My Destiny Is With The Vampire King

My Destiny Is With The Vampire King
Pertemuan dengan Sang Raja



"Taman ini benar-benar menakjubkan," seru Alana sambil berlari ke arah bunga yang berjarak beberapa meter dengan dirinya, tubuh gadis itu meloncat-loncat karena perasan senang


James hanya bisa menggelengkan kepala seraya tertawa pelan, Alana berhenti dihadapan bunga mawar berwana putih, tubuhnya perlahan merunduk lalu menghirup bau harum mawar itu. 


"Tolong petik semua mawar ini," ucap nya pada para pelayan


Alana menatap keseluruh arah mencari beberapa bunga lagi namun tiba-tiba


"Sayang," ucap seseorang sambil memegang pundak Alana secara tiba-tiba.


Alana tersentak, kepalanya perlahan menoleh hingga dipertemukan dengan seseorang lelaki tinggi tengah tersenyum  hangat kearahnya


Suara berat namun merdu terdengar lembut ditelinga Alana. Alana mendongakkan wajahnya dan bertemu sepasang mata yang menatap wajah nya. Kulit putih, hidung mancung. Namun bukan itu yang membuat Alana terpaku tapi, karena Alana merasa pernah mendengar suara yang sama peris dengan pria yang ada dihadapannya itu.


Melihat wajah Alana yang kebingungan James berkata


"Dia adalah Raja dari wilayah ini," jelas nya


Tubuh Alana melonjak mundur ketika tangan Pria itu hendak memeluknya. 


Edward melirik kearah James sekilas dengan heran."Ah, aku mengerti baiklah,"


Edward kembali mendekat kearah Alana dengan senyuman khasnya, semerbak bau harum pada tubuhnya telah membawa Alana masuk kedalam sensasi yang sangat berbeda.


Alana merasakan tangan pria itu mengelus pucuk kepalanya dengan lembut lalu mencium nya. Tubuh Alana mematung seketika, ia sama sekali tidak memberikan perlawanan atau penolakan


"Aku sangat merindukanmu," bisik nya pelan


Tubuh Alana semakin bergetar saat Pria itu memeluknya secara tiba-tiba. Alana merasakan perasaan yang sangat nyaman saat berada didekapnya


Kemudian jantung nya berpacu sangat cepat saat menyadari penampilan Pria dihadapannya sangat tampan. Mata mereka saling beradu.


Alana merasa pernah melihat mata seperti itu tapi, dimana, ia mencoba mengingat-ingat tentang hal itu. Sebisa mungkin ia tidak melirik kebawah .


Alana berusaha untuk menjauh kembali namun, tangan kekar pria itu menahannya dengan cepat. Mau tidak mau Alana  memasrahkan diri. Pipinya telah memerah padam saat melihat senyuman kecil terukir di wajah pria itu


James segera meninggalkan taman itu dan membiarkan  Tuannya bersenang-senang dengan Sang Ratu 


"Kk..kau siapa?" tanya Alana dengan gugup


Edward mengelus pipi Alana dengan lembut


"Apa kau melupakan suaraku?"


Alana menatap Edward dengan bingung.


"Mata mu jauh lebih indah dariku?"


Deg


Alana tercengang setelah mendengar kata yang keluar dari mulut pria itu.


Alana melonjak terkejut lalu menatap pria itu sangat lama. "Pantas saja aku seperti pernah mendengar nya," ucap nya dengan pelan


"Bagaimana apa kau sudah mengingat diriku?"


Alana tersenyum dengan pipi yang merah merona


Edward memeluk Alana dengan sangat erat. Ia bisa merasakan hasrat dalam tubuhnya meningkat usai mencium bau harum pada tubuh gadis itu. Sebisa mungkin Edward menahan itu semua. Ia tidak bisa melalukan hal itu untuk sekrang.


"Baiklah, ayo aku akan mengajakmu keIstana,"


Alana mengerutkan kening nya


"Bukan kah ini juga Istana mu?"


"Ini adalah kastil dan ini milikmu bukan milikku," ucap nya Membuat Alana tercengang


"Milik ku?" ucap nya sambil menatap Edward dengan bingung


Edward mengangguk sambil mengelus pucuk kepala nya dengan lembut.


"Sebaiknya kita kembali Ke Kastil udara hari ini sangat buruk untuk mu,"


Alana memekik saat Edward mengendong nya secara tiba-tiba dan membawanya memasuki sebuah ruangan. Tempat dimana Alana tak sadarkan diri selama beberapa hari


"Aa...apa yang kau lakukan, turunkan aku," sentak nya dengan gugup. Ia merasa sangat malu karena telah diperlakukan seperti itu apalagi dihadapan para pelayan dan juga James


Namun, Pria itu mengabaikan  ucapan Alana. Dirinya tidak peduli dengan semua itu Karena, hari ini, Dia hanya ingin menghabiskan waktu dengan Gadis itu


"Aku bisa berjalan sendiri!" Sentak nya sekali lagi dengan nada kesal.


Sesampainya dikamar Edward langsung menurunkan Alana ditepi ranjang. Pria itu sedikit merunduk sambil tersenyum hangat kearah nya


"Saat marah kau itu sangat cantik," pujinya membuat Alana menahan rasa malu


Alana memalingkan wajahnya menghadap kearah tembok. Ia tidak mau wajah nya yang merah padam itu dilihat nya


Edward menyuruh para pelayan masuk keruangan. Ia meminta para pelayan untuk segera menyiapkan Gaun yang sangat indah untuk Alana


"Aku akan menunggumu diluar," ucapnya


"Memangnya kita mau kemana?"


Edward hanya diam tapi, ia tersenyum sebelum pergi meninggalkan Kamar


"Dasar Pria aneh!" lirih nya. Ia menatap kepergian Pria itu dengan perasan yang cemas.


Alana sangat takut memikirkan kejadian ini. Alana berpikir apa yang selanjutnya akan terjadi jika, semua orang tahu bahwa dirinya telah menghilang. Dan keadaan Bibi nya saat ini, Dirinya benar-benar pusing memikirkan hal itu


"Nona pilihlah gaun yang anda suka," ucap Salah satu Pelayan membuyarkan Lamunan Alana


Alana tercengang melihat semua koleksi gaun-gaun yang ada di lemari itu, semua nampak sangat indah. Alana segera memilih satu gaun yang menurutnya cocok dengan dirinya. Apalagi gaun yang ia pakai sekarang sedikit berlebihan


Setelah berganti pakaian Alana menatap dirinya disebuah cermin, Gaun yang dipakainya sangat cocok warna Hijau dengan sentuhan warna hitam membuat dirinya terlihat sangat Cantik.


Para pelayan terlihat terpukau saat melihat penampilan nya. Meraka tidak berhenti memuji kecantikan Alana.


"Anda sangat cantik Yang Mulia," ucap nya


Alana menoleh dengan pipi bersemu merah. Ia kembali menatap cermin sambil memilih  Aksesoris yang akan ia pakai


Namun, Alana malah teringat dengan cincin pemberian kakeknya. Ia menatap cincin itu yang masih melekat dijari manis nya.


"Aku akan meminta tolong saja pada pria itu untuk membawaku pulang, pasti saat ini Bibi sedang mencemaskan ku," lirih nya pelan


"Nona, Tuan memanggil Anda untuk segera keluar," ucap Pelayan kepadanya


 


"Apa aku boleh memakai perhiasan ini?" tanya Alana pada para pelayan. Ia menunjuk salah satu gelang berwarna hijau dengan motif bunga mawar putih didalam nya


"Tentu saja Perhiasan itu milik Anda semua,"


"Raja kalian sangat baik ya, sampai-sampai Perhiasan mahal seperti ini diberikan kepada ku," ucap nya


Para pelayan saling menatap dengan perasaan bingung. Meraka tidak mengeri mengapa Sang Ratu mengucapkan kata itu


"Baiklah aku sudah selesai,"


Alana segera melangkah keluar dengan jantung yang berdegup kencang. Padahal ia hanya akan pergi keIstana saja tapi, perasannya seakan menghadapi sebuah Rapat besar saja.


"A....aku sudah selesai," ucap nya dengan gugup pada Pria yang sudah menunggu dirinya sedari tadi.


Pria itu perlahan membuka matanya. Ia bisa melihat dengan jelas penampakan yang ada di depannya. Sangat cantik itulah kata yang terlintas dipikirannya saat pertama kali menatap Alana. Dirinya tidak berkedip sama sekali saat melihat Belahan jiwanya itu datang dengan Gaun yang sangat cantik.


"Kenapa menatapku seperti itu!" Gadis itu memalingkan Wajahnya dengan perasaan tak karuan 


"Kau sangat cantik," ucap nya tanpa melepas padangan kearahnya


"Bagaimana ini? Kenapa dengan jantung ku dan perasaan apa ini?"


"Tuan, kita harus ke Istana segera," ucap James tiba-tiba


Edward mengangguk sambil menggandeng tangan Alana.


"Apa kau siap?"


"Tunggu apakah aku boleh bertanya sesuatu kepadamu?"


"Boleh silahkan tanya apa saja yang kau mau," jawab Edward dengan santai


"Apa anda yang telah menyelamatkanku dan membawaku kesini?" tanya Alana dengan penasaran


"Dan apakah kau adalah Pria yang selalu muncul di mimpiku apakah itu kau," tambahnya


Edward mengangguk membuat gadis itu tersenyum senang. Itu tandanya dirinya bisa meminta untuk dipulangkan ke tempat Asalnya nya


"Kalau begitu aku ingin pulang, aku ingin menemui Bibiku!" ucap Alana dengan semangat


Namun Edward malah terdiam untuk sesaat. Ia menatap Alana dengan serius lalu berkata


"Kau tidak boleh pergi dari sini!" ucap nya dengan tegas


"Aku mau pulang!" sentak nya. gadis itu tetap memaksa Ingin kembali ketempat asalnya


"kau akan pulang tapi tidak untuk Sekarang!" balas Edward membuat Alana merasa kesal


Usai berkata seperti itu Edward segera membawa Alana menuju Istana Fuller.


Ingin Rasanya gadis itu menjerit dan lari dari tempat ini namun sepertinya itu akan menjadi hal yang sia-sia untuknya karena, Alana sendiri sama sekali tidak tau tempat ini dan bagaimana cara nya untuk pulang dan jalan satu-satunya nya adalah Dirinya hanya harus berpura-pura menurut pada Pria itu.