My Life Friend

My Life Friend
11.yakin



Kini Kyra sydah berada dirumah. Termenung memikirkan perkataan ayahnya. 'ya tuhan aku harus bagaimana? apa aku harus menerima perjodohan ini? atau aku harus menolaknya? tapi jika aku menolaknya bagaimana dengan ayah. Ayah pasti akan merasa tidak enak dengan temannya itu' pikir Kyra dalam hati


tok tok tok


"Kyra...ayo makan malam sayang. Makannnya udah siap." panggil dari luar kamar Kyra


namun Kyra tak mendengar, sebab pikirannya melayang entah kemana


ceklek (suara pintu dibuka)


Nita"sayang, bunda panggil kok nggak dijawab." tanya bunda memegang bahu Kyra


Kyra"maaf bunda, Kyra nggak denger tadi?," jawab tersenyum garing


Nita"emang Kyra lagi mikirin apa, tadi bunda liat kayaknya kamu lagi ngelamun?," tanya bunda


Kyra"nggak mikirin apa apa bun. Ayok bun, katanya tad mau makan. Keburu malem nantu bun." ajak Kyra yang segaja agar bundanya tak menanyai ini itu


di meja makan


Faisal"kok lama banget si bun, ra. Ayah udah laper banget nii," canda Faisal yang melihat anak dan istrinya menuruni tangga


Kyra"iya maaf yah..." jawab Kyra dengan tersenyum


acara makan malam pun selesai, semua kembali ke kamar masing-masing mengistirahatkan tubuh yang sudah penat menjalani aktifitas seharin.


****


pagi harinya


Kyra dan bundanya sedang menyiapkan sarapan dengan dibantu bik tik. Meskipun memiliki asisten rumah tangga, Nita lebih sering memasak sendiri dibanding meminta pembantunya untuk memasak. Alasannya Nita lebih suka masak sendiri karna menurutnya sesuai seleranya. Kyra belum pandai memasak, ia hanya membantu memotong-motong saturan saja. Setelah selesai semua orang makan dan dilanjutkan ngobrol santai diruang keluarga karna ini hari minggu.


Nita"mau ngonong apa sayang," tanya Nita mengelus-elus kepala Kyra


Kyra"Kyra udah pikirin semuanya dan Kyra memutuskan untuk menerima perjodohan itu." jawab Kyra menatap ayah dan bundanya bergantian


Faisal"ra...kamu serius," tanya Faisal memastikan


dan diangguki oleh Kyra


Nita"ra, kamu lagi nggak becanda kan,"


Dimas"dek...."


Kyra"kak, yah, bun Kyra udah mutusin semua ini. Tolong jangan buat Kyra ragu dengan pertanyaan-pertanyaan kalian. Pada intinya Kyra yakin, mungkin ini yang terbaik untuk Kyra dan pasti semua ini sudah takdir tuhan. Mungkin juga dengan cara ini Kyra dipertemukan dengan jodoh Kyra." jelas Kyra menatap mata keluarganya mantap, agar keluarganya tidak meliahat keraguan didalam dirinya


Nita yang mendengar penuturan anaknya berkaca-kaca, memeluk putrinya itu dengan erat, seakan memastikan ucapan anaknya itu


Faisal"maafin ayah nak, maafin ayah." ucap Faisal yang sudah memegang tangan putrinya lalu menciumnya seperti orang meminta maaf


Kyra melepas pelukkannya


Kyra"ayah nggak perlu minta maaf, ini udah kewajiban Kyra sebagai anak berbakti dengan orang tuannya. Mungkin dengan cara inilah Kyra membuktikan bakti Kyra pada ayah dan bunda. Dan tadi Kyra udah bilang, kalau Kyra sudah mengambil keputusan." ucap Kyra memegang tangan ayah dan bundanya bersamaan


Keluarga itu saling berpelukan. Menyaksikan betapa berbaktinya seorang anak pada orang tuanya. Jarang atau mungkin langka anak yang seperti Kyra, mengorbankan masa depannya demi balas budi. Yang ada dipikiran Kyra adalah pernikahan balas budi. Entah bagaimana nasibnya setelah menikah, ucapannya tadi hanyalah untuk menyakinkan orang tuannya, tanpa menyakinkan dirinya sendiri


------


happy reading๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š