Miracle When Sunset

Miracle When Sunset
First Meet



Salah satu kebahagiaan dunia bagi Sania selain kumpul dengan keluarga adalah membaca buku. Jangan heran bila ia dijuluki Ratu Kutu Buku sebab kalau buku diletakkan saja di atas meja dengan langsung dan cepat ia akan mengambilnya.


Bukannya tidak sopan karena langsung mengambil tanpa izin, tapi ia hanya penasaran dengan isi bukunya. Tenang, ia bukan pencuri kok ntar juga dibalikin.


Membaca buku mungkin sebagian orang menganggapnya aneh dan sok rajin. Tapi, toh setiap orang punya hobi yang berbeda-beda.


"Sania, kita makan dulu yuk. Disana ada restoran yang gak terlalu mahal tapi mama denger katanya makanannya enak, ngisi perut bentar." ajak


Putri.


Sania hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban "iya."


Mereka mengambil kursi yang berada di sudut ruangan dengan tujuan agar perbincangan mereka tidak ada yang menganggu.


Seorang wanita berpakaian seragam yang khas dari restoran itu mendatangi mereka sambil membawa daftar menu.


Mereka melihat-lihat menu yang ada dan mulai memesan.


"Mbak, aku mau ice cream cokelatnya aja deh." pinta Sania pada pelayan itu.


"Lho, kok cuman itu? Pesen makanannya dong sayang. Yakin gak laper?"  Putri terlihat cemas dengan putrinya.


"Nggak laper ma," ia menampilkan senyumannya itu sebagai pendamping jawabannya.


"Mbak, saya juga sama ya sma anak saya." bola mata  Putri bergerak melihat putrinya.


Wanita yang berseragam khas itu melesat pergi setelah mencatat menu yang telah dipesan.


"Semoga aja bener-bener enak ya. Oh iya, sayang kalau nanti mama ada hari libur kita pergi liburan ya. Sekali-kali nenangin pikiran."


"Iya ma, Sania juga mau liburan. Bosen kalau di rumah terus."


"Emangnya Sania mau kemana? Raja Ampat? Pulau Dewata? Atau ke..."


"Hei, Putri. Ini bener kamu kan?" suara seorang wanita menyelinap masuk ke telinga mereka berdua, memotong di sela sela pembicaraan.


"Hei, Yunita. Long time no see. How are you?" Mama Putri menjulurkan tangannya memeluk wanita yang bernama Yunita tadi.


"Fine, how about you? Ah, this is your daughter? So beautiful... Namanya Sania kan?" Yunita bertanya dengan suara khas campurannya, melihat sosok wanita remaja yang berada di belakang Putri. Dan


Sania hanya membalasnya pertanyaannya dengan senyuman.


Yunita adalah teman kerjanya Putri semenjak ia bekerja di kantor dulu. Jadi, pasti lah dia mengenal Sania, anak dari bos nya itu.


"Ya, kapan kamu sampai ke Indonesia?" sekarang Putri memegang bahu Yunita.


"Kemarin. Aku tadi cari makanan yang enak, dan katanya ini restoran yang makanannya enak. Ya udah aku kesini, dan anehnya gak nyangka jumpa kamu disini."


Suara tawa kegirangan keluar dari mulut mereka.


"Hmm... Gimana kalau kita makan sambil berbincang-bincang? Banyak lho yang mau aku ceritakan sama kamu." ajak Yunita.


"Good idea. Sania, mama sama tante Yunita kesana sebentar ya, maklum udah lama gak ketemu. Kamu disini sendiri gak papa kan? Nanti, kalau udah siap, mama kesini deh. Ok!"


Sania hanya membalasnya dengan mengacungkan jempolnya tanda jawaban ok dan melemparkam senyuman pada keduanya.


Mereka berdua benar-benar menggerakkan kaki mereka menjauhi Sania.


Senyuman yang Sania tampilkan pun berubah seketika. Ia membentuk bibirnya melengkung, mengerucut.


Terus aja tuh kesana. Perasaan jugak tadi dia yang ngajak kemari. Sekarang malah dia yang pergi nyelonong kayak kucing ketahuan abis nyolong ikan. Batin Sania kesal.


Akhirnya sambil menunggu pesanannya datang, Sania membuka buku novel yang ia beli tadi.


Novel pertama yang ia buka adalah novel dengan judul Bintang --Tere Liye terukir jelas di covernya.


Kata demi kata dan kalimat demi kalimat ia hayati. Disana ia membayangkan seandainya ia adalah tokoh sekaligus pemeran utama dari novel bang Tere Liye.


Menit demi menit berlalu dan Sania tetap terpaku pada novel yang ia baca. Sampai ia mendengar suara seseorang yang misterius.


"Hiks,Hiks,Hiks." suara tersebut terdengar, dan membuat bulu kuduk Sania merinding.


"Perasaan disini kagak ada yang namanya cerita hantu deh. Kok ada suara aneh gitu sih?" gumam Sania sambil membolak balikkan kertas buku novel tersebut.


"Hiks,Hiks,Abang!!hiks.."kali ini suaranya makin terdengar jelas di telinga Sania.


"Iihh.. Merinding banget gue. Ini hantu kayaknya rindu ama abangnya kali ya. Yaelah, kagak jumpa berapa tahun sih sama abangnya." Sania memegangi lehernya seakan takut kalau tiba tiba hantu itu mengejutkannya dan menarik kepalanya sampai putus.


"Abaaannggg!!!!" kali ini suaranya terlihat histeris.


Sania mencoba mengalihkan pandangannya dari buku menuju suara misterius itu. Ia melihat ke segala arah dan tiba tiba...


"Kak, liat abang gak?" seorang anak perempuan kecil berada di hadapannya dan menatapnya secara intens, seakan kalau gak dijawab ia bakalan menyolok mata Sania dan mengambil bola matanya lalu dijadikan bahan masakannya.


"Astaga.. Gue pikir siapa. Dari tadi itu suara adek?" Sania menghela nafasnya dan masih memegangi jantungnya takut kalau tiba tiba copot lagi. Payah ntar urusannya.


"Iya, kakak liat abang gak?" anak kecil itu menghapus air matanya yang masih tersisa di pipinya.


"Sini deh dek. Duduk di sebelah kakak." anak perempuan itu menuruti apa kata Sania dan duduk di sampingnya.


"Nama adek siapa?"


"Kalau kata mama nama ku Stephanie Annisa yang cantik, imut, kayak princess. Tapi biar gak capek capek panggil aja Nisa ya kak. Hehehe...." Nisa tertawa setelah menjelaskannya.


Sania masih membuka mulutnya mendengar penjelasan gadis kecil yang bernama Nisa tadi.


gadis itu hanya tersenyum dan Sania menggelengkan kepalanya salut melihat anak kecil yang umur nya sekitar 6 tahun itu.


"Kakak liat abang gak?" lagi dan lagi hal itu yang terus ditanyakan.


'Boro boro gue liat, tau aja gak gue abang lo yang mana dek.' ujar Sania dalam hati.


"Gini deh, kakak kan gak tau abang Nisa itu siapa, yang mana. Tapi, cobak cerita sama kakak ciri-cirinya gimana? Ya, mungkin aja kakak bisa bantu."


Nisa mulai mengingat abangnya dan angkat bicara.


"Dianya laki-laki, bisa jalan, agak tinggi, punya mata, rambutnya hitam. Udah itu aja kak. Bantu cari dong kak." mata Nisa mulai mencoba merayu Sania dengan senyuman tulus nan polosnya itu.


"Astaga, Nisa..." belum sempat Sania melanjutkan pesanan ice cream nya pun datang.


"Silakan dinikmati mbak." Dua gelas ice cream terletak dengan manis di mejanya.


"Mbak, satu lagi punya mama. Kasih aja kesana." Sania menunjukkan tempat dimana Mamanya dan tante Yunita berada.


Pelayan yang diberitahu tadi pun pergi ke tempat yang telah dituju dan memberikannya.


Sekarang, Sania mulai memakan ice cream pesanannya. Tapi anak di depannya tadi hanya melihat ice creamnya saja, mengeluarkan lidahnya dan menggerakkan ke bibirnya seperti meminta kode untuk diberi.


"Mau? Nih, kongsi sama kakak. Kakak juga gak bakalan habis kok." Sania menyodorkan ice creamnya ke Nisa dan memakannya bersama Nisa.


"Makasih kak, kakak baik deh!!!" sektika Nisa lupa dengan abang yang ia cari tadi. Sania melihat Nisa gemas dengan cara makannya.


"Kakak tau aja kalau Nisa cuka cokelat." Sania hanya membalas ucapannya dengan senyuman.


"Astaga, Nisa disini rupanya kamu. Abang nyarik kamu tau dari tadi." seorang remaja laki laki yang mungkin seumuran dengan Sania menghampiri mereka berdua dan memegang kedua bahu Nisa.


"Dari tadi aja Nisa di sini kok, sama kakak cantik ini." Nisa menunjuk Sania sambil memakan ice cream dan laki laki tadi pun melihat Sania beberapa detik.


"Tapi abang cemas tau gak? Ini ice cream siapa lagi kamu ambil? Nyolong ya?" Sania ingin angkat bicara namun terhenti saat suara Nisa keluar.


"Yakin abang nyarik aku? Perasaan tadi abang aja digodain tuh ama kakak-kakak nakal. Pakek senyum- senyum segala lagi. Caper maju mundur, maju mundur aja. Lama-lama kayak Syahrini tuh, maju-mundur cantik." jawab Nisa tanpa ada rasa bersalah.


"Oh iya, soal ice cream ini punya kakak ini. Nisa gak mau nyolong tau, dosa! Untung aja ada kakak ini kalau gak, Nisa udah hilang.


Nanti kalau Nisa hilang abang yang kasihan. Nangis histeris dan bakalan rindu ama Nisa, gak makan. Ya kan?"


"Ini anak, kebanyakan nonton tv makanya jadi kayak gini." laki laki remaja itu mengacak rambut adiknya gemas dan mencubit hidungnya.


"Aduuhh,abang. Sakit tau!!!"


"Eh, hampir lupa. Nama gue Revan Andrian." lelaki yang bernama Revan tadi mengambil tempat duduk disamping Sania.


"Thanks ya, udah nemuin adek gue yang super bawel ini." Nisa menatap abangnya sinis.


Btw, nama lo siapa?"


Sania terkejut ketika ditanyai namanya. Jantungnya berdegup lebih kencang sekarang.


Perlu kalian ketahui bahwa Sania hanya memberi tahu namanya pada orang yang menurutnya tepat.


Namun,ntah kenapa ia merasa percaya diri untuk memberitahu namanya itu.


"Sania,. Dan dia adik kandung perempuan lo?" tanyanya.


"Yes, as well as you see. Dia ngerepotin gak?" Revan memasang mimik wajah penasaran.


"Sedikit." Sania memasang senyumannya dan meletakkan jari telunjuknya di atas ibu jarinya.


"Bang, enak lho." Nisa mengangkat sendok berisi ice creamnya ke arah Revan, lalu beberapa detik kemudian, ia memasukkan sendok yang diangkatnya tadi menuju mulutnya kemudian ditelannya melalui kerongkongan.


"Yaelah ni anak. Eh, btw ini kan ice cream lo. Jadi, berapa harganya biar gue bayar, kan ice cream lo abis sama Nisa." Revan mengeluarkan dompetnya dan bersiap-siap mengeluarkan uangnya sebagai bayaran ice cream.


"Eh, gak usah. Gak papa kok. Lagianpun ice cream nya kongsi kok sama Nisa." Sania menolak uang yang diberikan Revan di hadapannya.


"Yakin lo gak papa? Ya udah kalau misalnya rugi ambil aja uang gue gak masalah kok." ia kembali menyodori Sania dua lembar uang lima puluh ribuan.


"Iya gak papa." tegas Sania


"Oh ya udah thanks ya." Revan kembali memasukkan dompetnya ke dalam kantong celananya.


Mereka diam beberapa saat dan tak ada satupun yang angkat bicara.


Sania sibuk memperhatikan Nisa.


Nisa sibuk memakan ice creamnya.


Dan Revan sibuk mengamati Sania dan kursi rodanya.


Ia ingin angkat bicara dan menanyai tentang kursi roda yang dipakai Sania.


Namun, omongannya tadi ia telan, tak jadi diungkapkan sebab ia tau ini akan membuka luka kelam lama.


Ia mengalihkan pandangannya ke arah buku yang Sania baca dan buku lainnya yang terletak rapi di atas meja.


"Lo suka baca buku ya?" tanyanya penasaran sekaligus basa basi agar tidak terlalu sunyi perbincangan mereka.


"Ya" singkat, padat, tepat, jelas. Itulah jawaban Sania.


"Oohh.. Beda banget sama abang kak. Kalau abang itu kan bukunya... Hmmfftt.." Mulut Nisa ditutup oleh tangan Revan agar adiknya ini tidak membocorkan tentang nasib buku-buku nya.


Tapi, namanya juga anak-anak, ya gak akan kehabisan akal lah.


Nisa menggigit telapak tangan abangnya itu dan mau tidak mau Revan harus menjauhkan tangannya dari Nisa.


Sebuah kesempatan dalam kesempitan. Dengan cepat Nisa memberi tahu nasib malang buku yang dimiliki abangnya itu pada Sania selagi Revan sedang keasakitan


"Beda banget kak sama abang yang tiap hari bukunya itu ditiduri, dibuat pesawat terbang, terus berantakan, terlantar gitu deh bukunya. Kasian kan kak buku-bukunya." Nisa memberitahu semua nasib buku buku abangnya itu dan sesekali menggelengkan kepalanya.


Sania tertawa mendengar semua penjelasan polos dan jujur dari Nisa.


Sedangkan Revan, ia hanya memutarkan bola matanya, pasrah dan menyerah karena baru kali ini dan baru kepada Sania semua nasib buku-bukunya kebongkar.


"Hmm... Sania ngomong ngomong lo sekolah dimana?" Tanya Revan penasaran.


Sania terdiam beberapa saat, lalu ia menampilkan senyuman manisnya dan memutuskan untuk berbicara.


"Hmm.. Gue.." omongan Sania terputus ketika suara dering telepon dari salah satu program kartun televisi, Masy* and The Be*r terdengar.


"Ponsel lo bunyi ya?" tanya Revan pada Sania.


" gak, ponsel gue aja di silent". Tegas Sania. "Nanti ponsel lo, coba cek dulu."


Revan mengambil ponselnya, dan mengecek apakah benar ia  berbunyi, dan ternyata benar.


Nama Mama terpampang dengan jelas di layar ponsel Revan.


Revan mengangkatnya dan menjawab.


"Halo Assalamu 'alaikum ma."


"Wa'alaikum salam. Revan, Nisa sama kamu gak?" Tanya seorang wanita yang ada di seberang sana, yang Revan panggil sebagai Mama.


" iya ma." jawabnya.


"Bawa pulang, cepet ya! Katanya kamu cuma mau cari cemilan, bentar aja tapi sampai satu jam gini disana."


"Iya ma. Ya udah ya Assalamu 'alaikum."


"Wa'alaikum salam." Revan kemudian memutus sambungan teleponnya.


Revan berbalik dan melihat Sania juga Nisa tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa lo berdua?" Revan keheranan melihatnya.


Nisa sempat menyembunyikan tawanya dibalik gelas ice creamnya lalu ia angkat suara.


"Bang,sadar gak sih nada dering abang tadi?" Nisa mengingatkan abangnya itu.


"Astaga, iya ya kok dering gue bisa berubah gitu?" Revan menggaruk kepalanya dan mengambil posisi tempat duduknya tadi.


Tiba-tiba terbesit sesuatu di dalam pikirannya.


"Jangan-jangan Nisa ya yang ngubah?"


"Iihh, jangan sembarangan bang. Kita itu gak boleh curiga dulu." Nisa membela dirinya.


"Oohh, gak mau ngaku ni. Ok, cemilan banyak ni kalau abang abisin sendiri wiihh, bakalan kenyang abang ni." Revan melirik adiknya itu sesaat.


"Ahh abang. Ia deh, Nisa yang ngubah itu." muka Nisa tertekuk ke bawah menjawabnya


"Lah gimana caranya?" Revan penasaran dengan adiknya itu.


"Kalau itu,.. waktu ponsel abang ketinggalan di ruang tv, Nisa ambil terus Nisa ubah dering nya. Cuman sayangnya, Nisa gak bisa. Jadi, minta bantuan mama deh. Hehehe, jangan marah ya bang. Iseng doang!" Nisa membuka rahasianya secara terang terangan.


" Nisa..." Revan melekukkan jarinya seperti ingin menerkam adiknya itu.


Sedangkan Nisa ia berlari menuju Sania meminta perlindungan.


"Kak Sania, takutt..."


Sania hanya tertawa melihat tingkah kedua abang-adik itu.


"Udah,udah. Gak usah pakai acara berantem lagi."


"Nisa,pulang yuk. Mama udah nungguin itu." Revan memegang tangan Nisa dan menariknya dari benteng perlindungan Sania.


Nisa hanya menuruti apa kata abangnya itu.


"Thanks ya. Udah jaga Nisa tadi. Gue mau pulang dulu. Nice to meet you."


Revan berpamitan pada Sania.


"You're welcome. Nice to meet you too." Sania menampilkan senyuman manisnya.


"See you."


"See you." Revan menatapnya sesaat, tepat di manik matanya. Puas melihat bola mata hazel nya. Dan Sania puas melihat mata cokelat terang Revan.


"Ehhmmm...." Nisa menegur keduanya. "Jadi gak ni pulangnya?"


"Iya iya bawel. Udah ya, Bye". Revan melambaikan tangannya,dan melesat pergi meninggalkan Sania.


" aneh, baru kali ini gue ketemu orang kayak lo." gumam Sania.