Miracle When Sunset

Miracle When Sunset
Puisi



Lo tau masa lalu itu boleh lo inget tapi sebagai pelajaran di masa depan bukan sebagai penghalang di masa yang akan datang.


- Revan Andrian-


************************************


Sinar matahari yang menyengat di siang hari masih menjadi teman karib semua orang yang sibuk. Debu-debu berterbangan di udara lepas, membuat beberapa orang harus terpaksa menghirupnya.


Di siang hari ini juga, Revan bersama dua sahabatnya, tak luput juga dengan  Dinda, sudah berencana mendatangi rumah Sania untuk mengerjakan tugas kelompok bersama.


Mereka sudah memarkirkan sepeda motor mereka masing-masing di halaman rumah Sania setelah mendapat izin dari bi Neneng.


Masuk satu per satu dengan sopan, dan mengucapkan salam, lalu duduk di sofa menunggu Sania datang.


"Hai. Kok rame-rame gini, ada urusan apa?" tanya Sania begitu ia menyadari sekelilingnya.


"Oohh... Ini yang namanya Sania. Hai Sania, gue Rio Van Dough. Orang termanis sejagat raya.  Lo bisa panggil Rio." Sania membalas  uluran  tangan Rio.


"Alah, sok-sokan pakek nama itu lo. Bilang aja nama lo sebenarnya itu Rioma Syah. Ribet amat. Awas-awas gantian gue yang kenalan."


Arif mengambil posisi duduk yang pas, memperbaiki kera baju, lalu berdeham sesaat sebelum memperkenalkan diri pada Sania.


"Gue Arif. Lebih lengkapnya Arif Putra Wardana. Alamat di Jalan Kenangan. Tapi ingat cuman nama jalannya aja Kenangan. Bukan guenya yang susah buat ngelupain kenangan masa lalu. Asssekkk.... Umur 16  jalan 17 tahun. Sebentar lagi ulang tahun pada tanggal 23 bulan Agu...."


"Heh, mau kenalan apa mau laporan ke pak RT. Panjang amat." sambar Rio.


"Terserah gue dong. Mulut-mulut gue juga. Iri lo gak bisa lama-lama kenalannya? Inget yang disana. Jangan lo DUAIN." sanggah Arif dengan nada penuh penekanan.


"Enak aja. Hati gue tetep nge stuck sama yang disana kok. Yang ini biar buat Revan si mas JOMBLO aja. Ya gak?" Rio menyenggol bahu Revan sedikit kuat hingga membuat  Revan tersungkur di sofa.


"Anjrit lo. Malu-maluin aja. Ngerusak imajinasi gue."


"Sorry mas JOMBLO. Hahaha...." tawa pecah terdengar renyah seantero ruang tamu Sania.


"Husstt...  Mau audisi Stand up Comedy atau mau ngerjain tugas. Jadi gini San." pandangan Dinda beralih menatap Sania.


"Kita ada tugas untuk buat puisi. Nah, kata Revan lo jago buat puisi. Makanya kita datang kemari untuk minta bantuan lo ngerjain tugas. Boleh ya San... Tugasnya gak ribet-ribet amat kok. Tema puisi nya bebas. Yang ribetnya nanti bakalan dihukum kalau gak ngerjain tugas."


Sania tampak berfikir sebentar, ia masih belum sepenuhnya tersadar. Dari mana Revan tahu ia bisa membuat puisi? Seumur hidup, bahkan hanya keluarganya saja yang tahu, sekarang sudah ada orang luar.


"San...." Dinda mengguncang tubuh Sania hingga membuatnya tersadar untuk kembali ke dunia nyata.


"Eh, iya sorry-sorry." Sania menampilkan seulas senyum tipis sebagai tanda permintaan maaf.


"Ok. Gue bakal bantu kalian. Dan.. kira-kira puisi dengan tema apa yang kalian mau?"


Mereka berempat saling pandang-pandangan satu sama lain. Tidak ada yang menjawab selama beberapa detik.


"Lo aja deh yang nentuin San. Kita gak ada yang bisa kalau disuruh buat puisi." Ucap Dinda sambil memegang sebuah donat yang sudah ia ambil dari atas piring.


"Gue yang nentuin? Kalian serius?" telunjuk kanan Sania terarah ke depan wajahnya, meminta persetujuan dari mereka. Sedangkan mereka berempat mengangguk mantap mengiyakan sebagai jawaban.


"Ya udah deh, mana buku sama pulpennya?" Arif mengambil sebuah buku dan pulpen keluar dari dalam tasnya lalu memberikannya pada Sania.


"Hustt... Udah gak usah lama-lama. Nempel ntar bakteri lo di tangan Sania." Tukas Revan kesal sambil memukul tangan Arif saat ia melihat tangan mereka berdua terlalu lama terjulur ke depan hanya untuk memberikan buku ke Sania.


Melihat ini Sania hanya tertawa. Ada-ada saja tingkah mereka.


"Apaan sih lo? Iri amat. Sekali-sekali napa gue yang berbuat baik untuk Sania. Ya gak San?" Tanya Arif sembari tersenyum dan menarik turunkan alisnya.


"Eehhmm... Gue congkel jugak tuh alis biar gundul kayak si kuntil."deham Revan gemas melihat sahabatnya yang satu ini.


"Buset... Ya jangan, ntar gak ganteng lagi gue. Mau tanggung jawab lo kalau gue jomblo sampai seumur hidup?"


"Idihh... Kagak. Itu kan derita lo."


"Hahahaha.... Mampus." Rio yang sedari tadi hanya diam menonton pertunjukan gratis sekarang malah balik menyemburkan tawanya yang paling keras pada Arif.


"Lo berdua itu JAHAT..." Ujar Arif sambil menekan kata 'jahat' pada kalimatnya layaknya suara Cinta di film AADC.


"Iya-iya deh... Gak bercanda lagi nih kita. Kalau kita bercanda lagi gantungkan aja Arif di tengah sawah biar jadi penangkal burung."


"Lah, maksud lo jadi orang-orangan sawah? Iya kali orang seganteng gue digantung macam jelangkung gitu." Sanggah Arif keheranan sedangkan Revan hanya menanggapi pernyataan Arif dengan mengangkat jari tengah dan telunjuknya yang menempel sambil mengatakan 'peace'.


"Hahaha... Aduhh... kalian ini ya, ada aja tingkahnya." Sania tertawa terpingkal-pingkal, sesekali ia juga menggelengkan kepalanya.


Pemandangan yang ingin sekali Revan lihat. Sengaja ia membuat Sania tertawa agar ia bisa menikmati wajah manis Sania apalagi ditambah lesung pipi dan gigi gingsulnya. Benar-benar manis semanis es campur.


"Ok, let me think. Selama gue nulis puisi, kalian boleh nunggu sambil makan atau minum lah. Habiskan aja, gak usah malu-malu. Anggap aja rumah sendiri."


"Bener tuh, kayak gue. Udah gue anggap rumah Sania kayak rumah gue sendiri. Nih nih, silahkan dimakan donatnya. Enak kok." Dinda menawarkan sepiring donat kepada mereka. Sesekali ia terlihat mengunyah sisa donat yang masih ada di dalam mulutnya.


"Yee.. Lo mah taunya ngunyah mulu..." Ejek Rio.


"Hehehehe... Maaf bang."


Ntah kenapa tingkah Dinda yang sehari-hari layaknya kucing  heboh karena menyadari bulunya gundul sekarang malah sebaliknya. Baik nan manis di hadapan makanan bak dewi Aphrodite.


Sania mulai menulis bait demi bait puisi. Ia memilih tempat yang sesuai untuk mendapatkan imajinasi. Sedikit menjauh dari mereka berempat. Sambil menunggu Sania menyelesaikan puisi, Revan dan teman-temannya mengobrol, sesekali mereka mengambil makanan dan minuman. Sebab, rasanya tak komplit kalau kita bercerita tidak ada makanan ataupun minuman yang disediakan. Ibaratnya malam tanpa bulan. Serasa berada di dunia kelabu.


Cukup lama mereka menunggu, akhirnya Sania kembali dengan sebuah kertas yang sudah terisi tulisan di tangan kirinya. Ia memberikannya pada Dinda.


Begitu puisinya dibaca oleh mereka tak henti-hentinya pujian mengalir untuk Sania.


"Gila... Bagus banget nih puisi." Ujar Arif sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Iya... Udah mirip kayak Chairul Anwar nih." Timpah Rio menyetujui nya.


Sania hanya tersenyum mendengar pujian mereka. Sekilas ia melihat Revan sesaat, tidak ada satu kata pun terlontar dari mulut nya. Bahkan tidak ada pujian untuknya.


Muka Revan yang tegas, tidak menampilkan seulas senyuman sedikit pun membuat Sania bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Apakah ada yang salah dengan puisi yang ia buat?


Namun Sania tidak terlalu mempedulikannya. Mungkin saja ia sedang keram wajah jadi tidak bisa senyum. Setelah memberikan tugas puisi, mereka semua berbincang-bincang layaknya seorang remaja biasanya. Hanya saja Sania masih tetap irit bicara. Ia hanya menimpali perbincangan mereka dengan jawaban yang sangat pendek.


Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah enam. Sebentar lagi matahari akan terbenam. Menyadari ini, Dinda, Arif, dan Rio pun berpamitan pulang. Sania pikir tugasnya telah selesai untuk membantu teman-temannya Revan. Nyatanya tidak, ia masih ditunggu seseorang dibelakangnya saat ini.


"Aahh...Lo... lo kok gak ikutan pulang Van?" Tanya Sania terlonjak kaget saat menyadari Revan berdiri di depan pintu rumahnya.


"Gak boleh kalau gue mau sedikit lebih lama di rumah lo?"


"I..iya bukannya gak boleh sih. Tapi..."


"Tapi apa?" potong Revan.


"Hhh... " Revan menghela nafasnya sesaat. Lalu berjalan mendekati Sania.


"Ada yang mau gue omongin sama lo."


"Apaan?"


"Jangan bilang lo tulis puisi ini karena lo punya bekas masa lalu yang buruk." Revan mengangkat kertas puisi  di hadapan Sania. Alis Sania tertaut mendengar pernyataan Revan. Kenapa dia bisa menebaknya?


"E.. e.. enggak ah" ucap Sania terbata-bata.


"Hahaha.... Lo gak bisa bohong. Wajah lo itu ketara banget tau gak. Apalagi setelah gue baca semua bait demi bait puisi yang lo buat. Terasa banget tau gak. Gue akui lo jago dalam hal sastra. Lo bisa nuangkan semua perasaan lo dalam tulisan dengan ujung pena. Tapi gak selamanya lo harus kayak gitu. Gak selamanya lo bakalan terpuruk dan selalu nulis perasaan lo diatas kertas."


Sania ternganga mendapatkan nasihat dari Revan. Layaknya terkena dentuman bom besar, ia masih terpaku tetap mendengarkan Revan.


"Gini deh. Secara simple lo boleh ingat masa lalu, boleh menuangkannya di atas kertas. Tapi lo    harus tau kalau masa lalu itu hanya boleh lo ingat sebagai pelajaran di masa depan bukan sebagai penghalang di masa yang akan datang."


"Gue pamit dulu ya. Kirim salam sama tante dan bi Neneng. Maaf gak bisa jumpai mereka. Assalamualaikum."


Revan beranjak pergi meninggalkan Sania yang masih terpanah, duduk diam di atas kursi roda. Masih juga dengan tatapan yang tak berkesudahan, Sania melihat Revan sampai ia bergerak meninggalkan rumah dan hilang di belokan jalan.


"Kenapa dia bisa tahu semuanya? Ada yang aneh belakangan ini." Batin Sania terheran-heran. Mungkin apa yang orang katakan selama ini,itu benar bahwa ada beberapa orang istimewa yang bisa mengetahui isi pikiran orang lain. Dan, apakah Revan termasuk ke dalamnya?


________****____________***________________