Metanoia; The Hybrid

Metanoia; The Hybrid
CHAPTER 52: APPOINTED TO BE THE DEFEND.



Memang, benar-benar ada yang salah dari ujian kali ini. Besoknya, Mr. Arthur datang ke hutan menggunakan Pentagram Demon miliknya dan membawa kami kembali ke Akademi. Seperti pengaduanku ke Mr. Arthur tentang waktu ketibaan kelompok kami yang berbeda-beda, dia juga mengatakan kalau ada sesuatu yang salah.


Katanya, perpindahan itu sedikit terganggu akibat kami sendiri. Kami belum seserasi itu untuk punya pikiran yang sama. Mr. Arthur bilang, kesalahan itu muncul karena tujuan kami berbeda. Beberapa di antara tidak menginginkan ujian itu berlangsung dengan kehadiran ku di kelompok. Jadi itulah kenapa, bagiku kami hanya ikut ujian dalam sehari semalam saja.


Meskipun kondisi hubunganku dengan teman-temanku sudah membaik, namun hal itu bukan menjadi alasan aku bisa kembali ke asrama dan tinggal di sana. Banyak yang masih tidak setuju, terlebih para kakak kelas yang tak mempercayaiku. Aku pun tak masalah jika harus tinggal lebih lama lagi di rumah pohonku, lagipula aku tak bisa memaksakan semua orang untuk menyukai diriku ini.


Ku tebas beberapa helai daun yang berjatuhan terbawa oleh angin ke permukaan tanah di lapangan hutan. Aku terus mengayunkan deggerku di udara, sama sekali tak berniat untuk meninggalkan dedaunan.


Aku baru saja menyelesaikan kelas siangku, dan itulah kenapa aku di lapangan hutan, untuk menikmati waktu sore. Pun juga, kamarku ada di rumah pohon tepat di depanku saat ini.


"Hey, sedang apa dengan degger kesayanganmu itu, Tuan sibuk?" Chlea datang membawa 3 muffin berry yang terlihat enak. Dia berdiri di sampingku, seakan tak takut saja jika kena sayatan deggerku.


"Kau ini, tidak takut ya kalau terluka? Aku 'kan sedang bermain dengan deggerku" ucapku setelah berhenti menggerakkan deggerku, dan merampas muffin yang sedang dimakan oleh Chlea.


Dia tampak kesal, "Itu bekasku!"


"Tetap saja rasanya sama, Chlea Kegan Larabee."


"Oh baiklah, Sagara Hart Northcliff Andromeda!"


Aku sedikit terkejut, "Kau tau nama tengahku itu?"


"Hart? Tentu saja!" Dia terdengar bangga telah mengetahui nama tengahku.


"Kau lanjutlah bermain dengan deggermu itu aku mau melihatnya sambil memakan muffinku" Chlea berjalan dan duduk di akar rumah pohonku dengan muffinnya itu.


Setelah menghabiskan muffinku, aku kembali bermain-main dengan degger dan dedaunan yang berjatuhan. Aku tak mempedulikan keberadaan Chlea di depanku yang sedang memperhatikan, penglihatanku hanya terfokus pada dedaunan yang menjadi incaranku saat ini.


"Apa kau tak bosan dengan besi tajam yang ukurannya lebih kecil dari penyapu itu?"


Aku berbalik dan menemukan Declan dengan pedang asli di tangannya.


"Sehabis latihan, Declan?" Tanyaku basa-basi.


"Ya, kau tau 'kan aku bagian dari tim Skarfáloma?" Ucapnya.


"Oh? Aku tak tau. Mereka semua memakai topeng, bagaimana aku tau kau di salah satu dari mereka?" Kataku diakhiri tawa sederhana.


"Topeng itu tak hanya berfungsi untuk melindungi wajahmu, namun, melindungi dirimu sendiri dari serangan belakang. Maksudku, kau aman di luar pertandingan" jelasnya.


"Aku mengerti."


Declan tiba-tiba saja melempar pedang panjang itu ke arahku, dengan segera akulangsung menangkapnya, "Ku dengar kau bisa menjatuhkan pedang kayu Mr. Chairoz. Ayo lakukan lah itu pula padaku, Gara."


Aku menggeleng, "Sejauh ini, murid tahun pertama dilarang menggunakan senjata kecuali replika dari kayu."


"Lalu bagaimana dengan deggermu itu?"


"Ini hanya benda yang lebih kecil dari penyapu, katamu."


Declan tertawa, "Hahaha! Tak apa, ini sudah sore. Memangnya siapa yang mau menegurmu? Aku akan tanggung jawab."


Dia itu sungguh ingin melihatku. Aku pun memberikan deggerku pada Chlea, lalu berdiri di hadapan Declan. Namun, siapa sangka ternyata dia membawa 2 pedang.


"Jika kau bisa melayangkan pedangku, aku bersumpah atas nama Moon Goddes untuk setia denganmu" ucap Declan.


Aku tersenyum, "Kau bukan Beta ku."


Dan kami mulai mengayunkan pedang satu sama lain. Melawan Declan rasanya lebih ringan daripada melawan Mr. Chairoz. Namun, Declan punya sesuatu yang menarik perhatianku. Caranya mengayunkan pedang itu unik, beberapa kali aku harus salah taktik akibat gerakannya yang membingungkan.


Aku mundur karena terkena dorongan keras dari Declan, "Ayolah Gara! Apakah kau tak menginginkan kesetiaanku?" Dia tertawa, begitu juga Chlea yang duduk di sana menonton kami berdua.


Bukannya aku begitu mengidamkan kesetiaan Declan, namun kalah di depan Chlea bukanlah mimpiku. Aku kembali melawan Declan, menggesekkan sentuhan demi sentuhan kedua pedang panjang yang tajam kami. Beberapa kali aku menangkis serangan Declan, aku pula menyerangnya dengan serangan tanpa henti. Hal itu berhasil membuat Declan mundur selangkah dua langkah.


Ternyata tak hanya Chlea yang menonton aksi kami, namun teman-temanku yang lain berdatangan dari arah yang sama. Siapa sangka juga, ternyata para kakak kelas ikut dalam tonton menonton itu.


"Aku tak bisa melayangkan pedangmu" ucapku di sela-sela seranganku.


"Kenapa? Apa kau tak menginginkan kesetiaanku?"


Aku menghentikan gerakanku dan melirik ke arah Chlea, "Aku sudah punya Chlea yang setia padaku tanpa alasan."


"Heh..."


"Sudahi saja, Declan" aku berbalik hendak menghampiri Chlea. Namun tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu dari belakangku. Dengan cepat aku membalikkan tubuh dan menangkis serangan balasan dari Declan.


Semua orang bertepuk tangan atas keberhasilanku menahan pedang Declan. Lagipula, apa yang dia pikirkan? Menyerangku dari belakang? Apa dia tak memikirkan bahaya dari hal itu?


Akupun akhirnya kembali menyerang Declan, hingga akhirnya aku melayangkan pedangnya di langit dan terjatuh tepat di tanah antara kami berdua.


"Kau senang?" Tanyaku sambil mencabut pedang Declan di tanah dan memberikan kedua pedang di tanganku padanya. Sementara semua orang bertepuk tangan, dan teman-temanku juga Chlea berlari ke arahku.


"Kau keren sekali!"


"Gara! Kau hebat!"


Semua pujian itu ku terima begitu saja, namun saat mataku bertemu dengan sepasang mata yang berdiri jauh di sana membuat aku sadar akan sesuatu. Aku pasti dalam masalah besar.


"Gara!" Panggil orang itu dan menghampiri kami semua.


"Ikut denganku, kau juga Declan."


Pria itu pergi meninggalkan kami semua dengan tatapan menyeramkannya.


"Sudah sore, benar 'kan?" Ucapku pada Declan, untuk mengingatkannya lagi dengan perkataannya.


Declan menggeleng pelan lalu berjalan lebih dulu, aku pula mengikutinya dari belakang.


"Dia siapa?" Bisikku ke Declan yang berjalan di sampingku.


Aku hanya berjalan mengikutinya guru aneh itu, pasti aku dalam masalah besar. Aku menyesal telah menerima pedang itu dari Declan. Sudah jelas, murid tahun pertama bermain dengan senjata asli adalah pelanggaran.


Setibanya aku di ruang kesiswaan yang ada di lantai 2, aku melihat Mr. Daphne yang sedang duduk di kursinya. Tampaknya sedang mengurusi sesuatu.


Di ruangan ini tak hanya ada meja Mr. Daphne, namun ada beberapa meja yang dimiliki oleh staf Akademi lainnya. Kami pun sampai dan menghadap Mr. Daphne.


"Mr. Daphne, aku dapatkan anak ini" ucap Mr. Auland.


Mr. Daphne pun menghentikan kegiatannya dan melirikku. Senyumnya merekah tak lama kemudian, "Oh! Ternyata anak yang kau dapatkan adalah Gara! Mr. Aukland, tolong panggilkan yang lainnya ke sini."


Mr. Aukland mengangguk dan pergi meninggalkan kami, meninggalkan ruangan kesiswaan ini.


"Mr. Daphne, aku minta maaf telah melanggar" ucapku bersungguh-sungguh.


"Kenapa kau minta maaf?"


"Bukankah aku dalam masalah saat ini?"


Mr. Daphne tersenyum, lalu matanya beralih melirik sesuatu di belakangku, "Masalah yang kau hadapi bukanlah tentang melanggar aturan.."


Akupun membalikkan badanku, dan sedikit terkejut saat melihat 3 kakak kelas berjalan masuk bersamaan dan menghampiri meja Mr. Daphne.


"Anda memanggil kami, Mr. Daphne?" Tanya salah satu dari mereka.


Mr. Daphne mengangguk, "Aku mendapatkan Gara untuk mengganti posisi The Defend, bisakah kalian melatihnya?"


Salah satu dari mereka tampak tidak setuju saat menatapiku, "Anak tahun pertama? Mr. Daphne, mereka tak tau apa-apa tentang persenjataan, cara bermain dan bertahan. Mereka hanya akan menjadi potongan daging di lapangan."


"Maaf, aku tak mengerti apa yang sedang kalian bahas, namun sepertinya kau meragukan caraku bermain senjata?" Ucapku langsung di depannya.


"Baiklah, karena kau seorang pangeran, kau pasti telah memegang senjata lebih dulu di tempatmu. Namun ini bukan sembarang tentang bermain pedang saja, kau tau? Hanya mengayun-ayunkan pedangmu saja tak akan berarti apa-apa" ungkapnya lagi.


"Sudah-sudah.. Pokoknya Gara adalah orang yang ku tunjuk untuk menggantikan posisi The Defend. Yang jelas, Mr. Aukland sendiri yang memilihnya" sahut Mr. Daphne.


"Kalau Mr. Aukland, aku tak akan membantah. Beliau itu tak pernah salah pilih orang" kata salah satu yang lainnya.


"Baiklah, mulai besok Gara akan berada di bawah pelatihanmu" kata Mr. Daphne untuk laki-laki yang meragukanku itu.


"Hah... Baiklah Mr. Daphne, kami permisi" lalu dia dan teman-temannya pergi meninggalkan ruangan. Begitu pula aku dan Declan. Kami berhenti di jembatan asrama karena aku juga tak ingin masuk ke sana.


"Jadi, apa yang terjadi padaku sekarang? Aku masih tak mengerti yang dibicarakan Mr. Daphne. Apa itu The Defend?"


Declan menatapiku ragu, "Kau itu ditunjuk untuk menggantikan salah satu anggota tim Skarfáloma Internasional."


Aku terkejut seketika, "Kau pasti bercanda."


"Kalau aku bercanda, lalu untuk apa Areth meragukanmu tadi?"


"Areth?"


"Dia adalah kapten tim, Sweden Areth. Dia yang bertanggung jawab atas semua anggota. Namun, dia pula yang memilih siapa yang layak berada di dalam tim. Kau itu termasuk orang yang beruntung bisa di pilih oleh Mr. Aukland, dengan begitu Areth tak bisa membantah perintahnya dan mengharuskan kau masuk ke dalam timnya" jelas Declan.


"Bisakah aku menolak hal ini?" Tanyaku.


"Kena-"


"Baguslah. Berlarilah seperti anak kecil ke Mr. Daphne, dan ajukan hal itu. Sudah ku bilang, anak-anak sepertimu tak tau apa-apa."


Aku berbalik dan mendapati orang tadi, Sweden Areth dan 2 lainnya, "Kalau aku tak apa-apa, aku tak akan selamat dari Psychofágos."


"Ha! Kau itu di lindungi di sini, tentu saja kau tak selamat dari makhluk itu."


"Kau sungguh meragukan kemampuanku, ya?" Tanyaku mendekati Areth. Sial sekali dia lebih tinggi dariku, jauh tinggi.


Karena kami di jembatan asrama banyak pula anak-anak lain yang tertarik untuk melihat kami. Termasuk teman-temanku. Aku tau mereka berpikir bahwa sedang terjadi perkelahian, namun jika itu akan membuat keraguan Areth menghilang, aku akan menerimanya dengan sukarela.


"Baiklah. Aku ingin lihat kemampuanmu, besok sore di lapangan tanding. Kita duel, kau dan aku. Jika kau bisa melayangkan pedangku, maka aku akan memberikanmu posisi The Core milikku. Namun, jika pedangmu melayang, maka namamu akan ku banned dari pencarian Skarfáloma."


Dia menantangku rupanya. Tapi aneh sekali, saat dia mengatakan posisi The Core miliknya akan diberikan padaku jika aku berhasil melayangkan pedangnya, 2 orang di belakangnya tampak terkejut. begitu pula dengan Declan dan semua orang yang sedang mengerumuni kami. Mereka sekaan tak percaya akan hal itu terjadi.


Aku tak bisa begitu saja diragukan seperti itu. Aku punya kemampuan. Aku akan membuktikan padanya jika perlu.


"Aku terima. Aku sudah berhasil melayangkan pedang Mr. Chairoz dan pedang Declan. Jadi ku pikir, melayangkan pedangmu bukanlah apa-apa?"


Ku dengar, yang lainnya terkejut atas perkataanku. Mereka bersorak mendukungku, namun sebagian yang memihak Areth lebih memilih untuk ikut meragukan kemampuanmu.


"Kau dan mulutmu itu" geramnya, lalu berjalan meninggalkan jembatan untuk ke asrama. Orang-orangpun mulai bubar meninggalkan kami.


"Kau baru saja menantang Areth, apa kau tak waras?" Ucap Declan.


"Kau takut padanya?"


Declan menghela nafas panjang, "Untuk apa takut dengannya? Aku punya kedudukan yang lebih tinggi darinya, aku ini kepala asrama Lycanthrope."


"Lalu?"


"Gara, kau ini baru saja menantang kapten tim Skarfáloma. Dia telah mengikuti banyak pertandingan, itu berarti dia lebih bersahabat dengan pedangnya. Kau akan melawan seseorang yang jauh lebih berpengalaman daripada dirimu" kata Declan.


"Lalu bagaimana dengan Mr. Chairoz? Aku bisa melayangkan pedangnya-"


"Pedang kayunya, maksudmu? Ayolah, kau pasti tau Mr. Chairoz mempermudahmu untuk melakukannya" ucap Declan.


"Declan benar. Gara, kau tak bisa meremehkannya begitu saja" sambung Chlea di sampingku.


Aku menatapinya, "Aku tak meremehkan Areth, Chlea. Namun dia sudah meragukan kemampuanku. Besok, aku akan membuktikan padanya, kalau dia telah salah menilaiku."


Tunggu saja, Areth.