
Setelah membuat kesal Fany di rumah, Revan langsung pergi ke supermarket untuk membeli apa yang diminta kakaknya itu.
Hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke supermarket yang dituju.
Begitu sampai, ia langsung turun dan mengunci mobilnya.
Kakinya ia gerakkan untuk masuk ke dalam supermarket.
Matanya pun mulai menelusuri setiap rak yang sudah tersedia. Berusaha mencari benda yang diminta Fany.
Setelah keliling mencari raknya, akhirnya Revan pun menemukannya.
"Astaga, gak ada orang di rak ini selain gue? Gak ada laki-laki lain gitu yang nyarik benda kayak gini?" batin Revan saat ia menyadari situasi di rak dimana ia berdiri sekarang.
Ia berharap ada seseorang yang bisa membantunya atau minimal menemaninya saat ini.
"Oh iya, inikan rak khusus wanita. Iya kali ada laki-laki yang kemari. Aduuhh.. Gara-gara kak Fany ini." Revan mengusap wajahnya kasar, bingung apa yang harus ia lakukan dengan semua benda-benda wanita itu.
Penasaran, Revan pun melihat satu per satu pembalut yang sudah tertata manis di raknya.
Satu pak ia ambil dan mulai membacanya. 'Comfortable, no wings.'
Alisnya ia tautkan satu sama lain. "No wings?"
Benda yang ia ambil tadi pun dikembalikan lagi ke tempat asalnya.
Revan mulai melihat-lihat yang lain. Beberapa langkah ia berjalan dan mengambil satu benda serupa lagi.
Ia pun membacanya seperti tadi, kali ini wajahnya benar-benar terlihat bingung dengan alis yang saling bertautan satu sama lain.
"Double Wings?" Revan bergumam sesaat.
" Wow, ternyata dunia wanita itu lebih canggih dari yang dikira ya.
Buktinya aja pembalut udah bisa punya sayap sekarang. Gak kebayang gue berarti tiap malam dia bawa yang makainya terbang dong. Double lagi sayapnya, otomatis cepet banget dia terbangnya. Pasti kak Fany seneng nih kalau dibelikan yang Double Wings biar bisa terbang ke angkasa tiap malam."
Mata Revan tak sengaja menangkap tulisan yang tertera di kemasannya.
'Size'.
"Lah, ada ukurannya juga. Astaga, hebat bener ni barang sayapnya aja sampai punya ukuran." Revan menggelengkan kepalanya sesaat dan mengedarkan pandangannya ke sekitar rak dimana ia berada.
"Banyak banget. Gimana gue mau milihnya? Iya kali dibeli semua."
Segala bentuk ocehan Revan lontarkan pada benda-benda mati yang berada di depannya.
Seandainya benda itu bisa hidup, maka ia akan tertawa terbahak-bahak melihat tingkah polos dan omelan Revan dari tadi.
'Seandainya ada malaikat penolong yang bisa nolongin gue saat ini. Kalau gue disuruh milih Kayaknya lebih bagus gue masuk kelas pelajaran sejarah+ dikasih 20 soal matematika deh daripada beli kayak ginian. Pusing tujuh keliling liatnya. '
Begitu Revan mengucapkan kalimat tersebut dalam hatinya, tiba-tiba telinganya menangkap sebuah suara yang tak jauh darinya.
'Malaikat Penolong kah itu?' jikalau iya maka Revan akan bersyukur kepada Tuhan saat ini karena sudah mengabulkan doanya.
Refleks ia pun menoleh pada suara yang ia dengar tadi.
Betapa terkejutnya ia ketika melihat orang yang berada di depannya sekarang.
"Sania."
"Revan."
Mereka berdua terdiam beberapa saat dan saling memandang satu sama lain.
Revan ingin berbicara tapi seakan mulutnya ini tidak bisa terbuka.
Akhirnya Sania pun angkat suara dan membuat hati Revan merasa sedikit lega. Setidaknya mereka tidak berdiam terus disini layaknya sebuah patung.
"Lo ngapain disini? Ini kan... Rak khusus wanita."
"Hmm... I-itu, eh i-iya"
Revan berbicara sedikit terbata-bata sebab ia bingung jawaban apa yang akan ia berikan.
Melihat Sania masih menunggu penjelasan darinya, akhirnya Revan mengalah dan memberi tahu semuanya.
"Itu kak Fany, kakak gue dia lagi kedatangan tamu bulanan jadi disuruhnya gue beli kayak ginian."
"Oohh...ck." Sania menampilkan senyuman tipisnya.
"Kenapa ada yang salah?" Revan menggaruk kepala bagian belakangnya yang sebenarnya tidak terasa gatal. Ia sedang berusaha mencairkan suasana yang menyelimuti mereka saat ini.
"Nggak. Heran aja zaman sekarang ini ternyata masih ada laki-laki yang kayak lo."
Revan hanya memberikan cengiran khas nya pada Sania.
"Ya udah biar gue bantu. Kakak lo umur berapa tahun?"
Sania menggerakkan kursi rodanya mencoba sedikit dekat dengan Revan agar lebih mudah mencari barang yang dibutuhkan.
"Dua puluh tahun."
"Dua puluh tahun....." Sania mengulang perkataan Revan sambil mengambil sesuatu.
Sedangkan Revan memperhatikan raut wajah Sania yang tampak sedikit berfikir.
Ternyata gadis di hadapannya ini benar-benar sangat cantik.
Bulu mata yang lentik, alis mata bewarna hitam yang terlukis manis di wajahnya, hidung yang sedikit mancung, dan....
Belum sempat Revan melanjutkan kata-katanya dalam hati, suara Sania terdengar dan memotong khayalannya.
"Ini."
"Udah ini aja? Cepet banget." Revan memgambil benda yang berada di tangan Sania.
"Hah, mau lo?"
"Eh, eng-enggak. Oh iya, lo sendirian disini?" ia mencoba mengubah topik pembicaraan yang lain.
"Nggak kok sama bibi."
"Bibinya diman..."
Lagi-lagi perkataan Revan terpotong oleh suara seorang wanita yang sudah berumur.
"Non, udah siap nih. Sudah lengkap semuanya. Eh, ada Revan. Nyarik-in bibi ya? Sampai diikuti gitu bibi kemana-mana. Aduuhh.. Jadi malu bibinya."
Ujar bi Neneng saat melihat Revan sedang berdiri berhadapan dengan mereka berdua.
Baru saja Revan ingin membuka mulutnya, Bi Neneng mulai mengoceh padanya lagi .
"Eh, itu barang untuk siapa? Pacarnya ya? Cieee... Romantis banget sih sampai beliin kayak gituan untuk pacarnya. Duuhh... Bibi jadi cemburu."
'Astaga kain mana kain? Mau gue tutupi nih muka .'
Muka Revan menjadi merah padam ditanya seperti ini. Seandainya ada kamera di depannya maka ia sudah melambaikan tangannya dari tadi. Sudah ia menyerah. Ia tidak kuat.
"Ck, enggak kok bi. Ini untuknya kakaknya Revan." Sania angkat suara berusaha menjelaskan semuanya.
"Oh, baik banget nak Revan belikkan kakaknya benda kayak gituan. Eh, tapi kalau untuk pacarnya juga gak papa kok. Bibi paham. Manatau kamu malu bilang untuk pacar jadi bilangnya untuk kakak ya kan?."
'Bom mana Bom? Biar meledak gue disini. Astaga mau jawab apa?' batin Revan.
"Enggak bi beneran untuk kakak lagi kedatangan tamu soalnya."
Baiklah Revan sudah mulai angkat bicara saat ini setidaknya ia tidak hanya berdiam diri mengatupkan mulut dengan muka merah padam seperti orang bodoh.
"Udah ah bi, jangan gangguin Revan terus. Udah selesai kan? Bayar yuk." Sania mengajak Bi Neneng untuk pergi ke kasir membayar semua barang-barang yang sudah dibeli.
Bi Neneng mengangguk setuju dan berjalan sambil mendorong kursi roda Sania diikuti Revan di belakangnya.
Sampai di kasir mereka harus mengantri menunggu giliran untuk membayar.
Banyak sekali orang disini. Haruskah Revan membayar ini sendiri?
'Mampus, makin merah gelap jadinya muka gue nanti.'
Revan melihat Sania yang berada di depannya. Ia berniat ingin meminta tolong padanya. Tapi bagaimana bilangnya?
"Ehmm... San, Sania." orang yang di panggil pun menoleh ke belakang.
"Gue boleh minta tolong gak?"
'Jawab iya please please please...'
Revan masih menunggu jawaban dari Sania.
"Boleh. Bantu apa emangnya?"
"Bantu bayarin." Revan membalas pertanyaan Sania dengan ucapan yang sangat cepat namun masih bisa didengar oleh telinga Sania.
Merasa paham dengan apa yang dibicarakan, Sania pun sedikit tertawa dan mengatakan,
"Iya udah, lo tunggu aja di depan." perintahnya dibalas anggukan oleh Revan.
Revan berjalan dan menunggu di depan seperti yang diperintahkan Sania.
Namun, tidak di depan supermarket melainkan di depan kasir.
Cukup lama menunggu giliran, akhirnya tiba lah sekarang Sania dan Bi Neneng yang membayar.
Semua barang dikeluarkan dan dihitung melalui mesin kasir.
"Mbak, yang satu itu tolong dipisahkan ya. Beda tempat."
Si penjaga kasir itu mengambil satu plastik agar bisa menempatkan satu barang yang diminta tadi.
Setelah semua barang selesai dihitung di mesin kasir dan penjaga kasir menyebutkan total harganya, Bi Neneng langsung mengeluarkan uang dengan nominal yang pas dari dompet kecilnya.
"Udah kan bi, pulang yuk."
"Eh, tunggu." Revan mencoba menghentikan langkah mereka berdua.
"Kalian pulang naik apa?"
"Taksi palingan nak Revan."
Bi Neneng membalas pertanyaan
yang Revan lontarkan.
"Gimana bareng sama gue aja. Sekalian pulang juga sih."
Tawaran yang diajukan Revan seketika membuat wajah Sania pucat basi.
Ia menggenggam tangannya Bi Neneng dan mencoba menjelaskan apa yang sedang dirasakannya melalui bahasa tubuh.
Merasa paham dengan apa yang terjadi, Bi Neneng sedikit membungkuk dan mensejajarkan tatapannya dengan Sania.
Ia berbicara sedikit berbisik agar orang lain tidak ada yang mendengar.
"Gak papa non, sekali-sekali juga. Kan ada bibi nanti gak akan bibi biarin juga dia ngelakuin yang aneh-aneh. Gak bibi biarin kejadian waktu itu terulang lagi. Bibi kan hebat, nanti kalau Revan macem-macem bibi keluarin jurus ular sama cobek andalan bibi."
Perkataan Bi Neneng sedikit membuat aksen senyuman manis terukir di bibir manisnya.
"Ehmm... Bi mau gak?" Revan bertanya meminta kepastian.
Sebab, sedari tadi ia hanya melihat mereka berdua berbisik-bisik gak jelas dan ia mencoba untuk mendengarkan tapi gagal karena terlalu ramai dengan suara orang-orang yang bercengkrama.
"Eh iya jadi nak Revan. Tapi bibi minta satu hal boleh ya?"
"Minta apa bi?"
"Nak Revan naik mobil kan?" pertanyaannya dibalas anggukan oleh Revan.
"Kalau di mobil nanti bibi minta kaca mobilnya dibuka di bagian sisi kanan dan kirinya bisa gak?
Terus bibi sama Sania jangan dipisah ya biar Sania tetap duduk di samping bibi."
"Oh, boleh bi. Ya udah ke parkiran dulu yuk."
Hanya butuh waktu tiga menit untuk sampai ke parkiran. Revan membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Sania dan Bi Neneng untuk masuk ke dalam.
Melihat Bi Neneng yang susah payah menaikkan Sania ke dalam mobil, Revan pun ikut turun tangan untuk membantunya.
Saat semuanya sudah siap, Revan menghidupkan mesin mobilnya dan menggerakkannya keluar dari supermarket. Tak lupa juga dia membuka jendela di sisi kanan Bi Neneng dan sisi kiri Sania.
"Bi, jangan lupa tunjukkin alamatnya ya."
Revan mengingatkan Bi Neneng ketika sudah siap menjalankan mobilnya.
"Iya, belok kiri ya nak Revan."
Selama perjalanan tidak ada yang berbicara jadi Revan menghidupkan musik di mobilnya dan mengatur volume yang tidak terlalu kuat.
Astaga, tidak biasanya Revan secanggung seperti ini. Biasanya ia dan teman-temannya akan heboh jika sudah berkumpul tapi ini dia malah bingung ingin bicara apa.
"Nak Revan gak punya musik tahun 70-an gitu? Biar bibi nostalgia lagi ke masa muda dulu."
" Bentar ya bi, dilihat dulu." Revan mengecek daftar musiknya dan tak sengaja menemukan musik tahun 70-an.
'Tumben gue punya musik beginian.' Revan bertanya-tanya kapan dia menyimpan musik seperti itu?
Oh iya, Revan baru ingat ini kan musik favorit mamanya. Pantas saja ada di daftar musiknya.
"Lah, kok tau sih lagu kesukaan bibi? Ciee... Perhatian banget sih sama bibi sampek tahu lagu favoritnya bibi."
"Oh ya ini lagu favorit bibi? Revan baru tahu. Sebenarnya ini juga lagu favoritnya mama kok. Makanya lagunya wajib ada di daftar musik."
Bi Neneng sedang bernostalgia dengan masa mudanya sekarang.
Masa dimana ia sedang alay-alay nya dan berjumpa dengan sang kekasih.
Lagu 'Sepanjang Jalan Kenangan' yang dipopulerkan oleh Tetty Kadi memenuhi suasana di dalam mobil.
Bi Neneng bolak balik mengetukkan jarinya mengikuti alunan musik dengan mulut yang berkomat-kamit menyanyi mengikuti lirik lagu.
Senyuman Revan sedikit terangkat ke atas melihat kepala Bi Neneng yang dari tadi mengangguk-nganggukkan kepalanya mengikuti musik.
Namun ketika matanya ia lirikkan ke sisi sebelah kirinya, ia melihat Sania sedang menatap keluar jendela dan dari tadi ia tidak berbicara satu patah kata pun.
Merasa khawatir, Revan pun bertanya.
"Sania lo gak papa kan?"
Merasa ditanya Sania pun menghadapkan kepalanya ke arah depan menatap Revan dari kaca yang tergantung di mobil.
"Nggak, nggak papa kok." ia memaksakan seulas senyuman tipis di bibirnya.
Revan ingin bicara panjang lebar dengan gadis yang sekarang berada di belakangnya. Namun, ia takut jikalau asal bicara karena itu akan menyakitkan hati Sania.
Dua puluh menit di perjalanan tidak ada yang bersuara. Hanya alunan musik lah yang memenuhi situasi dalam mobil.
Dan sekali-kali hanya suara Revan dan Bi Neneng yang terdengar.
Itu pun hanya untuk menanyakan arah yang benar menuju rumah Sania.
Begitu sampai di rumah Sania, Revan mengambil kursi roda nya dan membantu untuk menurunkan dan mendudukkan Sania di atas kursi roda.
Sedangkan Bi Neneng membawa semua barang belanjaan keluar dari dalam mobil diikuti Revan yang berjalan di belakang.
"Sania" pekik Revan untuk berusaha menghentikan Sania.
Revan berlari ke arah Sania. Ia melihat raut wajah Sania seakan bertanya mau apa ia memanggil?
"Gu-gue mau nanya boleh?"perkataan Revan sedikit terbata-bata ketika berada di depan Sania
"Lo mau tanya apa?"
"I-itu, gue mau tau nama lengkap lo sebenarnya siapa sih?"
Sania tidak langsung menjawab pertanyaan Revan. Ia terdiam beberapa saat dan masih menunduk ke bawah.
"Ok kalau lo gak mau kasih tau. Gue cuman pengen tau doang kok. Udah ah muka nya gak usah ditekuk kayak gitu. Jelek."
Revan berusaha menghibur dirinya dan Sania walau saat ini keadaan hatinya tidak baik.
"Ya udah gue balik dulu ya. Kasian kak Fany nungguin. Assalamu'alaikum."
Sania hanya melihat kepergian Revan dalam diam.
"Revan."
Revan mengentikan kakinya dan berbalik ke belakang menatap Sania.
"Lo yakin gak mau tahu nama lengkap gue?"
Raut wajah Revan seketika berbinar mendengar perkataan Sania. Ia berlari ke arah Sania dengan senyuman lebar di wajahnya.
"Lo mau ngasih tahu nama lengkap lo?"
"Gue gak bilang gitu. Gue cuman mau ngasih tahu nama lengkap gue sama orang yang tadi nanya ke gue."
Sania menarik nafasnya dalam-dalam dan berharap dengan memberi tahu namanya tidak akan terjadi sesuatu yang buruk dengannya.
"Sania Anggita Putri." ia mengucapkannya dalam satu tarikan nafas dan matanya menatap Revan.
Seulas senyuman lebar terlukis di bibir Revan. Rasanya seperti berjuta kupu-kupu di dalam perutnya. Ia ingin terbang sekarang ke langit yang tinggi jika ia bisa.
"Hmmm... Thanks. Ya udah gue balik dulu ya. Bye."
Untuk kedua kalinya Revan berpamitan pada Sania dengan senyuman lebar mengambang di bibirnya.
Akhirnya ia bisa tahu nama dari gadis yang selama ini menjadi kisah misterius dalam hidupnya. Ah senangnya.
Revan masuk ke dalam mobil dan menunggu Sania juga Bi Neneng masuk ke dalam rumah.
Setelah mereka masuk, mobilnya ia jalankan keluar dari rumah Sania.
Ia ingin cepat-cepat sampai rumah dan mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada kakaknya itu. Karena dia lah yang sudah mengirimnya ke supermarket dan bertemu dengan Sania.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke rumahnya.
Begitu sampai ia langsung keluar dan buru-buru masuk ke dalam rumah.
Ia ingin memasuki kamar kakaknya tapi niatnya ia urungkan karena melihat kakaknya yang sedang duduk di ruang tamu.
"Kak Fany!" ia berlari menuju kakaknya dan berteriak histeris.
"Kak gilak baik banget lo hari ini. Aduuhh.. Makasih banget ya. Lo emang malaikat penolong kak. Ni barang lo."
Fany merasa heran dengan adiknya itu. Serasa seperti adiknya dapat kejutan yang benar-benar sangat besar.
Fany melihat barang yang sudah dibeli Revan, sekarang rasa herannya semakin meningkat tajam.
Ia baru mau membuka mulutnya untuk menanyakan sesuatu.
Namun Revan memotongnya.
"Apa? Uangnya ya? Udah lo ambil aja gue ikhlas. Udah ya kak, gue masuk dulu. Bye!"
Revan berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Meninggalkan Fany yang masih diam dengan banyak tanda tanya di atas kepalanya.
"Revan, gue mau na........nya." sebelum Fany melanjutkan kalimatnya Revan sudah hilang dibalik beberapa anak tangga.
"Gilak tuh anak, padahal gue kan gak bahas soal uang. Gue cuman mau tanya dia tau size barang ini dari mana? Malah pas lagi sizenya. Padahal gue kan gak ngasih tau tentang size nya. Bahkan sampai lupa lagi dia beli cemilannya. Aduuhh.. Revan-Revan. Curiga gue."