My Greatest Husband

My Greatest Husband
Ketahuan



 ~~~


Happy Reading Gengks


 ~~~


Duduk di sofa utama Rumah belakang. 2 sofa panjang sejajar yg pisahkan sebuah meja ditengah. Sofa sebelah kanan yg di duduki Geby bersama Lee dan juga Danu dan Febry. Sedangkan sofa sebelah kiri tempat Rara duduk sekarang ditemani 2 remaja putri,1 remaja putra yg sudah biasa nge-drunk.


Di meja sudah berjajar beberapa merek botol minuman wiski, bahkan 1 gelas Esland bercampur Sprite sudah terhidangkan dihadapan Rara untuk ia cicipi. Akan tetapi Rara masih enggan mengangkat gelas itu.


Rara sedari tadi bermain ponsel nya yg tidak ada notifikasi sama sekali, ia hanya membuang rasa bosan agar Geby tidak terus memaksanya lagi untuk mencoba minuman itu. Karena Rara masih ragu.


"Yakiinn loe nggak mau nyoba Ra? enak loh Ra manis kaya muka nya Mas Lee" ceracau Geby yg terus menghujami Lee dengan ciuman nya. tidak ada jarak diantara mereka sehingga Geby mudah menjangkau Lee.


Melihat perlakuan Teman nya itu kepada sang kekasih membuat jantung Rara berdegup kencang. " Eee.. mungkin lain kali By, aku belum siap"


"Haha.. Belum siap loe kira mau lahiran" celoteh nya.


◇◇◇◇◇◇◇◇


Keesokan hari nya Rara bangun siang seperti kemarin.


"Ah kesiangan lagi"


Saat sedang melangkahkan kaki menuju kamar mandi, tiba-tiba ponsel nya berbunyi. ada panggilan masuk dari Asisten Rina.


"Halo, Aura disana?"


"Iii..iyah halo Mba Rina" jawab nya gugup.


"Kamu kemana saja 2 hari ini tidak masuk kerja!"


Rara gemetaran mendengar pertanyaan Asisten Rina. ia harus jawab apa? tidak mungkin kan ia mengadu, hanya gara-gara Tuan Re.


"Emm.. ini Mba Rina, Aku lagi sakit demam" terbata-bata ia menjawab. mungkin alasan itu tidak membuat mba Rina curiga.


"Ahh baiklah, jangan lupa periksakan dirimu ke dokter. lekaslah sembuh"


"I iya terimakasih mba Rina". sambungan telepon terputus.


*****


Rara duduk di meja makan, memegangi perutnya.


"Duhh laper banget, tapi aku males buat masak nya."


Ia pun pergi ke sebuah cafe terdekat. Saat membayar tagihan, ia merogoh semua kantong dan isi totebag yg ia bawa. Nihil uang nya tidak di temukan, dompet nya ketinggalan dikamar mandi nya.


"Kau kenapa nak?" tanya ibu itu pada Rara.


"Ini tante, mau bayar tagihan tapi uang saya ketinggalan dirumah"


"Ohh baiklah, pakai saja uang ku" memberi kartu Atm nya untuk Rara bayarkan ke pelayan.


Setelah pembayaran selesai, Rara mengembalikan kartu Atm itu. "Terimakasih tante"


"Ya ya, jika kau ingin sesuatu datang kerumah ku saja ya" Ibu itu memberikan kartu namanya ke Rara.


Ah.. aku mengerti, sebaiknya nanti sore aku datang kerumah nya untuk menggantikan uang yg sudah kupinjam. dalam hati


"Sekali lagi terimakasih tante" membungkukkan kepala nya sopan, Tante itu pergi meninggalkan Rara.


Rara melihat kartu nama ibu tadi. Ibu Fanny Angelina Ardiwinata, tinggal nya di Jl. XXXXXXXX.


*****


Sore hari nya.


Pukul 16.50 Rara datang ke alamat ibu Fanny menggunakan taksi. baru ia memasuki pintu gerbang utama, mata nya dibuat kagum melihat halaman depan rumah itu.


Megah banget, indah dan sejuk dilihatnya. pasti didalam lebih megah lagi. Jiwa katro Rara mengeluap.


Penjaga yg baru keluar dari pintu samping sambil membawa kopi melihat Rara. ia langsung mendekati nya.


"Maaf mbak, anda siapa? tidak boleh masuk sembarangan kerumah ini" Ucap penjaga itu


Rara terkejut dibuat nya. "Ehh nggak, kan aku cuma mau ketemu seseorang"


"Ya lagian aku mau nanya sama penjaga Ehh penjaga nya ngga ada jadi yaudah aku masuk aja"


"Tapi..." belum lagi melanjutkan kalimat nya, pemilik rumah alias Bu Fanny keluar dari dalam.


"Ada apa ini pak?" melirik Rara " Ehh ada kamu nak" wajah nya tanpa mengekspresikan apapun.


"Ehh iya tante," menyalami tangan bu Fanny " Ini tan aku cuma mau balikin uang yg aku pinjem tadi siang" Rara cengengesan memberi kartu nama dan sejumlah uang itu pada Bu Fanny.


"Seharusnya tidak usah kau ganti, tapi karena kau memaksa jadi ya sudah saya terima." mengambil nya


Tak berapa lama Mobil sport yg biasa Re bawa memasuki halaman dan berhenti di samping mereka.


Rara menatap mobil itu.


Itu kan mobil tuan Re, berarti ini mamah nya... Ohh tidak! aku harus cepet pergi dari sini.


Rara Membalikkan badan hendak pergi berlari, namun segera di tahan oleh tangan Re. " Mau kemana kamu? Mah kok nggak disuruh masuk!"


"Memang nya dia siapa Re, sampai kau ingin dia masuk" tatapan meledek bu Fanny tertuju pada Rara.


"Ayo cepet masuk" pinta Re


"Nggak mau" Rara berusaha melepaskan tangan Re, tapi tidak berhasil. Tangan Re begitu kuat menggenggam nya.


Re menyeret Rara masuk kedalam rumah dan berhenti di meja makan.


"Ihh lepasin tuan, sakittt" memegangi pergelangan tangannya yg terasa nyeri.


"Oke maaf-maaf. ini hukuman buat lo"


"Hukuman?" Lirih Rara


"Ya. Hukuman buat Lo yg udah bolos dari perusahaan" sambil melonggarkan dasi nya. "Duduk!" perintahnya untuk Rara.


Rara duduk di kursi tengah ujung yg menghadap berlawanan dengan Re. ia menunduk memainkan tas yg dipangkunya, rasa kesal yg tadi menggerogoti hati nya kini berubah menjadi rasa takut.


Salah seorang pelayan laki-laki membantu melepas dan membawa dasi,tas dan juga sepatu Re kedalam kamar nya, lalu keluar membawa sandal Re.


"Bawa sebagian makan malam kemari" pinta Re


"Baik, tuan muda"


Duhh.. dia mau ngapain sih! apa mau makan bareng aku? batin Rara percaya diri.


Pelayan laki-laki itu pergi ke dapur.


dari arah dapur keluar 3 orang pelayan wanita yg khusus menyajikan membawa sebagian makan malam dan menaruh nya di meja makan. Semua nya terlihat sudah siap.


Re melirik Rara yg duduk jauh berlawanan dengannya.


"Hey gadis bodoh," Rara mengangkat kepala nya takut memandang Re. "sedang apa kau disana?!"


"Du..Duduk Ttuan, tadi Ttuan nyuruh saya duduk" terbata-bata Rara menjawab


"Pindah disitu!" sentak Re, Tangan nya menunjuk kursi yg harus Rara duduki, yaitu disebelah kanan Re duduk.


Rara pun menurut, ia pindah dan duduk ditempat yg ditunjuk Re. Duduk terdiam, ia ingin menangis namun tertahan .karena ia paling tidak suka disentak atau dibentak, ia berfikir orang tuanya saja tidak pernah menyentaknya, ini siapa? orang lain menyentaknya.


"Re, kamu tumben pulang cepet?" tanya bu Fanny memegang pundak putra nya.


"Iyah mah, aku capek mau rebahan dirumah.kerjaan yg belum selesai, aku selesai in nanti malem" jawab Re santai.


"Ohh baiklah"


"Jangan bodoh kau, suapi aku. aku lapar sekali!" Re dengan nada membentak.


"B..baik tuan" Rara mulai mengambil satu-persatu makanan itu dan menyuapkan nya pada Re.


Bu Fanny yg melihat nya hanya menggeleng kepala. Lalu pergi ke kamarnya.


 ~~~


Dukung terus cerita ini ya readers... jangan lupa tinggalin Love,Like&Comment dan Vote nya♥️♥️♥️