
kabar kematian sang ayah membuat kesedihan tersendiri bagi merlila, yang menjadi penyesalan terbesar merlila ada tidak bisa mengantarkan sang ayah menuju peristirahatan terakhir.
karet saat ini merlila sedang menjalankan pendidikan nya di Amerika, saat ingin pulang ke tanah air Sinta melarang merlila untuk pulang dengan alasan fokus ke kuliah.
hal itu membuat merlila memiliki tanda tanya besar,tak mau berfikir buruk tentang sang ibu , merlila diam diam pulang ke rumah untuk memberikan kejutan kepada sang ibu tercinta.
Merlin melihat foto keluarga nya yang terlihat sangat bahagia, merlila adalah anak yang beruntung bisa mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua.
andai saja ia bisa menemani waktu terakhir sang ayah, mungkin di hati merlila tidak akan ada penyesalan sebesar ini, saat ini di fikiran merlila adalah membahagiakan sang ibu saat sang ayah sudah tiada.
merlila melihat kesekeliling bandara terakhir dia menginjak kan kaki di sini sudah lebih dari lima tahun dan terlihat sudah banyak perubahan yang terjadi.
merlila berjalan ke belakang bandara untuk mencari taksi, baru saja merlila sampai sudah ada bapak bapak tuan yang menawarinya.
" butuh taksi non," tawar bapak tua itu.
" iya pak, ke jalan ini ya," merlila memperlihatkan alamat rumah nya yang ada di handphone.
" siap non,"
bapak taksiran itu langsung membantu merlila untuk mengangkat kopernya ke dalam bagasi mobil, merlila memang tak membawa banyak barang karena ia akan kembali lagi ke Amerika untuk menyelesaikan S2 nya di sana dengan jurusan akuntansi.
dari semenjak SMA, mendiang ayah nya sudah memberikan amanat kepada merlila jika dia sudah menyelesaikan pendidikan di Amerika, Ayah nya akan memberikan seluruh perusahaan dan semua aset kepada merlila.
semenjak mendapatkan amanat itu,merlila menjadi semakin semangat belajar agar bisa membanggakan sang ayah, sampai sang ayah meninggal amanat itu akan selalu merlila emban dalam hati.
jam sudah menunjukkan pukul enam malam, merlila melihat ke depan yang ternyata sedang macet, merlila sempat berdecak kesal kenapa saat ini malah terkena macet, badan merlila sudah mulai capek apalagi penerbangan yang memakan hampir enam jam perjalanan dan sekarang di tambah macet.
" tenang nona, sebentar lagi belokan di depan sudah sampai rumah non kok," hibur supir taksi yang tahu merlila sedang kesal.
merlila langsung membuka jendela mobil dan benar saja sudah banyak perubahan terjadi pantas saja merlila hampir tak mengenali jalan menuju rumah nya.
di sebelah belokan yang dulu lahan kosong sekarang beralih fungsi menjadi rumah makan, saat merlila tengah melihat kesekeliling ada seorang anak kecil laki laki penjual bunga, bisa dilihat dari wajah anak itu yang begitu lelah membawa bunga mawar untuk di perjual belikan.
" kakak cantik,mau beli bunga," tawar anak kecil itu sambil menyodorkan sekuntum bunga mawar segar.
" berapa harga nya adik? tanya merlila sambil tersenyum melihat bagaimana perjuangan seorang anak kecil yang berkeja, merlila menjadi semakin bersyukur lahir di keluarga mampu.
" yang merah sepuluh ribu kalau yang kuning delapan ribu," jawab anak itu sambil memperlihatkan dua bunga mawar.
" kalau begitu berikan mawar kuning saja," merlila menyodorkan lima lembar uang kertas berwarna merah, jika saja ia mempunyai banyak uang cash mungkin akan memberikan lebih banyak tapi saat ini merlila hanya membawa uang yang cukup untuk membayar supir taksi dan anak penjual bunga.
" kakak cantik ini terlalu banyak," anak penjual bunga itu terlihat sangat bingung saat mendapat uang yang begitu banyak.
" itu untuk adik," jawab merlila sambil mengelus rambut anak kecil itu.
anak kecil penjual bunga itu terlihat sangat bahagia,ia langsung memberikan bunga yang merlila beli, merlila melihat anak kecil itu langsung pergi ke pinggir jalan menghampiri seorang ibu ibu yang jelas pasti itu ibu sang anak penjual bunga itu.
" non seperti baru pulang dari luar negeri ya," supir taksi yang membuka pembicaraan.
" iya pak, saya baru saja menyelesaikan pendidikan di luar negeri," jawab merlila ramah.
dari kecil sang ibu sudah mengajarkan merlila untuk bersikap sopan kepada siapapun, yang lebih tua atau lebih mudah karena cara seseorang bersikap bisa menjadi tolak ukur akan kehidupan mereka sehari-hari.
walaupun merlila bersekolah di luar negeri, tak sekalipun merlila mengikuti gaya anak muda di sana, merlila tak pernah bergabung dengan pertemanan yang menurut merlila sia sia.
karena mendiang ayah merlila berpesan kepada merlila saat akan berangkat ke luar negeri, waktu adalah kesempatan gunakan waktu mu sebaik mungkin karena kesempatan tidak datang Dua kali.
menunggu hampir dua puluh menit akhirnya taksi yang merlila tumpangi telah sampai ke rumah merlila.
terlihat kondisi rumah yang begitu sepi,di pos satpam pun tidak ada orang yang berjaga tidak biasanya seperti ini, merlila juga di buat bingung dengan banyak nya mobil yang terparkir di halaman rumah yang luas,apa sang ibu tengah menerima tamu tapi bukan kah ibunya tak mau menerima tamu saat jam sudah mulai malam, terdengar sangat konyol namun itu prinsip Sinta ibu merlila, karena jam segitu Sinta gunakan untuk istirahat akan capek nya perkejaan yang ada di kantor.
" non ini benar rumah nya," tanya supir taksi yang kagum dengan rumah bak istana.
" iya pak, ini ongkos nya," merlila menyodorkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah.
" loh non, ini kebanyakan,"
" tidak apa-apa pak, itu untuk membantu saya bawa koper," merlila mengambil alih koper yang di sodorkan oleh supir taksi.
" makasih non saya pamit dulu,non jangan lupa langsung masuk ini seperti mau turun hujan," ucap supir taksi itu sebelum pergi.
merlila mendongak menatap langit yang sudah gelap, angin bertiup begitu kencang sehingga menerbangkan rambut merlila yang panjang.
merlila mulai mendorong gerbang rumah nya yang tak terkunci, langkah kaki merlila menginjak rumah nya yang telah ia tinggal kan begitu lama, memang sedikit ada perubahan, yang dulunya ada taman kecil di depan rumah sekarang berubah menjadi air mancur.
sampai di depan pintu utama, merlila sedikit bingung ia mau langsung masuk atau memencet bel terlebih dahulu, namun ia sedikit risih jika mengganggu pembantu yang jam segini sudah pasti pada istirahat.
" ini di kunci gak ya," merlila mendorong pelan dan tenyata pintu utama tak terkunci seperti biasa.
Merlila melihat kondisi rumah yang begitu gelap hanya beberapa lampu saja yang menjadi penerang jalan untuk menuju tangga.
sedikit bingung ia harus kemana apa mungkin merlila langsung pergi ke atas untuk menghampiri sang ibu, merlila pun memutuskan untuk duduk di sofa terlebih dahulu untuk melepaskan capek yang menyerang badan nya, saat tengah beristirahat merlila mendengar suara ******* pria dan wanita yang begitu kuat.
sontak merlila berdiri dan langsung menatap ke arah tepat di ruang kerja, merlila berjalan mengikuti suara itu semakin merlila mendekat suara itu semakin keras.
tempat sekarang merlila berdiri di depan pintu ruang kerja sang ayah,di sana terdengar suara tawa pria yang begitu ramai dan yang membuat merlila terkejut adalah suara yang sangat ia kenali.
"ibu!!!