Miracle When Sunset

Miracle When Sunset
Mangoes Tree



Waktu yang berharga itu tidak akan mau kembali lagi walaupun hanya sesaat saja.


___________


Sang surya mungkin sedang gembira hari ini. Ia menampilkan sinar indahnya ke dunia. Ia tersenyum, melihat orang-orang di bawah sana senang dan merasa hangat akan sinarnya.


Para remaja dan anak-anak mulai bersiap-siap pegi ke sekolah untuk menuntut ilmu.


Gerbang sekolah pun mulai ramai dengan para siswa-siswi nya yang berdatangan dan memadati area lapangan.


"Woi, tumben lo gak telat. Kesambet apa mas?" sahabat dekat Revan memukul bahunya dan menghampirinya.


Rio, itulah namanya.


Sahabat yang paling dekat, teman curhat, teman mencontek dan mengopek bersama, bahkan terkadang harus berbagi dosa bersama.


"Iihhh...jangan gitu dong bang Rio. Mas Revan kan udah coba supaya gak telat. Kasih pujian dong, jangan ditanyain begitu. Ya kan mas?" Rio menautkan kedua alisnya melihat tingkah sahabat satunya ini.


"Rif, gilak si boleh. Cuman jangan sekarang masih pagi noh, kasian telinga gue masih pagi udah sakit aja dianya. Lo mau nemani terus bayari dia berobat ke dokter?"


Ucap Rio pada sahabatnya bernama Arif.


Arif merupakan seorang sahabat penghidup keceriaan dari mereka berdua. Walaupun agak bobrok, tapi terkadang otaknya bisa diandalkan kok.


Revan meninggalkan dua sahabatnya itu tanpa peduli teriakan mereka berdua.


"Yah, yah,... Malah pergi dianya. Woi Van!" Mereka berdua mengejar Revan dengan tergesa-gesa.


"Kok pergi sih?" tanya Arif.


"Gue? Pergi? Gak ah,gue gak pergi kok." Revan masih melanjutkan jalannya.


"Jadi kalau gak pergi gitu apa namanya? Jalan sambil dihipnotis sama sinder bolong?" Rio menentang pembelaan Revan.


"Bro, gue gak pergi. Jadi gini, gue tadi liat ada konsernya cicak. Wiihh, seksi banget lagi cicaknya. Cobak bayangkan ni ya". 'Revan melambaikan tangannya di depan kedua sahabatnya itu, mencoba menghidupkan imajinasi mereka.


"Kapan lagi cobak bisa nikmati konser gratis pagi-pagi kayak gini. Cuci mata lah bro sekali-sekali. Daripada telat nontonnya makanya gue langsung pergi aja. Sayang seksi amat soalnya." Setelah menyelesaikan kalimatnya, Revan melesat pergi meninggalkan dua sahabatnya yang bobrok itu.


Sedangkan keduanya masih termenung memikirkan tentang konser cicak yang dibilang Revan tadi.


"Dimana konser cicaknya?" Arif menyenggol bahu Rio dengan mengajukan pertanyaan yang langsung to the point.


"Kenapa lo, mau nonton? Mau tau dimana konsernya?" Arif menganggukkan kepalanya atas pertanyaan Rio.


"Tanya aja noh sma mbah Google." Rio menggerakkan kakinya meninggalkan sahabatnya yang masih bengong mendengar jawabannya tadi.


***


"Woi cepet."


"Cepet napa nulisnya."


"Pinjem dulu buku lo."


"Adduhh.. Gilak banyak banget lagi pr nya."


"Pengen meledak aja gue ni lihatnya."


kelas 11 Ipa 2 hari ini terlalu berisik dan sibuk meminjam buku kesana-kesini, ataupun bahkan mengomel tak karuan di depan buku tulis mereka saat ini.


Memang tidak ada gunanya mengomel dengan benda mati tapi setidaknya itu lebih baik daripada mereka merobek buku tugas mereka menjadi potongan helaian- helaian kertas yang terbuang.


Revan, Rio, dan Arif memasuki ruang kelas mereka dan melihat semua siswa yang terlalu sibuk sampai tidak ada yang melihat mereka.


Bahkan yang biasanya para cewek yang begitu histeris dan antusias menyambut kedatangan Revan sekarang, malah tak satupun dari mereka melirik dia.


Seseorang menabrak Revan dan menjatuhkan buku tulisnya.


"Maaf Van, gue lagi buru-buru."


Revan dan kedua sahabatnya mengambil posisi duduk di kursi biasa mereka duduk.


"Kenapa mereka semua? Sibuk amat kayak emak-emak lagi dapet diskon belanja."


" Ntah. Eh Ko, kenapa lo semua sibuk amat?" Rio menanyai teman sebelahnya itu.


"Kan ada pr dari Pak Wisnu. Lupa lo? Lebih bagus kerjain sekarang deh." Niko menjawabnya tergesa-gesa.


"Astaga, kok gak bilang lo dari tadi." Rio dan Arif langsung bergegas dari tempat duduk mereka mencari pinjaman buku.


Tetapi saat mereka lagi sibuk-sibuknya menyalin tugas, Revan malah duduk santai kayak di pantai.


"Woi, kok lo gak sibuk. Kerjai! Mau nanti kena omelan Pak Wisnu lagi?" Rio menasihati sahabatnya itu.


"Udah siap gue. Pr dari pak Wisnu kan hal. 105 buku paket."


Ia menjawab dengan suara coolnya yang membuat seisi kelas diam.


"Apa Van? Kagak salah denger gue?" Sam si ketua kelas memegang telinganya dan menariknya lalu melebarkannya.


"Yaelah, kagak percayaan amat lo semua." Revan mengambil buku tulisnya dari dalam tasnya.


"Nih, liat kalau gak percaya." semua orang berkerumun di meja Revan dan mengambil bukunya lalu melihat isinya.


"Wihh..hebat banget lo Van.


Kesambet apa lo?" Leo mengangkat suaranya.


"Van, bener ni lo udah siap. Kok bisa sih? Tobat lo? Atau lo nyewa orang ya supaya bisa ngerjai pr lo." Dinda teman sekelasnya merasa keheranan melihat tingkah laku Revan.


Wajar saja jika satu kelas merasa heran dengan Revan. Karena sorang Revan dalam sejarah hidupnya tidak pernah mengerjakan tugas, ataupun bahkan belajar. Datang ke sekolah aja udah syukur-alhamdulillah.


"Eh,enak aja sembarangan nuduh. Gini ya, kalau soal tobat ntar deh gue pikir-pikir dulu. Tapi ini gue kerjai gara-gara nyokap yang nyuruh.


Ketauan gue. Nisa bocorin ke nyokap gue kalau gue itu malas, jarang ngerjai PR.


Akhirnya gue ketauan dan disuruh nyokap kerjai PR atau ancamannya uang jajan plus uang bonus bulanan gue bakalan dikurangi 40℅ dan satu lagi bakalan diadui ke bokap.


Ya udah deh, gue milih jalan yang baik aja. Jadi, gue ngerjainya dibantu nyokap sama mbah Google." Revan menjelaskan semuanya.


Semua siswa membentuk mulutnya bulat.


"Baik juga ya si Nisa. Salut gue liatnya. Eh, bukunya gue pinjam ya Van. Thanks." Sam membawa lari buku Revan dan semua siswa membuntuti nya hanya untuk meminjam buku Revan termasuk Rio dan Arif.


*****


Krriingggg....


Bel masuk berbunyi dan semua siswa berhamburan masuk ke kelas.


Termasuk kelas 11 Ipa 2, dua menit setelah bel berbunyi mereka langsung duduk rapi,diam seperti robot yang sudah disetel pengaturannya.


Bagaimana tidak karena sekarang yang akan masuk ke kelas mereka adalah salah satu guru yang terkenal dengan killernya apalagi kalau urusannya sudah berhadapan dengan tugas.


Guru yang selalu disiplin dan tak pernah satu menit pun ia terlambat datang ke kelas.


Siapa lagi kalau bukan Pak Wisnu, guru Fisika yang terkenal seantero sekolah.


Suara derap kaki mulai terdengar dan semakin mendekat ke arah telinga mereka.


"Selamat pagi." Pak Wisnu mengeluarkan suara boriton khasnya dan meletakkan tasnya di atas meja yang sudah disediakan khusus bagi guru.


"Pagi pak." semua siswa menjawabnya serempak.


"Baiklah buka buku tugas dan buka buku paket kalian. Letakkan tugas kalian di atas meja biar bapak periksa apakah kalian sudah siap atau belum." perintah Pak Wisnu.


Ia mulai berjalan menelusuri lorong-lorong meja kelas dan melihat tugas siswanya apakah sudah siap atau belum.


Ia berjalan dan memerhatikan dengan perlahan setiap buku yang diletakkan.


Sampai ia pada meja Revan dan Gilang. Ia sudah menyiapkan omelan dan ceramah khusus untuk Revan.


Namun, saat ia sudah sampai ke meja mereka, Pak Wisnu menelan lagi ceramahnya dan menatap serius Revan.


Baru kali ini dalam sejarah pelajaran yang ia ajarkan, seorang Revan Andrian mengerjakan PR nya.


Ia masih menatap Revan dan belum mengalihkan pandangannya ke objek yang lain.


Revan hanya memberikan senyumannya pada Pak Wisnu yang biasanya membuat cewek-cewek meleleh, namun jurusnya tidak akan mampu untuk meluluhkan hati guru-guru yang sudah mengenal lebih dalam sifatnya.


Pak Wisnu masih memegangi kumisnya dan memasang style menaik-turunkan kumis.


"Bagus." satu kata,satu makna, satu ucapan. Hanya kata sesingkat itu sebagai tanggapan dari Pak Wisnu.


Setelah mengucapkan kata itu, Pak Wisnu pergi mengecek buku tugas yang lainnya.


"Van, gue mimpi ya?" Gilang,teman sebangku Revan memukul pipi kanan dan kirinya berulang kali sebagai bukti bahwa ia benar-benar tidak bermimpi.


"Baru kali ini terukir dalam sejarah hidup gue, Pak Wisnu muji lo."


Revan melihat teman sebangkunya itu. "Apaan sih lo, lebay!" ia mengusapkan telapak tangannya ke wajah Gilang.


Pak Wisnu kembali lagi ke kursinya setelah selesai mengecek semua buku siswa-siswi nya. "5 menit sebelum jam istirahat berbunyi silahkan kumpul buku tugas kalian ke meja bapak." perintahnya.


Pak Wisnu tidak mau mengumpulkannya sekarang karena ia sudah hafal dengan sifat para siswanya itu. Kalau ia mengumpulnya sekarang, para siswa akan membuka ponsel mereka dan melihat yang aneh-aneh. Sedangkan para siswi nya akan mulai berkumpul dan mulai untuk bergosip,baik itu tentang kabar dan cowok yang menyandang status keren ataupun para penggemar K-Pop yang akan menceritakan dan mengunggulkan bias favorit masing-masing.


Dan satu hal lagi yang menurut Pak Wisnu paling penting, akan menyebabkan telatnya target pelajaran.


"Sekarang buka buku pelajaran kalian." tegasnya.


Menit demi menit berlalu, Pak Wisnu menjelaskan di depan kelas dengan sedetail-detailnya, namun para muridnya sudah dihitung berkali-kali menguap memdengar penjelasannya. Membosankan. Kata itu lah yang terus terucap dan memenuhi seisi ruangan kelas.


Pak Wisnu telah berulang kali menegur mereka tapi beberapa menit setelahnya mereka kembali menguap lagi.


"Abis ini pelajaran apa?" tanya Revan.


"Lah, jadwal pelajaran lo mana? Bukannya dilihat." Gilang membalas pertanyaannya.


"Hilang punya gue. Kemarin udah dibuat mainan pesawat kertas terus gue terbangin deh."


Gilang menepuk jidatnya mendengar jawaban Revan. "Astaga, anak-anak banget lo."


"Gue emang anak-anak kok, lo nya aja yang cepet banget tuanya. Inget umur ya." Revan menepuk bahu teman sebangkunya itu.


"Abis ini ni, itu pelajaran...."


Obrolan mereka terhenti ketika suara boriton sang guru yang berada di depan kelas mulai terdengar seantero kelas.


"Eehhmm...." Pak Wisnu menaik turunkan alisnya sembari memandang meja dan penghuninya yang terletak di barisan kedua dari belakang tersebut.


"Revan,Gilang silakan keluar kalau masih mau ngobrol. Biar tambah enak,gak ada yang ganggu. Lebih afdol lagi. Atau kalian berdua berdiri di depan menggantikan bapak menjelaskan biar bapak yang duduk disitu."


Revan dan Gilang kalang kabut mendengar suara Pak Wisnu.


"Jangan dong pak, kalau nanti kita yang gantiin wadduuhh... Ntar semua orang pada muji kita. Terus kita yang jadi gurunya menggantikan bapak. Kan payah tuh kan pak.


Ribet urusannya. Ya gak Lang?" Revan menyenggol bahu Gilang mengisyaratkan agar berkata "iya" sebagai jawabannya sedangkan murid yang lain hanya memasang wajah tersenyum dan tertawa melihat tingkah Revan.


Dan mau tidak mau Gilang mengangukkan kepalanya, harus menuruti kata Revan atau ia akan dikeluarkan dari kelas oleh Pak Wisnu jika tidak mempunyai alasan.


"Tuh kan pak." Revan berkata dengan semangat. "Monggo dilanjutin lagi."


Pak Wisnu menggoyangkan kumisnya yang tebal yang bewarna hitam pekat itu sambil menatap Revan dan Gilang.


"Awas kalau kalian ribut lagi ya. Atau..." Ia meletakkan jari telunjuknya di lehernya dan menggerakkannya secara perlahan seperti gerakan menyayat leher.


Ia berbalik dan melanjutkan pengajarannya di papan tulis yang bewarna putih tersebut.


Sedangkan Revan dan Gilang hanya menghembuskan nafasnya. Lega. Itulah arti terakhir.


Menunggu beberapa saat Pak Wisnu fokus lagi dengan tulisan yang terukir di papan tulis, tidak tidak menurut Revan bukan "tulisan yang terukir indah" melainkan kata "tulisan yang menari-nari di papan tulis". Itu baru kata yang cocok.


" Pelajaran apa abis ini?"bisik Revan pada Gilang.


"Sejarah." balas Gilang.


"Mau ngepain lagi lo? Cabut?"


"Lo kayak gak tau gue aja. Udah Gil,bilang aja. Bantu gue lah sekali-kali. Biar istirahat gue. Ok!"


"Ia-ia. Tapi awas ya kalau lain kali lo kayak gini lagi." mereka masih berbicara dengan suara pelannya.


"Ia tenang aja." selesai membuat kesepakatan dengan Gilang, ia berbalik ke belakang dimana tempat Rio dan Arif duduk.


"Eh, nanti gue mau pergi bentar waktu jam istirahat dan waktu Bu Tanti masuk. Lo jangan pada ikut ya. Curiga nanti. Bilangin aja kalau gue lagi sakit bantuin Gilang ngomong. Ok!" pinta Revan pada kedua sahabatnya itu.


"Kok gitu sih Van. Gue ikut dong. Lo kan pernah bilang suka-duka harus dilalui bersama." tegas Rio pada sahabatnya itu.


"Hhuusstt.. Lain kali aja. Gue ada urusan, misi rahasia. Ntar waktu udah balik gue kasih tau lo semuanya." mau tidak mau kedua sahabatnya itu mengiyakan permintaan Revan.


Dibalik perbincangan mereka itu, ada seseorang yang mendengarkan dan tersenyum licik melihat mereka tanpa mereka sadari.


"Mau kemana lo Van. Hmm.. Coba untuk lari?" gumam seseorang yang memperhatikan mereka diseberang sana.


****


Bel istirahat telah berbunyi sekarang. Semua murid di dalam kelas 11 Ipa 2 merasa lega dan mulai berhamburan keluar kelas menuju kantin.


Saat yang tepat sekarang mengisi perut mereka yang dari tadi sudah demo pada mereka.


Tiga les penuh berkutat dengan pelajaran fisika dan soal-soal latihannya, membuat kepala dan otak mereka terus menggedor-gedor dan meronta-ronta ingin kabur sekarang.


Belum lagi ditambah dengan perut mereka yang sudah keroncongan dan meminta untuk diisi bahan makanannya. Juga sebagian orang yang sembari tadi sudah menguap berulang kali.


Dan sekarang mereka terbebas dari itu semua walaupun hanya sesaat. Sebab setelah istirahat mereka akan berkutat dan menguap berulang kali lagi saat memasuki pelajaran selanjutnya.


Bukannya tidak suka dengan pelajarannya melainkan ada waktu-waktu tertentu ketika mereka mulai merasa bosan pada materi tersebut.


Toh, namanya juga remaja moodnya terus berubah-ubah.


"Emangnya lo mau kemana?" tanya Arif saat ia menemani Revan cabut lewat jalan rahasia mereka.


"Ke suatu tempat yang ingin gue telusuri." ujar Revan sembari menaiki sepeda motornya.


"Ingat ya, izinin gue sama Bu Tanti."


"Ia-ia. Tapi setelah pelajaran sejarah selesai cepet balik ya lo."


"Sipp.." ia mengancungkan jempol tangan kanannya dan menepuk bahu Rio.


Beberapa detik kemudian, ia sudah menghilang di sudut jalan.


Jalanan sedikit lengang sekarang sebab semua sedang sibuk beraktivitas di tempat mereka masing-masing.


Revan mengoyak lintasan jalan raya dengan kecepatan rata-rata.


Menelusuri setiap sudut jalan yang ia tempuh.


Pemandangan yang indah bagi Revan selain keluarganya adalah bisa menikmati setiap sudut jalan kota kelahirannya dan menghabiskan waktu bersama dengannya.


Sambil melihat setiap pemandangan yang ada di jalan, tiba-tiba kedua mata Revan melihat satu sosok yang masih tersimpan menjadi salah satu memori terpenting yang terekam di otaknya.


Ia memberhentikan motornya dan turun dari sana lalu berjalan menuju sebuah halaman rumah dimana ia melihat sosok gadis tadi.


"Hei." sapanya.


Sania membalikkan tubuhnya dan melihat Revan yang berdiri di depannya saat ini.


Ia menghentikan aktivitasnya saat itu juga.


"Lo Revan kan?"


"Masih inget aja ya sama gue. Memang nasib orang ganteng gak pernah dilupain." Revan memuji dan membanggakan dirinya sendiri di depan Sania.


"Lo, pagi-pagi gini mau makan mangga?" tanyanya ketika melihat Sania memegangi beberapa mangga yang sudah matang.


"Oh ini. Gue emang mau makan tapi gak sekarang. Ntar siang baru dimakan. Gue petik sekarang supaya nanti siang tinggal makan aja gak susah-susah untuk ngambil lagi." ujar Sania.


"Non Sania kenal sama anak ini?" tanya Bi Neneng ketika menyadari keakraban Revan dengan Sania.


"Iya bi."


"Van, masuk dulu gih atau gak duduk di teras aja dulu." Sania menggerakkan kursi rodanya dibantu bi Neneng dan diikuti Revan disampingnya.


Mereka berdua duduk di kursi teras Sania.


"Mas ganteng mau minum apa? Biar bibi buatin. Bilang aja mau yang manis atau sedang sesuai takaran. Kalau kurang manis bibi ada kok. Biar menambah kemanisannya."


Tawar bi Neneng sembari mengeluarkan gombalannya agar suasananya tidak terlalu tegang.


"Ini bi Neneng Van. Dia udah gue anggap sebagai keluarga gue yang termasuk kategori berharga. Silakan jawab tuh pertanyaannya mau minum apa." Sania menambahkan pembicaraan mereka.


"Gak usah bi. Bentar aja kok ini. Cuman mampir, soalnya gak sengaja tadi liat Sania lagi megangi mangga." ujarnya.


"Ya udah deh kalau gitu bibi masuk dulu mau masak." bi Neneng kembali masuk kedalam rumah.


Suasana sedikit canggung setelah bi Neneng pergi. Namun bukan Revan namanya kalau tidak bisa mencairkan suasana yang awkward ini.


"Lo gak sekolah?" Revan melihat Sania yang bahkan masih memakai baju rumah biasa dengan rambut yang asal cepol ke atas.


"Lah lo juga kenapa gak sekolah?" Sania berbalik tanya pada Revan.


"Ya..ya..gue.." ketika Revan belum bisa menyelesaikan pembicaraan nya, Sania memotongnya.


"Cabut ya?"


"Nngg..nggak kok cuman istirahatkan otak bentar." bela Revan.


"Bener tuh, cabut dianya." sebuah suara datang tiba-tiba diantara mereka.


"Dinda. Ngepain lo? Buntuti gue ya? Nasib orang ganteng memang gini banyak fans yang ngikuti."


Dinda merasa jijik dengan perkataan Revan yang memuji dirinya dan mengatakan bahwa ia adalah fans nya.


"Pede banget lo."


"Lo temannya Revan?


Sania mengeluarkan suaranya di antara mereka bertiga.


" Teman? Ihh,, musuh bebuyutan iya."


"Eh, kutu badak siapa juga yang mau jadi teman lo! Oh iya, nama gue Dinda dan lo..." Dinda menggantungkan pembicaraannya.


"Lo pacarnya Revan?"


"Eh nggak-nggak. Gue Sania" Sania langsung angkat bicara mengenai ini.


Namun, tiba-tiba ia teringat mereka yang masih memakai baju sekolah. Dan bukannya berada di sekolah dengan seragam sekolahnya melainkan sekarang berada di rumahnya.


"Kalian kenapa gak di sekolah? Cabut?" tanya Sania.


"Eh nggak kok. Gue pergi dari sekolah cuman untuk ngikuti anak ini aja. Penasaran cabut kemana?" Dinda menentang perkataan Sania.


"Ngikut aja lo!" Revan meliriknya sinis.


Sebab dalam sejarahnya Revan dan Dinda tidak pernah akur.


Bahkan seisi kelas menganggap jikalau mereka berdamai, kiamatlah sudah.


Seisi kelas sudah percaya cukup mustahil melihat mereka berdamai. Bagai anjing dengan kucing.


Berada di dekat saja sudah mulai melakukan pertengkaran ataupun ocehan-ocehan yang tidak berguna.


Bosen? Iya sih bosen liat pertengkaran mereka. Tapi ya, mau bagaimana lagi kalau nyatanya sulit banget disatukan.


"Itu sama saja namanya tetap cabut. Dinda ngikutin Revan ada di suruh guru atau seseorang gak?" Orang yang ditanyai menggelengkan kepalanya atas pertanyaan tersebut.


"Nah, nggak kan. Revan juga gak ada alasannya ngistirahatkan otak karena di sekolah toh juga cuman beberapa jam. Pasti lebih banyak jam istirahat di rumah ya kan?"


Mereka berdua diam dan tak angkat suara sekecil apapun.


Mata Revan hanya tertuju pada mata Sania saat ini.


Gadis yang menurutnya berbeda diantara jutaan gadis.


"Kalian harusnya bersyukur karena kalian masih punya kesempatan untuk bisa bersekolah di sekolah yang kalian mau.


Kalian masih bisa menikmati waktu waktu kalian yang berharga. Masih bisa jalani kehidupan seperti para remaja lainnya. Percayalah waktu itu berharga. Jangan mudah disia- siakan. Masih banyak anak anak bahkan remaja diluar sana yang ingin seperti kalian.


Tapi, mereka rela hanya bisa memimpikannya. Setidaknya rasa ingin mereka terobati."


Sania mengeluarkan seluruh isi hatinya pada mereka.


Baru kali ini ia menjelaskan panjang-lebar seperti itu pada orang yang belum terlalu ia kenal.


Mereka bertiga terdiam beberapa saat. Saling memandang satu sama lain.


"Nah lo kenapa gak pergi sekolah?" Dinda mulai membuka mulutnya sekarang dan bertanya pada Sania.


"Gue sekolah kok." Sania menampilkan senyuman terbaiknya pada mereka. Menunjukkan lesung pipi terdalamnya yang membuat semua orang menjadi iri bahkan tergila-gila.


"Sekolah?" tanya Revan dan Dinda serempak


"Iya sekolah." bertepatan dengan itu seorang wanita yang memiliki postur tubuh yang bisa dibilang cukup bagus datang dan memberhentikan sepeda motornya di halaman Sania.


Ia membuka helm nya membiarkan rambut bewarna coklat muda nya yang bergelombang terurai ke belakang.


Dia tersenyum pada mereka dan menghampiri Sania yang sedang melihat ke arahnya juga.


"Morning." sapanya.


"Morning." mereka bertiga membalas sapaan si wanita yang sudah cukup berumur tersebut.


"Kalian temannya Sania?"


"Iya." balas Revan dan Dinda bersamaan.


"Ohh. Ya udah Sania saya ke dalam ya. Jangan telat ya."


Setelah mengatakan itu wanita itu pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Hhmm... Lebih baik kalian balik ke sekolah sekarang ya. Bukannya maksud gue ngusir cuman menurut gue itu yang terbaik bagi kalian. Ya udah gue masuk dulu ya. Bye."


Sania mendorong kursi rodanya ke dalam rumahnya dan meninggalkan mereka berdua di teras Sania.


Wow. Perkataan seorang gadis biasa,sederhana yang membuat mereka tertegun.


Revan menggerakkan kakinya keluar dari teras Sania, dan bergerak menuju sepeda motornya kemudian memakai helmnya. Senakal-nakalnya Revan, ia masih tetap ingat kok untuk mematuhi peraturan lalu lintas agar nyawa dan dirinya terselamatkan.


Dinda yang melihat ini langsung bergegas menjuju Revan. "Mau kemana lo?"


"Ketemu Selena Gomes. Ya mau ke sekolah lah."


"Eh, gue ikut dong. Sekalian bareng." Dinda baru saja ingin menaiki motor Revan, tetapi suara Revan menghentikannya.


"Mau nebeng maksudnya?"


"Iya." jawab Dinda.


"Oohh, kagak Boleh. Pergi gih, cari angkot sendiri baru balik lagi ke sekolah."


"Iihh... Kok gitu? Kan satu tujuan."


"Nggak boleh Dinda. Bukan Muhrim." setelah memberi alasannya, Revan melesat pergi dengan sepeda motornya, meninggalkan Dinda sendirian di halaman rumah Sania.


"Revaaannnn..... Awas lo ya!!!"