
Edward Sang Raja Vampir selalu berada di kastil ini Selama Alana tak sadarkan diri, Ia akan datang setiap hari sambil membawa bunga kesukaannya yaitu Mawar putih
"Sayang ayo bangun," ucap nya sambil mencium kedua tangan Gadis itu dengan lembut
Edward menatap gadis itu dengan hangat. Ia merasa sangat bersalah Karena, telah terlambat utuk menyelamatkan nya
"Tuan," panggil James, dari arah luar
"Berani nya kau menggangguku," sentak Edward
"Maafkan hamba Tuan tapi, hamba ada berita penting,"
Edward segera melepas Tangan Alana lalu mencium kening nya dengan lembut
Sebelum Edward pergi, ia menatap wajah Alana cukup lama. Pria berjubah itu seolah mengatakan sesuatu melalui tatapan yang tertuju pada Alana.
Edward lantas berjalan keluar dari kamar. Dia melangkah menuju Ruangan miliknya dengan diikuti James dibelakang
Wajah tampan dengan ekspresi yang sangat dingin. Itu terarah kedepan. Tatapan matanya begitu tak terbaca seolah hanya ada kegelapan dihidupnya.
"Beritahu aku ada hal penting apa sehingga, kau berani menganggu aktivitasku,"
James tertunduk dengan badan yang gemetar. Ia sama sekali tidak menyangka Jika Tuan nya akan semarah ini.
"Ini tentang makhluk yang menyerang Ratu," jelas James Membuat Albert sedikit tersentak
"Bukan kah Meraka bangsa jin?" tanya Albert dengan serius
Selama ini para makhluk memang telah mengincar Alana. Dan disaat umur nya telah mencapai 17 tahun darah Alana akan bisa tercium oleh para mahluk bahkan, bangas jin akan dapat menyadarinya dengan cepat jika, itu adalah darah suci
Untung saja Edward datang tepat waktu untuk menyelamatkan Alana
"Empusa!"
Mata Edward terbelalak terkejut setelah mendengar nama itu
"Apa hubungannya dia dengan bangsa Jin?"
"Dia adalah Pelopor utama dimana semua makhluk mencoba untuk menyerang Alana," jelas James
Empusa adalah Vampir setengah Iblis yang menginginkan hidup Abadi. Ia rela mengorbankan seseorang yang berharga dalam dirinya agar ia bisa kekal dan menjadi seperti seorang Dewa
"Setelah anda tertidur, kami mendapatkan informasi dari sosok Makhluk yang telah lama mengawasi Empusa,"
James telah mengatur semuanya namun untuk melacak keberadaan Alana sangat susah, James tidak memilki Kuasa itu semua apalagi Hutan Loko dengan Istana Fuller juga dibatasi hal itu cukup membuat James kesulitan
Empusa memang sosok wanita yang sangat kejam, ia selalu membuat masalah dimanapun ia berada. Dan kali ini Dia mencoba untuk mengambil Alana dari Raja Vampir dengan meminta bantuan dari bangsa Jin
Edward tidak pernah menyangka, wanita yang dulunya pernah menjadi pengikut setia nya kini, malah ingin Memeranginya
"Seharusnya Wanita kejam itu diusir dari alam sini sejak dulu," Edward mengepalkan kedua tangan nya dengan erat.
James menunjukan lokasi dimana Empusa saat ini berada.
Selama ini Empusa memang telah mengawasi Alana, bahkan Sosok wanita tua yang pernah di lihatnya itu sebenarnya adalah Jiwa Empusa yang keluar dari Neraka.
Dengan bantuan para Jin, Jiwa Empusa bisa keluar dari dimensi ini dan bisa berkeliaran bebas dialam manusia namun, sayangnya Ia tidak dapat menyentuh Alana secara langgsung karena, ada sebuah perisai yang selalu melindungi ditubuh Alana. Kakeknya juga Memiliki sebuah Jimat yang sangat ampuh untuk mengusir roh roh jahat seperti Jin dan Empusa, itu lah sebabnya Kakeknya dibunuh oleh bangas jin agar, mereka bisa bebas menangkap Alana
"Aku ingin Kastil ini dijaga ketat dan James tetap lah disini dan jangan bergerak sedikit pun dari pintu ini!" Perintah Edward dengan tegas.
"Baik Yang Mulia," balas James dengan menundukkan kepala
Edward melesat dengan cepat menuju Istana Fuller. ia akan mengarahkan semua pasukan yang ada untuk pergi menuju ke tempat dimana Empusa berada
Sebelum pergi Edward sempat memasangkan Alana kalung liontin merah, Liontin itu adalah jimat paling ampuh untuk melindungi dirinya dari segala ancaman
James mengumpulkan semua vampir terkuat untuk membantunya
"Dengar! Empusa telah berbuat ulah, Dia dengan bangsa jin nya telah berani menantang ku dan ingin merebut Darah suci milik ku,"
"Aku Raja Vampir ingin segera kalian bergerak dengan cepat menuju lembah kematian dimana Empusa tinggal," teriak Edward
Para vampir saling bersorak dengan semangat, memang sudah lama mereka sangat benci dengan Empusa dan ingin sekali melenyapkan. Apalagi setelah ratusan tahun tidak bertarung membuat mereka tambah bersemangat
"Tuan,"
Edward mengambil pedang yang dibawa kan oleh pengawalnya
"Kalian awasi setiap formasi yang sudah aku aturan dan ingat jangan lengah dan jangan merubah apa uang telah aku buat," ucap Edwaed dengan serius
Edward menatap kastil Nevil dengan cemas sebelum dirinya pergi menuju lembah kematian.
"Aku akan segera kembali," lirih nya
_________
Pelan-pelan Alana membuka matanya. Seisi ruangan yang semula buram mulai terlihat sangat jelas sekarang. sepasang matanya mengerjap, kemudian dahinya mengernyit langit serta dinding kamar ini terlihat sangat asing
Tubuhnya beranjak hingga kakinya menatap diatas lantai yang sangat indah. Gaun yang membalut tubuh juga membuat dirinya semakin kebingungan. Penampilan kamar yang begitu asing membuat ia dirinya berpikir bila ia tengah berada dikamar seseorang. Lalu siapakah sosok yang telah menyelamatkan nya
"Akhhh, kepala ku berat sekali," lirihnya. ia berjalan pelan menuju pintu
"Apa ada yang bisa membantuku aku sangat haus," teriak nya yang langgsung didengar oleh James. Dia segera menangkap tubuh Alana yang hendak Jatuh
"Yang mulia, apa yang anda lakukan? Seharusnya anda tetap diam ditempat tidur," ucap Pria itu dengan lembut
James segera membawa Alana ketempat semula, ia tidak ingin membuat Tuan nya, Edward Marah hanya karena masalah ini
"Aku sangat lapar dan haus, apakah ada makanan untuk ku," ucap Alana pelan
Sebelum makanan itu datang Alana lebih memilih untuk memejamkan mata karena, kepalanya masih terasa sangat berat bahkan, menggerakkan badan saja masih terasa Sakit.
"Yang mulia silahkan,"
Makan telah tersusun rapi dimeja, mata Alana membulat seketika menatap semua makanan yang sangat lezat dihadapannya. Ia menelan salivanya sambil membayangkan betapa enak nya makanan itu
Alana segara melahap semua makanan
"Apa aku boleh menghabiskan makanan nya," tanya Alana dengan mulut yang penuh makanan
Jame tersenyum tipis sambil mengangguk pelan
"Dia memang Ratu Vampir," lirih nya sambil menatap kearah Alana
"Oh ya apa kau tau aku berada dimana?"
Jame terdiam dia sama sekali tidak berani memberitahukan hal ini apalagi, pesan dari Edward
"Kenapa diam saja, apa kau yang kemarin menolongku."
"Maaf Yang Mulia, anda akan segera tau sendiri," James segera pergi meninggalkan Alana sendiri, dia tidak ingin membuat Tuan nya marah hanya dengan berbicara dengan Alana
Bahu Alana menegang ketika 2 kata itu keluar dari mulut james. yang mulia? Itu tidak mungkin.. Alana mengawasi James dengan penuh hati-hati. Dia juga memberikan sedikit jarak pada James
"Jangan takut, aku bukan orang jahat," ucap Pria Itu lalu melangkah keluar meninggalkan Alana
Alana memegang dada nya yang berdegup kencang, ia masih belum memahami apa yang sebenarnya telah terjadi dan siapa pira itu dan tempat macam apa ini,
"Aku harus segera pergi dari sini," ucap nya
Alana segera berjalan menuju cermin besar diujung sana ia ingin mencari benda yang lumayan tajam
Namun mata dia malah terfokus pada kaling yang melingkar di lehernya. Alana menatap kalung liontin dengan heran. Entah sejak kapan ia memakai liontin seperti ini
"Ah sudah lah hanya masalah kalung, sekarang aku harus segera mencari benda tajam secepatnya,"
Mata Alana terus mencari keseluruh ruangan namun, ia malah menemukan sebuah lukisan yang wajahnya sangat mirip dengannya
"Kenapa wajahnya sangat Mirip dengan ku dan liontinnya juga sama,"
Alana semakin panik dan takut hingga ia menggedor pintu kamar dengan kencang, ia berharap agar bisa dikeluarkan dari tempat ini secepatnya.
"Apa yang terjadi," tanya james yang langgusng membuka pintu
"Aa..aku mau keluar," ucap Alana dengan panik
James menggeleng sebagai penolakan.
"Anda harus tetap disini sampai Tuan kembali,"
"Tuan siapa? aku akan menangis jika kau tidak membiarkanku untuk keluar," sentak nya
James menghela nafas
"Baiklah tapi anda tidak boleh pergi jauh Karena, diluar sangat berbahaya,"
Alana mengangguk setuju.
keluar dari kamar Alana merasa telah berada ditempat yang jauh dari asalnya, apalagi melihat Kastil kuno yang sangat indah ini. ia sangat yakin jika dirinya telah dibawa ketempat yang jauh, Alana tidak berani bertanya karena, ia takut jika Pria asing itu adalah Sosok yang jahat.
Alana berlari seperti anak kecil ketika menyusuri Kastil ini. Mata nya terlihat berbinar melihat semua pemandangan disini.
"Ini Desa apa kenapa tempat nya bagus sekali," ungkap nya dengan senang.
Jame tersenyum tipis, ia sama sekali tidak berani mengatakan yang sebenarnya
Alana memutar bola matanya dengan malas
"Selalu saja diam jika aku bertanya"
Alana menatap James dengan sinis lalu mengulurkan tangan nya
"Kita belum berkenalan dan aku belum tau nama mu," ucap Alana serius
James menerima uluran tangan Alana dengan sopan, James menunduk seperti Rakyat yang sedang memberi hormat kepada Raja nya
"Saya James, Yang Mulia,"
Alana segera menarik tangan dan menatap james dengan tajam
"Kenapa kau mengatakan hal itu terus!" Sentak nya lalu berbalik meninggalkan James
Alana melangkah keluar dengan perasaan yang kesal. Namun perasaan itu berubah usai melihat sebuah taman bunga yang tak berada jauh dari kastil ini. gadis itu segera berlari menuju ketemu itu dengan senang. Dia terlihat bermain dengan semua kupu-kupu yang bertebaran di taman ini. Tak hanya itu Alana juga terlihat memetik beberapa bunga disana Namun, matanya malah tertuju pada bunga mawar putih
James dan para pelayan hanya mengawasi dari jarak jauh, mereka tidak yang yang berani mendekati
Alana merasa tidak asing dengan bunga itu. Ia memetik dan mencium baru harum nya yang semerbak.
"Apakah aku boleh memetik ini semua," teriak nya
"Anda boleh melakukan apapun pada taman ini," balas james lalu menyuruh para pelayan untuk membantu nya memetik bunga-bunga itu.
James menatap Sang Ratu dengan senang, ia ingin sekali mengabarkan kepada Tuanya jika, saat ini kondisi Istri nya telah benar-benar pulih