
Suara burung kenari yang terdengar saat ini saling bersahutan dibalik pohon membentuk nada yang indah untuk menyambut aktivitas manusia bumi seperti biasanya.
Hari ini adalah weekend, yang berarti hari yang paling menyenangkan bagi seluruh pelajar di dunia.
Hari dimana bisa bersantai, menikmati,dan mengisi waktu liburan dengan keluarga ataupun teman.
Ada juga yang hanya sekedar duduk dan menikmati acara kesukaannya di televisi.
bahkan mungkin juga ada yang menjadi stalker, sengaja menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengecek sosial medianya si doi yang nggak pernah peka itu dan berharap suatu saat dia akan peka.
Intinya yang namanya hari libur itu pasti ada yang namanya menyenangkan dan membosankan.
Tergantung bagaimana kamu menyikapinya.
Begitupun situasi yang harus dihadapi Revan sekarang. Bingung untuk mengisi hari liburnya dengan hal-hal yang menyenangkan.
Dari tadi ia hanya berguling-guling di tempat tidurnya dan mengecek ponselnya.
Sepertinya belum ada tanda-tanda kehidupan dari dua orang sahabatnya itu.
Ia melihat sebuah jam dinding yang berbentuk lingkaran dan bewarna hijau di dinding kamarnya yang berdominasi warna biru itu.
Masih jam setengah sembilan pagi.
"Astaga pantes aja dari tadi chat gue gak dibales. Masih jam setengah sembilan pagi. Mereka kan kebo, pasti sekarang lagi hibernasi di alam mimpinya." Revan mengusap wajahnya kasar lalu memutuskan untuk turun dari kamarnya menuju dapur.
Karena perutnya sudah berontak dari tadi dan meronta-ronta ingin diberi makan, akhirnya tujuan pertama yang Revan putuskan itu adalah dapur.
Ia membuka kulkas dan mengambil air es di dalamnya untuk diminum.
Setelah itu pergi ke meja makan dan membuka tudung saji yang sudah menarik perhatiannya berkali-kali.
Namun diluar dugaan, tidak ada satupun makanan di dalam tudung saji atau bahkan lemari makan sekarang.
Tidak biasanya seperti ini pasti ada sesuatu yang aneh. Dan ya, dimana kakaknya itu? Dari tadi Revan tidak melihatnya.
"Kak, kak Fany,kak!" pekiknya dari dapur.
Tapi tak ada satupun jawaban yang ia dengar bahkan terima.
Karena dilanda rasa penasaran, Revan pergi ke kamar Fany dan mengecek keberadaan kakaknya sekarang itu. Apakah sekarang ia sedang baik- baik saja atau tidak.
Saat sudah sampai di depan kamar Fany, Revan langsung membuka pintu nya dan masuk ke dalam kamar kakaknya yang berdominasi warna merah jambu itu.
Benar saja dugaan Revan, kakaknya sedang tidak baik sekarang. Ia sedang meringkuk kesakitan dan berguling-guling di atas tempat tidurnya.
Sontak saja hal ini membuat Revan khawatir. Sejahil-jahil dan senakal-nakalnya ia pada kakaknya tetap saja ia tak tega melihat keadaannya seperti ini.
"Kak, kenapa lo? Sampai guling-guling kayak gitu? Oh ya, tumben banget belum ada sarapan. " Revan menghampiri Fany dan duduk di pinggir tempat tidurnya.
"Aduhh... Di situasi gue kayak gini lo masih sempetnya nanya sarapan. Kalau mau makan masak sendiri gih. Mama, papa sama Nisa lagi pergi ke luar kota selama tiga hari dan gue lagi gak bisa masak sekarang." jelas Fany.
Sekarang Revan paham kenapa tak tersedia makanan di dapurnya. Mama, papa dan adiknya itu sedang pergi dan kakaknya yang tidak bisa masak karena lagi kesakitan.
Dan ya, bila kau pikir ada pembantu di rumahnya kau salah besar.
Asal kau tahu saja di rumah Revan tidak memiliki pembantu. Bukan karena tidak mampu untuk membayar gajinya tetapi mamanya itu lebih suka jika semua pekerjaan ia lakukan dengan kedua tangannya sendiri. Jikalau masih bisa bekerja dan menggunakan tangan sendiri kenapa harus merepotkan orang lain. Benar kan?
Baiklah kembali ke keadaan sekarang. Fany masih berbaring dan meringkuk kesakitan memegangi perutnya yang sedang keram.
Ia melihat adiknya sekilas yang masih duduk di samping tempat tidurnya.
"Van gue boleh minta tolong gak? Boleh ya, please just say yes!" pinta Fany namun di dalam nadanya juga seakan mengandung makna perintah.
"Tolong apa? Jangan yang aneh-aneh ya. Awas lo kalau yang aneh-aneh."
Fany sudah berusaha untuk duduk dan menyajarkan tatapannya pada adiknya itu.
"Gak, gue cuman minta tolong belikan pembalut ya di supermarket. Sama belikan cemilan juga, kan lo tahu gak ada makanan di rumah."
"Hah, gilak lo. Gue manatau hal yang kayak gituan. Kagak ah, gak mau gue."
"Aduh Van, lo gak kasihan lihat kakak lo ini. Udah sakit banget. Dari tadi udah guling-guling gue. Kalau dibiarin terus bisa mati jadi batu gue nanti."
Raut wajah Revan tampak bingung sesaat. Di sisi lain ia kasihan melihat kakaknya yang sedang menahan sakit yang mungkin parah sekarang tapi di sisi lain dari pribadinya juga, ia memikirkan mau diletak dimana muka dia jika ketahuan beli hal yang seperti itu.
Wajar saja,Revan tak mau dicap sebagai preman tapi punya hati Hello Kitty.
Logika dan hatinya sedang sama-sama berontak sekarang mengadukan pembelaan yang berbeda satu sama lain.
Revan akhirnya memutuskan untuk menuruti kata hatinya untuk menuruti perintah kakaknya itu. Tidak ada salahnya juga kan menolong saat Fany sedang kesulitan seperti ini.
Biarlah apa yang ingin mereka katakan tentang hal itu nanti.
Karena sekarang prioritas dia adalah kakaknya.
"Hhh..." Revan menghela nafasnya sesaat sebelum melanjutkan pembicaraan.
"Ya udah gih, mana uangnya?"
"Pakai uang lo dulu deh. Ntar gue ganti. Atau kalau lo mau ambil gih uang di dalam dompet gue. Eh tapi dompetnya kan ada di dalam lemari pakaian gue ya. Malah campur aduk lagi pakaian, dress sama pakaian dalam. Tapi, terserah lo deh Van."
Diberikan dua pilihan seperti ini, lebih baik Revan memilih pilihan yang pertama daripada diminta mengambilkan dompet Fany dalam lemarinya.
Kedengaran tidak wajar sekali jika ia mengubrak-abrik isi dari lemarinya. Apalagi jika ia lihat ada pakaian dalam nya Fany dalam lemari. Astaga,baiklah mungkin ini pilihan yang tepat.
"Ya udah pakai uang gue dulu ntar lo bayar ya! Gue pergi dulu."
Revan beranjak dari tempat tidur Fany dan bergerak menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobil.
Tetapi baru beberapa langkah Revan keluar dan belum mendapatkan kunci mobil, ia kembali lagi ke kamar Fany dan menyembulkan kepalanya di balik pintu kamar.
"Kak, mgomong-ngomong kalau lo mati terus jadi batu kedengaran enak tuh. Kan bakalan dipasang di koran dan majalah dengan judul 'Jenis Kematian Terbaru, yang dialami seorang Alika Fany Syafina yaitu, Mati Batu dikarenakan tamu bulanan.' Wiihh... Trending topik lo kak. Gak bisa kebayang gue."
Revan menggeleng-gelengkan kepalanya di balik pintu kamar Fany.
Sontak hal ini membuat Fany jengkel dan tak berselang lama kemudian, sebuah bantal melayang di udara disertai suara pekikan Fany yang bisa memekakkan telinga.
"Revan! Awas lo ya. Dasar adik jahannam!" Revan langsung melesat pergi meninggalkan kakaknya dan langsung mengambil kunci mobilnya.
...............
"Bi, makanan di kulkas habis ya?"
"Iya non, ini bibi baru mau beli. Non Sania mau ikut?" Bi Neneng sedang memasukkan uang yang akan dia pakai untuk berbelanja ke dalam dompet.
"Hmmm..." Sania berdeham dan tampak berfikir sebentar.
Sepertinya lebih baik ia ikut pergi dengan Bi Neneng daripada hanya sendirian di rumah dan bagaimana bila sesuatu yang buruk terjadi? Seperti tahun lalu mungkin atau bahkan lebih buruk lagi? Sania menggelengkan kepalanya berusaha menghilangkan pikiran yang buruk itu.
Ah, tidak-tidak mungkin ini keputusan yang terbaik. Lagipula ada sesuatu yang ingin dia beli juga di supermarket. Sebab, tamu bulanannya sedang datang sekarang.
"Boleh deh bi. Aku siap-siap dulu ya." Ucapan Sania dibalas anggukan oleh Bi Neneng.
Setelah menunggu selama 5 menit Sania keluar dari kamarnya dan menuju ruang tamu dimana Bi Neneng sudah menunggu.
Mungkin kalian berpikir bagaimana seorang gadis remaja hanya bersiap-siap selama 5 menit? Pasti dandanannya jelek.
Eiittss.. Jangan salah, Sania bukanlah orang yang terlalu suka berdandan dan bersiap-siap selama berjam-jam di kamarnya walaupun hanya untuk pergi ke supermarket. Ia lebih suka sederhana saja.
Karena menurutnya tidaklah terlalu penting untuk berdandan secantik mungkin. Karena kecantikan seorang wanita tidak dilihat dari wajahnya tapi dari hati dan perbuatannya.
Pakaian yang dipakai Sania juga hanya pakaian casual saja.
Hanya memakai kemeja dengan lengan panjang bewarna ungu dan beberapa hiasan sederhana di depan kemeja nya.
Lalu celana jeans yang tidak terlalu ketat bewarna abu-abu dan ditambah sepatu bewarna putih bercampur dengan warna ungu di beberapa bagian sisinya.
Rambutnya yang panjang dan hitam pekat itu pun juga ia gerai.
Dan ia juga hanya memakai bedak tabur yang tipis di wajahnya.
Setelah semuanya sudah selesai, mereka keluar dari rumah dan menaiki taksi yang sudah Sania pesan sebelumnya di kamar saat ia bersiap-siap tadi.
Bi Neneng dan supir taksinya membantu Sania menaiki taksi tersebut. Walaupun sedikit sulit tapi akhirnya berhasil.
Terkadang Sania berpikir sepertinya dirinya hanya membuat susah orang lain saja.
Mesin dari taksi mulai bersuara menandakan bahwa mereka siap berangkat. Setelah Bi Neneng menyebutkan tempat yang akan kami kunjungi, supir taksi itu pun mulai menjalankan taksinya mengoyak jalan raya yang memang sedikit lengang hari ini.
Tak butuh waktu lama untuk kami sampai di supermarket. Setelah Bi Neneng membayar ongkos taksi kami pun memasuki supermarket untuk mencari bahan-bahan dapur dan benda yang juga akan aku beli.
Rak yang kami datangi pertama kali adalah rak yang menyediakan bahan-bahan kebutuhan rumah tangga.
Bi Neneng memilih-milih bahan-bahan dapur dan sesekali melihat catatan yang sudah dibuatnya di rumah tadi.
Melihat Bi Neneng yang sedikit sulit menemukan bahan-bahan dapur, Sania pun turun tangan membantu Bi Neneng untuk mencari bahan tersebut.
Ya setidaknya Sania membantu mengambilkan bahan-bahan yang sedikit dekat dengannya sehingga tidak terlalu sulit untuk mencapainya.
Setelah semua bahan dapur sudah tertata manis di dalan keranjang, mereka berdua menuju rak yang menyediakan cemilan ringan.
Sebab di kulkas tidak tersedia cemilan, makanya Bi Neneng menuju rak ini.
"Bi, Sania ke rak sebelah ya. Ada yang mau Sania beli."
Kebetulan rak cemilan berada bersebelahan dengan rak yang Sania tuju. Sehingga dia sedikit lega jika sesuatu terjadi. Karena Bi Neneng berada tak jauh darinya.
Sania menjalankan kursi rodanya menuju rak yang sudah ia tuju sedari tadi.
Saat sudah sampai dan ia meilih beberapa pak pembalut, Sania mendengar seseorang yang tidak terlalu jauh darinya sedang menggumam tidak jelas seakan-akan ia sedang berbicara pada rak itu.
Sania mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara pada laki-laki itu. Mungkin saja ia bisa menolongnya.
"Hmm.. Pe-permisi mas. Ad-ada yang bisa saya bantu?" Sania berbicara sedikit gugup sambil memandang orang yang tidak terlalu berjauhan darinya.
Otomatis, orang yang diajak bicara pun menoleh padanya. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat gadis yang sedang menatapnya sekarang.
"Sania."
"Revan."