
"Anak-anak hari ini bapak akan kasih kalian hadiah. Hadiahnya itu sangat menarik sekali dan bisa membuat kalian pintar. Kalian akan tertawa bahagia mendapatkannya." tutur Pak Budi menatap anak muridnya dalam diam.
"Tanya dong hadiahnya apa. Kalian ini gimana sih biar seru ceritanya."
"Hadiahnya apa pak?" teriak serempak seluruh murid di kelas.
"Hahahaha..... Gitu dong. Hadiahnya........................................"
Salah seorang murid yang sudah tidak tahan mendengar pak Budi menggantungkan kalimatnya langsung berdiri dari kursinya dan berkata,
"Cepet dong pak jangan gantungin kita, udah kayak hubungan aja yang selalu digantungin tanpa ada kepastian."
"Hhuuuuu.... Curhat jangan disini." sorak seluruh isi kelas.
"Sudah-sudah langsung saja bapak kasih tahu. Hadiahnya itu adalah..... tugas."
"Hah? Tugas? Ya elah pak panjang-panjang ngarang kalimat toh ujung-ujungnya tugas juga. Pakek basa-basi sama hadiah pulak lagi." sahut seorang siswa berkaca mata yang duduk di area paling pojok.
"Yaahh... Seharusnya kalian seneng bapak kasih tugas. Tenang ngerjainnya berkelompok kok. Jadi tugasnya itu membuat suatu puisi dengan makna yang tersirat maupun tersurat dari dalam puisi tersebut. Kalian tulis di kertas double polio dan dikumpul lusa. Sekarang dengarkan baik-baik, bapak akan membacakan nama kalian satu per satu dimana nama-nama itu nantinya jadi satu kelompok. Dan ingat satu kelompok hanya terdiri dari empat orang." jelas pak Budi.
Pak Budi mengambil buku absen siswa dan mulai menyebutkan satu per satu nama dengan acak.
"Siska, Arya, Zahra, Wahyu. Kalian satu kelompok. Selanjutnya Ajeng, Ratna, Aldi, Niko. Kemudian Fiqa, Lukas, Aldha, Ari. Lalu,...." pak Budi melanjutkan membagi kelompok para muridnya sampai dia membacakan empat nama terakhir yang menandakan bahwa ini adalah kelompok terakhir yang ia bagi.
"Dan terakhir ada Arif, Rio, Revan, dan Dinda. Selesai, itu anggota kelompok kalian. Ada yang mau protes?"
"Saya pak." Dinda mengacungkan tangan kanannya ke atas lalu berdiri dari kursinya.
"Masak saya perempuan sendiri dalam kelompok itu malah kayak gitu lagi anggotanya. Ganti dong pak. Sadis amat sama saya. Kelompok lain perempuannya ada dua masak saya sendiri."
"Eh santai dong ngomongnya kalau gak mau gabung sama kelompok kita ya gak usah. Gitu aja kok susah. Lo carik aja kelompok lo yang lain." Revan beranjak dari kursinya merasa tidak terima dengan kalimat Dinda, Revan angkat suara.
"Eh kutu badak gue gak lagi ngomong sama lo ya. Mendingan lo diem aja deh."
"PMS lo ya? Merepet mulu."
"Iihh.... Lo tuh ya.."
"Hhuusssttt.... Kalian itu ya kayak anjing sama kucing berantem terus. Udah gini aja mumpung bapak lagi baik, bapak kasih kalian tiga pilihan. Pilihan pertama, Dinda mau gak mau kamu harus gabung sama kelompok Revan untuk mengerjakan tugas kelompok biar dapet nilai tugas. Pilihan kedua, kalau kamu gak mau gabung, kamu bisa ngerjai tugas kamu sendiri."
"Nah gitu dong pak kan enak. Udah saya pilih pilihan yang kedua." ucap Dinda dengan percaya diri seraya mengangkat dua jarinya.
"Eh, bapak belum siap jangan dipotong. Ngerjai tugas sebanyak empat puisi, kamu juga harus buat maknanya dikumpul lusa."
"Yah pak... Banyak amat empat puisi malah singkat bener lagi waktunya. Seminggu deh pak waktunya baru siap saya ngerjainya." keluh Dinda dengan memasang wajah kesal.
"Eh eh eh, enak aja kamu tawar menawar emangnya ini pajak apa? Dengar ya satu kelompok itu ada empat orang jadi kalau kamu ngerjai sendiri makanya kamu harus buat empat puisi sesuai anggota kelompok yang ada sebagai ganti bahwa empat-empatnya kerja." jelas pak Budi.
"Aduhh... Ribet amat sih pak. Udah pilihan ketiga apa? Nah, pasti baik nih pilihan yang ketiga. Dari mukak-mukak bapak udah meyakinkan banget ini. Apa pak pilihannya?"
"Hahaha... Haha... Haha...." pak Budi cekikan tertawa melihat Dinda.
"Ciee... Yang udah gak sabar nunggu jangan gitu dong ngeliatinnya bapak jadi gerogi nih." Dinda menaikkan alisnya dan raut wajahnya berubah seketika menjadi jijik melihat tingkah gurunya ini.
"Ehm..ehm... Pilihan ketiga, kalau kamu gak pilih di antara pilihan pertama atau kedua, nilai tugas kamu bapak kosongkan sampai semester depan. Gimana? Enak kan dah bapak kasih kemudahan. Monggo dipilih."
"Ya ampun pak... Gitu amat pilihannya. Saya kan..."
"Satu, dua, sampek tiga hitungannya kamu harus ngambil keputusan atau bapak akan nganggap kamu ambil pilihan yang ketiga." perintah pak Budi memotong kalimat yang baru saja diucapkan Dinda.
"Dua setengah" Dinda masih memasang raut wajah sebal memikirkan pilihan yang diberi pak Budi.
"Ti...g"
"Iya-iya deh pak. Saya pilih pilihan yang pertama." Dinda mengerucutkan bibirnya sambil menghentakkan kedua kakinya dengan keras ke lantai.
"TERPAKSA"
"Nah gitu dong kan selesai urusannya. Ayo silahkan duduk, ada lagi yang masih mau mengeluarkan unek-uneknya biar gak mengganjal. Ayo bapak tunggu."
Semua murid diam menatap seisi kelas manatau ada yang ingin protes lagi maka mereka akan bersiap-siap untuk menontonnya.
"Tidak ada?" hening, mereka masih menatap para siswa yang lain, tidak ada yang angkat suara. Lalu pandangan mereka berakhir kembali pada pak Budi.
"Baiklah murid-muridku tersayang karena tidak ada yang protes lagi maka bapak akan menunggu kalian mengumpulkan tugas dengan senang hati. Jangan lupa dikerjakan tugasnya." bertepatan dengan berakhirnya omongan pak Budi, bel pulang sekolah berbunyi dengan nyaring dan menyisakan kegembiraan yang tiada tara di hati para murid.
"Karena bel pulang juga sudah berbunyi, maka bapak persilahkan kalian pulang dengan hati-hati. Tapi sebelumnya, kita harus berdoa dulu. Ayo ketua kelas persiapkan para anggota mu untuk berdoa sebelum pulang. " tegas pak Budi.
Ketua kelas menyiapkan para anggota kelasnya untuk berdoa. Setelah dirasa sudah cukup waktu yang diberikan untuk berdoa, Sam segera memerintahkan para siswa yang lain untuk bersalaman dengan pak Budi sebelum pulang.
Satu per satu mereka mulai keluar dari kelas hingga hanya menyisakan Revan, Rio, Arif, dan Dinda.
Dari sudut mata Dinda, ia melihat Revan dan kedua sahabatnya yang sedang tertawa terbahak-bahak mendengarkan cerita yang dilontarkan.
"Eh, kalian malah tenang-tenang aja. Tugas dikumpul lusa tapi masih bisa cekikikan disini. Kapan mau ngerjainya?" ucap
Dinda sambil memukul meja dengan tangan kanannya.
"Elah, sabar mbak. Jangan marah-marah. Lagian perhatian banget sih sama tugas, gue gitu sekali-sekali diperhatiin. Jomblo ni." ujar Arif yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Dinda.
Dinda masih berdiri mematung memandangi mereka bertiga. Masih menunggu jawaban yang nantinya bisa membuahkan hasil yang baik atau bahkan tidak.
"Daripada lo marah-marah gak jelas sama kita. Ya udah kenapa gak lo kerjai aja sendiri tugasnya. Kita tinggal bayar terus numpang nama. Selesai kan?" Revan membereskan buku-buku dan alat tulisnya yang masih tertinggal di atas meja.
Well, mungkin kurang tepat jika memakai kata buku-buku karena di meja Revan hanya ada dua buku tulis dan satu pulpen. Jujur saja Revan sangat jarang membawa buku pelajaran ke sekolah. Alasannya sih simple cuman gak mau ribet aja karena keberatan.
Dinda melipat kedua tangannya di dada, menghentakkan kaki sesekali dan menunggu Revan siap beres-beres.
"Lo tuh ngomong enak banget ya kayak gak ada beban. Itu namanya bukan kerja kelompok. Tapi kerja sendiri yang udah disuap. Gue sebenarnya bisa aja bikin sendiri tapi gue gak mau kalau kalian cuman tinggal bayar dan gak dapet ilmu atau makna apapun. Tugas tetep tugas dan pengetahuan tetep akan didapat jika kalian berusaha. Gak takut apa kalau nilai tugas kalian gak ada, terus gak naik kelas?"
Revan mengusap telinganya berulang kali, merasa gerah dengan omongan Dinda.
"Yo, lo aja deh yang buat. Lo kan orangnya romantis pasti bisa buat puisi."
"Lah kok gue, gini ya seromantis-romantisnya gue tapi jujur gak penah bisa buat puisi. Arif aja tuh yang buat."
Enam pasang mata mengarah ke Arif menantinya mengeluarkan jawaban.
"Buset. Lo nyerahin tugas ama gue. Mau nilai tugas lo jatuh semua? Asal kalian tahu ya bisa kena cincang gue sama tuh nyonya." Arif mengarahkan wajahnya tepat di wajah Dinda.
"Kok gak lo aja yang ngerjai Van?" sambungnya.
"Ogah males gue."
"Kalian tuh undur-unduran terus kapan ngambil keputusannya? Padahal gue cuman tanya kapan mau dikerjai. Bisa berjenggot juga gue nunggu kalian."
"Jadi pengen gue ngeliat lo jenggotan Din." ucap Arif spontan sehingga membuat Revan dan Rio tertawa terpingkal-pingkal.
"Ketawak aja terus. Sampek kalian guling-guling." ucap Dinda sinis.
"Udah-udah gini aja gimana kalau kita minta bantuan Sania?" Revan mengajukan pendapatnya dengan semangat.
"Sania? Sania yang pakek kursi roda itu ya?" tanya Dinda mencoba memastikan ingatannya tentang Sania.
"Iya."
"Tapi dia kan homeschooling Van." kata Rio.
"Iya gue tau. Tapi kan pelajaran yang diajarkan di sekolah umum sama homeschooling gak jauh beda. Lagian nih pas gue tanya seandainya dia masuk sekolah umum, dia bakal masuk tingkat apa dan kelas berapa, dia ngejawab kelas 2 SMA. Sama kayak kita kan. Jadi gak ada salahnya mintak bantuan dia. Siapa tau aja dia pintar buat puisi. Gimana?"
"Boleh juga tuh. Ya udah let's go!" Dinda berjalan mendahului mereka tapi baru beberapa langkah ditempuhnya, ia baru menyadari bahwa ketiga manusia yang berada satu kelompok dengannya tidak bergeming sama sekali.
"Kok bengong? Ayok jalan biar cepet selesai."
"Jalan kemana?" tanya Arif.
"Ke Menara Eiffel. Ya ke rumah Sania lah. Aduhh... Bisa naik juga tensi gue lama-lama liat lo semua. Udah cepet."
"Iya-iya berisik banget lo." Revan akhirnya berjalan di urutan paling depan kemudian disusul Rio, Arif, dan Dinda.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke parkiran sekolah. Revan, Rio, dan Arif mengambil sepeda motor mereka masing-masing, setelah itu menyalakannya.
Baru saja bersiap untuk menjalankan motornya, Revan merasakan seseorang sedang menaiki dan duduk di motornya.
"Lo ngepain duduk di sini?" tanya Revan dengan kepala yang menoleh ke belakang.
"Ya numpang lah, masak iya lo tega ngebiarin gue ke rumah Sania sendiri. Mau tanggung jawab kalau ada apa-apa sama gue?"
"Kan ada motor Arif, atau Rio sama-sama kosong juga."
"Iya kalau gue maunya disini kenapa? Masalah? Udahlah sama ajanya gue duduk dimanapun. Tujuannya juga sama. Udah cepet jalan sebelum gue giling lo jadi bubur."
"Emang bisa lo digiling Van?" tanya Arif yang masih membiarkan kaca helmnya terbuka.
"Tau. Jalan luan gih, gue nyusul di belakang."
Sesuai perintah Revan, Arif dan Rio melajukan sepeda motor mereka lebih awal, bersiap melintasi jalan raya yang cukup padat.
Tidak lama setelah mereka prrgi, barulah Revan melajukan motornya dengan kecepatan rata-rata. Ia tidak mau mengebut atau bahkan mencari kesempatan dalam kesempitan saat sedang membawa seorang wanita. Sebab, tugasnya hanyalah menjaga Dinda agar tidak terjadi hal yang buruk padanya.
Meskipun rasa kesal di hati Revan masih ada, ia tetap akan membawa Dinda selamat sampai tujuan karena bagaimanapun Dinda adalah seorang perempuan, dan jika ada yang mencelakainya maka Revan tidak segan-segan untuk turun tangan.
Sebab sejahat-jahatnya, sejahil-jahilnya seorang wanita ia tetaplah akan menjadi sebuah dinding pertahanan di barisan paling depan bagi para laki-laki. Sekali dinding pertahanan itu hancur, maka sudah tak ada gunanya lagi untuk diperbaiki.
_____________________________________________