Miracle When Sunset

Miracle When Sunset
Chat



Semilir angin malam yang tenang berhembus melewati kusen-kusen jendela, menggugurkan dedaunan yang sudah kering dari batang-batang pohon yang sudah tidak sanggup menahan mereka.


Suara binatang pengerat malam dan burung hantu pun mulai terdengar. Sunyi senyap di balik gelapnya langit malam.


Bintang bintang dan bulan menjadi hiasan sang langit malam.


Di dalam sebuah kamar, seorang gadis sedang duduk membuka halaman buku, dan menggerakkan matanya ke kiri dan kanan mengikuti baris demi baris kalimat yang sudah tercetak di dalamnya.


Sambil sesekali tenggelam dalam cerita yang telah dibuat oleh sang penulis dengan rapinya.


Menit demi menit berlalu sampai akhirnya imajinasi sang gadis terbuyarkan oleh suara dering handphone yang menandakan ada beberapa notifikasi disana.


Dengan malas ia mengambil benda yang sudah berdering berulang kali dan membuka layarnya yang terkunci.


Bola matanya berputar melihat terlalu banyak notifikasi yang tertera di layar handphone nya.


Memang sudah lama sekali ia tidak pernah membuka sosial medianya semenjak kejadian itu terjadi, atau bahkan hanya untuk melihat beratus-ratus notifikasi chat dari beberapa orang yang tidak pernah ia kenal.


Rasanya lebih baik ia menutup sosial medianya daripada harus menahan rasa sakit yang begitu perih, mengingat masa itu dengan perkataan mereka di luar sana yang tidak tahu menahu tentang dirinya.


Ketika ia menggulir layar handphone nya, matanya tak sengaja menangkap nama yang benar- benar tidak asing baginya. Sudah ada dua puluh lima pesan yang terkirim dari seseorang disana.


Pesan darinya ia buka dan membacanya satu per satu.


Revan_Andrian:


Hai Sania.


Pesan singkat yang sudah terkirim siang tadi pukul 14.30 WIB bahkan belum terbaca olehnya.


Sania melanjutkan lagi membaca beberapa pesan chat dari sosial medianya.


Revan_Andrian:


Sania...... Tok-tok-tok


Ya elah di read napa. Gue mau nyapa nih.


P


P


P


P


P


P


P


Eh tadi gue liat poto lo, cantik.


Lo suka motret objek foto alam ya?


Cantik cantik bener objek foto lo.


Lain kali gue mintak fotoin ya, biar tambah ganteng kalau difoto sama gadis cantik. :)


Oh iya, gue lupa bilang makasih untuk yang kesekian kalinya karena tadi lo udah bantuin gue.


Thanks ya Sania.


Kak Fany heran gue kok bisa tahu sizenya padahal kan lo yang milih cuman gak gue kasih tahu.


Sania....


Delapan belas pesan chat dari Revan melalui salah satu sosial medianya. Terkirim tadi siang dari pukul 14.30-15.00 WIB.


Sepertinya Revan sudah men- stalking sosial medianya. Tapi, bagaimana ia bisa tahu rasanya Sania tidak pernah memberi tahu satu pun sosial media yang ia punya.


Dibawah pesan chat yang terakhir Sania baca ternyata masih ada beberapa chat lainnya.


Kali ini pesan chatnya tidak terkirim saat siang tadi tetapi, baru beberapa menit yang lalu.


Revan_Andrian:


Malam Sania.


Lo udah makan belum? Kalau belum makan gih, jangan sampek sakit.


Sakit tuh gak enak. Gak tega liat lo sakit.


Perasaan gue dari tadi kagak di read pesannya. Ya udah deh gak papa, gue seneng kok udah tahu sosial media lo.


Oh iya, sampek lupa gue. Lo gak pernah update status kenapa? Status lo juga masih bisa dihitung pakai jari.


Sania, kapan-kapan gue ke rumah lo lagi ya. Mau jumpa Bi Neneng.


Bi Neneng usianya berapa sih?


Ya menurut gue walaupun udah radar tua, tapi masih bisa menyesuaikan zaman sih sama anak remaja yang lain.


Selesai sudah Sania membaca semua chat dari Revan. Terlalu banyak pertanyaan darinya, mau dijawab dari mana? Bahkan Sania bingung mau balas apa.


Balas atau tidak? Ini baru pertama kalinya ia membalas chat seseorang setelah satu tahun lamanya.


'Mungkin pesan singkat aja sebagai simbolis bahwa gue udah nge-read chatnya.' batin Sania.


Sania Anggita_Putri


Lo tau sosmed gue dari mana?


Tak butuh waktu lama untuk melihat pesan itu dibaca oleh Revan. Beberapa detik kemudian ponselnya berbunyi dengan nyaring dan menampilkan suatu notifikasi yang tertera di layar.


Revan_Andrian


Hmmm.... Dari siapa ya? Lupa gue. Dari ibu-ibu yang jual rujak depan sekolah kayaknya.


Sania Anggita_Putri


Iihhh... Seriusan gue,lo tau dari mana? Gue kan gak pernah ngasih tau.


Pakek acara di-stalk lagi.


Revan_Andrian


Cieeee........... Kepo ya. Bisa juga lo kepo.


Jawabannya adalah.....


Rahasia.


Sania Anggita_ Putri


Au ah...


Revan_Andrian


Jangan gampang marah, nanti cepet tua. Jelek ah kalau penuaan sebelum waktunya. Nanti kayak kucing gue lagi, baru 1 tahun udah punya kumis. Penuaan sebelum dini dia tuh.


Chat Revan kali ini hanya Sania baca saja. Tak ada keinginan untuk membalasnya.


Tak bisa dipungkiri dengan mudahnya Revan membuat seulas senyuman tipis terbentuk di bibir mungil Sania.


'Revan-Revan. Kucing emamg punya kumis kali. Kalau gak punya berarti abnormal dianya.' Sania tertawa melihat isi chat itu.


Sania melemparkan ponselnya begitu saja ke atas tempat tidur. Merebahkan tubuhnya sejenak sambil merenung, membentuk suatu bayangan gambaran jelas terukir di langit-langit kamar yamg berdominasi warna putih polos.


Drrrtt...drrtt...drrtt...


Getaran ponsel Sania menghancurkan bayangan yang sejenak tergambar di langit-langit kamar.


Satu chat lagi dari seorang cowok yang mudah membuatnya tersenyum. Namun, dari aplikasi yang berbeda.


Revan:


Kok diread doang? Balas kek. Jangan mendiami aku seperti ini Sania. Aku gak tahan. Sungguh ini sangat sulit untuk menunggu balasan dari mu.


Ooohhhh... Jangan kau diami aku. Sebab, aku tak tahan. Liriklah aku sedikit saja. Agar hatiku senang. Oooohhh.....


Lengkungan senyuman membentuk tawa manis. Menatap layar ponsel, menimbang ingin dibalas atau tidak. 'Ah, tidak-tidak siapa dia aku saja tidak terlalu kenal. Jangan mudah percaya dengannya. Bisa saja seperti seorang psikopat. Baik di depan tapi siapa yang tahu aslinya.'


Sania ingin berkata seperti itu, tapi apalah daya dia. Setidaknya ia masih punya akal pikiran yang sehat untuk berpikir dengan baik. Juga sebagai gadis yang terhormat, lebih baik ia mencari jalan amannya, daripada harus mencari jalan pertengkaran.


Sania Anggita:


Dapet darimana lagunya?


Mungkin bagi sebagian orang jika mendapat chat dari seorang yang menjadi idola dan dipuja setiap harinya, hal itu akan menjadi suatu hal yang istimewa. Dan mereka mencoba untuk menuliskan berbagai macam hal yang sebenarnya juga 'tidak perlu diketahui'. But, you know lah bagaimana reaksi seorang cewek jika sudah mendapatkan chat seperti itu walaupun hanya sekedar ucapan 'hai'.


Berbeda dengan Sania, ia bahkan tidak peduli dengan cowok yang katanya tampan, baik, pintar seantero sekolah,dan lainnya.


Karena mungkin saja mereka hanya menilai dari cover nya, dan belum tahu atau bahkan tidak mau tahu tentang sifat sebenarnya. Sania sudah pernah mengalaminya, makanya ia tahu dan tidak mau percaya begitu saja dengan orang-orang yang ia tidak terlalu kenal.


Jika berbicara itu sangat diperlukan pada orang yang baru dikenalnya, maka ia akan hanya bicara seperlunya saja. Tidak perlu mengumbar-ngumbar status yang tidak jelas, curhat tentang keadaannya saat ini, dan hal yang lainnya.


Sama seperti tadi hanya butuh waktu sepersekian menit, chat nya sudah dibalas oleh Revan.


Revan:


Dari otak gue lah. Gue kan kreatif.


"Kreatif? Masak? Baru tau gue lo kreatif." kalimat itu terucap begitu saja dari mulut  Sania.


Setelah menimbang-nimbang dan berpikir cukup lama, Sania mengambil keputusan untuk tidak membalas chat apapun dari Revan.


Sudah cukup, ini sudah cukup jauh. Ia tak mau bermain-main dengan orang yang tidak terlalu ia kenal. Ia belum tahu bagaimana sifat Revan yang sebenarnya. Bisa saja Revan hanya manis di depan dan pahit di belakang. Bisa saja ia hanya memanfaatkan Sania.


Pertama ia harus tahu identitas Sania lalu mulai mendekatinya, dan terakhir mulai memanfaatkannya. Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk Sania naik semua.


Sania melanjutkan membaca bukunya, baru satu kalimat yang ia baca ponselnya bergetar lagi dan lagi. Ntah keberapa kalinya ponsel tersebut bergetar.


Dibukanya layar yang terkunci kemudian membaca chat yang masuk.


Revan:


Gue tau Sania, lo itu sama seperti gadis normal lainnya. Gue tau gak mudah bagi lo untuk percaya sama gue, karena kita baru ketemu beberapa kali. Gue cuman mau bilang suatu saat lo akan tau sifat gue sebenarnya, suatu hari nanti lo akan percaya sama gue,dan gue pastikan kepercayaan diri lo akan kembali lagi, tunggu aja gak lama lagi akan terjadi.


'Apa-apaan ini? Dia mengetikkan kalimat-kalimat itu seperti ia adalah seorang peramal yang terkenal.' Sania sedikit heran dengan kalimat-kalimat yang telah diketik Revan, ntah ia harus percaya atau tidak.


Bagaimanapun Sania mengambil satu kesimpulan menurut sudut pandangnya yaitu jikalau hal yang telah Revan ketikkan itu benar-benar terjadi suatu hari nanti maka ia akan menunggunya. Jika tidak maka sudah cukup ia dibohongi oleh kata-kata manis itu.


'Satu hal Van dari diri gue yang berpihak sama lo sementara ini, setengah bagian hati gue. Karena gak mudah ngasih sepenuhnya ke lo'