Miracle When Sunset

Miracle When Sunset
Nge-stalk



Kalian harusnya bersyukur karena kalian masih punya kesempatan untuk bisa bersekolah di sekolah yang kalian mau.


Kalian masih bisa menikmati waktu waktu kalian yang berharga. Masih bisa jalani kehidupan seperti para remaja lainnya. Percayalah waktu itu berharga. Jangan mudah disia- siakan. Masih banyak anak anak bahkan remaja diluar sana yang ingin seperti kalian.


Tapi, mereka rela hanya bisa memimpikannya. Setidaknya rasa ingin mereka terobati.


Kata-kata Sania terus terngiang di telinga Revan saat ini. Ia bahkan tak pernah tahu bahwa di zaman sekarang ini masih ada seorang gadis seperti Sania.


Seorang gadis yang memikiki kekurangan dan latar belakang yang kelam tetapi masih mempunyai yang namanya jiwa belajar.


Revan masih melajukan motornya dengan kecepatan rata-rata. Mengoyak lintasan jalan raya yang tidak terlalu ramai.


Tujuannya kali ini hanya satu, yaitu kembali ke sekolah.


Terserah kalian mau bilang apa tentang Revan, tapi yang jelas ada bagian dari hatinya yang tersentuh dan sadar saat bertemu Sania.


Beberapa menit ia berada di jalan raya,dan akhirnya ia sampai ke sekolah.


Ajaib, gerbang sekolah sedang terbuka saat ini. Gerbang yang biasanya seperti neraka jahannam yang hanya terbuka saat bel masuk dan pulang sekolah saat ini terbuka lebar begitu saja.


Kesempatan yang bagus untuk Revan saat ini untuk memasuki sekolah. Dengan mudahnya ia berhasil masuk memakirkan sepeda motornya dan berjalan dengan santainya ke dalam kelas.


Teriakan histeris dari para gadis mulai heboh saat melihat seorang Revan. Siapa sih yang tidak mengenal seorang Revan Andrian.


cowok tampan yang menjadi incaran seantero sekolah.


Meskipun terkenal dengan bad boy namun, tidak dengan kelebihan dan talentanya yang super duper luar biasa dibandingkan remaja lainnya.


Revan memberikan senyuman manisnya kepada para gadis-gadis yang sedang free-class atau sedang membolos saat ini.


Sontak saja mereka berteriak bak seorang anak kecil yang dibelikan semua yang ia mau.


"Anjirr... Manis banget."


"Hhuuaaa.... Gilak udah gak perawan lagi nih gue ceritanya."


"Revan...jadiin gue pacar lo"


Segala pujian diluar ekspektasi mulai terdengar. Revan akhirnya sampai di kelasnya dan mengetuk pintu kelas yang sudah tersedia.


"Misi buk.. Revan yang ganteng boleh masuk gak? Mau belajar ni."


Saat ini sedang berlangsung pelajaran sejarah. Waktu istirahat sudah berlalu tigapuluh menit yang lalu.


Dan sekarang di kelas ini para siswa dan siswi sedang menguap dan seperempatnya lagi mendengarkan penjelasan Bu Tanti.


"Masuk." Revan menuruti perintah Bu Tanti.


"Katanya kamu sakit kok malah datang sekarang?"


Memang di sekolah Revan jika dalam waktu jam pelajaran sedang sakit alias kurang sehat boleh saja bebas dari pelajaran dan beristirahat di UKS.


"Emang sakit kok saya bu. Disini sakitnya" Revan menunjuk tempat dimana hatinya berada dengan jari telunjuknya.


"Sakit hati gara-gara kemarin pas saya panggil ibu gak noleh."


"Hahahahhaa...." satu kelas menyemburkan tawanya ke arah Revan.


"Diam!" suara cempreng Bu Tanti terdengar di seluruh penjuru kelas.


"Revan yang baik nan ganteng, kali ini ibu maafkan. Kalau sekali lagi kamu berbohong dan cabut, tamatlah riwayatmu. Dan satu hal lagi, kemarin itu hari minggu dan kita tidak saling bertemu kecuali itu di mimpimu. Sekarang duduk!"


"Makasih ibuku sayang.. Muaachh." Revan pergi ke tempat dimana ia duduk.


Baru saja ia duduk, ia sudah diserang banyak pertanyaan oleh temannya.


"Van, lo sehat kan? Rio menjulurkan tangannya memeriksa dahi Revan yang mungkin saja suhunya sedang tidak stabil sekarang.


" Kenapa lo gak jadi cabut, kesambet?"Arif pun mulai ikut-ikutan bertanya.


"Apaan sih lo ngaur banget. Ceritanya panjang. Ntar gue ceritaiin. "


.............


Suara hiruk-pikuk terdengar di seluruh telinga siswa sekarang. Mulai dari berebut untuk menjadi pelanggan pertama, memperebutkan makanan yang hanya tersisa sedikit, bahkan ada yang rela menyelinap dari barisan yang sudah menunggu sekian lama.


Revan, Arif, dan Rio sedang berada di kantin sekarang. Duduk di kursi panjang dan sedang berbincang-bincang.


Mereka duduk saling berhadapan agar bisa mempermudah obrolan mereka.


Rio yang duduk bersama dengan Arif di bangku panjang yang sama yang terbuat dari kayu. Sedangkan Revan duduk sendirian berhadapan dengan mereka.


"Lo tau gak kucing gue, ampun banget gue liatnya." Arif mulai mengeluarkan candaannya.


"Kenapa emang?"


"Aneh, gue liatnya. Masak iya dia hamil diluar nikah. Sekali melahirkan anaknya banyak banget. Heran gue siapa cobak bapaknya. Gak bertanggung jawab bener tuh kan kucing.


Hamilin terus pergi gitu aja. "


Sontak Rio tertawa mendengar hal ini. "Ya iyalah, emang kucing kayak manusia harus pergi ke KUA dulu kalau mau nikah. Kucing kalau kawin ya kawin ajalah. Iya kali pakek acara kayak gituan."


"eh Rif,Van gue mau cerita ni." tiba-tiba Rio teringat akan kejadian kemarin yang menimpanya.


"Lo tau Saphira gak anak kelas X Ips 3? Yang sering kebelet narsis apalagi kalau di depan gue." Arif mengangguk dengan antusias mendengarkan cerita Rio.


"Lo tau kemarin kan gue nunggu kalian di parkiran. Nah, pas gue nunggu tuh, si Phira ini sengaja berdiri di samping gue dan ngegodain gue supaya bisa dapet nomor gue.


Lo taukan kalau dia itu suka sama gue dan mulai ngejer-ngejer gue dari masa awal waktu MOS.


Tapi nih, sebelum gue bilang apa-apa dan nyuruh dia pergi, dia udah ngejawab pertanyaannya sendiri dengan malu terus langsung pergi." raut wajah penasaran mulai terlukis jelas di wajah Arif saat ini.


"Ngejawab gimana emangnya?"


"Dia ngejawabnya gak dengan membuka mulut." Rio melanjutkan ceritanya.


"Setelah selesai dia ngebujuk gue dengan segala usahanya untuk bisa dapetin nomor gue,tiba-tiba dia buang angin dengan kerasnya di depan gue dan anak-anak yang lainnya. Kebayang kan lo, si Saphira yang alay dan sombong nya selangit itu tiba-tiba buang angin sembarangan dengan kerasnya di depan gue dan siswa yang lainnya.


Pasti malu kan dia. Gue belum buka mulut dia udah lari gara-gara anak- anak ngetawain dia mulu." Rio menyudahi ceritanya itu diiringi suara tawa dari Arif, yang tidak bisa terbayang bagaimana ekspresi Saphira yang kebelet narsis waktu itu.


Banyak cerita yang sudah dilontarkan oleh Rio dan Arif dari tadi yang menimbulkan kesan lucu di dalamnya. Tapi tidak dengan Revan yang dari tadi terus memegangi ponselnya dan bolak balik terlihat mengetikkan sesuatu di ponselnya dengan serius.


Hal ini membuat Rio dan Arif penasaran ingin melihatnya.


"Lihatin apa sih? Serius banget. Eh, Van lo masih ada utang cerita sama kita. Jangan sok lupa lo."


Ucap Rio sekaligus mengingatkan sahabatnya itu.


"Lo bisa bantuin gue gak?" tanya Revan ketika melihat kedua sahabatnya itu.


"Apaan? Jangan yang aneh-aneh deh. Awas  kalau yang aneh-aneh lo mintak."


"Nggak, gue mau lo bantuin gue nge-stalk."


"Nge-stalk? Cieee... Akun siapa lo stalking?"


"Hayoo, makin banyak deh utang lo Van."


"Iya,iya ntar gue ceritaiin. But please, bantuin gue dulu. Coba lo buka deh sosmed lo, dan cari yang namanya Sania."


Arif dan Rio mengeluarkan ponselnya menuruti persis seperti perkataan Revan.


Mereka membuka dan mengecek sosial media yang mereka punya.


Tapi,tiba-tiba mereka teringat sesuatu.


"Lah,Van namanya Sania apa? Gilak, banyak banget nih yang namanya Sania. Nih ya,gue sebutin. Sania Imut bin cantik, Sania Asih, Sania tembem,Sayangquh Sania. Sania..." ucapan Arif terpotong seketika ketika mendengar suara Revan.


"Ya elah, belumut noh mulut lo nanti kalau nyebutin satu per satu. Gue gak tau nama panjangnya. Tapi gue yakin namanya itu cantik sama kayak orangnya. Dan nama yang lo sebutin tadi gak termasuk kriterianya. Apalagi yang terakhir itu Sayangquh Sania. Idih, dengernya aja udah geli gue.  Alay-alay gimana gitu."


"Ck, ya mana gue tau. Pernah lihat aja gak gue. Gimana mau nyariknya. Gak tau nama,gak tau orangnya. Lagian siapa sih Sania itu? Istimewa banget kayaknya."


"Pengganti baru ya Van." Arif mulai  menimpali percakapan yang sedari tadi hanya diam mendengar perdebatan mereka.


"Hhhh...." Revan mengacak rambutnya frustasi. "Dia gak siapa-siapa gue. Jadi gini gue juga baru jumpa dia beberapa hari yang lalu di mall. Ralat, baru dua kali. Di mall dan dirumahnya.


Disitu gue ngerasa dia kayak punya keistimewaan tertentu. Lo tau, dia nya itu lumpuh, dan feeling gue ketika gue ke rumahnya dia itu homeschooling. Tapi, dia itu semangat belajarnya tinggi banget. Walaupun dia homeschooling tapi jiwanya itu bener-bener seperti remaja yang normal."


"Homeschooling? Kok bisa?" ujar Rio.


"Kalau itu gue kurang tahu. Tapi menurut gue pasti dia punya masa lalu yang kelam sehingga ngerubah dia jadi kayak gitu. Jadi pendiam, dan kurang berani untuk bersosialisasi.


Dan karena itu gue penasaran siapa dia sebenarnya. Karena zaman sekarang sudah canggih,jadi kan nyariknya bisa pakai Handphone. Alias nama kerjaannya itu  STALKER. Tapi yang jadi permasalahnya sekarang ,gue gak tau nama panjangnya. Yang gue tau pas kenalan namanya itu cuman Sania."


"Oohhh.. Gitu toh ceritanya." sahut Rio dan Arif setelah selesai mendengar cerita Revan.


Mereka kembali pada ponselnya masing-masing untuk men-stalk akun yang bernama Sania itu.


"Ini bukan Van?" Arif menunjukkan foto seorang wanita yang ada di ponselnya pada Revan.


"Bukan."


"Hhmmm... Ini bukan orangnya?" Tanya Rio.


"Bukan."


"Kalau yang ini." kali ini giliran Arif yang tanya.


"Gak."


"Ini nih Van,pasti ini kan orangnya. Liat tuh cantik kan?" ujar Rio.


"Kagak. Masih lebih cantik Sania lagi."


"Eh, buset deh Van. Semua nggak. Jadi ribet kayak gini urusannya. Kenapa gak lo ambil aja sih fotonya pas ketemu dia? Kalau gitu kan jadi gampang nge-stalk  nya." mereka berdua mengusap wajahnya kasar.


"Masalahnya gak kepikiran sampai sana gue. Ntar deh kalau ketemu lagi gue ambil fotonya diam-diam."


"Ngambil foto siapa Van,gue ya? Aduuhh... Jujur aja deh. Gue tau kok kalau gue ini emang cantik. Apalagi kalau fotonya itu,foto wedding kita berdua ya gak?"


seorang wanita remaja yang memakai baju seragam yang disengajakan ketat,memakai lipstik yang tebal, dan tak lupa maskara dan alis terlukis di wajahnya, sepatu dan kaos kaki yang warna-warni yang  benar-benar melanggar peraturan sekolah datang mendekati dan duduk di samping Revan yang kebetulan kursi disamping nya sedang kosong saat itu.


Sedangkan Arif dan Rio hanya tertawa melihat muka lesu sahabatnya itu ketika salah satu fans beratnya datang dan menggelayuti lengannya.


"Ehhm... Iya kok Natasya." Revan memaksakan senyuman nya pada gadis yang bernama Natasya tadi yang sedang duduk di sampingnya.


"Van," sekarang tangannya ia letakkan di bahu Revan.


"Nanti malam gak ada kerjaan kan? Gimana kalau kita...."


"Eh, lo inget gak dari tadi kita kan dipanggil sama kak Vino." Revan mengedipkan matanya pada kedua temannya itu  untuk mengiyakan perkataannya.


"Aahh,, eh.. iya baru inget gue."


Arif menjentikkan jarinya degan menggabungkan jari tengah dan telunjuknya di depan wajahnya.


"Ia anak basket kan disuruh kumpul di aula ada yang pengen dibicarain kan? Kira-kira hal apa ya, yang kak Vino pengen bicarakan." Rio menimpali perkataan Arif yang sempat terbata-bata lagi.


Jikalau Arif meneruskan kata-katanya dengan terbata-bata maka mereka semua akan ketahuan kalau berbohong.


Selagi kedua temannya berbicara,Revan mencoba menurunkan kedua tangan Natasya dari bahunya sedari tadi.


"Ya sudah yuk,ntar nungguin lagi kak Vino. Udah dulu ya Tasya, Bye!"


Ketiganya berlari meninggalkan Natasya seorang diri di bangku itu.


Namanya juga Natasya, cewek yang suka  caper, punya mata yang tajam. Tajam liat cowok ganteng dan famous yang tiap kali lewat maksudnya. Gak ada bedanya kok sama Saphira.


Ia menghentakkan kakinya ke lantai, lagi-lagi ketiga orang itu lolos dari rayuannya.


Saat bibirnya ia bentuk mengerucut, suara seseorang yang  tidak asing terdengar di telinganya.


"Sama A'a Roni bisa kok Natasya. Siap kok A'a untuk nemenin Natasya duduk. Apalagi saat di pelaminan nanti"


"Idihh.. Pigi deh lo. Syu-syu gatal-gatal badan gue nanti deket lo bisa alergi." tanpa banyak bicara, Natasya menggerakkan kakinya dan  meninggalkan Roni sendirian yang  terpaku melihat kepergiannya.


"Emang salah Roni apaan?"