
Hari ini Sania sedang malas untuk melakukan sesuatu. Mamanya sekarang sedang kerja, bi Neneng juga sedang sibuk membereskan rumah. Bahkan guru privat nya, juga izin tidak bisa datang dan mengajar Sania seperti biasanya, karena Manda, anaknya yang berusia 6 tahun itu sedang sakit.
Jadi, Sania memutuskan untuk istirahat sebentar di kamar. Melakukan aktivitas seperti biasanya ketika semua orang sedang sibuk. Dulu kalau ada papa nya, ia akan bilang bahwa ia bosan di rumah, dan papa nya akan memberikan izin baginya untuk keluar rumah, walaupun hanya sekedar refreshing. Namun sekarang, semuanya sudah berubah. Tidak ada lagi yang sama.
Perlahan, Sania membuka buku diary miliknya. Buku berukuran sedang, dan bewarna hitam dihiasi beberapa bunga di atas nya, membuat buku tersebut kelihatan elegan. Ia mulai membuka lembaran kosong di dalam nya, dan mulai menulis beberapa kalimat yang mengganjal di pikiran.
Selasa, 12 Desember 2017
Hai Pa. Papa apa kabar? Aku harap papa baik-baik aja ya disana. Pa, aku sedang bosan. Semuanya pada sibuk. Aku ingin menelpon bang Sani, tapi aku lupa dia kan sedang sibuk dengan skripsi nya juga. Hufftt... Biasanya papa akan duduk di sampingku, lalu mengacak rambut ku. Setelah itu, baru papa mengizinkan aku keluar walaupun hanya sebentar, sekedar refreshing papa bilang. Benar kan pa? Aku selalu rindu masa-masa bersama papa. But sorry, I can't repeat them anymore. Pa, aku mau cerita mengenai seorang laki-laki. Aku rasa jika papa ada di sampingku sekarang, papa akan tertawa terbahak-bahak bukan, melihat anak perempuan nya berani menceritakan seorang laki-laki. Tapi tenang pa, dia berbeda. Tidak sama seperti Alvin. Aku juga tidak tahu bagaimana mendeskripsikan dirinya. Dia aneh pa. Sania terus menjauh, tapi dia semakin mendekat. Terkadang Sania takut, takut untuk percaya sama orang lain lagi pa. Sama seperti kesalahan yang pernah Sania lakukan dulu. Tapi, papa tau entah kenapa untuk dia semuanya terasa berbeda pa. Dia tau tentang aku. Bahkan semenjak aku kecil. Oh iya, seharusnya aku lagi marahan sama papa. Papa curang. Kenapa papa menceritakan aku kepada orang lain tanpa sepengetahuan ku? Lihat pa, sekarang si laki-laki itu tahu semuanya tentang aku, tanpa aku beri tahu lagi. Dia juga banyak menceritakan tentang papa. Ada banyak hal yang tidak aku tahu pa, semua pertanyaan banyak muncul di kepala ku. Layaknya benang kusut. Aku butuh seorang penjahit yang handal untuk bisa meluruskan benang kusut itu pa. Dan aku yakin, seorang penjahit yang handal itu sudah aku temukan. Perlahan, benang kusut itu akan kembali seperti sedia kala pa. I believe with that.
Tulisan di buku Sania tiba-tiba terhenti, ketika telinga Sania menangkap sebuah suara yang sangat familiar bagi nya.
"Non, makan dulu. Dari tadi pagi non belum makan. Nanti sakit lagi loh non."
"iya bi."
Terlalu bosan dan terlalu fokus menulis, membuat Sania lupa bahwa dirinya belum makan sama sekali hari ini. Sania menutup buku diary miliknya, lalu membuka pintu kamar. Kemudian menampilkan seulas senyuman melekuk di bibirnya.
"Maaf bi, Sania lupa makan. Keasikan menulis sih bi."
Sebuah senyuman berganti menjadi sebuah cengiran di wajah nya. Sania kemudian perlahan menggerakkan kursi rodanya ke meja makan. Terlihat sudah tersedia satu piring nasi beserta lauk pauk nya dan segelas air putih di meja. Selalu saja begini, bi Neneng selalu mempersiapkan semuanya. Agar nantinya Sania tidak akan kerepotan. Terkadang Sania merasa tidak enak pada orang-orang di sekelilingnya, dia selalu saja merepotkan mereka. Padahal Sania bukanlah anak perempuan yang masih duduk di kelas 2 SD. Ia sudah besar. Sudah hampir berumur 17 tahun, namun tetap saja hidupnya masih sering bergantung dan merepotkan orang lain.
Satu sendok nasi tersuap ke mulut Sania. Ia benar-benar bingung, apa yang akan dilakukan setelah ini. Yang ada di kepalanya sekarang hanyalah, makan, menulis, membaca, dan mengerjakan soal-soal latihan untuk persiapan ujian kelas 12 nanti. Selain itu, tidak ada rencana lain yang terlukis di kepala nya.
"ini bi." Sania menyerahkan piringnya untuk dicuci bi Neneng. Ia benar-benar tidak bisa mencuci piring. Bukan, bukan karena dia anak manja ataupun takut kukunya akan lecet. Tapi tempat untuk menyuci piring lumayan tinggi. Jadi, agak sulit untuk Sania memutar keran air nya.
Membaca sudah, menulis juga sudah. Sekarang saatnya ia mengerjakan soal-soal latihan di bukunya. Mumpung jarum jam masih menunjukkan pukul 11 siang, akan ada banyak waktu baginya untuk membahas soal-soal latihan.
Baru lima soal yang ia kerjakan, tiba-tiba dirinya teringat akan Revan. Sedang apa dia sekarang? Sedang belajar, tidur di kelas, atau bahkan mungkin bolos.
'Ah, ada-ada saja, kenapa pikiran gue lari ke dia.' gumam Sania dalam hati.
Rasanya sedikit aneh, ketika dirimu membayangkan orang yang baru saja kamu kenal. Padahal kamu baru beberapa kali jumpa dengannya. Bahkan pertemuan nya masih bisa dihitung menggunakan jari.
Sania mencoba untuk tidak menghiraukan pikiran nya. Lagian, kalau dipikir-pikir tidak akan mungkin seorang Revan datang ke rumah nya. Dia kan sedang sekolah. Matanya kembali fokus untuk menyelesaikan permasalahan yang ada pada soal di buku paket. Cukup sulit memang. Soal matematika. Ada satu soal yang membuatnya bingung, benar-benar tidak tahu bagaimana cara mendapatkan jawabannya. Cukup lama Sania mencari jawaban, menggaruk-garuk kepalanya yang bahkan sama sekali tidak gatal. Ia hanya bingung. Bagaimana mungkin soal ini tidak memiliki jawaban.
Lima belas menit sudah, Sania berkutat dengan soal tersebut. Tetap saja, ia tidak bisa menemukan jawabannya. Entahlah, ada apa sebenarnya dengan Sania. Entah kepalanya yang salah tingkah, atau memang soalnya yang sengaja berulah. Sania juga kelihatan tidak peduli dengan hal disekitarnya. Yang ia inginkan sekarang, hanya lah bisa mendapatkan jawaban dari semua kebingungan yang ditimbulkan soal tersebut.
Ia benar-benar tidak peduli, apakah ada maling yang masuk ke rumah, atau bahkan ada pangeran yang sedang melakukan atraksi terjun payung dan jatuh ke atap rumahnya. Terlalu fokus. Itu yang ia kerjakan. Sampai-sampai ia tidak sadar, ada seseorang yang memperhatikan nya dari belakang. Seseorang yang sengaja senyum-senyum sendiri melihat Sania kebingungan. Baginya, raut wajah Sania sekarang sangatlah berbeda seperti biasanya. Momen yang tidak boleh dilewatkan. Andaikan saja ia bawa kamera, ia pasti akan mengabadikan momen langka ini. Sania terlihat cantik, atau bahkan lebih cantik daripada biasanya.
Pandangan orang tersebut sekarang beralih ke soal yang sedang dikerjakan oleh Sania. Soal yang mudah menurutnya. Tapi sayang, gadisnya ini tidak bisa menemukan jawaban sama sekali.
"Jawabannya 4x-y-9\=0"
"Astaga, Revan!!!!!"
Sania terkejut melihat sesosok makhluk berdiri di belakangnya. Terlebih lagi, suara Revan benar-benar mengagetkan nya. Untung saja dia tidak mempunyai riwayat penyakit jantung.
"Sorry, gue ngagetin ya tuan putri?"
Tuan putri? sejak kapan panggilannya berubah menjadi tuan putri? Nama nya Sania, cukup dipanggil Sania saja. Bukan tuan putri. Tapi, entah kenapa panggilan itu terasa nyaman di telinganya. Tidak bisa ia pungkiri, Revan selalu mempunyai sejuta cara untuk bisa membuatnya tersenyum.
Namun, Sania masih tetap berusaha menyembunyikan senyuman. Ia tidak mau Revan beranggapan bahwa ia sedang salah tingkah. Enak saja dirinya memberikan senyuman, sedangkan perasaannya saja masih tidak karuan karena dikejutkan oleh Revan.
"Sejak kapan lo disini?"
"Sekitar sepuluh menit yang lalu mungkin"
Hah, sepuluh menit? Itu berarti saat Sania sedang keras-keras nya berpikir menemukan jawaban. Reaksi muka nya pasti sangat acak-acakan. Duh, memalukan sekali.
"Hah, kok lo bisa masuk? Kan pintu rumah gue ketutup. Lo masuk dari mana?"
"Dari jendela kamar lo."
"Kamar gue?" Alis Sania mengerut. Ia akui jendela kamarnya memang terbuka tadi. Apa benar, jangan-jangan Revan masuk dari sana.
"Makanya jangan fokus banget tuan putri." Ucap Revan sambil mengacak rambut Sania dan mengubah posisi duduknya di samping Sania sekarang. Ia duduk di sofa, dengan tangan yang bertopang di dagu, matanya belum bisa teralihkan dari Sania.
"San,ternyata kalau berpikir muka lo bisa berubah gitu ya. Cantiknya makin bertambah. Bikin gue gemas terus." sambung Revan. Tangannya sekarang sudah tidak bertopang pada dagu lagi, ia mengubah posisi duduknya berhadapan dengan Sania, sedikit intens agar dia bisa melihat lebih dekat wajah tuan putrinya.
Hening. Tidak ada jawaban dari Sania. Dengan cepat, ia mengalihkan pandangannya ke buku. Pura-pura sibuk mengerjakan soal, padahal yang ia lakukan dari tadi hanya lah mencoret-coret kertas. Dirinya sedang tidak bisa berpikir sekarang. Kenapa sih Revan harus ada di sampingnya.
"Cieee blushing ya...."
"Ha, siapa yang blushing. Pipi gue gak merah kok."
"Oh ya?"
"Iya lah. Gue... gue tadi pakai blush on, makanya pipinya merah."
"Oohh gitu, sejak kapan ya seorang Sania suka bermake-up?"
"Revan!!!! Lo itu ya suka banget buat orang marah." spontan Sania menutupi wajah dengan kedua tangannya. Ia malu. Malu karena ketahuan kalau pipinya sudah mirip kepiting rebus.
"Cieee salting. Hahahaha....." Revan tertawa terbahak-bahak, ia terus memegangi perutnya. Betapa bahagianya ia melihat tuan putrinya salah tingkah seperti itu. Sedangkan Sania, ia berusaha untuk bisa terbang saja ke angkasa agar tidak bisa dilihat oleh Revan. Agar Revan tidak bisa lagi mengganggu nya. Ah atau mungkin ke planet Pluto saja ya, biar sekalian benar-benar menghilang dan tidak terlihat selama nya.
Ingin sekali Sania marah, namun tidak bisa. Revan selalu punya cara untuk bisa meredam kemarahannya. Tertawa Revan masih terus berlanjut, belum berhenti. Melihat Revan seperti ini, ada rasa aneh yang menjalar di tubuh Sania. Rasa yang tidak pernah lagi ia rasakan semenjak papa nya meninggalkan dirinya untuk selamanya. Tersadar akan suatu pertanyaan yang terbesit di benak nya, Sania mencoba memberanikan diri bertanya. Sekaligus mencoba untuk menghentikan tertawa Revan.
"Emm... Van. Lo kok gak sekolah? Lo bolos lagi ya? Ini masih jam 12 loh Van. Kan udah gue bilang, lo jangan suka bolos. Lo gak kasian apa sama orang tua lo? Mereka kerja keras siang malam buat menuhin kebutuhan lo, termasuk dalam hal pendidikan. Tapi lo malah gini. Hargai usaha mereka Van. Sebentar lagi lo kelas dua belas. Jangan main-main. Susah bener sih jelasin sama lo."
Revan tak mengeluarkan satu patah kata pun. Ia hanya diam, sambil senyum-senyum sendiri. Mungkin sudah seperti orang gila senyumannya. Ia tahu Sania habis-habisan memarahi dirinya. Tapi ini hal yang paling ia suka. Melihat Sania mengomel, kembali mau berbicara dengan orang lain. Ini yang dia mau, Sania kembali menjadi gadis normal seperti yang lainnya.
"Udah marah-marah nya tuan putri?"
Bukannya marah, Revan malah menanyakan hal ini pada Sania. Seharusnya Revan marah bukan, sebab Sania sudah memarahi Revan habis-habisan. Semakin lama Sania tidak tahu, apakah Revan manusia normal atau bukan. Ada banyak hal yang tidak bisa ia tebak dari dalam diri Revan.
"Udah belum?"
"U...Udah"
"Jadi gini loh tuan putri, gue bukannya bolos. Murid di sekolah gue sengaja dipulangkan cepat, karena ada pertandingan persahabatan futsal antar sekolah lain di lapangan sekolah gue. Jadi, diharapkan murid-murid bisa mendukung sekolah masing-masing, makanya pada dipulangin. Lain kali kasih jeda ya tuan putri kalau ngomong, jangan langsung ngedumel aja."
"Iya, maaf. Jadi kenapa lo gak ngedukung sekolah lo? Kenapa malah disini?"
"Males."
"Kenapa?"
"Alasan pertama, gue bukan anak futsal. Gue anak basket. Alasan kedua, gak enak. Gak ada yang bisa gue liat disana. Para pemainnya ganteng semua. Gak ada yang cantik. Kalau disini kan beda, ada lo. Ada makhluk yang cantik, makhluk yang beda dari yang lainnya."
Astaga Revan, alasan seperti apa ini. Benar-benar klise. Mana ada alasan seperti itu. Seharusnya ia berada di sekolah bukan di sini. Percaya lah, semakin lama Revan berada di rumahnya, akan semakin sering wajah Sania blushing. Rencana apalagi ini Tuhan?
"Oh iya, gue tadi belum ngajarin lo kan dari mana bisa dapat jawaban ini. Sini buku lo."
"Gak. Jawaban lo sesat semua. Gak mau gue. Lo aja sering bolos."
Revan menaikkan salah satu alisnya. Polos sekali tingkah Sania. Ingin sekali ia memasukkan Sania ke dalam bingkai foto, dan memajangnya di kamar agar bisa melihat wajah polos Sania setiap hari.
"San, bolos bukan berarti bodoh. Lo gak bisa selamanya mengecap bahwa orang yang bolos itu beneran bodoh. Udah sini buku lo."
Dengan penuh keraguan, Sania memberikan buku tulisnya pada Revan. Disana Revan sibuk menulis sebuah rumus dan bagaimana cara menyelesaikan soal yang Sania tidak bisa jawab tadi. Awalnya ragu, namun keraguannya dijawab oleh Revan. Tidak mungkin ia memberikan jawabannya sembarangan, buktinya saja Revan mampu menuliskan cara penyelesaiannya secara lengkap.
"Jadi gini, pertama lo harus catat apa yang diketahui dulu. Di soal yang diketahui hanya gradien nya 4, dan y nya yaitu x²-2x. Abis itu lo masukin deh ke rumus, m\=dy dibagi sama dx. Nah dy per dx ini merupakan turunan dari fungsi y, jadi turunan nya itu 2x-2. Udah deh, sekarang lo masukin semua angka nya ke rumus. Berarti 4\=2x-2 maka, x nya itu 3. Terus Lo substitusi si x nya ke fungsi y dan akan dapat hasilnya itu y\=3. And the last, tinggal lo masukin ke rumus persamaan garis singgung kurva nya, y-y1\= m (x-x1). Jadi, y-3\= 4 dikalikan dengan (x-3). Hasilnya nanti y-3\= 4x-12. Finally, lo akan dapat hasil akhirnya nanti 4x-y-9\= 0. Do you understand tuan putri?"
"Yes, I do. Pintar juga lo ternyata. Gue pikir lo gak bisa jawabnya."
"Gak heran kok San. Semua orang bilang begitu. Gak akan ada yang percaya kalau gue pintar, kecuali keluarga gue doang. Satu hari nanti, gue akan kasih tau lo, rahasia gue. Kalau waktunya sudah tepat ya tuan putri."
Lagi, entah yang keberapa kalinya Revan tersenyum pada Sania hari ini. Ada perasaan yang tidak biasa dalam dirinya. Dan mengenai rahasia? Rahasia apa yang ingin Revan sampaikan. Apakah hidup Revan sama seperti dirinya? Yang mempunyai seribu satu rahasia tak terungkap. Sania juga tidak paham apa yang sudah direncanakan Tuhan dan semesta padanya.
________________***_____________***___________