My Greatest Husband

My Greatest Husband
My First Kiss



"Nu, Loe tau nggak gue tuh sayaaaang banget sama Lee? Dia tuh cowok terbaaaaik dimuka bumi ini. Bentar lagi aku mau nikah sama dia." Geby berceloteh diatas pangkuan Danu, Tertawa-tertawa kecil tangan nya menari-nari di pipi Danu.


"Iya gue tau itu By. tapi kalo ada cewek lain yg deketin Lee loe mau apa?" Memancing Geby agar memonyongkan bibir nya.


Benar saja, bibir Geby langsung mengerucut sebal "Nggak akan gue biarin itu, siapapun! dia harus mati di tangan gue"


Danu tergelak " Nggak boleh loh yaa bunuh² orang!" Bibir Geby tiada henti berceloteh membuat Danu gemas sendiri.


Danu menarik dagu Geby keatas. Menyambar bibir tersebut yg masih tercium wiski, Melumaat , menggigit-gigit kecil bibir mungil itu, Geby pun tak kalah melumatnya.


Saling bertukar lidah didalam ciuman mereka, lumataan itu pun semakin dalam.


Danu melepaskan ciuman, tidak ingin ciuman itu memanas. Jika terus berlanjut berabe urusannya dengan Lee. Nafas mereka memburu, berlomba menghirup oksigen.


Melihat pemandangan semacam itu, Rara yg duduk di kursi seberang terkejut. Mulut Rara menganga susah payah ia menelan liur. Baru pertama kali ia melihat yg seperti ini.


"Hellooo... Auraa . . ." Menaik-turunkan tangan nya di depan Rara, tapi tatapan gadis itu tetap tidak teralihkan. Febry pun duduk disamping nya, dengan perlahan bibir nya meraih bibir manis Rara.


"Heey.. ihh apaan si kamu Feb" barulah Rara sadar, belum sempat bibir keduanya menyatu. Rara mendorong Febry sampai ia terjengkang di pinggir sofa.


"Lagian loe serius amat kaya baru liat orang ciuman aja"


"Yee kan emang kenyataannya"


"Minum nggak pernah, mabok ngga pernah, diajak minum nggak mau, ciuman apa lagi!" Tangan nya memperagakan seperti orang sedang menghitung, menengok ke arah Rara "Aneh bat idup loe dah, kebanyakan maenan boneka si loe?" tergelak dengan ucapannya sendiri.


Rara ingin memukul mulut Febry, sudah sangat kesal dengan ucapan laki-laki itu.


Melihat pertengkaran antara keduanya, Danu menepak meja "Udah si gitu aja ribut! Aura tolong bawa nih Geby ke kamar" mendudukkan Geby yg sudah lemas tidak berdaya.


"Abis Febry ngeselin kak!" bangun dari duduk nya mendengus kesal memelototi Febry, yg dipelototi malah menebar senyum ke-PD an nya.


Dengan sekuat tenaga Rara memapah tubuh Geby, sesampai di kamar Rara membaringkan nya.


Berat juga kalo lemes gini, Ehh tapi Geby udah nggak ngoceh lagi berarti dia udah tidur. batin Rara


Sore hari menyelimuti langit yg biru, Rara sedang duduk santai di teras rumah Lee. Air minum sprite yg ia dapat dari lemari es, dituangkan nya kedalam gelas kaca bening tersuguhkan di meja, menambah kenikmatan di sore ini.


Ingatan nya terbesit kejadian kemarin "Tuan Re marah nggak ya? apa minta maaf sekarang aja?" mengambil handphone nya, membuka nya ragu "Minta maaf langsung aja deh besok. . ."


"Ra, lagi nyantai loe?" Tiba-tiba Lee datang dari arah garasi.


"Ehh iya nih kak mau ikutan?" Rara berdiri seolah memberi hormat pada sang pemilik rumah, mempersilahkan Lee duduk.


Saat duduk Lee melihat gelas yg ada di meja, sekilas memang seperti minuman IceLand.


"Loe minum iceland Ra?" tawa Lee meledek "gila-gila.."


Rara gelapan menjawab "Ihh bukan kak, aku nggak seperti yg kakak pikirin yaa! eee... ini tuh sprite bukan es es, es apa itu lah"


"Hhh... iyaiya gue percaya. ngomong-ngomong loe mau nginep lagi apa balik? udah sore juga."


"Mau gue anter?" Lee sudah berdiri lagi.


"Ah nggak kak nanti aja nunggu Geby..."


Lee menarik tangan Rara membawa nya masuk kedalam mobil "Kelamaan! nanti loe nggak mandi lagi"


Rara diam tak bersuara Ternyata dibalik kesangaran nya, dia lembut juga.beruntung Geby dapetin cowok kaya kak Lee. batin nya


Hari semakin petang, perjalanan dari rumah Lee ke tempat tinggal Rara lumayan memakan waktu. Pukul 18.40 mobil Lee baru berhenti di halaman rumah Rara.


"Makasih yah kak, udah ngasih tumpangan"


"Oke nggak masalah. hmm.. kaya nya Geby bakal sering² jemput kesini. Gue cabut Ra" memarkirkan mobil nya keluar halaman.


"Benarkah? oke hati-hati dijalan kak"


Rara masuk kedalam rumah nya, dari kejauhan Re melihat semua itu didalam mobil. Hati nya seperti terbakar. Pagi hari Re sudah kerumah Rara tapi dia tidak ada dirumah, sekarang ia tidak sengaja melewati rumah Rara, dan melihat nya dengan cowok lain.


Baru akan mandi, sedang duduk di meja makan untuk minum sebentar. Tiba-tiba ditarik tangan Rara, menyudutkannya di tembok. Rara menjerit tertahan karena mulut nya dibekap oleh tangan orang itu.


Sontak ia terkejut melihat wajah yg membekap nya. Hah tuan Re? aku nggak salah liat kan? Imut banget liat dari deket..


"Berisik! jangan teriak-teriak" kedua mata Re dan Rara saling tatap, hampir tidak ada jarak diantara mereka.


Bola mata Rara membulat sempurna saat Re baru saja menyerang bibir nya secara tiba². Sambil terpejam lidah Re terus menyusup masuk, namun tidak berhasil karena Rara tidak membalas dan terus menutup bibir nya membuat Re menggeram kesal.


Melepaskan ciuman hampa nya, Re pergi meninggalkan Rara.


Rara terpaku menatap kepergian Re, darah nya masih berdesir. "Dia menciumku? Tuan Re? Ciuman pertama ku? berani-berani nya dia ngambil cium pertama ku!?"


Terduduk lemas, bibir nya bergetar Air mata nya mulai menggenang. Disaat Febry yg tadi siang hampir mengambil ciuman pertamanya, kini ia harus merasakan dengan Tuan nya.


Hati nya terus meronta-ronta, Rara hanya ingin memberi ciuman pertama nya pada laki-laki yg ia cintai.


Tergontai-gontai ia berjalan menuju kamar nya. Rara membersihkan diri 35menit lebih lama dari biasanya.10menit mandi, 25menit ia habiskan untuk termenung dan menangis. Ia merendam tubuhnya dengan air hangat campur air mata.


Rara membaringkan tubuh lemas nya diatas kasur. Masih memikirkan kejadian yg tidak ia duga sebelumnya. Ia masih tidak terima atas perlakuan Tuannya itu.


Di sisi lain di sebuah Apartement, Re sedang mengusak kepala nya kasar. Terduduk di dalam bath up berisi tetesan air mawar, memikirkan hal bodoh yg ia lakukan terhadap Rara.


"Gue kenapa sih! ngeliat dia sama cowok lain kok hati gue sesakit ini? nggak, nggak mungkin perasaan gue kaya gitu. Ah gadis itu memusingkan." menyender di pinggiran bath up "Tapi tadi bibirnya kok manis banget, apa dia baru pertama kali ciuman?"




Dukung terus novel ini yah, kalo suka jangan lupa tinggalin jejak gaeess Love,Like&Comment nya♥️😙😙