My Destiny Is With The Vampire King

My Destiny Is With The Vampire King
Kematian Kakek Raul



Alana turun dari kamarnya dengan memakai gaun setengah lutut bermotif bunga yang sangat cantik


"Kenapa kau menatap ku seperti itu?apa ada yang aneh dari dariku?" tanya Alana dengan heran. Ia mulai menatap dirinya di kaca besar yang berada di sudut ruangan


"Kau sangat cantik, apa sebenarnya kau itu adalah seorang Putri dari kerajaan yang terjebak di alam manusia?" ucap Reyna dengan mata yang berbinar. Ia sama sekali tidak berkedip saat menatap Alana


Alana memang gadis yang sangat cantik bahkan, sepupunya saja bisa terpikat. Alana memilki wajah yang sangat indah, ia juga memilki Bibir yang sangat merah alami. Kecantikan Alana sangat alami tanpa sentuhan apapun jadi, tidak jarang jika seseorang yang melihat Alana akan merasa terpukau


"Kau memuji ku atau meledek ku," balas Alana dengan mengerutkan bibir nya


"Benar aku tidak Bohong kau itu cantik," ucap Reyna membuat Alana tersenyum malu


  


Setelah puas berbicara Mereka, segera melanjutkan aktivitas dengan sarapan pagi yang telah disiapkan oleh Reyna .


Seelah selesai makan Alana dan Reyna berniat untuk mengunjungi suatu tempat namun, tiba- tiba Albert datang dengan wajah yang masam


Dia berjalan kearah Alana lalu menarik tangannya dengan kasar


"Hei apa yang Kakak lakukan?" 


Reyna ingin sekali membantu namun, ia mengurungkan niatnya sebab takut setelah melihat wajah Albert.


"Sepertinya dia sedang marah," bisik Reyna


"Marah kenapa?"


"Entah lah kalau begitu aku pergi dulu ya aku takut wajah kakakmu sangat menyeramkan," lirih nya lalu meninggalkan Alana


Alana dibawa paksa Albert menuju kearah rumah Raul, Entah ada hal penting disana, Sesampainya dirumah Raul Alana langgsung disambut dengan berbagai pertanyaan


"Apa selama ini kau sering bertemu dengan seorang pria tanpa sepengetahuanku ?"


Alan tercengang dengan tatapan  yang mengarah ke Bibi Mary


"Aku tidak pernah bertemu dengan seorang Pria Bibi!" balas Alana tak terima


"Lihat! Bukankah sudah jelas kau merangkai sebuah kata untuk pira yang selau menemui mu!" Sentak Albert 


Mata Alana membulat dengan sempurna. Tanpa rasa ragu Alana berjalan kearah Albert lalu menamparnya dengan keras


Hening....


"Apa yang kakak lakukan ha! Kenapa kakak berani menyentuh semua barang-barang ku!" bentak Alana dengan emosi yang memuncak


Albert masih bergeming dalam diamnya dia sangat terkejut usai mendapat tamparan keras dari Alana.


Albert meremas kertas yang digenggamnya lalu menatap Alana dengan tajam.


"Kau menampar ku?"


"Ya, karana kau sudah berani menyentuh semua barang ju pribadiku!"


"Tapi kami adalah keluargamu sudah jelas kami harus tau siapa pria itu," potong Bibi Mary  


"Kalian tidak perlu tau dia siapa yang jelas, kami tidak pernah bertemu di dunia nyata," 


Mary menatap Alana dengan perasan yang tidak menyangka, ia berpikir bagaiman bisa keponakanya yang sangat lembut bisa menjadi sangat kasar ini


"Alana," panggil Raul, suara pria tua itu telah memecah keheningan yang sedang terjadi


Alana menoleh dengan wajah yang sangat masam, ia masih sangat marah dengan semua tuduhan ini. Alana segera duduk disebelah Raul dengan wajah yang ditekuk. 


"Kakek tau siapa pria itu, dan mengapa dia selalu datang di mimpimu,"


"Kakek tidak bohong kan,"


Raul menggeleng pelan sambil tersenyum 


"Akan tiba saatnya kau akan segera tau tapi, untuk saat ini Kakek ingin agar kau berhati- hari dan jangan mudah percaya dengan orang yang baru saja kau kenal," jelas Raul dengan tatapan yang hangat ke arah Alana


Alana mengangguk lalu memeluk Kakeknya dengan sangat erat


Albert dan Mary terdiam cukup lama hingga akhirnya Raul Mencairkan suasana dengan mengajak mereka untuk mengunjungi perpustakaan pribadi milik Leluhurnya. Mereka sangat antusias terutama Alana, ia adalah gadis yang sangat suka membaca


"Kalian jangan terlalu keras kepada nya, kita hanya harus mengawasinya jangan, terlalu ikut campur kedalam kehidupan pribadi nya," ucap Raul pada Mary dan Albert  


Albert memandang Alana dari kejauhan, ia memberikan diri untuk berjalan kearah Alana


"Alana maafkan aku," ucap Albert


"Bibi juga nak,"


Alana tersenyum lalu memeluk mereka secara bersamaan


"Aku maafkan kalian,"


___


"Kakek, ini buka apa? Kenapa tulisannya sangat aneh?"


"Aneh?


Albert melirik sekilas kearah Alana


Buku yang Alana pegang memilki ciri khas dengan sampul kuno. didalamnya juga tertulis menggunakan bahasa yang sangat sulit dimengerti mungkin,  buku ini telah berusia sekitar ribuan tahun. Alana sangat heran bagaimana Kakek nya bisa memilki buku-buku kuno ini padahal perbandingan zaman dulu dan sekarang sangatlah jauh


"Kakek dapat ini semua dari mana?" Albert sangat penasaran dengan semua ini


"Kakek sudah pernah cerita, itu semua dari leluhur ku,"


"Jaman dulu apa sudah ada pena atau alat tulis lain nya?"


"Ingat mahkluk seperti mereka lebih pintar dari kita jadi, untuk menulis itu hal yang sangat mudah bagi mereka," jelas Raul


"Kenapa kakek bisa membaca tulisan ini semua?"


Raul tertawa sambil menata kembali buku-buku itu rak


"Kakek hanya membaca buku Hutan loko saja karena, dibuku tiu saja lah semua tulisan sudah ada terjemahannya sedangkan semua buku² ini Kakek tidak bisa membacanya," jelas Raul


"Jadi, hanya buku 1 buku saja yang kakek tau," 


Raul mengangguk 


Setelah puas melihat seisi perpustakaan Alana pamit untuk pergi ke suatu tempat. Albert ingin sekali menemani nya tapi, hari ini ia  harus kembali kekota untuk mengurus berkas yang ditingal oleh Ayahnya


"Kakak hati-hati dijalan ya oh ya jangan lupa Oleh olehnya," teriak Alana


Albert mengulas senyuman hangat kearahnya


Dipertengahan jalan Albert tidak sengaja menabrak seorang Pria kalau dilihat pria itu lebih tinggi dari Albert


"Maaf tuan, saya tidak sengaja," 


"Tidak masalah, Apa kau tau tentang desa ini, aku ada sedikit  keperluan,"


"Apa anda berasal dari kota?"


"Ya," balas pria itu cepat


"Kalau anda mau, aku bisa mengantar mu Ke Tetua desa ini,"


Pria itu menggeleng sebagai penolakan


"Tidak perlu, kau tinggal tunjukan saja jalan nya saja, sepertinya kau sedang terburu-buru,"


Pria itu menatap kearah Albert dengan serius.


Albert segera mengarahkan jalan kepada pria itu.


"Apakah anda ingat dengan semua jalan nya?" 


Pria itu tersenyum Kearah Albert sambil mengucapkan Terima kasih.


Kepergian Pria asing itu membaut Albert sedikit heran, ia merasa tidak asing dengan pria itu.


"Sudah lah nanti setelah kembali darii kota aku, bisa bertanya pada Kakek," lirih Albert. Ia segera pergi meninggalkan desa ini menuju kearah kota dengan cepat. Ia ingin secepatnya menyelesaikan masalahnya Di kota agar bisa kembali ke desa ini dengan cepat. 


_____


"Paman apa Alana akan baik-baik saja," tanya Mary dengan cemas, ia sangat khawatir pada kondisi keponakanya itu


"Kau tenang saja, aku sangat yakin ada sosok yang selalu melindungi Alana dari kejauhan," balas Raul


Mary bergeming dalam diamnya membayangkan betapa pedih nya takdir yang harus dilalui oleh Alana. Gadis Itu harus memikul beban yang sangat berat diusia yang masih muda


Mary selalu berharap semoga Alana akan baik2 saja. Ia sudah menganggap gadis itu seperti anak kandung nya sendiri


Mary menghela nafas lalu berbalik keluar meninggalkan ruangan Raul.


Kini hanya Terisa Raul seorang diri diruangan itu. Pria paruh baya itu menatap ke jendela yang mengarah langgsung ke Hutan loko. Pikiran Nya selalu terbayang akan senyuman dan tawa milik putri nya, Cassie. Raul selalu berharap dan selalu menunggu kedatangan putri nya dari hutan itu.


Ditengah kegusaran hati yang tengah merindukan seorang Putri nya, Raul malah dikagetkan dengan seorang Pria yang tiba-tiba muncul tepat dihadapan nya. Pria asing itu tersenyum kearah Raul


"Ss..siapa kau?" sentak Raul sambil membawa senjata tajam. Ia sangat takut jika pria itu adalah orang jahat


"Tenang saja aku bukan orang jahat aku hanya ingin menanyakan Satu hal penting kepadamu,"


"Aa...pa,"


Pria itu menghirup udara sambil tersenyum, Ia bisa mencium aroma darah suci disekitar ruangan ini.


"Apakah kau Raul tetua didesa ini?"


Raul mengangguk dengan badan yang sangat gemetar Pria berkisar 70 an itu menelan salivanya dengah raut wajah yang ketakutan.


Pria itu mencengkram tubuh Raul dengan kuat, ia memperlihatkan bentuk tubuh Asli nya dihadapan Raul


Mata Raul terbelalak terkejut karena untuk pertama kalinya, ia melihat Sosok makhluk mitologi yang sering diceritakan oleh Orang-orang secara langgsung.


Pria itu tersenyum seringai, ia mencengkram seluruh tubuh Raul. Cengkraman yang diberikan semakin kuat hingga, membuat Nafas Raul sesak


"Aa...pa yang kau inginkan?" tanya Raul dengan nafas yang berat


"Kau adalah orang yang sangat berbahaya untuk ku, Aku harus cepat melenyapkan mu agar, aku bisa menangkap gadis itu!" ucap Pria itu dengan tawa yang menggelegar memenuhi ruangan.


______


Disisi lain Alana berlarian menuju ketempat dimana Reyna telah menunggu


"Rey!" panggilnya pada Gadis yang berdiri disudut taman


"Akhirnya kau datang juga," ucap Reyna setelah menunggu Sekitar 30 menit


"Ayo cepat ini kesempatan kita karena Kakak sedang pergi ke kota,"


"Lalu Bibi Mary Bagaimana?" tanya Reyna memastikan


"Aku bilang kalau aku pergi dengan mu di taman,"


Mereka segera menuju perbatasan hutan dengan cepat. Sesampainya disana mereka segara menaburkan Bunga disekitar perbatasan untuk mendoakan Sahabatnya Peter dan kedua orang tua Alana


Alana tidak melakukan hal ini setiap hari, Dia hanya melakukannya karena permintaan Reyna. Walapaun rasa trauma dan takut masih melekat pada dirinya, Alana terpaksa harus mau menemani Reyna. Mereka tidak benar-benar dekat dengan perbatasan hanya beberapa jarak saja tapi, bagi Alana hal itu cukup membuatnya sedikit merinding saat melihat Hutan itu


"Sudah ayo kita pulang," ajak Reyna


Alana menatap kearah Hutan Loko dengan perasaan Cemas, ia bisa merasakan ada Aura yang mencoba mendorong pikiranya untuk masuk kesana. Gadis itu menepis pikiranya, ia tidak ingin melakukan kesalahan untuk yang kedua kali nya. namun, Perasaan itu semakin kuat seperti ada daya tarik yang sangat kuat dihutan itu


Pikiran Alana mulai melayang, ia mulai terbayang akan sosok pria yang selalu hadir di mimpi nya hingga akhirnya ada tangan yang menyentuh pundak nya dan membuyarkan lamunan nya


"Apa yang kau lakukan ayo kita kembali,"


Reyna berhasil menyadarkan kesadaran Alana


"Baiklah ayo," balas Alana cepat


Ia kembali menatap kearah Hutan Loko sebelum kembali kerumah.


___


Alana berniat mengunjungi Kakeknya sebelum kembali kerumah namun, ia malah dikejutkan dengan banyak nya orang yang tengah mengerumuni Rumah Kakek nya


"Ada apa ini?" teriak Reyna pada semua orang namun, tidak ada satupun orang yang berani menjawab.


Alana segera berlari memasuki ruangan, mata ia terbelalak terkejut usai melihat Tubuh Kakeknya Telah berlumuran darah segar


Alana memeluk tubuh Kakeknya dengan derai air mata, ia menatap Wajah Kakeknya dengan hanga, ia sama sekali masih belum menerima bahwa Kini kakeknya telah pergi meninggalkan nya


"Kakek ayo bangun! Kau sedang tidak bercanda kan," lirih Alana


Mary menatap Alana dengan perasaan iba, ia juga Merasakan kehilangan yang sangat mendalam karena selama ini Mary sudah menganggap Raul Seperti Ayah kandung nya sendiri.


Mary menghampiri Alana lalu memeluknya dengan erat, ia mengelus punggung Keponakanya itu dengan lembut sambil menenangkannya


"Sayang ikhlaskan Kakek mu," ucap nya lembut.


"Tidak, tidak, tidak ini semua tidak mungkin!! Siapa yang telah tega membunuh Kakek ku," teriak Alana dengan isakan tangis. Alana tidak bisa berhenti menangisi kepergian Kakeknya


Kabar kematian Raul juga telah tersebar luas diseluruh desa bahkan, Mary segara mengirim surat utnuk mengabarkan tentang kematian Raul


Mary berharap agar Albert bisa secepatnya kembali kesini


Kematian Raul sangatlah misterius hanya ada luka sayatan ditubuhnya. Apalagi Raul adalah Satu-satunya orang yang mengetahui Hutan Loko walapaun tidak detail.