Miracle When Sunset

Miracle When Sunset
Bantuin Bibi



"Woy. Bengong mulu lo." Rio menepuk bahu Revan, menyadarkan sahabatnya untuk kembali ke dunia nyata.


Sebab dari tadi Revan hanya mengaduk-ngaduk minumannya, menatap ke depan dengan tatapan kosong. Bahkan minumannya pun belum diminum sejak ia beli.


Mereka bertiga sekarang berada di kantin bu Yaya, salah satu tempat tongkrongan terbaik mereka.


"Mikirin apa lo? Mikirin gue ya? Udah gak usah terlalu dipikirin kali kan sekarang gue di samping lo. Ya gak yo?" ucap Arif sembari menaik turunkan kedua alisnya


"Au ah."


"Di aduk mulu tuh minum puyeng dianya woy, udah ah siniin biar gue aja yang minum."


Rio merebut minuman dari genggaman tangan Revan membuat Revan tersadar ke dunia nyata.


"Eh, sejak kapan lo berdua disini?"


"Lah buset.... Dari tadi kita ngomong kagak lo dengerin. Bermasalah ni anak. Rif, biasa."


Merasa mengerti dengan kode yang diberikan Rio, Arif dengan sigap sedikit memajukan dirinya untuk mendengar lebih jelas.


"Gara-gara siapa? Si Sania itu ya?"


"Jelas lah Rif, siapa lagi kalau bukan dia."


"Apaan sih lo gak jelas banget. Siniin minuman gue."


"Yah, belum gue minum tuh. Enak banget ngambilnya."


"Enak, enak... Ini punya gue. Beli sendiri noh."


"Mager gue."


"Kembali ke topik." tukas Arif mengingatkan sahabatnya.


"Jadi?"


"Jadi apa?" Revan mulai merasa tatapan kedua sahabatnya itu semakin mengintimidasi.


"Ya elah ni orang emang susah banget lo peka coba kalau sama cewek yang lain cepet banget. Si Sania gimana? Ada kabar baru belum?"


"Gak ada." bahu Revan ikut naik ketika ia mengatakan jawaban yang ia berikan.


"Udah lo chat kan?"


"Udah sih cuman singkat bener jawabannya, masih penasaran gue ama tuh anak." Revan meneguk minuman yang ia beli untuk yang pertama kalinya.


"Penasaran mulu, terjun ke lapangan langsung dong. Lo berani buat baper cewek lain masak gak berani deketin Sania."


"Masalahnya lo pada gak tau keadaan dia gimana. Gue mau aja deketin tapi gue juga gak bisa ngerapuhin perasaan cewek gitu aja. Gimana kalau dia belum bisa bangkit dari masa lalunya?"


"Tumben lo bijak. Gak salah makan kan? Kalah gue bijaknya." Arif menggelengkan kepalanya mendengar  perkataan Revan akhir-akhir ini.


"Lo bilang gak mau ngerapuhin perasaan cewek? Terus nasib cewek-cewek yang lain waktu lo tinggalin gimana?"


"Gue gak pernah tinggalin mereka. Gue kan cuman bercanda, mereka aja yang kepedean. Lagian gak ada niat juga untuk macarin cuman iseng doang."


"Ehhmm... Berarti sama Sania itu niat iseng apa pacaran?"


Arif berdeham menatap Revan yang berada di sampingnya, meminta penjelasan dengan memberi tatapan mengintimidasi.


"Apaan sih. Gue cuman penasaran aja sama dia gak lebih."


"Hati-hati loh dari rasa penasaran bisa berubah menjadi rasa pacaran." Revan merasakan bahu Rio menyenggol bahunya dengan sedikit keras. Tapi, tidak terlalu terasa sakit karena ia mempunyai lemak dan otot yang cukup untuk melindungi tubuhnya.


"Tapi serius untuk sekarang gue cuma ada rasa penasaran gak lebih. Karena untuk yang pertama kalinya gue ketemu sama dia, menurut gue itu dia beda dibanding gadis-gadis yang lain."


"Kenapa gak lanjut aja ke rasa pacaran daripada rasa penasaran? Belum bisa bangkit dari yang di sana?"


"Gue juga gak tau Yo."


"Yaelah, jangan begini dong. Taklukan hatinya. Gak gentle banget lo. Lupakan dong yang di sana."


"Kalau gue mau udah gue isi hatinya. Tapi sekarang belum berani. Gue takut kalau gue salah satu langkah aja, dia bakalan jatuh."


"Ya udah, pelan-pelan aja makanya. Pelan tapi pasti Van. Gak bosen apa lo nunggu yang gak jelas. Belum tentu dia mau balik."


"Yes, gue setuju sama Rio."


Arif menjentikkan jarinya di hadapan mereka berdua.


"Jadi ada rencana mau ke rumah Sania?"


"Mungkin ada. Ntar sore deh."


"Kita ikut ya."


"Jangan dulu." Revan mengatakan kalimatnya dengan tegas.


"Kenapa?"


"Lo pernah bilang kan Yo, kalau Sania itu gadis yang beda?" Rio mengangguk mendengar pertanyaan Revan.


"Nah, karena dia gadis yang beda itu lah gue gak ngasih kalian kesana. Dia belum kenal kalian. Kalau kita bertiga kesana, pasti dia bakal berpikir kalau kita kesana itu untuk melakukan sesuatu yang buruk. Dia itu tipe orang yang gak terlalu percaya sama dunia luar. Untuk sekarang mungkin gak bisa tapi suatu saat nanti gue janji bakalan bawa lo berdua ketemu sama Sania, Ok."


"Ok lah. Eh, btw mana chat lo sama Sania, gue mau liat."


Rio menyetujui saran Revan tapi tidak dengan Arif yang mukanya ditekuk setelah Revan memberikan penjelasannya.


'Yah, udah penasaran gue sama Sania lama amat ketemunya.' batin Arif.


Revan merogoh kantong celananya, mengambil sebuah benda tipis berbentuk petak bewarna hitam lalu setelah menemukannya ia berikan pada Rio.


"Nih."


Arif yang juga penasaran dengan isi chat Revan dengan Sania segera mengganti posisi duduknya di samping Rio.


Mereka membaca kalimat demi kalimat yang tertera di layar ponsel Revan.


"Udah ini aja?" sampai pada kalimat terakhir, Rio menanyakan chat yang sudah berakhir pada Revan.


"Iya."


"Pendek amat." sambung Arif.


"Eh Van, gue nih ya kalau chat atau telponan sama Viona pasti lama banget meskipun ngebahas yang gak penting-penting."


"Iya mau gimana lagi? Lo liat kan gue udah coba berulang kali untuk bisa bertahan chattan sama dia. Nyatanya susah tau gak. Hhh...." Revan mengacak rambutnya dengan kasar.


"Gilak, baru kali ini gue dibikin sepenasaran ini sama tuh cewek."


"Sabar Van, pasti lo bakalan dapet info tentang dia. Masak lo gak yakin sama diri lo sendiri. Optimis."


Rio mengusap tangan kirinya berulang kali di punggung Revan.


"Seandainya saja dia di sini. Bisa duduk di samping gue."


"Dia? Lo beneran mau si Dia ada di samping lo?" ujar Arif memastikan dan dijawab anggukkan oleh Revan.


"Sebentar." Arif bangkit dari duduknya mencari seseorang di antara kerumunan orang sedangkan Revan dan Rio hanya memandanginya penuh tanya.


"Dia... Dia... Sini deh..."


Orang yang dipanggil Dia tadi berbalik ke belakang dan berjalan menuju asal suara.


"Iya kak."


"Jadi gini lo tau kak Revan kan?" Dia mengangguk.


"Nah, kata kak Revan tadi dia pengen banget lo duduk di samping dia, dari tadi mikiran lo kayaknya."


"Serius kak?" mata Dia berbinar mendengarnya.


"Iya. Yuk ikut gue."


Mereka berdua bergerak menuju tempat dimana Revan dan Rio sedang duduk dan mengobrol.


"Yo, bangkit deh lo. Ada tamu yang mau duduk."


"Apaan sih? Ganggu banget lo."


"Udah bangkit aja." Rio berdiri dari tempat duduknya menuruti perintah Arif.


"Van, tadi lo bilang kalau lo pengen Dia duduk di samping lo kan. Dan sebagai sahabat yang baik, gue wujudkan keinginan lo. Dek duduk di samping kak Revan."


"Hah, apa maksud lo Rif?" Revan bertanya keheranan melihat seorang gadis duduk di samping dirinya.


"Gadis ini namanya Dia lebih tepatnya Rumidiayati. Jadi, keinginan lo terkabul untuk duduk sama Dia. Selamat ya."


"Ck, hahahha..... Pinter lo Rif. Ya udah ya Van kita pergi dulu nikmati quality time lo sama Dia. Bye bye..."


Rio mengerti dengan maksud Arif membawa Dia ke tempat Revan. Ia tahu bahwa Revan tidak harus terus menerus memikirkan Sania jadi Arif menjadikan Dia sebagai bahan lelucon untuk bisa menghibur Revan.


Rio dan Arif meninggalkan kantin dengan rasa penuh tawa di sepanjang jalan sedangkan Revan tidak henti-hentinya mengumpat dalam hati melihat tingkah laku kedua sahabat bobroknya.


"Hai kak, mau makan sama Dia ya? Makan bareng yuk, Dia juga laper." Ucap Dia sambil bergelayut manja di lengan Revan.


Revan yang melihatnya merasa aneh berada di dekat Dia. Dengan tubuh yang gempal, rambut yang dikucir kuda dan dipasang pita warna merah mengelilingi ikatan rambut, bedak yang sedikit tebal, tidak lupa dengan eyeshadow, lipstick, dan foundation yang ia pakai. Revan menyimpulkan penampilan Dia hampir sama seperti anak SD bukan anak SMA.


"Hhmmm.... Dia laper ya." seketika ada ide yang terbesit di benak Revan.


"Iya. Aku mau pesan bakso sama jus jeruk ya kak."


'Astaga, belum juga gue tanya mau mesan apa, udah disebutin aja tuh bakso sama jusnya.'


Batin Revan kesal namun tidak dengan wajahnya yang menunjukkan senyuman. Lebih tepatnya senyuman terpaksa.


"Tunggu sebentar ya, biar kakak pesenin." Revan beranjak meninggalkan Dia sendirian di tempatnya.


Suasana kantin memang terlihat begitu ramai sekali disebabkan guru sedang melaksanakan rapat sehingga para siswanya lebih mudah pergi ke kantin tanpa izin.


Revan melihat mang Ujang, pegawai yang kerja di warung bu Yaya, juga sedang sibuk mengantarkan pesanan para siswa. Terlalu banyak makanan dan minuman terletak di atas nampan. Suara riuh para siswa pun terdengar seantero kantin.


Kebetulan Revan melihat satu buah mangkuk bakso, dan satu gelas jus jeruk berada di atas nampan yang dibawa mang Ujang. Revan menghampiri mang Ujang dan mengambil satu mangkuk bakso dan satu gelas jus jeruk.


"Eh den Revan itu kok diambil pesanannya." ujar mang Ujang sambil mengatur makan dan minuman yang ia bawa dengan susah payah.


"Udah mang gak papa. Yang ini untuk Revan aja ya, Revan bayar deh "


"Tapi itu udah ada yang mesan atuh den."


"Gak usah dipikirin mang, kan bisa diambil lagi pesanannya sama bu Yaya terus dianterin. Maaf ya mang lagi buru-buru harus ngasih makan hippopotamus."


"Hipo... pohi...pomus? Opo toh itu?"


"Adalah mang, nih uangnya makasih ya mang." Revan berlari meninggalkan tanda tanya di pikiran mang Ujang lalu pergi menuju tempat dimana Dia duduk.


"Nih pesenan lo." Revan meletakkan pesanan Dia di atas meja dengan nafas yang masih tersenggal-senggal.


"Makasih kak."


Dia memakan bakso dengan lahap meninggalkan beberapa sisa makanan di sudut bibirnya.


Kelihatannya Dia sangat lapar sampai-sampai ia tersedak saat memakan baksonya.


"Eh, nih minum dulu deh." Revan menyodorkan jus jeruk di hadapan Dia dan sukses membuat pipi Dia memerah.


Dia yang melihatnya pun langsung meminumnya, dan mengucapkan terima kasih pada Revan.


"Makasih kak." ucapnya malu-malu.


"Iya. Lo emang belum makan ya?"


"Emang. Dia belum makan dari tadi pagi."


"Hah, Kak Revan ngomong apa kecil banget suaranya."


"Oh, ehmm.. Gak kakak cuman bilang hati-hati makannya awas tersedak lagi."


Ujar Revan dengan kalimatnya yang tiga ratus enam puluh derajat berbanding terbalik dengan yang ia gumamkan.


"Ooohh... " Dia membulatkan mulutnya membentuk huruf o.


"Kak Revan laper? Sini biar Dia suapin." Dia sudah bersiap-siap memasukkan satu sendok bakso ke dalam mulut Revan, tapi tiba-tiba....


"Eh, eh gak usah Dia. Gak usah repot-repot. Kak Revan masih kenyang kok. Tadi Dia liat kan kak Revan baru siap makan sama kak Rio dan kak Arif."


"Hhmmm... Jadi kakak gak mau?"


"Bukannya gak mau Dia tapi kan kalau kakak makan terlalu banyak bisa gak fokus belajarnya gara-gara kekenyangan terus bisa jadi berlanjutnya ke muntah. Dia gak mau kan ngeliat kak Revan kayak gitu?"


"Enggak, ya udah deh Dia abisin sendiri baksonya."


Revan merasa kasihan melihat muka murung Dia. Baru kali ini ia membuat Dia murung.


Asal kalian tahu saja, Dia terkadang suka di bully dengan teman-temannya hanya karena penampilannya saja. Revan yang merasa kasihan dengan Dia selalu datang membelanya ketika ia melihat ada yang mengejek sekaligus menghina Dia.


Dari sini lah Dia kagum dengan Revan. Tapi sayang, setiap kali Revan menolongnya, ia tak pernah sekalipun bertanya tentang nama Dia. Hanya Dia saja yang tau tentang Revan bukan sebaliknya.


Revan melihat jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangannya. Sudah pukul sepuluh tepat. Seharusnya ini sudah saatnya pelajaran matematika berlangsung dan rapat guru juga baru saja berakhir dua menit yang lalu.


Revan dan siswa lainnya mengetahui bahwa rapat guru telah selesai dari pemberitahuan melalui speaker suara di sekolah.


Sebagian dari mereka berhamburan keluar dari kantin dan segera memasuki ruang kelas masing-masing.


"Dia, kakak masuk dulu ya. Kalau kamu mau, lanjutin aja makannya, udah kakak bayar kok."


"Uuhhmmm.... Makasih ya kak."


Ntah untuk yang ke berapa kalinya Dia mengucapkan terima kasih pada Revan hari ini.


Revan yang mendengar hal ini pun dengan senang hati cepat-cepat meninggalkan kantin demi kembali ke kelasnya dan memberi sedikit pelajaran pada dua sahabatnya yang ogeb itu.


Sebenarnya Revan juga sudah memiliki rencana untuk Dia, namun rencananya itu tidak terpakai karena ada alasan lain yang murni dan bisa ia pakai.


Bukannya Revan benci dengannya melainkan Revan bingung harus ngomong apa. Toh, sedari tadi ia cuman melihat Dia makan bakso dengan belepotan dan terlihat bolak-balik mengelap mulutnya menggunakan tisu yang telah di sediakan di atas meja. Dan hanya ada beberapa kesempatan yang kecil mungkin untuk bicara dengan Dia.


Revan berlari kecil menuju kelasnya meninggalkan Dia di kantin. Saat ia masuk nanti, habislah dua sahabatnya itu yang telah meninggalkan ia sendirian bersama Dia di kantin.


Eiitss... Habis disini bukan berarti berkelahi melainkan Revan juga memiliki rencana saat bel istirahat kedua berbunyi nanti khusus untuk dua sahabatnya.


                         ****


Kkrriinggg......


Bel pulang sekolah berbunyi menyisakan suara teriakan riuh dari para siswa setelah cukup jenuh dengan pelajaran yang menghantui mereka.


Semua siswa berhamburan keluar dari kelas dan ingin secepatnya sampai di rumah.


"Akhirnya, selesai juga hari ini. Begitu pulang gue langsung makan, terus santai di depan tv. Nenangin pikiran." kata Rio. Ia sudah merencanakan kegiatannya bahkan sebelum keluar dari gerbang sekolah.


"Aduhh..."


"Kenapa lo Rif?" Rio bertanya melihat Arif yang mengaduh kesakitan.


"Masih sakit ni lengan gue gara-gara dicubitin sama tuh cewek-cewek."


"Hahaha... Astaga gue pikir kenapa. Eh, sama sih pipi gue juga masih sakit tapi gak terlalu sampai segitunya."


Rio tertawa melihat tingkah Arif sedangkan Revan hanya menampilkan tawanya yang tipis saja.


"Tanggung jawab lo Van. Sakit bener ini."


"Diihhh enak aja, siapa suruh lo berdua ninggalin gue di kantin. Rasain tuh  kekuatan para cewek-cewek."


Revan tertawa sedikit mengingat tingkah konyol yang sahabatnya lakukan beberapa saat yang lalu ketika berada dalam jeratan para cewek-cewek.


Yaps, Revan sudah menjalankan rencananya untuk memberi pelajaran pada sahabatnya.


Seperti yang sudah dikatakan di awal ia tidak akan bertengkar hanya karena hal sepele tapi ia punya cara lain jika dua sahabatnya yang ogeb ini telah mengerjainya.


"Yo, Rif, gue duluan ya mau ketemu Sania." Revan berpamitan pada dua sahabatnya dan bersiap-siap mengeluarkan sepeda motornya dari parkiran.


"Iya hati-hati ya." Revan mengacungkan jari jempolnya sebagai jawaban.


"Harus ada perkembangan Van. Gue tunggu." begitu motor dinyalakan, Arif melambaikan tangannya bagaikan seorang anak kecil yang ditinggal pergi orang tuanya.


Revan yang melihat ini dari kaca spion, melengkungkan bibirnya membentuk senyuman. Setiap hari pasti selalu ada tingkah yang berbeda dari kedua sahabatnya itu.


Setidaknya Revan bersyukur karena Tuhan memberikan kedua sahabat yang setia yang bisa mengisi waktu bosannya dengan berbagai hal yang aneh. Dan Revan menganggap hal ini sebagai salah satu anugerah yang terindah dari Tuhan.


Revan melajukan motornya dengan kecepatan rata-rata, mengoyak lintasan jalan raya yang terlihat cukup ramai.


Ia membelokkan stang motor dengan lihainya mengikuti alur jalan yang ada. Revan hafal betul dimana letak rumah Sania.


Saat sudah sampai, Revan memarkirkan sepeda motornya di halaman depan rumah Sania, melepaskan helmnya dan mulai berjalan mengetuk pintu rumah.


"Assalamu'alaikum." Revan mengetuk pintu rumah dan mengucapkan salam berulang kali.


Tiga menit ia menunggu akhirnya keluarlah seorang wanita paruh baya dengan pakaian daster andalannya dan ranbut yang asal dicepol.


"Eh nak Revan. Mari-mari masuk nak."


"Makasih ya bi." Revan masuk menuruti perintah bi Neneng.


"Silahkan duduk. Ngomong-ngomong den Revan kemari mau cari non Sania ya." tebak bi Neneng.


Panggilan 'nak Revan' sekarang sudah berubah menjadi 'den Revan'. Panggilan yang pas mungkin menurut bi Neneng. Dan lebih sopan tentunya.


"Iya bi, kok bisa tau sih padahal Revan belum ngomong apa-apa."


"Oh ya, dimana Sania bi? Dari tadi gak keliatan." sambungnya.


"Oh jadi gini den, non Sania sama mamanya lagi pergi cek ke dokter."


"Cek? Cek apa bi?" Revan merasa terkejut mendengar Sania pergi untuk cek ke dokter. Apakah Sania punya penyakit serius? Atau jangan-jangan...


"Aduuhhh... Maaf den bukannya bibi bermaksud main rahasia-rahasiaan tapi non Sania ngelarang saya untuk memberi tahukannya. Tapi kalau den Revan mau tungguin non Sania ya silakan bibi izinin."


"Aduh Bibi jadi lupa, den Revan mau minum apa?"


"Air putih aja deh bi "


"Ok, tunggu ya."


Selang beberapa menit saja, bi Neneng sudah membawakan segelas air putih dan sedikit makanan ringan untuk Revan.


"Silahkan diminum."


"Makasih ya bi." Revan meminum air putihnya hanya seteguk karena ia juga tidak terlalu merasa haus.


"Bibi cuman sendirian di rumah?"


"Ya gitu deh den. Kalau non Sania dan mamanya pergi ya bibi sendirian di rumah."


"Lah bokap Sania kemana? Terus Sania gak punya saudara kandung gitu?"


"Aduuhh..  Den gimana ya bibi jawabnya. Kalau soal bokapnya Sania nanti tanya sendiri ya. Tapi Sania emang punya abang kok."


"Abang?"


"Ia abang. Cuman gak disini abangnya, ada di luar negeri."


"Maaf den, bibi lagi masak nanti masakannya gosong. Bibi tinggal dulu ya."


"Tunggu bi, Revan bantuin ya."


"Hah, emang den Revan bisa masak?"


"Yah, gak terlalu sih. Mungkin bisa belajar dulu sama bibi. Kalau bibi mau."


"Ya, mau dong den. Tapi gak papa nih kalau bantuin bibi masak? Kan den Revan tamu di sini."


"Gak papa bi."


"Ok deh, mari ke dapur."


Revan dan bi Neneng pergi ke dapur mempersiapkan makanan. Memang, Revan tidak terlalu yakin bisa memasak tapi mungkin ia bisa coba.


Ntah mimpi apa yang menghantui Revan tapi dengan tekad yang bulat, jelas ia ingin sekali membuatkan makanan untuk Sania walaupun tak diketahui Sania sama sekali.


Revan melihat berbagai macam bumbu masakan di atas meja. Terlihat bi Neneng yang begitu sibuk menyiapkan dan mencampur beberapa bumbu masakan lainnya.


"Apa yang bisa dibantu bi?"


"Hmmm.... Den Revan bisa motong wortel?" Tanya Bi Neneng seraya menunjuk beberapa wortel yang masih utuh tapi sudah dibersihkan.


"Ntahlah bi, mungkin bisa dicoba dulu."


Revan mengambil sebuah pisau dan mulai memotong sebuah wortel. Potongannya begitu besar, dan acak-acakan. Bi Neneng yang melihat ini tertawa dan mau tidak mau ia harus turun tangan untuk memperlihatkan contoh potongan yang sesuai dan ideal.


"Gini atuh den motongnya."


Bi Neneng memotong potongan wortel dengan ukuran yang pas juga rapi.


Revan yang melihat ini langsung mengerti dan mencoba melakukannya sendiri. Ia memotong wortel dengan hati-hati agar pisau itu mengenai sasaran wortel bukan tangannya. Bisa-bisa kalau salah motong habis juga jari-jari tangannya.


"Bibi mau masak apa sih? Ribet amat kayaknya motongin wortel beginian." Revan masih melanjutkan memotong wortelnya.


Kelihatannya sih  potongannya memang cukup rapi tapi tidak ada yang tahu Revan menggerakkan pisau dapur dengan susah payah dan kaku sebab ia jarang sekali berada di dapur untuk membantu masak kakak atau nyokapnya.


Tapi sekarang ia tahu betapa sulitnya hanya untuk memasak di dapur. Meracik bumbu, menghidupkan kompor, menggoreng, bahkan belum lagi jika salah menggoreng dan melemparkan makanannya dengan keras di atas wajan maka minyak panasnya akan menyiprat kemana-mana dan bisa melepuhkan kulit.


"Mau masak sayur sop." ujar bi Neneng membuyarkan lamunan Revan.


"Memangnya makanan favorit Sania sayur sop ya bi?"


"Oohh... Bukan den. Ini  makanan favoritnya nyonya. Kalau non Sania mah makan apa aja yang ada. Semua yang berbau kuliner dia suka. Mau makanan, minuman, cemilan, takjil, banyak lah pokoknya."


'Nyonya? Itu berarti nyokapnya Sania dong.' ucap Revan dalam hati.


"Anu.. Den, udah cukup wortelnya sekarang tinggal kentangnya yang harus dipotong." perintah bi Neneng.


Revan memotong kentang dengan hati-hati walaupun banyak potongan-potongannya yang hancur.


Cukup lama mereka berdua beraksi di dapur. Memotong bahan makanan, meracik bumbu-bumbu, kemudian  memasaknya.


Sampai akhirnya jadilah sebuah makanan yang diinginkan dan yang terpenting  bisa dimakan.


Revan membantu bi Neneng menyajikan makanan di meja makan. Sambil menunggu Sania pulang ia duduk di sofa, memainkan ponselnya, dan sesekali mengobrol dengan bi Neneng.


Ntah Sania  pergi untuk cek apa, Revan tidak tahu tapi yang pasti saat Sania pulang, ia bisa memakan masakan yang dibuat oleh dirinya dan bi Neneng.


Sebelumnya Revan memang sudah berkonsultasi dengan bi Neneng untuk tidak memberi tahukan Sania bahwa ia datang dan memasakkan makanan untuk dirinya. Biarlah menjadi rahasia yang terpenting ia ingin  Sania mencicipi dan menanggapi tentang masakannya. Walaupun ada sedikit kendala saat memasak tadi.


Revan melihat jam tangan di tangan kirinya, waktu  sudah menunjukkan pukul enam sore.


Sudah cukup lama ia berada di rumah Sania tapi sang pemilik rumah belum juga pulang dan menunjukkan batang hidungnya.


"Bi, Revan pamit ya. Udah jam segini. Inget juga jangan bilang sama Sania kalau Revan kemari. Sesuai kesepakatan."


Revan beranjak dari sofa. Menunggu persetujuan dari bi Neneng untuk di izinkan pulang. Begitu di izinkan, Revan langsung bergegas pulang ditemani bi Neneng yang mengantarnya sampai halaman depan rumah Sania. Baiklah mungkin hari ini ia belum bisa bertemu dengan Sania tapi besok pasti akan. Karena sesuatu yang membuat penasaran tidak boleh ditunda untuk bisa diselidiki.


______________________________________________