
Beberapa hari sudah berlalu semenjak Revan datang ke rumah Sania dan membantu bi Neneng masak.
Meskipun ia tidak bisa bertemu dengan Sania waktu itu tapi kali ini ia yakin bisa bertemu dengannya.
Ketika Revan hendak bersiap-siap ingin berangkat, pintu kamar Revan terbuka. Memang ia tadi tidak mengunci pintunya. Toh, sebentar lagi sudah mau berangkat.
Seorang anak perempuan kecil dengan rambut panjangnya yang lurus, bola mata yang berwarna
biru muda, tinggi yang juga ideal sesuai anak seumurannya, bahkan ditambah manis lagi dengan dress selututnya dengan warna biru muda ditemani polkadot putih di sekeliling dress mendekat ke arah Revan dan menarik segelintir baju bagian bawah Revan.
"Abang... Mau pergi ya?"
"Iya Nisa. Tau aja abang lagi mau pergi."
"Ikut."
"Hah, ikut? Jangan Nisa."
"Tapi Nisa mau ikutt!!!" rengeknya.
Revan berlutut di hadapan Nisa, melihat iris mata Nisa yang menunjukkan permohonan. Nisa sengaja memasang puppy eyes agar hati abangnya itu bisa luluh dan ia bisa ikut pergi.
"Abang, Nisa rindu ama kak Sania. Abang gak rindu?"
Ucapnya sambil memegang kedua tangan Revan.
Revan mengangguk mengisyaratkan dirinya juga setuju dengan Nisa.
"Nisa mau ketemu kak Sania gak?" Nisa menampilkan seulas senyum dan mengangguk antusias.
"Nisa mau main sama kak Sania?" Lagi, anggukan Nisa lebih semangat kali ini, bahkan senyumannya lebih lebar.
"Ke rumah kak Sania yuk."
"Ayuk. Yee... Ke rumah kak Sania!!! Ye ye ye.... Ye.." ujar Nisa kegirangan.
Nisa begitu senang ingin bertemu dengan Sania. Ia melompat kegirangan dan sesekali berteriak. Suaranya bahkan bisa terdengar sangat jelas dari kamar Revan.
Revan tersenyum melihat tingkah laku adik kesayangannya ini, ia menghentikan lompatan Nisa dan mengacak rambutnya.
"Udah sana siap-siap. Harus kelihatan cantik. Nanti kalau abang udah siap, abang ke kamar Nisa."
"Gak mau. Nisa udah cantik juga. Kan baru siap mandi. Berangkat sekarang yuk bang."
Nisa menarik tangan Revan agar cepat berangkat tetapi Revan tidak bergerak sama sekali dari tempatnya membuat Nisa sedikit kesal dengan abangnya ini.
Nisa menatap abangnya dengan tatapan horror. Heran abangnya tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya.
"Yakin gak mau siap-siap?"
"Iya abangg!!"
"Yakin?" pertanyaan Revan membuat bola mata Nisa berputar, capek menanggapi abangnya.
"Iyaaaa!!! Ayuk dong bang...."
"Yakin mau keluar tanpa alas kaki? Mau kaki ayam ke sananya?"
Nisa melihat kakinya yang bersih, tak terbalut apapun. Ia lupa untuk memakai alas kaki, karena begitu antusias ingin bertemu dengan Sania.
"Hehehe... Lupa bang. Ke kamar Nisa dulu ya, ngambil sandalnya."
"Iya sayang. Sini abang gendong."
Revan menggendong adiknya keluar dari kamarnya. Seusai menutup pintu kamar, mereka berdua berjalan ke kamar Nisa untuk mengambil sandal yang akan Nisa pakai nantinya.
Begitu sampai, Nisa melihat sepatu dan sandal miliknya yang tersusun rapi di rak sepatu. Ia memilih kira-kira sandal mana yang akan cocok dengan dress yang ia kenakan.
Nisa melihat sepasang sandal yang berada di barisan paling ujung. Sandal yang sederhana dengan corak warna gold, terdapat pita yang selaras dengan warna sandalnya yang terletak di bagian ujung, juga beberapa tali sebagai pengaitnya dan satu tali yang terletak di bagian tengah sebagai pemanisnya juga.
Revan membantu adiknya memakai sandal, sedangkan Nisa memegang bahu Revan agar tetap bisa berdiri seimbang saat abangnya membantu memasangkan sepasang sandal.
Nisa lebih memilih sandal daripada sepatu karena menurutnya memakai sandal akan lebih bebas bergerak dan terkesan casual.
Nisa melihat topi pantainya yang berada di hadapannya, tergantung di gantungan khusus topi. Ia berpikir sejenak lalu melihat ke arah Revan.
"Bang, Nisa pakai topi itu gak papa kan?" ucapnya seraya menunjuk topi yang berada di belakang Revan.
"Boleh." Revan mengambil topi persis sesuai yang Nisa katakan. Topi yang bundar, bewarna coklat muda, dan terdapat segelintir tulisan di bagian pinggirnya.
Revan memakaikan topinya dan menggendong Nisa kembali keluar dari kamar dan bersiap-siap untuk berangkat.
Saat menuruni tangga, Fany berbalik menatap Revan dan Nisa dengan tatapan heran.
"Mau kemana?" tanyanya ketika melihat mereka berdua sudah berada di lantai bawah.
"Mau ke rumah kak mmphh..."
Mulut Nisa dibungkam oleh tangan kanan Revan, mengisyaratkannya untuk diam dan tidak memberi tahukan Fany.
Melihat tingkah mereka bedua, Fany mengerutkan keningnya, membentuk alisnya saling bertautan satu sama lain.
Sepertinya mereka sudah benar-benar kompak agar tidak memberi tahukannya.
"Mau jalan-jalan kak." jawab Revan.
"Kemana?"
"Ke..."
"Kemana-mana." sambung Nisa memotong ucapan Revan. Ia benar-benar menolong abangnya saat ini.
"Nisa sayang, kamu mau pergi sama abang?" Nisa mengangguk.
"Kakak izinin, tapi kalau abang nanti tingkahnya udah mulai kayak kucing garong bilang sama kakak ya." ucap Fany sambil mengusap wajah Nisa dengan lembut dan tak lupa memberi tatapan mengintimidasi pada Revan.
"Kucing garong? Emang gue seganas itu apa?"
"Au ah."
"Udah dong, gak pergi-pergi nanti. Kakak, Nisa kan sama abang kakak gak usah kuatier."
"Hh.." Fany menghela nafas.
"Khawatir sayang."
"Iya itu maksud Nisa."
"Van, jagain Nisa ya. Awas lo kalau sampai dia kenapa-napa." ancam Fany.
"Iya, iya kakak ku sayang... kita pergi dulu ya."
"Hmmm..." Fany hanya menjawabnya dengan gumaman.
"Dada kak Fany... Dah..." Nisa melambaikan tangannya dengan semangat di balik gendongan Revan, dan dibalas lambaian tangan juga oleh Fany.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil, mengendarainya keluar dari rumah. Revan melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata, karena ia juga tahu betapa pentingnya keselamatan saat sedang berkendara.
Tidak baik mengendarai kendaraan dalam keadaan mengebut, sebab ia tahu 'mengebut juga berarti maut'.
Tidak butuh waktu yang cukup lama untuk bisa sampai ke rumah Sania.
Jalanan memang sedikit lengang, meskipun banyak kendaraan yang lalu lalang, tetapi syukurlah tidak menyebabkan kemacetan.
Nisa yang paling pertama keluar dari mobil begitu sampai di rumah Sania. Ia berlari ke teras rumah tanpa menunggu abangnya datang.
"Assalamu'alaikum. Kak Sania... Permisi....." Nisa mengetuk pintu rumah Sania, dan memanggilnya dengan sopan. Ia telah diajari oleh orang tuanya agar jika berkunjung ke rumah orang, haruslah bersikap sopan dan tidak boleh asal bicara.
"Permisi... Sania..." Revan sudah turun dari mobilnya dan sekarang ia juga berdiri sejajar dengan Nisa membantunya untuk mengetuk pintu rumah agar penghuni rumah ke luar.
Gagang pintu terputar menandakan ada seseorang di balik pintu yang sedang membuka pintunya.
"Iya ada apa ya?"
Seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah, menyambut kedatangan tamu-tamunya.
"Oh, hai tante. Sania ada gak?"
"Ada. Kamu siapanya Sania ya?"
"Saya temannya tante, Revan dan ini adik saya, Nisa. "
"Halo tante...." Nisa tersenyum melihat seorang wanita di hadapannya.
"Ehhmmm... Silakan masuk duduk dulu biar tante panggil Sania ya. Ayo.. Silakan duduk."
Putri mempersilahkan kedua orang di hadapannya untuk duduk, bersantai sejenak di kursi yang telah disediakan di ruang tamu.
"Sebentar ya, Sania!!! Sayang!!!" Putri bergerak meninggalkan tamunya dan menjemput Sania di kamar tidur anaknya itu.
Pintu terbuka, memperlihatkan seorang anak gadis yang sedang membaca sebuah buku di atas kursi rodanya.
"Iya ma."
"Ada tamu. Katanya sih teman kamu. Sama anak kecil juga."
"Teman? Anak kecil? Siapa?"
"Katanya sih namanya Nisa sama... Aduh... Lupa mama namanya."
"Revan. Nisa sama Revan maksud mama."
"Hah iya, itu maksud mama. Kamu kenal? Kalau kenal jumpai dulu gih biar mama siapin cemilannya."
Sania keluar kamar dengan kursi roda ditemani Putri yang mengikuti di belakangnya.
"Nisa."
"Kak Saniaaa...."sorak Nisa sambil berlari memeluk Sania.
"Nisa rindu." ucapnya setelah melepaskan pelukan dari Sania.
"Kakak gak rindu sama Nisa?" tanyanya lagi.
"Rindu dong sayang." Sania menyubit pipi Nisa dengan gemas. Sehingga membuat pipinya melebar.
"Duduk dulu. Biar tante siapkan makanan sama minumannya ya."
Begitu Putri melesat pergi, Sania mengajak Nisa untuk kembali duduk dan berbincang-bincang.
"Kakak kenapa gak pernah ke rumah Nisa? Nisa kangen banget tau. Untung abang tau rumah kakak dimana. Jadi, Nisa mintak ikut sama abang."
Sania mengacak poni rambut Nisa. Gemas melihat tingkah anak kecil di hadapannya. Masih sama seperti saat pertama kali ketemu. Polos, lugu, suka bercerita, ceria, dan selalu menyampaikan apa yang ada di pikirannya.
"San, kita kemari mau ngajak lo jalan-jalan. Mau gak?"
"Jalan kemana?"
"Ke taman mungkin. Itupun kalau lo mau."
Sania tampak berfikir sejenak. Ia merasakan guncangan di tubuhnya. Lebih tepatnya seseorang yang sedang mengguncang tubuhnya.
"Ayok dong kak. Ya, ya, ya... Please..."
"Hhmm..."
"Iya, makasih ya tante."
"Kalian pada ngomongin apa?"
"Ah iya tante. Kita mau ngajak Sania ke taman boleh gak? Ya, taman deket-deket sini aja sih. Itupun kalau tante ngizinin."
Putri melihat Sania sebentar, lalu ia tersenyum. "Boleh-boleh aja, tapi ada syaratnya."
"Syarat apa? Saya setujuin kok tante."
"Bentar ya, bi.. Bi Neneng.. Bi!!!"
"Iya nyonya, ada apa?"
"Nah, syaratnya bi Neneng harus ikut kalian. Biar dia bisa jagain Sania. Revan, tante tau kamu temannya Sania tapi tante cuma gak mau aja sesuatu buruk terjadi sama anak tante. Jadi untuk mengantisipasinya, bi Neneng harus ikut. Bukannya tante gak percaya sama kamu, tante cuma mau menjaga Sania aja. Ok?" jelas Putri
"Ok, boleh juga. Kalau gitu bi Neneng sama Sania siap-siap aja dulu. Kita nunggu di sini."ujar Revan menyetujui syarat yang telah diberikan
"Anu, maaf bibi masih gak ngerti. Bisa dijelasin gak?" pinta bi Neneng. Jujur ia benar-benar tidak mengerti dengan situasinya. Mungkin kurang peka kali ya. Dia juga bahkan tidak tahu kenapa ia di setujui sebagai syaratnya.
"Jadi gini bi, bibi bakalan ikut kita ke taman. Temenin Sania. Jadi, bibi harus siap-siap dulu. Kita tunggu disini."
"Oh gitu, masih kurang ngerti sih bibi tapi ya sudahlah bibi siap-siap dulu. Tunggu ya." bi Neneng melesat pergi ke kamarnya, mengganti baju dan mengoleskan sedikit bedak pada wajahnya.
Begitupun dengan Sania, ia juga melesat pergi ke kamarnya. Awalnya Sania benar-benar ragu untuk ikut tapi ucapan mamanya selama ini mungkin benar. Tidak semua orang itu sama. Kalau kita terus menerus menutup diri dari dunia, kita bakalan frustasi dan semakin membuat rasa ketakutan itu menjadi lebih besar bahkan bisa sampai kehilangan akal.
Tidak ada salahnya juga jika kita sedikit demi sedikit membuka mata, melihat dunia, dan menghilangkan tanggapan yang sama tentang sikap semua manusia. Mungkin Tuhan juga mengirimkan Revan dalam hidupnya, untuk menghilangkan rasa takutnya, dan mengakhiri cobaan ini. Sebab Tuhan tidak pernah memberi cobaan yang tidak mempunyai solusi dan melebihi batas kemampuan umat Nya.
Sambil menunggu Sania, Putri mengajak Revan berbincang-bincang sebentar. Mulai darimana bisa kenal dengan Sania, seberapa sering ke rumah Sania, sampai menanyakan tentang Nisa.
Menunggu Sania bersiap-siap tidaklah butuh waktu yang lama. Baru beberapa menit mengobrol, Sania sudah keluar dari kamarnya dan sudah berhadapan dengan mereka semua.
Dengan perpaduan long cardigan abu-abu, capri pants hitam, dan sepatu sneakers putih terlihat sempurna di tubuh Sania.
Simple, tapi mempesona. Hanya dengan pakaian yang casual tetapi bisa menimbulkan pikiran yang luar biasa dalam benak Revan.
Sania hanya menunduk dan sesekali tersenyum. Ia sedikit merasa risih dengan tatapan Revan.
Pertama kalinya setelah kejadian itu, ada seorang laki-laki yang mengajaknya keluar. Bahkan di ajak kakak sepupunya saja Sania tidak mau.
"Udah bisa berangkat sekarang?" tanya Revan.
Bi Neneng mengangguk dan mendorong kursi roda Sania keluar rumah. Sebelum memasuki mobil, Revan menyalami tangan Putri dan mengucapkan salam. Sania yang melihat ini terkejut, tidak biasanya ada yang ingin mencium tangan mamanya. Apa ini...... Ah sudahlah jangan berpikiran yang tidak-tidak.
Melihat Revan yang telah selesai menyalami tangan Putri, Sania juga melakukan hal yang sama. Mengucapkan salam dan meminta izin pada mamanya.
Putri yang melihat ini juga merasa senang. Akhirnya Sania berani untuk keluar dengan temannya meskipun ditemani dengan bi Neneng.
"Revan, kamu harus antar Sania pulang pukul lima sore tepat ya." perintah Putri sebelum mereka pergi.
"Ok tante." Revan mengacungkan dua jari jempolnya lalu masuk ke dalam mobil. Ia membunyikan klakson mobil, setelah itu mengendarainya keluar dari rumah.
Selama perjalanan, ocehan Nisa lah yang senantiasa memenuhi suasana mobil. Nisa bercerita pada Sania tentang sekolahnya, teman-temannya, tugas sekolah, dan tak lupa ia juga mengundang Sania agar berkunjung ke rumahnya, kemudian bisa membantunya mengerjakan tugas sekolah.
Setidaknya Sania bersyukur ada Nisa di dalam mobil, perjalanan mereka yang cukup memakan waktu tidak terasa.
Sania masih merasa gemas dengan Nisa, mengoceh dengan semangat, bercerita dengan jujur, Revan juga sesekali ikut nimbrung, menyambungkan cerita sehingga terdengar semakin lucu. Mungkin tanpa Sania sadari, Revan sedari tadi meliriknya dari kaca di dalam mobil. Senyuman Sania yang begitu tulus, sumringah, lebar, saat mendengar cerita Nisa membuat Revan semakin memantapkan tekadnya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup Sania. Juga membuatnya yakin bahwa Sania memang gadis yang berbeda di anatara seratus juta gadis di bumi.
***
"Bang, mau beli es krim." Nisa menarik-narik baju Revan memegang tangannya kemudian mengarahkan pada penjual es krim yang tak jauh dari mereka.
Taman kelihatan ramai, suara hiruk pikuk dari orang-orang yang berkunjung untuk menyegarkan pikiran, jogging, ataupun menghabiskan waktu dengan orang yang tersayang bisa terdengar di segala sisi.
Para pedagang yang menyuarakan dagangan mereka dengan semangat, ada pedagang mainan yang memainkan beberapa mainan yang dijualnya demi untuk menarik minat anak-anak agar membeli, juga ada pedagang makanan yang membunyikan alat andalan mereka sebagai penanda bahwa mereka sudah datang dan sedang menunggu calon pembeli yang berminat.
Begitupun dengan pedagang es krim yang membunyikan musik andalannya selama ia berjualan di taman dimana sukses mengundang Nisa untuk segera membelinya.
"Ia-ia Nisa sabar." Revan mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan kemudian memberikannya pada Nisa. Dengan sigap, Nisa langsung mengambilnya lalu bergegas pergi ke tempat dimana dijual es krim.
"Om, Nisa beli es krim rasa cokelat."
"Ok. Bentar ya dek." si penjual es krim segera mengambil tempat es krim, lalu mengambil beberapa centong es krim rasa cokelat untuk diletakkan ke dalam tempat yang telah disediakan.
Selesai, Nisa mengambil es krim dari tangan penjual es krim setelah itu menyodorkan uang dan menunggu kembaliannya.
Revan, Sania, dan bi Neneng terpaksa menunggu Nisa. Ia juga tidak bisa melepas Nisa begitu saja. Bagaimanapun Nisa tetaplah adiknya dan sebagai abang, ia harus menjaga adiknya agar tetap aman dimanapun berada.
"Abangg... Nih makasih ya." Nisa menyerahkan uang kembalian pada Revan. Ia ingin memakan es krimnya tapi sebelum es krim itu masuk ke dalam mulut lalu dirasa oleh lidahnya, semua itu terhenti karena suara Revan.
"Enak aja cuman bilang makasih. Gak gratis tau." Nisa mengerucutkan bibirnya dengan malas. "Sebagai bayarannya, Nisa harus cium pipi abang yang kanan sama yang kiri. Baru lunas."
Bibir yang mengerecut sekarang melebar membentuk lengkungan sebuah senyuman. Nisa melihat abangnya membungkuk berusaha menyejajarkan tinggi dengannya. Kemudian, Nisa mencium pipi kanan dan kiri Revan.
"Udah. Boleh Nisa makan es krimnya?"
Revan mengangguk sambil sesekali mengacak rambut Nisa. Sania dan bi Neneng tertawa melihat tingkah polos Nisa dengan abangnya.
Hampir sedikit lagi, Nisa memakan es krimnya tetapi terhenti lagi. Revan menaikkan kedua alisnya, melihat adiknya dengan penuh tanya. Tanpa di duga Nisa berjalan ke arah Sania, lalu menyodorkan es krim miliknya di depan wajah Sania.
"Kak Sania makan." pintanya.
Sania menatap es krim yang berada tak jauh darinya, lalu kembali melihat Nisa yang masih setia memegang es krimnya.
Dengan penuh senyuman, Sania memegang es krim lalu membalikkan arah es krim itu ke arah Nisa.
"Nisa makan dulu, baru kakak makan."
"Gak mau." tolaknya. "Kak Sania dulu yang makan baru Nisa makan. Gantian. Kakak suka es krim cokelat kan, makanya Nisa beli jadi kakak yang harus makan dulu baru Nisa makan. Ok?"
"Ok, kalau itu permintaan tuan putri, maka akan di kabulkan." Sania menangkup pipi Nisa dengan kedua tangannya, kemudian menekan hidung Nisa seolah-olah ada sebuah tombol yang menempel di sana.
Nisa tertawa, ia menyuapi es krim ke dalam mulut Sania dengan tangannya sendiri. Begitu es krim sudah tertelan, Sania membalikkan es krim, menyuapinya pada Nisa, mengacak rambutnya lagi, kemudian mereka semua tertawa bersama-sama.
Nisa melihat sekilas wanita yang sedang memegang kursi roda Sania, ia sedang tersenyum ke arahnya. Nisa mendekat, berbisik dengan suara yang cukup pelan di telinga Sania.
"Kak, Nisa harus panggil dia siapa?" ucapnya seraya mengarahkan jari telunjuknya ke arah wanita yang berdiri di belakang Sania.
Sania berbalik mengikuti arah telunjuk Nisa yang ternyata mengarah ke bi Neneng. "Oh, panggil aja bibi."
"Ok. Bibi juga harus makan es krimnya." Nisa mendekat menawarkan es krimnya. Sama seperti Revan, bi Neneng harus membungkuk kemudian memakan es krim yang masih setia berada dalam genggaman tangan Nisa. Ia salut dengan anak kecil yang berada di hadapannya.
Cantik, manis, imut, ramah,sopan dan santun.
"Ehhmm." Revan berdeham. "Abang gak di tawari nih es krimnya? Haus lo, panas lagi."
Nisa tampak berfikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan abangnya. "Hmm.. Gak deh. Abang kan punya uang jadi bisa beli sendiri ya kan?"
Revan menarik nafas dengan kasar, memutar bola mata, memalingkan wajahnya ke kiri, dan mengatakan sesuatu dengan pelan.
"Dasar anak-anak."
"Ya sudah yuk, kita cari tempat duduk, iya kali kita cuman berdiri di sini kayak tiang lampu jalan. " ajak Revan.
Pilihan mereka jatuh pada kursi taman panjang yang berada di pinggir taman, tempat yang pas untuk memandang seluruh aktivitas di taman.
Revan duduk pada bagian pinggir kursi taman, lalu di sebelah kanannya ada Sania, dan terakhir ada bi Neneng. Sedangkan Nisa lebih memilih duduk di pangkuan abangnya.
"Bang, Nisa mau main."
"Habisin dulu es krimnya baru main. Ok?"
"Ok." Nisa menjilat es krimnya dengan cepar agar bisa cepat bermain.
Revan melihat Sania di sampingnya, menghirup udara segar dari pepohonan di taman. Tersenyum melihat banyak anak-anak berlarian ke sana kemari sambil sesekali saling usil pada teman lainnya.
Melihat ini, Revan juga ikut tersenyum. Senyum manis Sania benar-benar akan ia ingat seumur hidupnya.
"Gimana lo suka tamannya?" tanyanya.
"Iya." Sania mengangguk dengan senyuman merekah di bibir mungilnya.
"Bag..." ucapannya berhenti seketika mendengar Nisa berbicara dan membalikkan tubuhnya menghadap Revan.
"Abang, udah siap. Nisa boleh main ya?"
"Iya boleh."
"Asyikk... Nisa mau main sama..." Nisa menggantungkan kalimatnya lalu berdiri berhadapan dengan mereka bertiga.
Nisa melihat-lihat, menimbang, dan memikirkan siapa yang akan jadi teman bermainnya.
Revan yang melihat wajah berfikir Nisa kelihatan cemas. Nisa sangat suka dengan Sania, kalau sampai ia memilih Sania maka tidak akan ada waktu untuk berbicara berdua dengannya.
'Semoga Nisa gak memilih Sania. Please.. Nisa, please... Jangan pilih Sania ya. Abang lagi pengen bicara berdua sama Sania." batin Revan.
Semua orang masih menunggu keputusan Nisa. Sampai akhirnya setelah Nisa menimbang-nimbang, ia angkat suara.
"Bibi. Nisa mau main sama bibi."
Kata Nisa seraya menunjuk bi Neneng untuk menjadi teman mainnya.
Revan merasa lega mendengar keputusan Nisa. Akhirnya... Ada waktu berdua dengan Sania.
Nisa menarik bi Neneng untuk beranjak dari tempat duduknya.
"Ayoo.. Bi.."
"Iya, pelan-pelan jalannya Nisa."
Bi Neneng berusaha menyejajarkan langkahnya dengan Nisa yang begitu lincah.
"Nisa... Kemari sebentar sayang."
Sania memanggil Nisa untuk berbalik melangkah ke arah Sania.
"Kenapa kak?"
Sania mengusap beberapa bekas es krim yang tersisa di bibir dan pipi Nisa. Ia takkan membiarkan Nisa pergi dengan banyak bercak es krim cokelat yang berserakan di pipi.
"Sudah. Nisa boleh pergi."
"Makasih kak Sania..... Bibi ayokk..".
Nisa pergi dan mengajak bi Neneng berlarian ke sana kemari. Menurut orang-orang yang melihatnya pasti mereka akan bilang bahwa bi Neneng dan Nisa sedang bermain kejar-kejaran. Bi Neneng yang mengejar sedangkan Nisa yang di kejar.
Selang beberapa waktu Revan dan Sania masih setia menatap Nisa bermain dengan gembiranya.
Revan melirik Sania sesaat,
" lo tau Nisa itu salah satu orang yang paling beruntung di keluarga gue."
"Paling beruntung? Maksudnya?"
"Iya paling beruntung. Nisa di besarkan, di didik dengan kasih sayang yang utuh dari orang tua gue. Tanpa ada kekurangan sedikitpun. Beda banget dari gue"
"Emangnya apa bedanya? Kalau boleh tahu." Sania bertanya dengan hati-hati agar tidak menyakitkan hati Revan.
"Bedanya...."
________***__________________***______________
Bedanya? Ada yang bisa tebak gak kira-kira apa bedanya ya? 🤔 hei guys, aku update lagi ini. I hope you can enjoy the story. Sorry, untuk beberapa waktu ke depan, mungkin aku jarang update. Soalnya aku juga sibuk sama sekolah. So, I hope you can understand about it. Thank you so much, buat yang udah baca ya. See you in next chapter 😎