Miracle When Sunset

Miracle When Sunset
Book Store



Setiap orang punya hobi sendiri jadi, jangan pernah menganggap dia aneh.


___________________


Hari ini Putri, mama Sania memutuskan pulang cepat agar bisa menghabiskan waktu dengan putrinya.


Kata-kata yang diucapkan putrinya tadi pagi bagai menusuk hati.


Putrinya benar, sebagai seorang orang tua ia harus bisa meluangkan sedikit waktu untuk anaknya.


Ia melajukan sepeda motornya dengan kecepatan rata-rata.


Mengoyak lintasan jalan raya yang tidak terlalu padat.


Saat telah sampai, ia memakirkan sepeda motornya dan mulai memasuki rumah.


Tangannya terjulur menekan bel pintu yang telah disediakan di depan rumah.


Tiga kali menekan barulah ada sahutan dari dalam. Siapa lagi kalau bukan bi Neneng.


"Eh, nyonya udah pulang. Tumben cepet." ungkap bi Neneng.


"Ia, mau ngabisin waktu sama Sania berdua."


"Oohh... Silakan masuk mau minum apa?" tanya bi Neneng dengan cengiran manis di bibirnya.


"Lah, bi inikan rumah saya kok malah bibi yang nanya."


"Aduuh.. Lupa nyonya. Hehehe..." bi Neneng tertawa melihat tingkahnya barusan.


Yah, begitulah sifat Bi Neneng yang terkadang lupa alias pikun, perhatian, dan terkadang romantis juga ngikutin zaman kayak ABG diluaran sana.


Putri melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


Matanya mulai mencari keberadaan Sania. Kakinya bergerak cepat menelusuri segala penjuru ruangan yang ada.


Bola matanya ia gerakkan ke sana ke mari. Sampai ia melihat sosok wanita remaja duduk di atas kursi yang benar benar membantu keberadaannya.


"Sania, sweetheart. Oh, dari tadi mama cariin kamu ternyata di sini." tangannya terjulur ke depan memeluk putrinya.


Namun, sosok yang ia peluk tadi tetap diam, tak bergeming dan tak melakukan apapun.


Ia hanya melihat mata putrinya yang menatap kosong ke depan. Terukir tanda tanya di dalam pikirannya.


Ia membiarkan putrinya itu untuk angkat bicara sendiri. Namun, cukup lama ia menunggu dan tak ada perubahan.


"Sania, whats wrong?" ia pun mulai bertanya.


"Mom, do you look this flower?" jari telunjuknya terjulur ke depan menuju bunga yang ia tunjuk tadi.


Bola mata Putri pun bergerak lihai dan melihat apa yang telah ditunjuk putrinya.


"Yes, so?"


"Its a rose right? Mama ingat gak waktu aku kecil, mama pernah bilang apa tentang bunga ini?" ia menghela nafasnya sebelum melanjutkan pembicaraan.


"Mama pernah bilang ternyata bunga itu gak akan pernah lengkap tanpa penghiasnya dan peramainya.


Warna yang elok akan membuatnya tampil percaya diri dengan keindahannya.


Daunnya melengkapi ragam warna yang ada.


Batangnya, menahan ia agar bisa terjulur ke dunia dan makhluk hidup bisa menikmati paras eloknya.


Hewan yang hinggap di atasnya menambah penghias dan harum nya bunga.


But, look this rose.



Ia bahkan menjadi bunga favorit hampir seluruh wanita di bumi ini. Namun, sekarang ia mulai kehilangan paras indahnya. Warnanya telah pudar, tangkainya bahkan tak kuat untuk menahannya.


Para lebah dan kupu-kupu pun tak ada yang mau melirik bunga ini. Mereka tak pernah ingat betapa pentingnya bunga ini.


Ia hanya akan menunggu kapan seseorang akan mengakhiri penderitaannya atau angin yang akan menerbangkannya jauh ke tempat yang mungkin orang akan menganggapnya sampah.


Ia sudah tak berdaya di atas tangkai yang menahannya.


Ia ingin secepatnya pergi dan meninggalkan semuanya walaupun keluarganya tak mengizinkan." Sania memetik bunga mawar yang ia bicarakan tadi yang sudah layu.


'Ada apa dengan Sania?' Benar-benar aneh. Kalimat yang dituturkan putrinya tadi mengukir tanda tanya yang indah di pikirannya.


Ntahlah, apakah mungkin karena pikirannya sudah jenuh dengan pekerjaan makanya ia tak bisa berfikir terlalu baik ataukah perkataan putrinya tadi yang tidak masuk ke otaknya.


Cukup lama mereka terdiam. Hanya suara gemerisik dari angin yang berhembus dan juga suara khas lebah yang terbang terdengar.


Dua orang makhluk yang duduk di taman tadi pun tak mengeluarkan satu patah kata pun dari bibirnya.


" Sania, maksud kamu apa?" tanya Putri yang sudah tidak tahan dengan kediaman ini.


"Nanti juga mama tau sendiri."


Akhirnya, Putri pun mulai memikirkan satu cara untuk membuat Sania tersenyum dan ceria kembali.


" Sania, gimana kalau kita ke mall, cuci mata bentar, terus..."


"Ma, cukup. Mama kan tau aku gak terlalu suka sama fashion." potong Sania.


"Oohh... Jadi mama gak boleh ngelanjutin pembicaraannya ni? Padahal masih ada lagi yang mau mama kasih tau. Hmm... Ya sudahlah kalau gak mau. Sayang banget, itu buku-buku novelnya terlantar karena gak dibaca. Makanan sama minumannya lagi, ya ampun sayang banget kan kalau..." mata Putri mengerling jahil memikirkan apa ekspresi putrinya selanjutnya. Ia melanjutkan kalimatnya namun terpotong oleh ucapan Sania.


"Jangan bilang mama mau singgah ke toko buku sama traktir Sania makan ice cream." wajah Sania sedikit menampilkan senyuman.


"Iya gitu deh. Cuman yang mama ajak aja gak mau, ya udah gak jadi kesana." kaki mama bergerak berpura pura meninggalkan putrinya.


Namun, baru 3 langkah ia jalan, lengannya sudah dicengkram oleh jari jemari Sania.


"Mama, tadi kan Sania gak tau kalau mau singgah ke toko buku. Sania pikir mama mau ke mall aja liat-liat fashion gitu. Hehehe... Jadi ya ma kesananya. Sania siap- siap deh." senyuman yang memiliki paras indah dan manis terukir di bibirnya dan ditampilkan di wajahnya.


Yap.. Rencana Putri berhasil membujuk putrinya itu.


Setelah bersiap-siap cukup lama akhirnya mereka keluar dari rumah dan masuk ke dalam taksi yang sudah dipesan oleh Putri.


Mereka berada dalam taksi itu selama setengah jam. Namun, suasana canggung tak terjadi disebabkan suara mereka bertiga termasuk supir taksi nya pun ikut mengobrol menambah serunya perbincangan ini.


Akhirnya selama beberapa lama dalam taksi, mereka keluar dan memasuki mall itu setelah membayar uang taksi.


Namanya saja sudah mall, ya pasti akan banyak orang disana yang mencari apa yang mereka butuhkan, atau hanya sekedar cuci mata dan tebar pesona saja.


Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah tempat penjualan baju. Ini benar-benar diluar ekspektasi Sania dan harapan Sania.


Ia berharap akan sunyi disana dan akan cepat keluar dari dalam jeratan fashion. Namun, apa dayalah ia dengan keadaan yang menentangnya.


Putri menawarkan seluruh fashion yang cukup bagus untuk Sania dan tidak terlalu mahal mulai dari baju, sepatu, rok, maupun peralatan kosmetik namun tak satupun yang ia pilih, Sania kenakan.


"Ma, ayo dong ke toko buku. Apasih yang pengen diliat di sini." rengeknya.


"Iya, bentar mama mau bayar dulu ni ke kasir."


Benar benar jenuh, akhirnya Sania memutuskan untuk keluar dengan kursi rodanya dan langsung ke toko buku. Siapa juga sih, yang masih mau menunggu berjam jam hanya untuk mengantri dan rela berdiri.


Lebih baik pergi ke toko buku dan menghabiskan waktu berjam jam disana bahkan lebih bermanfaat lagi.


Sania mulai memilih-milih buku yang sudah ia incar sekian lama ini.


Buku pertama yang langsung dengan sigap ia ambil yaitu salah satu buku karya dari penulis terkenal.


Bintang,-Tere Liye. Tercetak dengan jelas dan rapi didepan sampul yang bewarna dasarkan ungu khas itu dengan perpaduan beberapa gambar yang unik tercetak di covernya.


Novel yang telah dirilis dan diterbitkan ini sebenarnya sudah ada sejak tanggal 12 Juni 2017 di Gramedia namun apalah daya ia yang baru keluar dan menghirup udara yang cukup baru ini.


Kuno? Ketinggalan zaman? Gak update? Terserah mau bilang apa Sanis gak peduli yang penting sekarang novel yang telah dia incar sekian lama ini sudah berada di tangannya.


Sania menggerakkan kursi rodanya ke sisi lain dari toko buku ini. Buku kedua yang ia incar adalah sebuah novel dengan judul My Winter Tale karya Neni Jahar ini secepat kilat ia ambil dan harus berada di dalam genggaman tangannya. Bagaikan ia tak mau buku itu jatuh ke tangan orang lain.


Merasa belum puas, ia mengambil dua buku sejarah untuk dibaca dan satu buku novel lagi.


Novel yang berjudul Dignitate itu ia ambil dengan dominasi warna cover biru dan terpampang dengan jelas nama penulisnya Hana Margaretha.


Puas!!!, setidaknya buku-buku itu bisa menjadi temannya selama satu bulan.


"Hei, udah belinya?" suara lembut menyentak Sania dan memgundangnya agar berbalik kebelakang.


"Oh, udah ma. Yok, bayar ke kasir." Sania menggerakkan kursi rodanya menuju kasir.


"Cukup segitu? Kamu kan Ratu Kutu Buku, ntar stress gak ada yang bisa dibaca."


"Cukup ma, setidaknya kan cukup untuk satu bulan."


Sania sampai ke kasir dan menyerahkan buku yang ia genggam tadi.


"Berapa semua mbak?" tanya Putri.


"Ma, pakai uang Sania aja." ucapnya sambil menangkis tangan Mama.


"Iya, tapi kan..."


"Ma..." potongnya.


Setelah perdebatan itu Sania menyerahkan uangnya ke penjaga kasir dan pergi keluar dari toko buku.


Satu hal yang harus kalian ingat dari Sania, ia bukanlah tipe gadis remaja yang suka meminta uang ataupun ini-itu kepada orang tuanya.


Sebab, semenjak ayahnya telah tiada ia tau bagaimana sulitnya mencari uang dan mudahnya menghabiskan uang dalam sekejap mata.


Lalu bagaimana ia bisa membeli buku- buku itu?


Suatu pertanyaan yang sangatlah mudah untuk dijawab.


Setiap orang yang mengirimkan uang khusus untuk Sania segera ia simpan ke dalam tabungan banknya.


Bahkan, ia berhemat dan menahan segala nafsunya agar bisa membeli buku-buku incaran yang ia inginkan.


Jadi, jangan berfikiran bahwa ia aneh dan sok berhemat sebab setiap orang punya pemikiran dan sudut pandang yang berbeda-beda.