diam.


"untuk apa anda menyembunyikan, bangkai walaupun sudah di lapisi dengan parfum pasti suatu saat akan keluar bau aslinya," balas Denis


" maka dari itu kau harus menyembunyikan nya, atau orang yang kau sayangi akan dalam masalah," bisik Sinta dengan penuh penekanan


mendengar kata keluarga yang terucap dari mulut Sinta, Denis langsung berlutut di kaki Sinta, Denis tidak perduli dengan harga diri nya yang terpenting sekarang adalah keluarga nya.


" kumohon jangan melibatkan keluarga ku," mohon Denis dengan wajah menatap mata Sinta.


Sinta tertawa keras hingga membuat tawanya bergema di seluruh ruangan, orang tidak akan pernah mendengar walaupun Sinta tertawa sekeras mungkin ruangan ini memang di rancang kedab suara.


Sinta langsung menarik rambut Denis,dan mendekat kan wajah nya ke wajah Sinta, Sinta memandangi wajah tampan milik Denis.


" kau memang memohon tapi dari sorotan mata mu, seperti nya kau tidak benar benar tulus," ucap Sinta menatap tajam Denis.


"lalu aku harus bagaimana agar kau tidak menyentuh keluarga ku," ucap Denis dengan penuh penekanan.


melihat wajah Denis yang begitu putus asa, Sinta begitu senang, andai saja Denis mau menurut untuk menjadi pria penghibur nya, mungkin saja nasibnya tidak akan seperti ini.


memang Denis sudah menjadi suami nya, namun Sinta tidak bisa mendapatkan apa yang biasanya seorang istri dapat kan, sayang sekali wajah tampan seperti nya harus di sia sia kan seperti ini.


" sudah lah, tapi ku beritahu sedikit, hidup mu menderita bukan lah kesalahan ku namun salah kan lah keluarga mu yang membuat mu menjadi pelunas hutang,"Sinta dengan tertawa pelan.


"tapi tenang saja setelah aku bosan,aku akan melepaskan mu, bagaimana," ujar Sinta dengan tawa nya.


"baiklah hari juga semakin siang, sampai jumpa lagi," Sinta meninggalkan Denis yang masih berlutut.


melihat Sinta yang sudah pergi, Denis langsung membanting semua barang yang Denis temukan, semua dokumen tercecer kema mana membuat ruangan yang tadi nya bersih menjadi berantakan.


" aku akan membalas mu suatu saat nanti,"


mendengar dering hp, Denis langsung merogoh hp yang berada di saku celana nya,di sana tertulis nama seseorang yang sangat ia tunggu, Denis langsung mengangkat panggilan suara itu.


" bagaimana dengan tugas yang ku berikan,"ujar Denis dengan seseorang yang berada di balik panggilan suara itu.


"tenang aku sudah menyelesaikan tugas yang kau berikan,besok temui aku di tempat yang biasa kita bertemu," ucap seseorang di balik panggilan suara itu.


"baik,"


panggilan suara pun berakhir, Denis memainkan hp yang berada di genggaman nya, senyum manis terbit di bibir Denis, entah tugas apa yang Denis berikan kepada seseorang di balik panggilan suara itu.


terlihat merlila yang sedang berbaring manja di sofa ruang keluarga, sambil berbaring manja merlila memakai kan kutek ke kuku nya.


awalnya merlila ingin pergi ke salon namun karena malas merlila memutuskan untuk memakai kutek sendiri, cuaca di luar juga tak menentu kadang panas kadang hujan.


" oohh,aku benar benar sudah bosan di rumah," keluar yang masih tetap fokus dengan kutek nya.