
Sesampainya diistana Alana memperhatikan orang-orang disekitarnya, menatap pakaian yang dikenakan oleh orang-prang itu Melihat situasi yang sangat ramai cukup membuat Alana sedikit takut. Dia reflek menggenggam tangan Edward dengan erat karena selama ini dia tidak pernah berada dalam kerumunan yang seramai ini
Edward hanya tersenyum penuh arti menatap tingkah Alana yang mengemaskan. tak lama mereka segera sampai Di Aula Istana Semua orang terlihat menatap kearah nya lalu menunduk dengan hormat, tidak ada satupun orang yang berani menatap dirinya. Alana semakin bingung apa yang sebenarnya terjadi disini
Edward melepas genggaman Alana lalu berjalan menuju singgasana nya. Dia tersenyum hangat kearah Alana lalu berkata
"Ratuku kemari lah," ucap nya
Alana segera mendekat kearah nya dengan perasaan tak karuan. Ia menatap James dengan ragu-ragu. Langkah nya terasa sangat berat. James menganggukkan kepala sambil menatapnya dan menyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja
Alana menghela nafas lalu segera duduk didekat Edward. Senyuman manis terukir di wajah nya kala melihat semua orang menatap Istrinya dengan hormat
"Kenapa kau membawaku kesini!" bisik nya dengan kesal
"Karena kau adalah Istriku," balas nya membuat Alana terkejut. Seluruh badanya terasa gemetar hebat usai mendengar kata istriku
"Perkataan mu sungguh tidak masuk akal!" tukas nya dengan amarah
"Kau adalah Istriku dan aku tegaskan sekali lagi kau tidak boleh keluar dari Istana ini tanpa seizinku!" jelas Edward dengan tegas
Alana membuang muka dengan kesal. Ia sangat bingung dengan situasi saat ini.
Pesta segera berakhir Alana segera diantar menuju Kamar nya sedangkan Edward , dia memilih pergi kesuatu tempat karena katanya ada urusan penting
"James apakah aku boleh bertanya?"
James menoleh dengan tersenyum hangat
"Boleh silahkan," balas nya dengan ramah
Hmmm mulai dari mana ya. Apa James bisa dipercaya kalau aku bertanya soal Istana ini
"Apa benar aku adalah Istri dari Tuan mu?" tanya nya penasaran
James terdiam untuk sesaat
"Kenapa Yang Mulia bertanya seperti itu?"
"Ah sudahlah jangan panggil aku Yang Mulia! Panggil saja Alana!" Seru gadis itu dengan kesal
"Maaf yang mulia Jika saya lakukan hal itu nanti Tuan Edward,"
"Kau panggil aku Alana jika tidak ada dia bagaimana?" potong Alana
James nampaknya sangat ragu tapi Alana tetap berusaha menyakinkan Nya agar setuju dengan nya.
"Baiklah tapi, jika Tuan Edward mengetahui hal ini maka, anda harus bertanggung jawab,"
"Oke," balas Alana cepat
"Baiklah sekarang ceritakan kepadaku bagaiaman Tuanmu bisa menganggap ku sebagai Istrinya?"
James segera menceritakan tentang Istri Edward dimana dia tewas karena perang besar dan terlahir kembali menjadi seorang manusia di bumi
Ditengah perbincangan mereka Alana berpikir kalau Dirinya adalah Reinkarnasi dari Sang Ratu
"Ohhh bisa dibilang aku itu Reinkarnasi?"
James mengangguk pelan
"Tapi apa Bukti nya?"
"Kalau soal itu anda bisa tanya pada Tuan Edward secara langgsung," jawab James lalu segera melangkah keluar meninggalkan Alana sendirian
Alana masih terdiam dalam pikiranya. Ia menatap kearah jendela yang mengarah langgsung keluar.
"Kalau aku adalah Istrinya mengapa dia malah mengurungku," lirihnya pelan
"Nona apa anda membutuhkan sesuatu?" ucap Salah satu pelayan dari arah luar
Dia segera menuju keluar sambil berpikir bagaimana caranya bisa keluar dari sini
"Hei aku mau bertanya sesuatu kepadamu," bisik Alana pada pelayan tersebut lalu segera menarik nya masuk kedalam kamar
"Mm...maaf Nona Saya tidak berani," ucap nya dengan menunduk kan kepala
"Aku akan bertanggung jawab jika sesuatu hal buruk terjadi kepadamu tapi, apakah kamu mau berjanji,"
Pelayan itu mendongak wajah nya menatap Alana dengan bingung
Alana segara merapatkan duduknya dengan pelayan itu lalu berbisik kepadanya
"Berjanjilah kalau kau akan setia kepadaku dan jangan bocorkan hal apapun yang aku tanyakan kepadamu,"
Pelayan itu menatap Alana dengan ragu.
"Baiklah saya berjanji tapi tolong lindungi hamba dari Amarah Tuan Edward," pinta nya dengan memelas
Alana mengangguk sambil tersenyum puas.
Yess akhirnya aku punya mata-mata kalau begini kan aku bisa tau seisi istana ini tanpa harus bertanya kepada James atau Edward si pria aneh itu
"Nama mu siapa kita belum kenalan," ucap Alana memecah keheningan. Ia mengeluarkan tangan nya untuk berjabat tanan
"Aa..aaku Lauren Anda bisa panggil aku Lau Yang Mulia," ucap nya dengan gugup
"Ah jangan terlalu formal anggap saja aku itu temanmu,"
"Ttapi Anda seorang Ratu,"
"Ratu apa! Aku tidak mau jadi Ratu," sentak nya dengan tegas membuat Lauren tercengang
Setelah berbincang cukup lama Lauren segera keluar dari kamar sedangkan Alana ia memilih untuk merebahkan tubuhnya di kasur yang sangat empuk. Sepertinya ada untung nya juga ia berada disini, kapan lagi dia bisa merasakan kasur semewah ini dengan fasilitas yang luar biasa
Namun terlintas dibenaknya Apakah benar Raja sangat kejam sampai-sampai semua orang terlihat takut dan tunduk kepadanya.
"Sepertinya aku harus mencari tau sendiri siapa sosok Raja itu," lirih nya lalu segera terpejam
Keesokan harinya Alana bangun dengan tubuh yang bersemangat karena hari ini adalah Misi pertama dia untuk mencari tau tentang Istana ini
Dia berjalan kearah ruangan para Pelayan tanggal dan mencari sosok Lauren. wanita yang ia temui malam tadi.
Semua para pelayan terlihat menunduk saat Alana Datang. Ada pula yang mencegah alana masuk karena ruangan itu adalah tempat Yang sangat tidak pantas untuk didatangi oleh seseorang ratu sepertinya
"Apa maksud kalian?"
"Maaf yang mulia anda harus pergi dari sini kalau tidak nanti,"
"Nanti Apa! Tuan Edward akan marah begitu!" sela Alana dengan kesal
Para pelayan saling terdiam mereka tidak berani menjawab perkataan Alana.
"Aku akan bertanggung jawab, aku hanya ingin mencari Lauren. dimana dia?"
"Lauren?"
"Apakah dia berbuat masalah dengan anda," ucap salah Satu mereka dengan cemas
Alana menggeleng pelan
"Aku ada urusan dengannya segera panggil dia, segera panggilkan dia aku akan menunggunya diluar," ucap Alana dengan tegas
Ia berjalan keluar dengan perasaan kesal namun, tiba2 ia baru teringat kenapa sikap nya hari ini jadi lebih arogan dan tegas
Tap
Terdengar langkah suara kaki seseorang
"Nyonya maaf tadi saya ada urusan sebentar,"
Alana menghela nafas kasar seraya menarik lengan Lauren
"Sudahlah ayo cepat, apa disini ada perpustakaan?"
"Ada tapi, jarak nya lumayan jauh," balas Lauren
"Tidak masalah ayo cepat mumpung Tuan mu belum kembali," ujar nya lalu berlari
"Ah baiklah,"
Lauren mengikuti langkah Alana dengan perasaan cemas. Sepertinya dia sangat takut jika, rahasia Tuan nya terbongkar
Mereka segera menemukan Perpustakaan itu letak nya lumayan jauh siu tapi bagi yang terpenting bagi Alana adalah Menemukan Informasi tentang Istana ini dengan detail dan bisa segera keluar dari sini secepatnya
Alana hanya bisa berharap kepada Lauren, semoga saja dia dapat dipercaya dan tidak berkhianat .