
Ketika telah menunggu cukup lama, semua orang di ruangan itu berkumpul dan duduk di kursi untuk menyaksikan kenaikan tahta. Di bagian kanan ada beberapa petinggi Negeri Danveurn, para Raja dan Ratu yang memimpin dari berbagai wilayah bagian, Raja dan Ratu dari berbagai negeri-negeri, para wali kota, konglomerat hingga dewan perwakilan rakyat hadir untuk menyaksikannya. Namun kedua manik mata Gara kembali bergerak untuk melihat kursi-kursi yang tersusun dan di bagian yang sama. Mereka adalah para pemegang pemerintah, para Elder dan Council yang memenuhi bagian depan.
Di salah satu kursi bagian depan yang diduduki oleh para Elder, Gara menemukan orang yang membuat keonaran di Akademi.
"Elder bernama Adam Sorcestia, dia orangnya" suara itu milik Saga yang berdengung di kepala Gara. Saat itu pula Gara menfokuskan matanya untuk melihat pria tua berambut putih yang sedang duduk dan berbicara kepada orang-orang lain.
Gara kembali melirik orang-orang lain di sana, sampai ia menemukan guru-gurunya di bagian tengah. Mereka semua sedang duduk dan di sambut kedatangannya oleh para Council.
Gara juga menyadari, ternyata keluarga Kerajaan Claverdon turut hadir dengan pakaian kerajaan bercorak hitam dan merah, duduk bersama para anggota kerajaan lainnya.
Mereka berbincang-bincang sebentar dan kemudian suara alat musik dimainkan untuk membuat semua orang senyap, bahkan para rakyat yang duduk di kursi bagian depan ikut membungkam mulut mereka. Dengan sigap, mereka semua berdiri saat para pendeta memasuki ruang tengah.
Gara dan yang lainnya berjalan ke untuk melihat ruang tengah yang dipenuhi oleh para rakyat tinggi dan rendah.
"Ini keren sekali!" Ucap Jack dengan gembira.
"Kalau mereka sudah tiba, berarti pawai mengelilingi Pack dan batas wilayah telah selesai! Sebentar lagi upacaranya!!" Seru Ardan.
Kemudian, dikawal lah mahkota raja dan ratu, beriringan dengan Raja Nicholas dan Ratunya yang mengikuti dari belakang.
Musik-musik kembali dimainkan untuk mengawal masuknya orang yang ditunggu-tunggu Gara. Di sana, Allegro berjalan dengan jubah kerajaan yang ia tau betul kalau kakaknya itu tidak suka. Lalu disusul Annelise dari pintu gerbang, semua orang terpaku ketika melihat putri bangsa Vampire itu yang cocok mengenakan gaun emas kerajaan Angkara. Terlebih Gara yang melihatnya tanpa kedip.
"Cantik..." Pujinya.
Tak lama kemudian, Damian datang di paling akhir. Setiap orang yang dilalui olehnya menunduk hormat pada Damian. Lagipula mereka tau siapa yang akan naik tahta, seorang pangeran yang turut serta dalam penyatuan negeri itu dari perpecahan.
Setelah mereka semua masuk ke ruang tahta, Gara dan yang lainnya kembali untuk melihat ruang yang sudah ramai dengan orang-orang. Kedatangan mereka bertiga diiringi oleh nyanyian-nyanyian dan alat musik orkestra.
Saat tiba, Allegro pun duduk bersama anggota kerajaan lainnya. Ia duduk di samping Nala, dan bersebelahan juga dengan adik perempuan Damian yang memegang bayinya.
Damian pun mendudukkan dirinya di kursi yang telah tersedia, bersama Annelise tepat di sampingnya. Setelah menyelesaikan musik, semua orang mulai tenang dan menyaksikan prosesi kenaikan tahta itu.
Satu pendeta pun berdiri di depan mereka semua, ia adalah oracle, "Atas nama Moon Goddes, Lycanthrope Yang Agung, dan roh-roh para leluhur, semoga menyertai kita."
Seketika itu semua orang di kerajaan menjawab perkataannya secara serempak, "Dewi memberkati kita" dan mendudukkan diri mereka.
"Yang terkasih, kita telah berkumpul bersama dan berdoa pada Mood Goddes untuk merayakan hari yang bahagia ini, untuk menyambut Raja kita, untuk mengakui dan berterima kasih atas perjuangan yang telah ia lakukan tuk negeri ini."
Setelah mengatakannya, musik kembali diputarkan, hingga salah satu bagian dari organisasi keagamaan itu menyanyikan lagu, diiringi oleh paduan suara yang membuat semua orang merinding. Di saat itu pula, Damian bangun dan dibawa berjalan menuju tengah-tengah ruangan, di antara para keluarga dan pemerintah.
"Mereka akan melakukan pengakuan" ucap Chlea sambil terus memperhatikan.
Setelah sampai, sang oracle memperkenalkan Damian kepada semua orang, "Saya di sini hadir untuk Anda, Raja Andromeda ke-6, Raja yang tidak diragukan lagi. Karenanya semua yang datang hari ini untuk melakukan penghormatan dan pelayanan, apakah Anda semua bersedia melakukan hal yang sama?"
Damian bergerak menghadap ke masing-masing dari empat titik kompas untuk menampilkan dirinya kepada orang-orang, yang akan menegaskan dan mengakuinya sebagai raja.
Mereka, orang-orang yang mendengar dan menyaksikan pun menjawab, "Moon Goddes selamatkan Raja Andromeda ke-6," sebagai pengakuan bahwa Damian sebagai kepala Negeri Danveurn.
Setelah kembalinya ke kursi, sang oracle membacakan sumpah untuk Damian yang kini menyandang pangkat Andromeda ke-6 itu, ia meletakkan tangannya di atas Kitab Suci dan berjanji untuk mematuhi sumpah yang diberikan oleh oracle, ia bersumpah untuk memerintah rakyat Negeri Danveurn, dengan tetap mempertahankan hukum Lycanthrope Yang Agung.
Musikpun kembali dimainkan untuk membuat jeda.
"Aku merinding mendengar sumpah-sumpah yang diucapkan Raja Andromeda ke-6" ucap Selena yang kini telah bisa melakukan Pack Link.
Bersamaan dengan musik dan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para paduan suara, Damian mengurusi beberapa surat dan menandatanganinya. Setelah musik selesai, Damian diiringi untuk berlutut di sebuah sofa dan membaca doa-doa. Lalu ia kembali, dan semua orang diminta untuk berdiri agar berdoa kepada Moon Goddes.
Saat itu manik mata Gara melihat lukisan yang ada di belakang oracle. Ia berbalik dan mulai membacakan doa-doa. Di sana, terdapat lukisan wanita yang sangat cantik dengan serigala liar yang tampak berkarisma. Lukisan serigala itu sempat membuat Gara merinding, seakan merasakan bagaimana aura sang Lycanthrope Yang Agung menyertai mereka.
Kemudian oracle naik di atas mimbar dan menyiarkan kisah-kisah Dewi Artemis dan Lycanthrope Yang Agung, tentang pengorbanannya dan kekuatannya yang telah menurunkan bangsa Lycanthrope ke dunia, dan tentang bagaimana pentingnya menurunkan kekuasaan.
Nyanyian-nyanyian indah dari paduan suara pun menjadi akhir dari pidatonya. Semua orang menyaksikan bagaimana pembukaan itu dilaksanakan.
Damian dipakaikan baju emas, sebuah jubah turun-temurun yang menjadi tradisi bangsa barat itu saat kenaikan tahta. Damian pun didudukkan di kursi tahta yang sengaja dihadapkan ke lukisan, atau membelakangi para saksi-saksi. Ia duduk di sana dan didampingi oleh dua pendeta lain.
Ada banyak sekali benda-benda sakral yang di hadapkan pada Damian, ia menyentuh semua benda itu kembali mereka diletakkan kembali dengan doa-doa yang terus diucapkan sang oracle. Lalu, Damian dipakaikan jubah bercoram emas yang di dalamnya berwarna merah gelap.
Sekembalinya ia di tempat duduk, para pendeta membawa bola yang di atasnya terukir bulan sabil yang sempurna. Lalu bergantian dengan dua buah tongkat dan doa-doa kembali di ucapkan sang oracle.
Dan penyerahan terakhir adalah, mahkota raja. Sang oracle membawakan mahkota emas itu ke hadapan Damian, lalu ia meninggikan mahkota itu dia atas kepala Damian agar semua orang bisa menyaksikannya. Dengan perlahan, tangannya turun hingga mahkota itu dipasangkan di atas kenapa Damian.
Sang oracle berdiri tegak setelah yakin mahkota itu duduk sempurna di atas kepala Damian, lalu mengucapkan, "Mood Goddes melindungi Raja!"
Dengan semangat, semua orang di kerajaan yang mendengar dan menyaksikan pun mengikutinya tutur katanya, "Moon Goddes melindungi Raja!"
Dengan meriah, lantunan alat musik dimakinkan. Memainkan lagu kebesaran bangsa Lycanthrope.
Setelah berhenti, sang oracle kembali membacakan doa, "Mood Goddes memberkati dan menjaga Anda, menyinari Anda, dan memberikan Anda kedamaiannya."
"Mood Goddes melindungi dengan segala cara, memberkati dan memakmurkan semua pekerjaan Anda."
"Mood Goddes memberi Anda harapan, dan kebahagiaan sehingga Anda dapat menginspirasi semua orang untuk meniru cinta yang tidak berubah."
"Moon Goddes mengabulkan dan memberikan kebijaksanaan, dan pengetahuan menjadi stabilitas waktu dan ketakutan akan dirinya."
"Semoga Moon Goddes mencurahkan kekayaan kasih karunia-Nya kepada Anda, memberkati Anda, dan menjaga Anda dalam ketakutan suci-Nya. Juga mempersiapkan Anda untuk kebahagian yang abadi, dan menerima Anda ke dalam kemuliaan abadi."
"Atas berkat Mood Goddes, Lycanthrope Yang Agung, dan roh-roh para leluhur, bersamamu dan tetap menjadi dirimu selalu. Ameen."
Seketika semua orang di sana membalas ucapan sang oracle.
"Ameen!"
Semua orang kembali duduk dan musik kembali dimainkan. Ketika selesai, Damian dikawal untuk menuju ke tengah-tengah antara pihak anggota keluarga kerajaan dan para petinggi pemerintah. Di sana, ia duduk untuk dilakukannya sesi penobatan secara sah.
Saat sang oracle menyelesaikan kalimat kesaksiannya, berdirilah seorang yang disebut-sebut sebagai orang yang paling berambisi untuk menjabati tahta itu. Orang yang ingin meraih kekuasaan di atas segalanya. Robert Guardo.
"Paman Robert..." desis Gara melihatnya tidak suka saat Robert berjalan dan berlutut di depan Damian. Setelah selesai sepatah dua kata darinya, ia berdiri tegak dan memegangi mahkota yang ada di atas kepala Damian. Lalu, ia membungkuk dan mencium pipi kanan kakak tirinya itu.
"Selamat atas kenaikanmu, kak" bisik Robert dengan suara nyaris tak terdengar bahkan pada para binatang yang menguasai debu-debu di udara. Kemudian dia kembali ke tempat duduknya.
Sang Oracle kembali bersuara, "Moon Goddes melindungi Raja."
Mereka semua pun secara serempak mengatakan, "Moon Goddes melindungi Raja Damian!"
"Semoga Raja hidup selamanya!"
Musikpun kembali dimainkan untuk mengirin sang oracle ke tempat semula. Dimulaikan prosesi penobatan untuk Annelise yang akan menjadi Ratu Kerajaan Angkara. Setelah melakukan sumpah dan doa-doa, mahkota Ratu pun dikenakan di atas kepalanya, dan ia beranjak dari duduknya untuk duduk di kursi samping Damian yang ada di tengah-tengah. Musik selalu dimainkan untuk mengiringi acara itu, tak ada satupun keheningan yang menyertai. Seakan alam pun tau, kalau upacara ini begitu penting dan dirayakan untuk orang yang layak.
Damian dan Annelise pun bangun, dan berjalan ke arah yang berbeda. Sekeluarnya dari sana, mereka telah mengenakan jubah besar Raja dan Ratu dari Kerajaan Angkara. Dengan tangan kanan Damian memegang bola kuasa dan yang satunya memegang tongkat, sesuai tradisi lama.
Bersama-sama, meraka dikawal untuk keluar dari kerajaan dengan musik yang menjadi latar belakang acara itu terus dimainkan. Setelah keluar kerajaan, mereka sampai di teras utama, di sana Damian bisa melihat rakyatnya berkumpul dari berbagai wilayah untuk menyaksikannya naik tahta. Mereka berkumpul secara tertib di halaman depan. Meskipun jauh dari jalan utama menuju gerbang, mereka bisa melihat bagaimana Damian datang untuk melihat mereka.
Bahkan di seluruh halaman, dipenuhi oleh para Epic prajurit yang mengacungkan pedang mereka sebagai simbol keberangkatan.
Damian dan Annelise pun menaiki kereta kuda Kerajaan Angkara yang penuh dengan emas dan kilauan. Kereta kuda itu begitu spesial, sebab ia hanya membawa para Raja terpilih yang telah di turun-temurunkan namanya oleh Raja-raja terdahulu. Bahkan, Nicholas tak pernah sekalipun menaikinya.
Ketika kuda itu mulai berjalan, digerakkan oleh 8 ekor kuda putih dan dikawal oleh 4 postilion atau penjaga. Mereka pergi untuk melakukan pawai, mengelilingi kota Buxton atau yang lebih sering disebut sebagai Angkara Pack, hingga mengitari satu wilayan Dorforwyn.
Semua orang melambaikan tangan, bersorak dan mengucapkan doa untuk Raja baru mereka yang diagung-agungkan.
Raja Damian Jean Andromeda ke-6.