My Destiny Is With The Vampire King

My Destiny Is With The Vampire King
Ragu



Lauren membantu Alana mencari beberapa petunjuk hingga akhirnya mereka menemukan sebuah buku besar bersampul kumo yang hampir mirip dengan buku Kakek nya


Alana sedikit tercengang saat menatap buku itu, dia masih mengingat dengan jelas buku milik Kakek nya hampir sama perisi dengan Buku di perpustakaan ini 


"Apa kematian Kakek ada hubungan nya dengan Pria itu," lirih nya dengah curiga


"Yang Mulia," panggil Lauren


"Ah ya, apa kau menemukan sesuatu?"


"Kurang tau tapi sepertinya anda akan membutuhkan buku ini," balas nya lalu mengambil beberapa buku yang cukup tebal lalu membawanya ke meja


"Wah kau sangat hebat," puji Alana membuat Lauren tersipu malu


"Baiklah kita mulai dari mana, oh ya pertama kali aku akan mencari informasi kalung misterius ini. Apa kah kau tau ini kalung apa," ucap nya sambil memperlihatkan Kalung liontin yang melingkar dileher nya


Lauren hanya menggeleng pelan. Dia benar benar tidak mengetahui soal kalung itu


"Oh baiklah aku akan mencarinya sendiri,"


Alana membuka setiap lembar buku yang ada dimeja namun, dia sama sekali tidak menemukan petunjuk apapun. Setelah menghabiskan waktu di perpustakaan Alana ingin segera menemui Edward  


"Lauren kau pergilah,"


Lauren menatap Alana dengan cemas


"Baiklah saya permisi,"


Alana berjalan melewati Lorong dan menuju ke Aula disana tidak ada siapapun kosong. Dia mencari kesana kemari tetap saja tidak menemukan sosok yang dicari nya


"Sial dimana dia," ucapnya dengan kesal


Tiba-tiba ada tangan kekar melingkar di pinggang kecil nya sosok itu berbisik tepat ditelinga Alana


"Apa kau merindukanku?"


Jantung Alana berdegup sangat kencang.


 


"Kau! kenapa mengagetkan ku!" sentak nya 


Edward tertawa renyah


"Bukan kah kau ingin bertemu denganku hm,"


Alana memalingkan muka


"Mm...memang,"


"Terus ada masalah apa?" Pria itu membelai rambut Alana dengan lembut


"Apa kita bisa bicara, ada hal penting yang ingin aku tanyakan kepadamu,"


"Baiklah apa kita akan membicarakan hubungan,"


"Stop, aku mohon jangan bercanda, kali ini tolong jawab aku dengan kejujuran mu," potong Alana membuat Edward terdiam


Edward mulai memandang Alana dengan serius. Raut wajahnya terlihat sangat dingin sangat berbeda dengan prianyang ia temui tadi


"Baiklah kalau begitu kita akan bicara di ruangan mu sebaiknya kau masuk dulu," balas nya dengan singkat lalu berlalu


Alana sedikit gugup dan takut tapi mau bagaimana lagi cepat atau lambat Alana harus segera keluar dari sini


"Biarlah kalau dia mau marah, aku juga tidak peduli," lirihnya pelan


 


Derap langkah kaki seseorang terdengar memasuki ruangan. Alana menolah matanya menatap sosok Pria yang berdiri diujung pintu 


"Masuk lah," ucap Alana


Dia melangkah dengan tenang sambil tersenyum hangat


"Apa yang ingin kau tanyakan?" ucap nya dengan ramah


Alana merasa aneh tadi Pria itu terlihat dingin tapi, sekarang sangat hangat apa dia memilki  dua sisi yang berbeda. hal itu cukup membuat Alana ketakutan


"Apa kau yang membunuh Kakek ku?" tanya nya tanpa nasa basi


"Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu?"


"Lihat !aku menemukan Buku ini dan bukumu sangatlah persis dengan milik Kakek ku," ujar nya sambil menunjukan Buku itu


Edward mengernyitkan alisnya 


"Lalu?"


"Sudah jelas kalau kau adalah pelakunya!" tuduh nya dengan sangat yakin


Edward menarik lengan Alana dengan erat lalu mencengkram nya sangat kuat


"Sebelum menuduh ku lebiu baik kau cari dulu semua kebenarannya," ucap nya dengan tegas


Alana merasakan merinding disekujur tubuhnya baru kali ini, ia merasa kana aura yang  berbeda dari Pria itu.


"Lepas kan aku,"


"Aku sudah kehabisan kesabaran Alana!" sentak nya dengan kencang cukup membuat Alana takut  hingga tak teras buliran air mata menetes dari pelupuk matan nya


Dia menangis Karena merasa kesakitan.


"Sakit lepas kan," lirih nya pelan


"Alana maafkan aku apa aku melukai mu apa aku menyakitimu," ucap Edward  yang langsung melepas cengkraman nya.


Alana memejamkan mata, entah mengapa tubuhnya kali ini sangat lah lema, ia hanya pasrah saat melihat Edward  menggendongnya menuju Ranjang.


"Tampan"


Perasaan apa ini kenapa jantung ku berdegup sangat kencang ayo lah Alana dia sudah sangat kejam denganmu jangan terperdaya dengan pesona nya


"Maafkan aku,"ucap nya penuh sesal


"Cih, kau adalah Raja yang kejam mengapa kau bisa selembut itu jangan bepura-pura di depanku,"


"Bagaimana kau bisa berpikiran seperti itu"


Alana mendengus  kesal


"Aku masih belum mempercayai mu,"


"Lalu semua Bukti dan mimpi?"


Alana menatap tajam


"Hah mimpi aku tidak percaya jika kau benar-benar sosok itu seharusnya kau tidak mengurungku ditempat ini!" 


Edward hanya dalam diamnya dia sama sekali tidka menjawab semua pertanyaan Alana. Malah sebaiknya, ia lebih memilih meninggalkan gadis itu sendirian


"Kau benar-benar Pria yang kejam!" teriak nya dengan kesal


Edward hanya diam sambil menatap nya kemudian dia melangkah keluar tanpa mengatakan apapaun


Setetes demi setetes buliran air mata mengalir di pipinya. Alana menangis, ia sangat mengkhawatirkan keadaan Bibinya saat ini


"Kenapa takdirku sangat buruk kenapa," lirihnya pelan


Saura tangisan yang tadinya terdengar pun mulai menghilang. Alana mulai terpejam, entah mengapa tidur setelah menangis adalah hal yang sangat


"Ibu ayah aku sangat merindukanmu,"


---


"Alana,"


Dia menoleh mencari kearah sumber suara


"Siapa!" teriak nya


"Sini,"


"Siapa,"


Dari balik asap putih munculah dua orang, mereka menatap Alana dengan hangat lalu memeluknya


"Kau sudah dewasa ya,"


Alana menyentuh wajah mereka dengan gemetar buliran air kata pun menetes membasahi pipi mulus nya


"Ayah....Ibu," ucap nya


"Dengar nak kami akan selalu ada di sisimu,"


Alana menyeka air matanya lalu menatap mereka dengan penuh kerinduan


"Kenapa Kalian pergi secepat itu,"


Mereka hanya diam


"Alana," panggil nya


"Kakek,"


Dia berlari memeluk kakek tercinta


"Kakek hanya berpesan bahwa Pria yang kamu temui itu sangat baik, jangan kau sia-siakan pengorbanan nya,"


"Pengorbanan apa Kek?"


"Kau akan segera tau,"


"Kami pamit ya, ingat kau harus bisa mengambil keputusan dengan benar dan jangan mudah terpengaruh," Pesan Raul pada Alana lalu tubuh mereka menghilang secara perlahan


Alana perlahan membuka matanya.


"Mimpi tapi kenapa aku bisa sampai menangis apa mereka benar datang ke mimpiku,"


Kerekk


Pintu kamar terbuka secerah cahaya masuk dari luar ruangan mulai menerangi tempat gadis itu. seseorang masuk dan pintu perlahan menutup sendiri.


"Ayo bangunlah sudah saat nya kau harus mengetahui segalanya," ucap Edward sambil mengulurkan satu tangannya membantu Alana berdiri.


"Apa kau menangis semalaman?" tanya Pria itu dengan cemas


Alana menepis sentuhan Pria itu lalu bergegas menuju kamar mandi.


"Kau tunggulah diluar!" ucap Alana pada nya


Gadis itu berjalan keluar dengan mata yang sembab.


"Aku tau kau menangis semalaman?"


Gadis itu sedikit tercengang


"Jangan basa basi apa yang ingin kau katakan!" sentak nya


"Aku akan membawamu kesuatu tempat tapi untuk itu kau harus percaya denganku,"


Alana hanya diam dan tidak terlalu memperdulikan nya


"Katakan saja semuanya, aku hanya butuh satu alasan untuk bisa mempercayaimu,"