Miracle When Sunset

Miracle When Sunset
Cerita Tak Terduga



"Mama gak kerja?" tanya Sania terheran-heran ketika melihat mama nya sedang berada di rumah saat ini.


Sania tau, mama nya adalah orang yang super sibuk. Ia selalu pergi pagi dan pulang malam. Dalam satu tahun bahkan masih bisa dihitung berapa banyak hari libur yang ia miliki. Wajar Sania merasa heran pagi ini, melihat mama nya masih berdiam diri di rumah sambil menonton televisi.


"Eh, Sania. Sini nak duduk dekat mama."


Sania mendorong kursi rodanya mendekati mama nya. Sekilas ia melihat mama nya memegang foto papa yang sedang tersenyum lebar merangkul bahu mamanya. Mereka berdua kelihatan sangat bahagia. Tidak ada yang bisa menggantikan papa di hati mama.


"Mama memang sengaja libur kerja, satu harian ini dulu. Hmm.... ngomong-ngomong kamu rindu gak sama papa?"


Sania terdiam. Ia terhanyut dalam suasana. Hatinya terasa sakit ketika mengingat papanya. Ia hanya tertunduk lesu, mencoba menahan sekuat tenaga untuk tidak menjatuhkan butiran-butiran air mata.


"Iya ma."


"Husstttt.... Gak usah nangis. Papa bakalan sedih kalau liat anak gadisnya lesu gini. Kita kunjungi papa yuk. Mama jugak rindu sama dia. Gimana?"


Sania mengusap satu tetes air mata yang mengalir turun dari pelupuk matanya. Percuma, sia-sia saja usaha yang ia lakukan untuk menahan agar air matanya tak keluar.


"Boleh ma. Aku juga rindu banget sama papa."


"Ya udah, kalau gitu kamu siap-siap ya. Mama tunggu di depan. Mama bakalan minta tolong kang Ujang buat antar kita. Mumpung mobil dia di rumah."


Sania mengangguk. Lantas, ia pergi ke kamarnya. Hari ini rasa rindu nya pada papanya akan terbalaskan. Meskipun melalui perantara, ia yakin papanya juga merasa rindu.


Sementara Sania ke kamar, mama nya pergi untuk meminta bantuan kang Ujang, tetangga dekat rumahnya agar ia mau mengantar mereka ke tempat suaminya.


                                 ***


Ketika semuanya sudah siap, mereka bertiga pergi ke tempat kediaman Yuda, papa Sania. Untunglah kang Ujang mau membantu mereka untuk membalaskan rindu.


Perjalanan kesana memakan waktu sekitar setengah jam. Cukup jauh memang. Namun jarak tak akan mengartikan apa-apa, ketika semua rasa sudah terbalaskan.


Begitu sampai, suasana disana masih sama. Sepi, sunyi. Hanya daun-daun berguguran yang masih setia menemani. Mereka bertiga berjalan melewati papan-papan nama berdebu yang tertancap di tanah. Sania rasa sudah banyak bertambah orang yang tinggal di bawah gundukan-gundukan tanah ini.


Mereka harus melewati beberapa makam untuk bisa sampai ke makam nya papa Sania. Papan nisan yang bertuliskan nama 'Yuda Ari Wibowo' beserta tanggal lahir sekaligus tanggal ia wafat saat ini sangatlah berdebu.


Putri, mama Sania mengusap debu yang menempel pada papan nisan dengan tangannya. Ia mengusap pelan nama suaminya. Perlahan tanpa disadari bulir-bulir air mata jatuh mengalir ke pipinya. Ada getaran tersendiri dalam hatinya. Ia rindu. Rindu merasakan senyuman, tertawaan, kebahagiaan, kesedihan yang pernah mereka lalui bersama.


Andai saat itu peristiwa yang mengenaskan tak terjadi. Andai ia masih menginjakkan kaki di muka bumi. Maka keadaannya tak seperti sekarang. Namun Tuhan berkata lain, sebelum semua angan tercapai, Yuda sudah dipanggil untuk kembali.


Sedangkan Sania, ia juga berdiam diri di atas kursi rodanya. Menatap papan nisan beserta gundukan tanah yang menutupi papanya dari panas terik matahari serta kehujanan. Sania juga rindu papanya. Sania tau ia salah, salah tidak memberi perhatian lebih pada papanya ketika ia masih hidup. Namun, semua keadaan sudah berbeda saat ini. Tak ada lagi yang bisa dirubah. Waktu tak bisa diputar.


Sania merutuki dirinya. Ia rindu pelukan papanya. Ia rindu nasihat papanya. Rindu ketika penyakit Sania kambuh, papa nya selalu meluangkan waktu untuknya walau hanya sesaat.


Sekarang kemana semuanya? Kemana papanya? Bahkan sekarang Sania tak bisa lagi memegang raganya. Tak bisa lagi melihat tubuhnya. Sania hanya bisa melihat batu nisan di hadapannya. Dan jika rindu, ia akan membayangkan sosok papanya ada di hadapannya.


Kang Ujang memilih sedikit mengasingkan diri. Ia memberikan waktu pada ibu dan anak untuk bisa membalaskan rindu terdalam.


"Bang, aku rindu. Kapan kita bisa jumpa? Abang tau gak, setiap saat dalam doa ku, aku berdoa supaya Allah bisa mempertemukan kita lagi di Jannah Nya. Aku ikhlas Allah pisahkan kita di dunia. Tapi harapanku masih sama, semoga kita bisa berjumpa lagi di akhirat."


Putri melihat Sania sekilas, lalu mengalihkan pandangannya lagi ke batu nisan di hadapannya.


"Sania sudah besar sekarang. Aku harap kamu gak kecewa karena aku belum bisa punya banyak waktu  untuk menemani hari-hari nya. Maaf."


Sania menggerakkan kursi roda nya. Ia menurunkan badannya sedikit untuk bisa menyentuh papan nisan papa nya. Air matanya jatuh, semua rasa rindu terbalut penyesalan sudah menjadi satu. Ia menumpahkan semua kesedihan nya. Hari ini Sania menjadi seseorang yang sangat lemah, sangat lesu ketika ia berhadapan dengan makam orang yang ia sayang.


"Putri."


Suara itu, suara yang Putri kenali, tidak asing baginya. Lantas, mereka berdua melihat ke belakang, tempat si sumber suara berasal.


"Citra." Putri bergegas memeluk seorang wanita paruh baya di hadapannya. Ia menangis, menumpahkan isak tangis di bahu Citra.


"Husstttt... Kamu rindu ya sama bang Yuda?"


Putri mengangguk, ia masih memeluk erat tubuh Citra. Saat ini Putri juga membutuhkan tempat sandaran. Betapa beruntungnya ia ketika bertemu sahabat lama, sahabat yang bersedia menemani susah senangnya.


"Ini, Sania? Anak kamu bukan?"


"Iya." Putri merangkul sahabatnya. Pandangan mata teduhnya jatuh pada Sania.


"Ya Allah, udah besar ya... Dulu kamu masih kecil lho. Masih segini nih. Masih sepinggul tante.  Sekarang udah tumbuh besar. Udah jadi anak gadis. Waktu cepat banget berlalu ya Put."


Sania tersenyum, lalu ia menyalami Citra. Seorang wanita yang ia tidak tahu siapa. Bahkan mungkin seingat dia mereka tidak pernah jumpa.


Namun seketika, teka teki nya terpatahkan. Sosok pria bertubuh tinggi dan tegap berjalan ke arah Citra. Sambil membawa seorang anak perempuan kecil yang berjalan riang. Dari jauh mereka kelihatan bercanda ria. Sang pria dengan wajah yang sangat tak asing bagi Sania mencoba menghibur seorang anak kecil yang bersamanya.


"Mama......" Anak perempuan tadi berlari memeluk Citra. Sambil melengkingkan suara 'mama', ia memeluk wanita tersebut.


Sania hanya melihat mereka berdua. Meskipun sesaat tatapannya terpaku pada seorang pria di hadapannya.


"Tante." Pria itu menyalami Putri. Dengan sopannya ia tersenyum dan menyapa mama Sania.


"Udah lama gak ketemu tan."


"Eh, kamu Revan kan? Yang waktu itu ke rumah Sania."


"Iya tan. Masih ingat rupanya tante."


"Lho-lho, kalian masih saling kenal? Aku pikir Revan gak kenal lagi lho sama kamu Put. Udah lama gak jumpa soalnya. Semenjak bang Yuda ninggal, kita udah gak pernah ketemu lagi. Sibuk dengan urusan masing-masing."


Sambil mengusap punggung Putri, Citra memperkenalkan anak perempuan semata wayangnya.


"Ini Nisa. Adiknya Revan. Kamu pasti belum pernah ketemu sama dia. Soalnya dia belum ada waktu itu. Masih di awang-awang."


Sontak mereka berdua tertawa bersama. Mengingat masa kecil anak mereka dahulu. Ketika masih imut-imut nya, dan masih bergerak lincah dalam setiap langkahnya.


"Halo Nisa. Gak usah takut, tante baik kok. Kita belum pernah jumpa ya. Baru sekali ini. Nama tante, tante Putri. Tante...."


"Tante, mamanya kak Sania ya?"


"Iya, kamu kok tau? Udah pernah jumpa sama kak Sania?"


"Udah Tante. Waktu itu pas beli es klim cokelat. Tante, tanta kak Sania baik lho. Dia belikan Nisa es klim cokelat. Enuakkk banget. Tante mau nyobain?"


Putri tertawa lepas mendengar celotehan Nisa. Bukan hanya Putri tetapi semua orang yang ada disitu pun tertawa. Tingkah Nisa yang begitu polos dan lugu, membuat siapa saja yang berbicara dengannya merasa gemas.


"Oh iya put, ke rumah ku yuk. Aku mau cerita banyak sama kamu. Mau?"


"Boleh.  Ya udah ayo. Sania....." Kalimat Putri terhenti sesaat, terpotong oleh ucapan Revan.


"Boleh. Boleh aja. Tapi kamu juga harus minta persetujuan langsung sama orang yang bersangkutan." Bola mata Putri terlihat menyudut, menunjukkan arah tempat Sania berada.


"Aku ikut mama aja deh."


"Yahhhh kak Sania..... Ayok lah kak makan es klim. Nisa lindu makan es klim baleng kakak."


Nisa memegang tangan Sania, dengan muka manis nya ia membujuk sekuat tenaga. Bola matanya semakin ia bulatkan, bibirnya ia bentuk mengerucut, dan mukanya ia buat memelas. Sungguh Sania merasa tidak tahan melihat anak perempuan di hadapannya ini. Ia merasa tak sampai hati menolak permintaan nya.


"Iya, huftt... Ya udah kakak ikut bareng kalian deh."


"Holeeee!!!!!!! Makan es klim!!!! Ye ye ye ye.... Yeeeee!!!!!"


Revan tersenyum. Dalam hatinya ia tertawa lepas. Akhirnya ia bisa menghabiskan waktu bersama Sania lagi. Meskipun ditemani Nisa, tapi setidaknya itu lebih baik daripada tidak sama sekali.


"Ya udah tante, ma Revan izin pergi ya. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam."


Mereka berjalan melewati setapak tanah merah yang mungil. Meninggalkan kampung kediaman yang tak punya kehidupan di atas tanah. Revan mendorong kursi roda Sania menuju mobilnya. Hari ini Revan akan mengajak Sania ke suatu tempat yang mungkin ia akan senang di dalamnya.


                                  ***


Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil bukan lagi sunyi. Melainkan seperti pasar malam. Sangat ramai dengan celotehan dan nyanyian Nisa. Revan sengaja menghidupkan musik kesukaan Nisa. Musik anak-anak selalu siap sedia di mobilnya untuk dimainkan. Revan tak mau memberikan musik dewasa yang berbau aneh untuk anak kecil seusia Nisa. Jadi, ia lebih memilih lagu anak-anak untuk dikoleksi.


Saat ini lagu 'balonku ada lima' sedang terputar di dalam mobil. Dengan riangnya Nisa bernyanyi. Tanpa memedulikan suasana, ia terus melengkingkan suaranya.


"Jadi, lo anaknya pak Yuda? Anak semata wayangnya, dengan sebutan anak sejuta keajaiban."


"Lo tau dari mana soal bokap gue?"


"Yaelah, gue itu udah tau lama banget. Dari lo kecil, gue udah sering main sama pak Yuda. Mungkin lo itu dulu jarang banget main ke kantor pak Yuda, kantor papa lo. Tapi gue sering. Bokap nyokap gue kerja di perusahaan papa lo. Setiap hari, sepulang sekolah, gue selalu nunggu orang tua gue di kantor papa lo. Sambil main sama karyawan kantor, bahkan terkadang pak Yuda juga ikut main. Pak Yuda sering bilang soal anak perempuannya. Dia sayang banget sama anaknya itu. Katanya anak perempuannya gak beda jauh usianya sama gue. Dia cantik, imut, pintar, dan pak Yuda selalu menjulukinya dengan 'anak sejuta keajaiban'. Ya, gue gak tau kenapa pak Yuda ngasih lo julukan itu. Cuman katanya ada yang spesial dari lo. Yang Tuhan titipkan untuk selalu ngejaga lo, dan yang sesuatu itu telah Tuhan percayakan pada orang tua lo buat ngerawatnya. Gitu sih kata pak Yuda."


Tiba-tiba suara Sania berubah. Ia menangis. Terisak-isak. Tanpa sebab, Revan tidak tahu apa yang membuat Sania sedih.


"Eh-eh, lo kok nangis? Gue ada buat salah ya? Serius San, lo bisa buat gue jantungan hari-hari. Nangis tiba-tiba, ketawa tiba-tiba. Kayak Mak Lampir nanti. Serasa dihantui gue. Lo gak papa kan?"


Sania menggeleng, ia mengambil tisu di mobil dan mengelap mata basahnya. "Kak Sania kenapa? Kenapa kakak nangis? Abang yang buat ya? Abang kok jahat sama kakak. Nisa bilang mama nanti ya."


"Nggak Nisa. Bukan karena abang kakak nangis. Kakak kelilipan kok matanya. Makanya pedih terus nangis deh. Ya kan bang?"


Sania mengerlingkan mata jahilnya ke Revan. Ia tak mau Nisa mencampuri urusan orang dewasa. Apalagi Nisa masih sangat di bawah umur.


"Iya Nisa. Kak Sania kelilipan serangga itu makanya matanya wusshh..... bengkak, terus nangis dia."


"Oohhhhhh... Ya udah Nisa lanjut nyanyi aja ya. Balonku ada lima, lupa-lupa warna nya. Hijau, kuning kelabu, melah muda, dan bilu."


Tampaknya Nisa sudah melupakan kejadian tadi. Ia mencoba menghibur diri nya dengan bernyanyi.


"San, lo yakin gak papa?"


"Nggak. Lo mau gak Van nyeritain soal bokap gue? Segala hal yang lo tau soal bokap gue. Please..."


"Oke, tapi nanti. Saat kita makan. Jdi sekarang sebelum kita sampai ke tempat tujuan, coba lo ilangin dulu perasaan sedih lo. Gue gak mau liat satu tetes pun air mata lo jatuh. Takut berdosa gue San, buat anak gadis orang nangis. Oke gimana kesepakatan nya? Deal?"


"Deal."


Sania menyunggingkan senyuman manisnya, meskipun hanya tipis, tapi itu sudah bisa membuat hati Revan bersorak gembira. Seolah-olah senyuman Sania menjadi candu baginya sekarang.


                                    ***


"Permisi mas, mbak mau pesan apa?"


"Hmm... Saya nasi goreng sama es teh aja deh mbak. Lo San?"


"Gue sama aja kayak lo. Cuman minumnya es jeruk aja ya mbak."


"Oh oke. Kalau adik manis ini mau pesan apa?"


"Kak, ada gak es klim yang banyakkkk kali cokelatnya, vanilanya, yang manis, besarrrrr, meleleh, telus pakek gelas emas. Ada kak?"


"Wah... Itu mana ada dek. Kalau es krim cokelat kita disini jual. Cuman kalau yang kayak adek sebutin, gak ada."


Sang pelayan spontan ketawa mendengar permintaan gemas Nisa. Mana ada es krim yang seperti kriteria Nisa.


"Yah,, tapi kok di film belbie ada kak? Cantik dia es klimnya. Bang, gimana Nisa mau es klim."


"Ya udah dek, pesan aja es krim cokelat kan sama rasa nya."


"Okeeee.... Kak es klim cokelat satu." Setelah acungan jempol Nisa terangkat ke udara, pelayan tersebut pergi untuk memberikan catatan menu makanan mereka kepada chef untuk dibuat.


"Bang-bang, ada tempat pemandian bola itu. Nisa kesana ya...."


"Iya. Awas ilang lagi. Nanti kalau ilang abang kehilangan adek kecil Abang yang gemassss banget."


"Yeeeee...... okeee....  Nisa pigi ya. Dada abang, dada kakak."


Nisa melenggang pergi menuju tempat pemandian bola yang berada tak jauh dari posisi Revan. Hanya berjarak beberapa langkah aja. Dengan begitu, Revan akan dengan mudah mengawasi adik kecilnya ini.


Sambil menunggu pesanan datang, Revan mulai membuka suara. Memecah keheningan yang tercipta di antara mereka berdua. Tidak ada lagi Nisa, dan ini adalah waktu yang pas untuk menceritakan siapa bokap Sania sebenarnya.


"Jadi, gue harus cerita dari mana dulu ini? Dari Monas? Dari Ancol? Dari Samudera Atlantik? Atau dari hati lo?"


"Apaan sih??? Bucin banget. Ceritakan aja semua hal yang lo tau soal papa gue. Gak lebih."


"Oke, bokap lo itu orang yang baik banget. Dia orang yang hampir selalu nemanin gue di kantor nya ketika gue lagi nunggu orang tua gue pulang kerja. Katanya sih gue sebagai pengganti anaknya kalau misalnya tiba-tiba dia rindu sama putri kecilnya di rumah. Dia banyak cerita soal lo, soal kelakuan lo, suka duka lo. Kadang gue mikir, lo itu seistimewa apa sih sampai-sampai semua hal secara detail diceritakan sama gue. Dia orang yang paling dihormati banget di kantor. Mungkin kalau lo sering kesana, lo bakalan tau gimana setiap saat bokap lo mijitin kepalanya karena pusing, bosen, jenuh, sama pekerjaan nya. Dia berharap lo datang ke ruangannya dan menghibur dia. Tapi ya gue memang gak tau alasan lo sebenarnya jarang datang apa. Gue pernah liat lo tiga kali datang ke kantor, tapi mungkin lo gak ingat lagi ya. Rutinitas papa lo sih selalu gitu, dan lo tau sampai suatu hari tiba-tiba dia keluar kantor dengan terburu-buru, wajahnya pucat basi, terus dia ngendarain mobilnya dengan kecepatan tinggi. Gue gak terlalu paham apa yang terjadi, cuman gak lama setelah itu, berita duka datang dan itu mengoyak seluruh hati karyawan yang ada. Singkat cerita, perusahaan papa lo bangkrut karena ditipu oleh banyak pihak termasuk pihak yang mengelola perusahaan lo. Semua karyawan dipecat termasuk orang tua gue, dan akhirnya dari situ orang tua gue berusaha buat cari kerja yang lain lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Oh iya, satu lagi papa lo sering ngasih banyak julukan buat lo salah satunya ya itu 'putri sejuta keajaiban'."


"Banyak banget ya cerita yang gak gue tau soal papa. Padahal gue anaknya, sedangkan lo... "


Sania tertawa miris. Ia menerawang masa lalu ketika mengenang papanya. Oh Tuhan, bisakah waktu diputar kembali? Sania saat ingin menghabiskan banyak waktu dengan papanya.


"Gue tau apa yang lo rasain. Merasa kehilangan kan sama kayak gue. Tapi yang namanya kematian pasti datang. Percayalah semua rencana Tuhan itu baik San. Mungkin Tuhan mau lo berubah jadi lebih baik lagi dan belajar dari kesalahan masa lo. Gue dah pernah bilang kan, jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Kenangan boleh lo ingat, tapi jangan sampai jatuh dan terjebak di dalamnya. Kalau lo butuh teman, gue bisa kok nemanin lo. Kapan lo sedih, lo bisa panggil gue ke rumah lo buat ngibur lo. It's ok gue rela ngabisin waktu buat lo. Gue gak mau liat lo sedih terus. Ada banyak cerita kejutan yang telah disediakan di dunia. Lo hanya tinggal nikmatin nya doang. Mulai sekarang, lo harus berubah. Gue bakalan bantu lo berubah dan gue bakalan selalu ada buat lo kapanpun dan di manapun."


Saat itu Sania merasa detak jantungnya terhenti sesaat. Semilir angin yang menerpa seakan mendukung situasi dunia ketika dia bersama Revan. Sania berharap ia tak salah pilih teman lagi untuk kali ini. Ia tak mau jatuh ke lubang dalam yang sama lagi. Satu hal yang bisa ia ambil dari pertemuan dengan Revan kali ini. Ia sangat membutuhkan Revan.


_________***__________________***____________