My Greatest Husband

My Greatest Husband
Mencari



Niatan Rara untuk mencari info tentang sahabat nya dan Geby itu pun terlaksana. kini ia berada di pusat kota tengah bertanya dan terus mencari, namun belum diketahui sedikitpun info tentang mereka.


Saat ini jam menunjukkan pukul 20:08, " Sampe malem gini tapi belum dapet informasi apa-apa" Rara duduk di bangku taman terdekat,lelah tentu. Ia belum pulang dari sore hingga sekarang, belum mandi,belum makan, belum juga istirahat. Karena sedari tadi ia terus menyusuri jalanan.


Tanpa Rara sadari, kantuk datang menyerang mata nya. Sehingga kepala nya menunduk jatuh ke samping bangku taman, namun dengan cepat ditanggapi oleh tangan seorang laki-laki lalu menaruh kepala Rara di pundak nya.


Rara terkejut dan membelalakkan mata nya melihat siapa laki-laki itu membuat rasa kantuk nya hilang seketika. Buru-buru Rara bangun dari duduk nya, membungkukkan badan dengan gugup mengatakan " Tuan Re, E-ehmm.. maafkan saya tuan saya tidak bermaksud begitu"


Re hanya tertawa kecil "Ngomong apa si loe, udah nggak usah kaya gitu. duduk lagi sini" tangan nya menepuk-nepuk bangku yg Rara duduki tadi.


Dengan ragu-ragu Rara duduk kembali tanpa menatap wajah Re. "Tuan kok bisa ada disini?" tanya nya.


Re mengarahkan tubuh nya menghadap Rara, refleks Rara juga mengikuti nya."Seharus nya gue yg nanya ke elo, ngapain loe disini malem-malem sendirian" jari telunjuk Re mendorong dahi Rara.


Rara mengaduh, ingin bercerita namun takut, Ia memutuskan untuk diam. Akan tetapi malah membuat Re berdecak jengkel. "Ck.. ditanya kok malah diem" menarik tangan Rara menuju mobil nya.


Rara kaget yg tiba-tiba tangan nya ditarik oleh Re, mencoba melepaskan genggaman tangan nya. dengan wajah polos nya ia berkata "Ihh lepasin tuan, aku mau pulang. Jangan culik aku"


"Udah cepet masuk! siapa juga yg mau nyulik cewek aneh kaya loe."


Rara mendengus kesal, memalingkan wajah nya kearah luar kaca mobil. Re membawa mobil nya keluar dari pinggiran taman, memecah jalanan pusat kota yg temaram.


"Rumah loe dimana?" bertanya pada Rara berniat mengantarnya pulang.


"Jl. mekarwangi no.36 blok c" jawab Rara tanpa mengalihkan pandangan nya.


"Deket kantor dong? ngapain loe jauh-jauh kesini, emang ya hidup loe itu ngga ada kerjaan." Ledek Re "Ohh iya loe klo kerja naik apa?"


Mengeram kesal memelototi tuan nya dengan mata imut nya itu. Membuat Re tertawa gemas "Loe mau gue turunin disini?" memberhentikan mobil nya di jalanan yg sepi.


Dengan wajah panik nya Rara memohon "Nggak tuan nggak mau, maaf in saya tuan,jangan turunin disini. saya takut" wajah memelas nya tidak sadar kalau Rara memohon sambil memeluk lengan Re.


Sadar akan hal itu, Rara buru-buru cepat menarik tangan nya. "Maaf tuan, maafkan saya" menunduk malu menatap rok kerja yg ia kenakan.


Re melajukan mobilnya kembali ke jalanan "Jawab pertanyaan gue!"


Dengan gugup Rara berbicara. "1 minggu yg lalu, saya kalo berangkat kerja sama sahabat saya tuan. besok nya dia bilang izin sebentar ikut papah nya keluar kota, tapi belum balik juga sampe sekarang" terlihat raut sedih di wajah Rara.


Re malah tertawa meledek, "Jangan bilang loe nglakuin hal bodoh kaya tadi cuma gara-gara sahabat loe itu."


Rara memasang bibir yg tertekuk "Dia tuh satu-satu nya sahabat yg saya punya disini tuan, Saya kan jadi kesepian"


Lagi-lagi Re hanya tertawa meledek, sambil terus melajukan mobil nya menuju alamat yg Rara sebutkan.


***


Keesokannya Rara bangun seperti biasa nya. ketika Rara sedang sarapan, ia mendengar bunyi klakson mobil dari luar rumah nya. "Itu mobil nglaksonin apa sih, gatau apa orang lagi makan" Rara menghentikan aktifitas makan nya, melangkahkan kaki keluar rumah "Jangan-jangan itu Alma".


Dengan semangat86 Rara ingin menyambut sahabat nya. Namun yg ia lihat bukan mobil Alma. Ini kan mobil sport tuan Re, kok bisa nyampe sini sih? Rara mematung memandangi mobil tersebut.


Re mengeluarkan kepala nya dari kaca mobil "Woy malah diem aja, udah kaya patung pancoran di pusat kota tau nggak loe".


"apa yg bikin tuan dateng ke rumah saya?"


Rara dengan langkah cepat masuk kedalam rumah mengambil tas,handphone, dan memakai sepatu kerja nya. kemudian masuk kedalam mobil Re.


Mobil sport mewah itu meninggalkan rumah Rara. Ia tidak pernah menduga kalau akan berangkat kerja bersama Tuan nya. Senang,kesal,bingung semua nya bersarang di benak Rara. Sehingga selama perjalanan ia memilih untuk diam tak bersuara.


Terbesit dalam benak Rara, ia belum menyelesaikan misi nya yg kemarin. Sepulang kerja ia memutuskan untuk kembali mencari.


Kemarin aku udah nyari di pusat kota ngga ada. berarti sekarang nyari nya ke pinggir kota. pikir Rara.


Hingga waktu nya pulang tiba, Rara bergegas keluar dari gedung mewah itu. Saat ia tengah menunggu taksi, Sebuah mobil sport yg tak asing baginya berhenti tepat di hadapan nya.


Kaca mobil terbuka, terlihat pemilik nya melambaikan tangan pertanda untuk Rara ikut dengan nya. Rara menggeleng cepat, berjalan meninggalkan mobil Re.


Re turun mengejar Rara, membuat Rara yg berjalan cepat sedikit berlari. Tetapi Re berhasil menarik tangan nya.


Rara pun berhenti dan membalikkan tubuhnya menghadap Re. "Apa? Tuan mau apa dari saya?!" nafas nya memburu kesal.


"Gue cuma mau nganter loe balik! kenapa? loe nggak mau?" melipat tangan nya di dada, menatap Rara dingin.


"Nggak! saya bisa pulang sendiri" mengarahkan pandangan nya kearah lain.


"Oke" Re pun berjalan menuju mobilnya.


Rara menyaksikan mobil Re yg begitu saja meninggalkan nya dan menghilang di kejauhan.


Kok bisa sih aku bersikap kaya gitu sama tuan Re, duuhh tuan Re marah ngga ya sama aku. Merasa bersalah atas kelakuannya, ia pun berpikir meminta maaf mungkin pekerjaan nya akan aman.


Menyusuri jalanan yg ramai, kini Rara berada di pinggir kota bagian utara.


"Mas-mas, maaf mau nanya. kenal ngga sama orang ini" Ia menunjukkan ponsel nya yg mengarah langsung pada foto Alma.


"Enggak mbak, saya nggak tau"


"Kalo yg ini mas?" Menggeser layarnya ke foto berikutnya, foto Geby.


Rara mempunyai foto Geby ketika ia terakhir bertemu dengan nya saat makan siang kala itu mereka mengambil foto bersama.


Mas-mas itu mengerutkan dahi "Ohh kalo ini saya tau mbak, ini sih kalo nggak salah dia tinggal di kecamatan sebelah"


"Ohh gitu ya makasih mas, saya pergi dulu" Tersenyum, melangkahkan kaki meninggalkan mereka.


Sambil berjalan Rara berfikir, kecamatan nya yg sebelah mana yah?. Sebelah Utara udah,Selatan udah,Timur apa lagi kan tadi dia lewat dari situ. tinggal sebelah Barat yg belum ia telusuri.


Lelah, karena sedari tadi belum istirahat. akhir nya ia berhenti di sebuah bangku pinggir jalan, memakan roti yg ia beli tadi di warung.


Tiba-tiba ia terkejut saat mendapati tubuh seseorang tengah jatuh di kaki nya. "Geby! ini Geby kan?"


***


Jangan lupa tinggalin jejak yah. Like&Comment nya. mampir doang mah percuma. hehe😙♥️